LOGINSambil ditarik paksa oleh Bintang, Anya terus menyapu pandang ke seluruh bagian restoran. Terpantau sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana, termasuk Aurel. Restoran juga sepertinya akan segera tutup.
‘Syukurlah kalau perempuan itu sudah pulang,’ batin Anya. Sampai di luar restoran, Bintang pun menghentikan langkah kakinya dan segera melepas pegangan tangannya dari Anya. Ia lalu menoleh dan melihat kepada gadis itu dengan tatapan marah, tangannya bersedekap. Tak pernah terpikirkan olehnya jika malam ini ia harus berurusan dengan si bocah tengil, yang sangat tidak ia suka dan selalu ia hindari saat di kantor itu. Sungguh sial sekali. Sementara Anya, tahu jika dirinya diperhatikan, ia pun hanya bisa diam. Berdiri dengan posisi kepala yang menunduk. Lama mereka saling diam dengan perasaan masing-masing. Yang jelas, hidup Anya tidak akan selamat setelah malam ini. “Bisa kamu jelaskan tentang semua ini?” tanya Bintang. Anya masih diam dan tidak berani untuk melihat ke arah lawan bicaranya. “Saya bertanya sama kamu, Anya Berlian Permata.” Mendengar itu, Anya pun mengangkat kepala cepat, “Om hapal nama lengkap aku?” tanyanya kaget. “Saya suruh kamu menjelaskan, bukan justru mengajukan pertanyaan balik!” bentak Bintang. Anya kaget, jantungnya serasa mau copot. “Maafin aku, Om.” Bintang membuang napas kasar. “Ya sudah, sebagai hukumannya, nilai binaan kamu saya kurangi lima.” Sontak saja wajah Anya berubah pucat. Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Mengingat, apa yang ia perbuat kepada Bintang tadi memang sudah sangat keterlaluan. Bahkan walaupun Bintang akan menghukumnya hormat bendera selama seharian, Anya dengan suka rela akan menjalaninya. “Saya duluan,” ucap Bintang. Ia lalu meninggalkan Anya begitu saja, terus berjalan menuju ke mobil dinasnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sadar ditinggal, Anya pun segera menyusul Mayor Bintang dengan berlari-lari kecil. “Om, tungguin. Masa Om mau tinggalin aku di sini sendirian sih?” “Kamu pulang sendiri, saya pulang sendiri. Sejak awal kita memang datang sendiri-sendiri ke tempat ini, bukan?” jelas sang Mayor. Kata-kata Bintang berhasil menusuk relung hati Anya. Tapi, it's ok lah, Anya sudah terbiasa dikatain oleh Mayor Bintang. “Tapi jam segini udah susah dapet ojek, Om. Aku pulang naik apa dong?” “Naik taksi saja.” “Nggak punya duit, Om” ucap Anya jujur. Bintang menghentikan gerakan tangannya yang sudah berada di handle pintu mobil. Menoleh perlahan ke arah Anya yang berdiri dengan bibir yang maju dua sentimeter. “Heh, kamu pikir saya percaya? Tadi saja, kamu bilang mau bertemu dengan seseorang di sini, di restoran semewah ini, kenapa sekarang untuk ongkos pulang bisa tidak punya duit?” “Ya ... aku juga ke sini karena di ajak sama temen aku, Om. Katanya dia mau traktir.” “Cewek?” “Cowok, Om.” “Pacar?” “Bukan, Om. Kenalan di online.” “Telepon saja dia, saya buru-buru.” Mayor Bintang membuka pintu mobilnya dan langsung masuk tanpa mau mendengarkan penjelasan Anya lagi. Sungguh, ter-la-lu. “Om ... Om ... kok aku ditinggal sih? Om ... nebeng dong, Om. Om ... OM BINTANG ...!” Anya terus mengejar mobil Bintang yang sudah bergerak perlahan meninggalkan restoran. Tak peduli, Bintang segera tancap gas dan meninggalkan Anya seorang diri di depan restoran. Anya sedih campur kecewa. Ternyata sebenci itu Bintang padanya. Sama sekali tidak mau peduli dengan keadaan dirinya sedikitpun. Benar kata orang, laki-laki yang tidak punya hati kepadamu, mana mungkin dia akan mengkhawatirkan keadaanmu. “Om Bintang tega banget sama aku. Dia ninggalin aku di sini sendirian. Mana Aurel udah pulang lagi. Mau telepon siapa, aku di kota ini cuma sendiri.” Sedih, Anya pun menangis sembari menutup wajahnya dengan tangan. Perasaannya benar-benar terluka. Bukan hanya karena ditinggal di tengah kota yang mulai sepi ini, melainkan karena sikap Bintang yang sampai hati membiarkan ia sendiri. “Setidaknya, walaupun dia nggak suka sama aku, apa dia nggak bisa simpati sedikit sama perempuan? Aku kan cewek, bukannya orang-orang sawah.” Namun, dalam keadaan yang begitu sedih, Anya tidak tahu, jika ternyata Bintang tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Mobil pria itu sudah dalam posisi berhenti tak jauh dari tempatnya duduk dan menangisi nasib. Dari kaca spion kiri mobilnya, Mayor Bintang terus melihat Anya yang belum ada pergerakan sama sekali. Gadis itu masih tampak duduk tanpa ada usaha untuk mencari angkutan. Di saat Bintang tengah mengamati Anya, tiba-tiba saja ia melihat tiga pemuda mabuk yang berjalan ke arah gadis itu. Tahu mabuk, dari cara mereka jalan yang tampak sempoyongan tak karuan. Salah seorang dari mereka juga terdengar meracau tak jelas. “Heh, lihat, ada cewek cantik,” ucap salah seorang dari mereka. “Mana mana mana?” tanya yang lainnya. “Itu bodoh, di sana!” Ketiga pemuda mabuk itu pun melihat ke arah Anya. “Lumayan untuk penghangat malam ini.” Mereka lalu tertawa jahat dan segera berjalan dengan langkah gontai ke arah Anya. Mengetahui para pemabuk itu hendak mengganggu Anya, Bintang pun tidak tinggal diam. Dengan cepat ia pun kembali menggerakkan mobilnya dengan cara mundur. Lalu berhenti tepat di depan Anya dan menurunkan kaca langsung. “Ayo masuk!” perintahnya. Anya mengangkat kepala dan melihat kepada laki-laki dewasa itu. Sempat tertegun sesaat karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bintang, mengajaknya pulang? “Om ngomong sama aku?” tanya Anya di sela-sela sesenggukannya. “Bukan, sama pohon. Ya sama kamu Anya. Memangnya ada orang lain di sini selain kamu dan saya? Cepat naik.” Anya pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat ke arah mobil. Langsung membuka pintu mobil dan masuk. Setelah Anya duduk, Bintang pun segera menutup kembali kaca jendela. Selang beberapa detik, para pemabuk tadi lewat dan terlihat seperti kecewa. “Pakai sabukmu,” perintah Bintang. Anya menurut dan langsung memakai sabuk pengamannya. Kemudian mengusap wajahnya yang basah karena air mata dengan tangan. Melihat itu, Bintang pun menarik dua lembar tisu yang ada di atas dashboard dan memberikannya kepada mahasiswa binaanya itu. “Pakai ini.” Anya diam dan melihat kepada sang Mayor. Lalu mengambil tisu tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dahi sang Mayor tampak mengernyit samar. “Mau saya antar ke mana?” tanyanya dengan intonasi bicara yang sudah kembali normal. Tak menjawab, Anya justru membuang pandang ke arah luar jendela. Tampaknya ia masih begitu terluka dengan sikap acuh dan tak peduli yang Bintang tunjukkan tadi. “Jawab, Anya. Kalau kamu diam seperti ini, saya jadi bingung sendiri.” “Ke kosan. Jalan anggrek nomor 30,” jawab Anya dengan posisi masih buang muka. “Baik.” Bintang kembali menghadap ke arah kemudinya. Kemudian menginjak gas dan melajukan mobil menuju ke kosan Anya. Sepanjang jalan, Anya terus diam. Mayor Bintang juga diam. Jadilah mereka sama-sama diam. Dan setelah malam ini, apa yang akan terjadi besok?Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Bintang diizinkan pulang. Kepulangan Sang Mayor disambut dengan pengamanan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Meski Bintang bersikeras bahwa dirinya sudah pulih total dan bisa berjalan sendiri, Langit dan Kapten Bima tetap siaga mendampingi di sisi kanan dan kirinya sejak keluar dari pintu lobi rumah sakit Kasih Ibu.Anya berjalan di sebelah Bintang, membawa tas berisi sisa perlengkapan selama rawat inap. Sorot matanya tak lagi sekeruh beberapa hari lalu, namun gurat waspada kini jelas tercetak di wajah ayunya.Rahasia besar yang pecah malam itu mengubah kepercayaan Anya sepenuhnya. Setiap sudut koridor rumah sakit dan setiap pasang mata berseragam loreng kini terasa seperti ancaman yang mengerikan. “Kenapa harus dikawal sebanyak ini, Bim?” bisik Bintang pada Bima.“Ini sesuai proses, Mayor. Sudah, kamu ikuti saja,” jawab Bima dengan nada yang sama berisiknya. “Iya, tapi ini bisa memancing atensi semua orang. Kamu lihat tuh,
Bintang tidak segera menjawab. Ia justru mengunci ponselnya, membiarkan layarnya meredup, lalu meletakkannya kembali di atas nakas dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia menatap Anne dengan sorot mata penuh penghormatan, sekaligus kepedihan yang mendalam.Di sebelahnya, Rahayu tampak terperanjat, menatap Bintang dan Anne secara bergantian dengan napas yang tertahan. “Jeng ... kamu ... kamu kenal dengan perwira di foto ini?” tanya Rahayu dengan suara yang bergetar.Anne tidak langsung menjawab pertanyaan Rahayu. Matanya masih lurus menuntut jawaban dari Bintang. Tubuhnya semakin bergetar hebat dalam dekapan Anya yang kini ikut menangis dalam diam.“Saya … saya menemukan potongan berita ini di antara berkas-berkas lama mendiang Papa, Bun,” jawab Bintang akhirnya, suaranya terdengar begitu berat memenuhi sudut kamar VVIP yang senyap. “Sepertinya Papa menyimpan berkas penyelidikan internal yang sengaja dihentikan secara paksa oleh atasan mereka puluhan tahun lalu.”Bintang menjeda ka
Sebenarnya Bintang masih tetap ingin merahasiakan masalah ini dari keluarganya, tapi sepertinya tidak akan mungkin. Terlebih dari Anne. Ya, Anne adalah saksi kunci dari kasus yang tengah Bintang selidiki. Satu-satunya orang yang ada bersama Arjuna kala itu. Jadi, menyembunyikan kebenaran ini dari dua keluarga yang takdirnya saling bertaut adalah hal yang mustahil. Rahayu, ibunya, adalah janda dari seorang perwira yang karirnya terang benderang. Sementara Anne, ibu mertuanya, adalah istri dari seorang Arjuna Abrisam—pria yang selama puluhan tahun dianggap menghilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sampai saat ini. Bintang melirik sekilas ke arah Anne yang duduk tenang di dekat Anya bersama Andini. Wanita paruh baya itu tampak anggun dengan gurat wajah teduh yang menyimpan sejuta ketabahan, namun juga luka lama yang belum sepenuhnya mengering. “Bintang ... kamu dengar Mama, kan? Kok malah melamun sih?” tegur Rahayu, membuyarkan pergolakan batin yang berkecamuk di kepala Sa
Bintang menangkup kedua belah pipi Anya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya, mencoba menyalurkan ketegasan dan ketenangan seorang prajurit langsung ke dalam jiwa Anya yang sedang rapuh. “Anya, tatap saya. Dengarkan saya baik-baik,” ucap Bintang dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar penuh penekanan namun sarat akan kelembutan. “Semua akan baik-baik saja.” Anya sesenggukan, mata bulatnya yang berair menatap Bintang dengan pandangan memohon yang teramat sangat. “Om, please ... stop, Om. Mereka punya pangkat, mereka punya kekuasaan. Kita bisa apa? Kita nggak punya apa-apa.” “Saya punya kamu, Anya,” sahut Bintang cepat. Anya semakin manangis mendengarnya. Kepalanya ia tunjukkan dalam-dalam, tak kuasa melihat wajah laki-laki yang sangat ia cintai. “Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu terpaksa mengalah dan memilih mundur karena dia berjuang sendirian demi menyelamatkan kamu dan ibumu," tutur Bintang,
Bintang kembali menghela napas berat. Ia sudah menduga, jika Anya pasti tidak akan percaya dengan kenyataan yang ia temukan. Dan mungkin, semua orang juga tidak akan percaya. Namun entah mengapa, feeling-nya mengatakan jika pria yang ada dalam surat kabar tersebut adalah ayah mertuanya, Arjuna Abrisam.“Anya, dengarkan saya ….” Bintang menegakkan posisi duduknya agar bisa lebih jelas melihat wajah Anya. “Saya tahu, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya sampaikan. Tapi saya yakin, feeling saya tidak akan salah. Wajahmu, senyummu, itu sangat mirip dengan laki-laki yang pernah bertemu dengan saya dua puluh tahun yang lalu. Dia sangat mirip dengan kamu, Anya.”Anya menoleh dan menatap Bintang dengan mata yang basah. “Maksud Om ... Om pernah ketemu langsung sama Ayah?” tanyanya dengan suara serak yang nyaris hilang.Bintang mengangguk pelan. Tatapannya menerawang jauh, melintasi sekat waktu, saat dirinya masih menjadi seorang remaja laki-laki berseragam SMA.“Waktu saya masih
“... kasus lama, Ma. Tapi ya … tidak penting juga.” Bintang berbohong.“Tidak penting? Kalau tidak penting, mana mungkin ada orang yang mau bunuh kamu, Bin. Pokoknya kamu harus kasih tahu mama. Mama dan Langit akan ke rumah masih liat kamu nanti malam. Tunggu adikmu pulang dinas dulu.”Bintang terdiam. Kalau Rahayu sudah membuat keputusan sulit untuk ia bantah. Lagi pula, mana mungkin ia bisa terus-terusan menyembunyikan rahasia besar dari keluarganya. Apalagi rahasia itu menyangkut ayah mertuanya sendiri.“Anya melirik ke arah Bintang yang tampak mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ekspresi wajah Sang Mayor kembali mengeras, menyiratkan beban pikiran yang teramat berat. Melihat suaminya seperti orang bisu, Anya berinisiatif mengambil alih pembicaraan. Ia mendekatkan ponsel Bintang ke bibirnya.“Iya, Ma ... nanti malam Anya tunggu sama Om Bintang di kamar rawat, ya. Tapi Mama janji harus jaga kesehatan, jangan sampai tekanan darah Mama naik karena panik,” ucap Anya lembut, mencoba men
“Bunda ....” Anya berteriak kepada Anne tatkala panggilan videonya sudah tersambung dengan ibunya. “Tidak perlu teriak, Bunda belum pekak. Ada apa menelepon Bunda?” tanya Anne dari seberang sana. “Ajari aku dong Bun, aku mau bikin mie goreng buat Om Bintang. Mie goreng buatan Bunda kan enak ban
“Berdiri tegak di sana,” perintah Bintang kepada Anya. “Heuh?” Anya bingung mendengarnya. Bagaimana tidak, baru saja mereka tiba di pantai, tapi Bintang sudah menyuruhnya berdiri dengan sikap siap sempurna. “Mau ngapain sih Om? Mau foto aku?” tebaknya. Bukannya menjawab pertanyaan Anya, Bintang
Anya menarik napas dalam dan kembali membuangnya dengan perlahan. Sementara Bintang, tampak masih menatap lekat-lekat ke arah dirinya. “Maafkan saya, Anya,” ucap Bintang tulus. Kalimat itu kembali terucap dari mulut Sang Mayor dan entah sudah kali yang ke berapa ia mengucapkan kata maaf sejak m
“Eum,” angguk Anya cepat. “Ya sudah, coba kamu jelaskan, pelanggaran apa yang sudah saya lakukan,” tanya Bintang. “Ok! Pertama, Om pulang terlambat tanpa ngabarin aku. Kedua, Om pergi cepat tanpa pamit sama aku. Ketiga, Om udah ngerusak suasana jalan-jalan aku sama Rea. Yang padahal, Om sendir







