LOGIN"Sayang, tolong bicara sesuatu. Jangan diam seperti ini," bisik Rangga parau, menatap lekat sepasang mata istrinya. "Mas minta maaf. Percayalah, Tamara hanyalah masa lalu yang sudah selesai sejak lama. Tidak ada lagi ruang untuknya di hidupku." Rangga gusar dengan diamnya Maria. Padahal saat menghadapi Tamara tadi mereka begitu kompak.Maria menghela napas panjang. "Aku hanya lelah, Mas. Menghadapi wanita yang sama dan persoalan yang sama berulang kali."Mendengar keluhan jujur itu, Rangga semakin merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Ia memandang wajah Maria, menatap lekat-lekat bibir istrinya yang ranum, kemudian mengecupnya dengan kelembutan yang dalam dan penuh perasaan."Mas minta maaf," ucap Rangga di sela-sela kecupannya. Suaranya berat sarat akan emosi dan rasa khawatir. "Tapi tolong, jangan biarkan wanita itu merusak kedamaian kita sekarang ini. Mulai detik ini, kita tidak usah memedulikannya lagi. Dia tidak punya kuasa apa pun ata
Tamara yang duduk di sebelah mamanya hanya bisa menggeleng lemah. Suaranya terdengar serak dan pasrah. "Enggak, Ma. Anak laki-laki itu wajahnya persis sekali seperti Rangga. Garis mukanya, matanya, senyumnya, semuanya jiplakan Rangga." Meski kecewa, Tamara tidak bisa membohongi hal itu. Ibrahim memang duplikatnya Rangga.Bu Arsi mengepalkan kedua tangannya di atas lutut, wajahnya memerah karena geram. Ingat wanita lemah bernama Maria yang dulu didatangi dan dimintanya untuk meninggalkan Rangga. "Di mana mereka tinggal?" desis Bu Arsi.Tamara tidak menjawab. Ia mengabaikan pertanyaan mamanya, lalu merebahkan kepalanya di punggung sofa dengan tubuh yang teramat lemas. Energi di dalam tubuhnya seolah telah terkuras habis. Sejak pulang kerja sore tadi, perutnya belum masuk makanan sama sekali. Rasa lapar itu tertutup rapat oleh rasa perih yang teramat pekat di hulu hatinya.Pandangan Tamara menatap kosong ke langit-langit rumah. Ingatannya mendadak melompat jauh ke beberapa tahun lalu, ke
MARIA- 59 Sudah Selesai Mata Tamara memanas, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar mengaburkan pandangannya. Kenyataan sore ini terasa amat pahit, menghantam ego dan harga dirinya hingga hancur berkeping-keping. Di hadapannya, ia melihat Maria berdiri dengan begitu tenang.Bisa-bisanya mereka kembali bersatu sebagai suami istri setelah semua badai yang terjadi. Dan yang paling mengoyak hati Tamara adalah fakta bahwa Maria telah melahirkan anak dari Rangga. Sebuah anugerah yang dulu gagal ia dapatkan."Rupanya kamu juga mengejar lagi mantan suamimu, Maria," desis Tamara dengan tatapan yang memancarkan rasa tak terima yang teramat sangat. Suaranya bergetar, sarat akan kecemburuan dan kebencian."Dia tidak mengejar, tapi aku yang mengejarnya dan memohon supaya dia mau kembali bersamaku," potong Rangga tegas.Seketika jawaban itu membuat dada Tamara semakin panas membara seperti disiram bensin. Pria yang dulu begitu ia puja, kini terang-terangan membela rivalnya tanpa
Sebab ia juga melihat betapa dekatnya Ibrahim dengan Aisyah. Namun ia tidak berani bertanya pada Rangga yang sudah memasang wajah beku. Terlihat sekali pria itu tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi memang semuanya harus diperjelas supaya tidak ada fitnah. Bukankah Tamara ini pandai sekali playing victim.Maria menghela napas panjang, tatapannya kembali memandang Tamara. "Istri pertama Mas Rangga mengandung saat dia pergi menjauh usai bercerai. Dan di tempat perasingannya dia melahirkan. Mas Rangga sendiri baru mengetahui keberadaan anak kandungnya ini beberapa bulan yang lalu, tepat ketika proses perceraian kalian berdua sedang berjalan di pengadilan."Tamara kaget bukan main. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah terkuras habis hingga membuat napasnya sesak. Ternyata dirinya yang selama ini merasa paling tahu segalanya tentang Rangga, justru menjadi orang yang paling buta. Informasi yang ia cari ke sana kemari dengan susah payah, kini tersaji di depannya dalam bentuk kenyata
Keheningan kembali menyergap. Tamara menanti kepanikan atau gurat syok di mata Aisyah. Namun nihil. Tetap saja wanita di hadapannya itu bergeming dalam ketenangannya. Begitu pula dengan Rangga yang wajahnya terlihat dingin. Tamara semakin heran tapi emosi. "Kenapa Mbak nggak terkejut sama sekali?" Emosi Tamara mulai tersulut. "Apa Mas Rangga nggak pernah menceritakan semuanya kepadamu, Mbak? Apa dia menyembunyikan fakta kalau dulu dia itu sampai pernah punya dua istri sekaligus dalam satu waktu?" Melihat ketenangan sepasang suami istri di hadapannya, dada Tamara naik turun menahan amarah yang membakar batinnya. "Mbak, saya justru jauh lebih banyak tahu tentang hidup Mas Rangga daripada yang Mbak ketahui. Baik buruknya dia saya tahu." Jawaban itu laksana petir di siang bolong bagi Tamara. Ia kaget hingga mengernyitkan keningnya begitu dalam, menatap Aisyah dengan tatapan tidak percaya."Maksud Mbak apa?" tanya Tamara, suaranya bergetar menahan perih. "Saya tahu banyak tentang siapa
MARIA- 58 Aku MariaLangkah kaki Tamara terasa begitu berat, tapi tetap memaksa melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka. Sepasang matanya terkunci rapat pada sosok yang pernah dan sampai sekarang masih merajai isi kepalanya. Rangga Faturrahman.Gemuruh di dalam dadanya laksana badai yang siap meruntuhkan apa saja. Dengan dagu terangkat dan senyum penuh percaya diri yang dipaksakan, ia berdiri tepat di hadapan mereka. "Assalamu'alaikum," ucapnya mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu."Wa'alaikumussalam," jawab Rangga dan Maria hampir bersamaan. Mereka urung melangkah ke mobil. Seketika suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi begitu kaku dan menegangkan. Ketiganya saling pandang. Angin sore yang berembus pelan di halaman hotel seolah berhenti, menyisakan ketegangan yang merayap. Rangga khawatir pada Maria dan Ibrahim.Tamara dengan gerakan anggun, sengaja mengulurkan tangan pada Rangga. Matanya melirik ke arah Maria, bersiap menyalakan api provokasi. "Lama
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da







