แชร์

MJM 169

ผู้เขียน: Lis Susanawati
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 11:12:12

"Makasih, Bud." Rangga mengangguk. Kemudian melangkah ke arah mobilnya. Budi juga masuk ke kendaraannya sendiri dan langsung pergi.

Seperti biasa, sampai di rumah ia disambut pelukan hangat dari putranya. Ibrahim selalu berlari memeluknya dengan erat. "Bunda mana?" tanya Rangga sambil mencium pipi sang anak.

"Bunda ngaji, Pa." Ibrahim menunjuk ke arah ruang salat di lantai rumah mereka.

Rangga melangkah ke sana. Ia melihat Maria yang masih memakai mukena, duduk menghadap mushaf di depannya. Sua
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (27)
goodnovel comment avatar
virna putri
apa yaaaa? surat PHK kah?
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
de Lis itu surat dari saya loh hehehe
goodnovel comment avatar
V3_
Wah ada kuis nih, kalo betul hadiahnya double up ya hehehe
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mencari Jejak Maria   MJM 169

    "Makasih, Bud." Rangga mengangguk. Kemudian melangkah ke arah mobilnya. Budi juga masuk ke kendaraannya sendiri dan langsung pergi.Seperti biasa, sampai di rumah ia disambut pelukan hangat dari putranya. Ibrahim selalu berlari memeluknya dengan erat. "Bunda mana?" tanya Rangga sambil mencium pipi sang anak."Bunda ngaji, Pa." Ibrahim menunjuk ke arah ruang salat di lantai rumah mereka.Rangga melangkah ke sana. Ia melihat Maria yang masih memakai mukena, duduk menghadap mushaf di depannya. Suaranya merdu melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan irama rost. Rangga mematung cukup lama di depan pintu. Ibrahim pun diam memandang kedua orang tuanya bergantian. Kemudian Ibrahim minta turun. "Papa, A'im mau ngaji sama Bunda.""Oke. Papa mau mandi dulu. Nanti Papa susul ke sini." Rangga mengecup pipi sang anak, kemudian menurunkan Ibrahim. Bocah itu menghampiri bundanya. Maria menoleh memandang Rangga."Mas mau mandi dulu," kata Rangga sambil tersenyum. Lantas melangkah cepat menaiki tangga un

  • Mencari Jejak Maria   MJM 168

    Kalimat-kalimat jujur yang keluar dari bibir Rangga laksana belati yang menghujam tepat ke jantung Tamara. Perempuan itu membeku sempurna di bawah dinginnya kabut sore yang menyelinap masuk ke kafe. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi rasa sesak yang luar biasa saat menyadari sebuah kenyataan pahit, bahwa Rangga sekarang hanya mencintai Maria secara mutlak. Segala pesona fisik yang dulu diagung-agungkan Tamara terbukti tidak ada artinya. Tamara menyadari bahwa dengan sikapnya sendiri, lewat ego, sifat keras kepala, sikap buruknya terhadap perintah suami, dan keserakahannya di masa lalu, ia telah membunuh seluruh rasa hormat dan kasih sayang yang pernah Rangga miliki untuknya. Mereka yang dulu pernah berbagi ranjang dan saling mengecap kebahagiaan semu, kini telah bertransformasi menjadi musuh yang saling melempar tatapan kebencian."Ular akan tetap menjadi ular, Tam. Dia hanya berganti kulit, tapi kadar bisanya di dalam tubuh tetap sama saja, beracun. Seharusnya setelah kamu memutuska

  • Mencari Jejak Maria   MJM 167

    MARIA- 63 Tidak Main-main "Aku ingin bicara denganmu," suara Rangga begitu dingin, memecah keheningan area parkir sore ituTubuh Tamara bergetar hebat menerima tatapan menusuk dari Rangga. Dadanya bergemuruh oleh kepanikan yang luar biasa, membuat lidahnya mendadak kelu bahkan untuk sekadar menyapa. Tanpa menunggu persetujuan, Rangga membalikkan badan dan melangkah tegap menuju area terbuka di pinggir jalan raya, agak menjauh dari lobi gedung. Rangga tahu betul di sudut-sudut luar kantor itu terpasang kamera CCTV yang aktif. Sebagai pria yang berpikiran taktis, dia tidak ingin ada rekaman yang bisa berpotensi memicu kesalahpahaman hukum di kemudian hari. Dia kenal Tamara seperti apa, jadi tidak ingin ada celah sedikitpun yang digunakannya untuk playing victim terhadap pertemuan sore itu."Kita bicara di kafe seberang saja," ajak Rangga.Dengan langkah berat dan takut, Tamara melangkah mengikuti di belakang punggung tegap itu. Namun ia kembali terkejut, ternyata Rangga tidak datang

  • Mencari Jejak Maria   MJM 166

    Maria diam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Menurutku kamu sedang sakit dan perlu berobat ke psikiater. Buruan sebelum terlanjur gila."Tawa Tamara di seberang sana mendadak terhenti, digantikan dengkus tidak suka. "Kamu nggak usah sok menasihatiku. Lihat bagaimana dia akan kembali meninggalkanmu. Bilang saja kamu kepanasan melihat seberapa mesranya Mas Rangga padaku.""Sama sekali tidak," potong Maria cepat dan tenang. "Nggak ada gunanya kamu memanas-manasiku dengan hal usang begitu. Perlu kamu tahu, hubunganku dengan Mas Rangga jauh lebih romantis, sehat, dan indah sekarang ini. Aku nggak perlu menceritakan kepadamu bagaimana mesranya hubungan kami setiap hari, hingga sekarang aku sedang mengandung anak kami yang nomer dua."Termasuk bagaimana kami menikmati indahnya musim semi di Jepang waktu itu. Mas Rangga membawaku dan A'im berbulan madu ke sana. Menebus semua waktu yang dulu sempat hilang. Aku nggak perlu pamer atau mengirimkan bukti foto atau videonya kepadamu karena ma

  • Mencari Jejak Maria   MJM 165

    "Mas sudah merencanakan perceraian sebelum bertemu denganmu," bantah Rangga. Maria terus meluapkan segala kekesalan, rasa lelah, dan rasa tidak amannya malam itu. Sementara Rangga hanya bisa diam membisu, mendengarkan dengan sabar setiap kata amarah yang keluar dari bibir sang istri. Pria itu menahan diri untuk tidak memotong atau mendebat. Percuma, Maria hanya ingin didengar, bukan didebat.Rangga sekarang paham psikologi wanita, kalau mereka butuh mengomel untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam hatinya hingga tuntas. Terlebih lagi ia sadar bahwa saat ini Maria sedang mengandung. Di mana gejolak hormon membuat mood-nya naik turun dengan drastis dan tidak menentu. Rangga tahu, sebagai konsekuensi masa lalunya ia harus siap jika sewaktu-waktu masalah ini kembali diungkit, lagi dan lagi sampai kapan pun.Seperti halnya Tamara dulu, tiap kali marah, akan mengungkit kebersamaan Rangga dan Maria.Setelah Maria mulai tenang, Rangga menarik napas panjang dan dalam. Ia merapatkan tubuhnya

  • Mencari Jejak Maria   MJM 164

    MARIA - 62 Bukan Maria yang Dulu"Aku nggak ingin membahasnya, Mas. Aku tahu itu semua foto dan video lama," ucap Maria, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai merebak, membuat sepasang matanya berkaca-kaca di bawah pendar lampu kamar. Ia tahu semua itu cerita lama. Tapi jujur, ada rasa sakit dan kecewa dalam dada. Padahal beberapa waktu ini suasana sudah anteng. Eh, tiba-tiba saja Tamara muncul lagi dan berusaha menyerang mentalnya."Aku hanya ingin diam sekarang ini. Aku butuh waktu untuk kembali berdamai dengan kenyataan, bahwa ketika aku memutuskan untuk menerima Mas kembali, maka hal-hal seperti inilah yang harus siap kujadikan konsekuensinya." Maria berusaha melepaskan cekalan kuat jemari Rangga di pergelangan tangannya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah pengakuan jujur menyeruak dengan begitu perih. Ternyata memang tidak pernah mudah untuk mencintai seorang Rangga. Sebab ada wanita lain yang masih ingin memilikinya.Ujian di

  • Mencari Jejak Maria   MJM 6

    MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status