LOGINMenolong Membawa Petaka! Lisa tak pernah menyangka kalau setelah menolong pria asing yang terdampar di tepi pantai itu membuatnya harus menikah dengannya. Pria dengan tatapan kosong dan wajah sendu itu tak mengingat tentang siapa dirinya. Bahkan, dia tidak bisa melakukan aktivitas apapun selain di tempat tidur layaknya seorang yang lumpuh. Lisa berdoa agar saat pernikahan itu dia tak mampu mengucap ijab kabul, tapi ternyata .... follow Medsos Chinta di IG Nychintaa dan FB Nychinta! ❤️❤️❤️
View More“Tidak! Tolong! Jangan! Jangan lukai dia! Tolong! Kumohon, kumohon, aku akan melakukan apapun juga!” teriak seorang pria dengan suara ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya berubah menjadi sangat pucat dan dia benar-benar menyedihkan.
Jeritannya semakin menjadi tatkala silaunya cahaya kilat dan guntur yang saling bersusulan menggelegar di angkasa malam ini. Hujan masih turun dengan deras di luar. Lisa segera menghampirinya dan mencoba untuk menenangkan pria itu. “Tenang, tenanglah, ada aku di sini,” ucap Lisa padanya dengan menepuk pelan punggungnya. Namun, tiba-tiba saja, pria itu membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Lisa lalu memeluknya dengan sangat erat. “Tolong, kumohon tolong aku!” Dia berkata lirih. Jantung Lisa berdetak cepat dan darahnya berdesir deras, pria ini memeluknya, dia bahkan belum pernah merasakan hal demikian dari pria yang bukan mahramnya, tetapi entah kenapa rasa empatinya saat ini sangat tinggi membuatnya sangat iba dengan pria ini. “Sabarlah, kamu aman sekarang.” Suara lembut Lisa membuatnya perlahan bisa mengatur ritme napasnya menandakan pria ini sekarang sudah jauh lebih tenang. Namun demikian, pelukannya pada Lisa masih kuat seolah tidak ingin dilepaskan. Tiba-tiba saja, seketika penerangan padam disusul dengan cahaya kilat yang memenuhi ruangan, semakin erat saja pria ini melakukannya, apalagi setelahnya suara petir seolah memecahkan tempat ini. Jantung Lisa kembali berdetak kencang, tubuhnya yang mulai tenang tadi menjadi bergetar hebat kembali, hanya saja kali ini mulut pria itu terkunci rapat. “Tenanglah dulu, aku akan mengambil lilin di belakang.” Lisa berkata menenangkannya. Pria itu menggeleng lalu bersuara lirih menyanyat. “Tolong jangan tinggalkan aku.” Baru saja Lisa ingin membujuknya lagi, kamar ini mendadak terang dengan sinar penerangan dari arah luar masuk melalui celah gorden yang masih terbuka. Banyak pasang mata melihat mereka dalam keadaan seperti ini, yang mana semua orang pasti akan sangat salah paham dengan posisi mereka. Berpelukan di dalam sebuah kamar yang gelap dan hanya berdua saja. “Lisa! Keluar kamu!” Teriak suara dari luar. Lisa benar-benar terkejut, dia ingin segera melepaskan pelukannya, tetapi suara dari luar itu terdengar seperti langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan membuat kegaduhan “Pak Duha! Lihat, ini kelakuan putrimu!” serunya dengan lantang. Lisa terlihat panik, dia berusaha untuk menjelaskan. “Tidak-tidak, ini salah paham ini–” “Kita harus menikahkan mereka!” timpal yang lain lagi. Lisa sangat terkejut dengan pernyataan barusan. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bermaksud untuk menjelaskan pada ayahnya, tetapi ayahnya memandang dirinya dengan tatapan kecewa. “Tidak, kejadiannya tidak seperti yang bapak-bapak pikirkan ini. Ayah ini semua–” “Jangan berkilah kamu! Untungnya kita cepat datang, kalau tidak kalian pasti sudah melakukan hal diluar norma agama!” Seseorang dengan janggut tebal yang berseru pertama kali tadi bicara dengan nada tinggi pada Lisa. “Pak Duha, Bapak salah satu orang yang terhormat di kampung kita ini, jadi lebih baik kita nikahkan mereka saja malam ini!” Mata Lisa mulai berkaca-kaca, bagaimana mungkin dia menikah dengan pria ini?! “Pak, benar seperti yang Bapak ini bilang, kalau tidak mau Lisa mencoreng nama keluarga kita, kita harus menikahkan mereka.” Suara itu sangat dikenal oleh Lisa, dia adalah Ibu Ida, ibu sambungnya. Lisa menjadi sangat terpojok karena hal ini, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan pada mereka. Lisa lalu melihat pria itu, jelas makin tidak ada harapan. Pria itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri di saat yang segenting ini, pandangannya kosong ke arah depan dan wajahnya terlihat jelas seperti orang bodoh. “Bener, Pak! Perbuatan Mbak Lisa ini tidak dibenarkan, lagipula, takutnya kita juga kena imbasnya! Jadi, mending Mbak Lisa dinikahkan saja sama orang itu!” Kali ini suara Yasmin, adik tiri Lisa, ikut menggema di ruangan ini. Lisa benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, ada rasa sesal yang dalam atas perbuatannya sendiri pada pria itu, tetapi dia tahu, segala sesuatu yang sudah digariskan jelas tidak bisa diubah begitu saja. “Ayah, Lisa tidak begitu, Yah, Lisa tahu batasan–” “Halah batasan! Jangan sok suci kamu! Kalau tahu batasan ngapain kamu berduan di kamar dengan dia? Pake peluk-peluk segala. Pak, kita harus menikahkan Lisa malam ini juga, kalau tidak nama baik keluarga kita menjadi taruhannya.” Ida mendesak Duha yang masih diam melihat anaknya. Lisa melihat ke arah Duha dengan tatapan memohon, tetapi sepertinya sang ayah tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah, saya akan menikahkan anak saya malam ini juga dengannya,” putus Duha. Hal ini membuat Lisa tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tahu betul ayahnya ketika memutuskan sesuatu, sulit untuk ditarik kembali. “Ayah …,” lirih Lisa pada Duha, matanya menatap sendu, tetapi pria itu seolah menulikan telinganya. Saat ini yang ada dalam kepalanya adalah menikah dengan pria ini. Pria asing yang bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat! Duha masih tetap tinggal di kamar ini, dia melihat ke arah Lisa dengan tatapan kecewanya, matanya juga melihat tajam ke arah Lisa. “Lisa, ayah tahu kamu tidak akan melakukan apapun, tapi keadaannya cukup berbeda, semua orang bisa dengan jelas melihat kalau kamu dan dia memiliki hubungan tak biasa.” Duha berkata pada putrinya dengan suara yang berat. “Tapi Yah, ayah tahu sendiri dia ini bagaimana, kita tidak tahu asal-usulnya, bahkan hal paling kecil saja tentang namanya dia tidak tahu. ” tunjuk Lisa dengan suara tercekat pada pria itu. Duha hanya mengangguk dan menarik napas berat. “Menikahlah dengannya.” Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya bagai sebuah godam yang memukul hatinya dengan paksa. “Tapi ….” “Ini yang terbaik saat ini.” Ayahnya mengelus pelan pucuk kepala Lisa sebelum akhirnya keluar dari kamar ini, meninggalkan Lisa dan pria asing itu dalam kamar ini. Lisa hanya diam, dia tetap tak kuasa untuk meneteskan air matanya saat Ayahnya keluar dari tempat ini. Sebelum berpesan padanya agar segera bersiap-siap untuk merapikan diri. Tiba-tiba, pria itu menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Lisa. “Jangan menangis,” ucapnya dengan suara husky-nya membuat Lisa terkejut mendengarnya. “Kamu …?” Lisa tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tatapan pria itu sungguh dalam. “Gandha, namaku Gandha,” ujarnya. Lisa mengerutkan keningnya. Pria ini mengatakan siapa namanya? Apa dia tidak salah dengar? Belum sempat dia mendekati pria itu dan bertanya lebih jauh, suara Ida kembali terdengar nyaring di kamar ini. “Lisa! Kamu harus memakai pakaian yang rapi, biar tidak memalukan keluarga kita! Cukup kamu yang berdua-duaan dengan orang gila ini saja yang membuat keluarga kita malu!” hardik Ida. Lisa mematung, otaknya masih mencoba untuk berpikir cepat dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia kembali disadarkan saat tangan Ida menariknya paksa keluar dari tempat itu.Empat tahun kemudian ...."Papa! Cepat!"Suara tawa seorang anak laki-laki memenuhi halaman rumah yang berdiri megah di tengah hamparan kebun bunga lavender.Anak kecil berusia hampir empat tahun itu berlari dengan langkah pendeknya sambil membawa pesawat kayu di tangan. Rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin, sementara sepasang mata abu-abu yang diwarisi sang ayah tampak berbinar penuh semangat."Pelan-pelan, Nak!" seru Lisa dari teras rumah. Namun, peringatannya datang terlambat."Papa!"Bruk!Tubuh mungil itu langsung menabrak kaki Gandha yang baru saja turun dari mobil.Alih-alih marah, Gandha justru tertawa pelan. Dengan satu gerakan, ia mengangkat putranya tinggi-tinggi hingga terdengar suara cekikikan riang. "Wah... siapa ini? Kok berat sekali?""Bukan berat!" protes si kecil sambil tertawa. "Arka sudah besar!""Kalau begitu sudah tidak mau digendong Papa?" Gandha menggoda putranya."Tetap mau." Jawaban polos itu membuat Lisa terkekeh."Katanya sudah besar.""Kalau sa
Beberapa saat, Gandha hanya memandangi nama yang terus berkedip di layar ponselnya. Sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah Lisa, tetapi tidak juga mengangkat panggilan itu hingga deringnya berhenti dengan sendirinya.Belum sempat ia menyimpan ponsel, layar itu kembali menyala.Nama yang sama kembali muncul.Gandha mengembuskan napas pelan, lalu menatap Lisa dengan wajah memelas."Lihat sendiri, kan?" katanya sambil mengangkat ponselnya. "Belum jadi pimpinan saja, orang-orang sudah mengejarku seperti ini."Lisa tak kuasa menahan senyum melihat tingkah suaminya."Angkat saja, Mas. Siapa tahu keponakanmu mau membicarakan hal lain.""Kalau ternyata dia sama saja dan memaksaku lagi, bagaimana?" Gandha kembali melihat ke arah istrinya itu."Ya didengarkan dulu. Jangan mengambil kesimpulan sendiri." Lisa berkata dengan suara lembut.Gandha menggeleng pelan sambil terkekeh. Akhirnya ia mengusap layar ponselnya dan menerima panggilan itu. Sengaja ia menyalakan pengeras suara agar Lisa ikut
Sejujurnya, Lisa sangat penasaran. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan sikap suaminya. Di satu sisi, ia begitu kagum melihat betapa dihormatinya Gandha oleh banyak orang. Namun di sisi lain, ia juga menangkap sesuatu yang disembunyikan pria itu. Di balik senyum dan ketenangannya, Gandha tampak menyimpan beban yang cukup berat."Sebenarnya, Mas Gandha kenapa, ya?" gumam Lisa lirih.Rasa penasarannya akhirnya mengalahkan keinginan untuk tetap diam. Ia melangkah keluar kamar, mengikuti arah suaminya.Langkah Lisa terhenti di ambang pintu balkon.Dari kejauhan, ia melihat Gandha sedang berbicara melalui telepon. Nada suaranya terdengar rendah, tetapi tegas. Wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi keseriusan yang belum pernah Lisa lihat selama lima tahun mereka bersama."Apa ada masalah besar di perusahaan?" bisiknya pelan.Lisa mengurungkan niat untuk menghampiri. Ia tidak ingin mengganggu pembicaraan suaminya, terlebih jika itu memang sesuatu yang penting.Sebagai gantinya,
Melihat wajah Gandha yang panik dan langsung mendekati Lisa membuat Radiah dan Lisa terkejut sesaat.“Sayang kamu, tidak apa-apa, kan?” tanya Gandha dengan wajah yang penuh diliputi rasa khawatir.Lisa lalu tersenyum kemudian sedikit tertawa dan menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa, jangan berlebihan.” “Tapi … kenapa kau …?” Gandha lalu melihat ke arah ibunya dengan pandangan menuntut penjelasan.“Apa aku terlihat seperti ibu mertua yang ingin menindas menantunya? Pikiranmu payah sekali. Bahkan kau tidak percaya pada mamamu sendiri.” Radiah berkata lalu memperlihatkan wajah sedihnya.“Minta maaflah sama Mama. Bahkan mama sudah sangat baik padaku,” ujar Lisa dengan suara yang sedikit serak.Gandha hanya mengernyitkan keningnya mencoba untuk mengerti situasi yang sedang terjadi saat ini.Lisa dan Radiah saling pandang lalu tersenyum. “Tidak seperti yang ada dalam pikiranmu, Mas, Mama sangat menerimaku, bahkan aku merasakan kalau saat ini aku benar-benar mendapatkan seorang ibu yang men
“Mbak bajuku apa sudah disetrika?” Yasmin menghampiri Lisa yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga ini.Lisa tersenyum dan mengangguk. “Sudah, tunggu sebentar, ya.” Dia lalu mengambilkan baju yang dimaksud oleh Yasmin dan menyerahkannya. Yasmin mengamati hasil seterika dari Lisa dan kembali
Lisa tertegun sejenak, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Ibu dan adik tirinya itu. Hanya saja selama ini dia masih diam dan tidak melawan untuk mengurangi percekcokan yang terjadi di rumah ini.Ayah dan ibunya juga kerap kali bertentangan pendapat yang ujung-ujungnya Duha akan mengal
“Mas Gandha, apa kamu paham apa yang aku katakan?” Lisa kembali mengulang tanya untuk memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi jika suaminya bisa diajak bicara dengan normal.“Aku … aku hanya ingat namaku, aku juga ingat kalau aku belum menikah,” ucap Gandha, “tapi selebihnya, aku tidak bisa meng
“Bagaimana saksi, apa ini sah?”“Sah!” Beberapa orang menjawab dengan lantang. “Alhamdulillah,” ucap yang hadir di sana. Kini, Lisa benar-benar sudah resmi menjadi seorang wanita bersuami.Doa dipanjatkan setelah ijab kabul terdengar. Namun, Lisa masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri, rasany






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore