Share

200. Saling Memanfaatkan

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-06-18 18:13:21
Ting!

Pintu lift berdenting pelan begitu tiba di lantai tujuh.

Naomi melangkah keluar lebih dulu tanpa menoleh ke belakang.

Umpannya sudah dilempar. Sekarang tinggal menunggu apakah Clara akan memakannya atau tidak.

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Naomi.

“Ikut saya, Dokter.”

Naomi menoleh.

Clara berdiri di belakangnya dengan raut wajah tegang.

Meski terkejut, Naomi hampir mengukir senyum penuh kemenangan.

“Oke,” jawab Naomi tenang.

Tanpa mengatakan apa
prasidafai

Happy 200 Chapters ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡ Terima kasih sudah mendukung cerita Naomi dan Raiden sejauh ini. Semua like, komen, dan vote GEMS dari mantemans sangat berarti buat aku. Btw konfliknya tinggal sedikit yaaa, paling tinggal balasan untuk Dante, Viktor, Tasya, Sera, rahasia di balik kematian Lucy, terus reuni Keluarga Vargas-Phyer, abis itu perlu manis-manisnya Naomi-Raiden gak, mantemans? mwehehe (⁠。⁠・⁠ω⁠・⁠。⁠)⁠ノ⁠♡

| 11
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Puput Oktaria
ceritamu bagus thoorr... lgsug sat set. semangat ya thorrr... ditunggu klnjutannyaaaa..... banyakin adegan romntis Raiden sama Naominya thor...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
weh,, semua yg Fai tulis dikomen itu wajib dipenuhi terutama kalimat terakhir tuh. kalo perlu manis²nya smp Ave ngga main tamu²an sm bonekanya aja lagi,, tp sama adik²nya yg lucu menggemushkan..
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
nah bener kaaannn, si Dante.. emang mencurigakan, daei yg obsesif jadi ikhlas,, itu aneh...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   227. Misi Raiden Setelah Menikah

    Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   226. Pesta Sehari Penuh

    Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   225. Jauh Lebih Indah

    Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   224. Sangat Terlambat

    “Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   223. Dibanding Aku

    “Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   222. Jangan Sentuh Aku!

    Plak! Tamparan kedua mendarat lebih keras di pipi Sera yang sebelah kanan. Kepala wanita itu langsung tertoleh ke samping. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Koridor apartemen mendadak sunyi. Napas Sera mulai memburu. Perlahan dia menoleh kembali ke arah Tasya. Sorot mata Sera berubah tajam, dipenuhi kebencian yang selama ini tersimpan. “Ucapanmu sudah kelewatan, Sera!” Tasya masih berdiri dengan dada yang naik turun. Tanpa diduga, Sera mendorong tubuh Tasya sekuat tenaga. Bruk! Tubuh wanita paruh baya itu kehilangan keseimbangan. Punggungnya menghantam lantai koridor. “Akh!” Tasya mengerang pelan sambil memegangi pinggangnya. Tatapan Tasya perlahan terangkat menatap putri yang dibesarkannya sejak kecil. Sepasang mata itu mulai dipenuhi air mata. “Sebenarnya ...” Suara Tasya bergetar hebat, “kamu dipengaruhi seperti apa oleh Lucy sampai tega berharap kakakmu sendiri gugur dalam tugas, Sera?!” Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Tasya. Wanita paruh b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   134. Anjing Penjaga

    ‘Biarkan Nicolle bicara, aku cukup berdiri di dekatnya.’Begitu janji yang Raiden buat saat masih berada di ruang istirahat medis tadi.Sulit sekali menepatinya, karena genggaman tangan Dante pada pergelangan tangan Nicolle, ditambah tatapan menantang yang sesekali pri

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   133. Menemani Nicolle

    Langkah Raiden tidak pernah melambat.Tidak ketika Dante berteriak dari balik gerbang.Tidak ketika beberapa prajurit yang berjaga di koridor markas menoleh dengan tatapan terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.Tidak juga ketika Nicolle di gendonganny

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   132. Menyadarkanmu

    “Sesuatu yang seharusnya menjadi milik saya.” Kalimat itu membuat Nicolle membeku beberapa detik. Udara di sekitar kursi peresmian terasa mendadak sempit. Nicolle bahkan bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdentum tidak nyaman di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   129. Sudah Dibuang

    Mobil itu melaju di jalan lurus menuju pusat kota Lavel, dan untuk beberapa detik setelah Raiden mengucapkan kalimat terakhirnya, satu-satunya suara di dalam adalah dengung mesin dan angin yang menerobos celah jendela.Tasya tidak langsung merespons. Namun senyumnya hilang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status