Share

84. Raiden Amnesia?

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-04-27 21:07:05

Sentuhan tangan Lucy yang menuntun telapak Raiden ke dadanya justru membuat sesuatu yang lain berdenyut di benak pria itu.

Bukan gairah atau pun hasrat, melainkan kenangan. Begitu cepat dan tajam hingga membuat napas Raiden tertahan.

Dulu, Naomi juga seperti ini. Wanita itu tidak pernah malu menunjukkan perasaannya.

Sering kali, saat Raiden pulang lewat tengah malam dengan tubuh lelah dan seragam yang masih berbau debu lapangan, Naomi akan menyambutnya di ruang tamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adfazha
LoL Lucy udh pasti Raiden pgn srh jasa layanan itu balikin smua brg2 Naomi ke tmpt semula .. Inget Raiden jg jrk dr Lucy siluman ulat bulu yg slalu mengganggu ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   228. Satu Kali Lagi

    Tasya perlahan menghentikan gerakan tangannya. Pisau yang sedari tadi digunakan untuk mengiris lemon diletakkan pelan di atas talenan. Suara kecil dari logam yang menyentuh kayu terdengar begitu jelas di tengah dapur yang mendadak sunyi. Wanita paruh baya itu berbalik. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Mata Tasya yang mulai memerah menatap Naomi cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas berat. “Sejak sebelum kita bertemu di pemakaman dan melihat Dante,” ucap Tasya lirih, “Mama sebenarnya sudah menyadari kalau kamu adalah Naomi.” Naomi membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Tasya menundukkan kepala sesaat. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. “Itu sebabnya, waktu itu Mama memaksamu mengantar Mama pulang,” lanjut Tasya sambil menggenggam kedua tangan Naomi yang mulai dingin. Naomi menatap wajah wanita paruh baya itu tanpa berkedip. “Mama sengaja memasak ayam kukus lemon …” Tasya tersenyum pahit. “Makanan kesukaanmu.” Naomi m

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   227. Misi Raiden Setelah Menikah

    Malam itu adalah malam terakhir mereka menginap di vila kecil yang menghadap laut. Selama satu minggu penuh, Naomi dan Raiden meninggalkan segala urusan dunia, hanya berdua untuk saling menikmati. Tidak ada panggilan kerja, tidak ada jadwal, hanya hembusan angin laut dan suara ombak yang menemani setiap detik keintiman mereka. Tubuh Naomi masih persis seperti yang Raiden ingat. Lembut, hangat, dan begitu responsif di bawah sentuhannya. Begitu pula tubuh Raiden. Otot-otot pria itu tegang dan kulitnya yang terbakar oleh sentuhan Naomi, semuanya masih sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dan penuh hasrat setelah sekian lama menahan rindu. Kini, di ranjang besar yang berantakan, Raiden berbaring telentang di samping Naomi dengan napas terengah-engah. Dada bidangnya naik turun cepat, keringat menetes di pelipis dan lehernya. Tangan kanan Raiden masih berada di pinggang Naomi, jari-jarinya sesekali mengusap kulit halus istrinya. Naomi menoleh, rambutnya yang acak-acakan menjuntai di b

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   226. Pesta Sehari Penuh

    Air mata Naomi terus mengalir. Dada Naomi terasa sesak oleh begitu banyak perasaan yang bercampur menjadi satu. Tidak pernah sekalipun Naomi membayangkan bahwa pria yang dulu pernah melepaskannya kini berdiri di hadapannya sambil mengucapkan janji yang begitu indah. Janji yang jauh lebih hangat, lebih dewasa, dan jauh lebih berarti daripada janji yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu. “Kini giliran mempelai wanita.” Pendeta tersenyum lembut. Naomi menarik napas panjang. Dia menggenggam kedua tangan Raiden lebih erat. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis menghiasi bibir Naomi. “Raiden, suamiku.” Raiden terkekeh pelan mendengar panggilan itu. Naomi ikut tersenyum. “Kalau ada seseorang yang mengatakan kepadaku bertahun-tahun lalu bahwa suatu hari aku akan kembali berdiri di altar ini bersamamu, mungkin aku akan menangis karena me

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   225. Jauh Lebih Indah

    Naomi membeku. Wanita itu menutupi mulut, sementara matanya membelalak.Semua ini benar-benar di luar dugaannya.Jantung Naomi berdetak begitu cepat hingga telinganya sendiri seolah dapat mendengar iramanya.Hening hanya berlangsung beberapa detik. Lalu dari berbagai sudut studio terdengar sorakan.“Terima!”“Terima!”“Terima!”Naomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Barulah saat itu dia benar-benar memperhatikan wajah-wajah yang sejak tadi duduk di dalam studio.“Papa?”Vance berdiri sambil tersenyum lebar dan mengacungkan kedua ibu jarinya.Di sampingnya, Brandon ikut bertepuk tangan.Alex sudah berdiri sambil bersiul keras.Olivia melambaikan kedua tangannya dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Clara tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk penuh semangat.Di baris belakang, Tasya duduk dengan mata sembap, tetapi kali ini senyumnya jauh lebih tenang.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   224. Sangat Terlambat

    “Apa yang dia punya dibanding aku?”Rahang Raiden masih mengeras saat mengucapkan kalimat itu.Naomi justru tersenyum semakin lebar.Wanita itu mendongak, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memegang rahang Raiden.Dengan gemas, Naomi menarik wajah pria itu hingga sedikit menunduk. Jarak mereka kembali menjadi begitu dekat.“Bercanda,” bisik Naomi dengan nada jahil.Raiden masih menatapnya tanpa berkedip.“Lagipula, aku tidak mungkin balas menciummu kalau punya pria lain,” lanjut Naomi sambil tersenyum tipisBeberapa detik berlalu.Raiden mengembuskan napas panjang.“Kurang ajar.”Naomi terkekeh puas.“Aku cuma–”Belum sempat kalimatnya selesai, Raiden sudah kembali mendekat, berniat mencuri satu kecupan lagi.“Ehem!”Suara deham yang sengaja dikeraskan membuat keduanya langsung membeku.Naomi dan Raiden spontan menjauh. Mereka menoleh ber

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   223. Dibanding Aku

    “Mari, ikut saya, Bu. Kita akan menyusul Sera.” Brandon membukakan pintu mobil untuk Tasya. Wanita paruh baya itu mengangguk pelan. Wajahnya masih sembap akibat terlalu lama menangis. “Terima kasih.” Brandon membantu Tasya masuk ke kursi penumpang sebelum mengitari mobil menuju kursi pengemudi. Mobil perlahan meninggalkan halaman apartemen, mengikuti arah ambulans yang telah lebih dahulu membawa Sera. Tatapan Tasya kosong mengarah ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tetapi semuanya tampak buram di balik genangan air mata yang terus mengisi pelupuk matanya. Brandon beberapa kali melirik ke arah Tasya. “Ibu butuh sesuatu?” Tasya menggeleng pelan. “Saya hanya sedang berpikir, sebenarnya sejak kapan saya gagal menjadi seorang ibu.” Brandon mengembuskan napas panjang. “Saya rasa bukan Ibu yang gagal

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   68. Permintaan Maaf Raiden

    Senyum di bibir Nicolle membeku sepersekian detik. Angin sore yang sejak tadi berembus lembut di area taman mendadak terasa lebih dingin ketika pertanyaan Raiden menggantung di antara mereka. “Dokter Nicolle tahu dari mana kalau saya sering migrain? Itu tidak ada dalam catatan medis saya.” Da

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   65. Wanita yang Berani Menatap Jenderal Viktor

    Raiden masih diam. Satu-satunya perubahan pada diri pria itu hanyalah otot di sepanjang rahangnya yang semakin menegang. Tatapan mata Raiden tetap datar menghadap ke depan. Namun jika dilihat lebih jeli, ada kilat gelap di manik cokelatnya. Sayangnya,

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   62. Semua Salah Raiden

    Jantung Nicolle menghantam tulang rusuknya sendiri. Tidak ada jarak yang tersisa. Kemarahan, kebencian, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bercampur menjadi satu. Raiden benar-benar mendekatkan wajahnya pada wajah Nicolle, bukan lagi hanya dalam bayang

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   61. Keras Kepala Sekali!

    ‘Dia melihat Dante?’ batin Nicolle sambil menjaga wajahnya tetap datar. Nicolle berdiri dari posisi berlututnya, lalu langsung membelakangi Raiden. Wanita itu dengan cekatan merapikan kasa, botol antiseptik, dan salep ke dalam tas obat di atas meja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status