LOGINDemi menghindari kejaran penagih hutang yang mengincar kehormatannya, Silvia Gunawan (mahasiswi kedokteran) yang manja melarikan diri ke desa terpencil yang tak memiliki sinyal dan sulit akses. Di sana, ia terpaksa menikah di depan kakeknya dengan Abimanyu Bara (seorang pemuda ‘ndeso’ kaku yang ia remehkan). Silvia tak menyadari bahwa Bara adalah pemuda berpendidikan, lulusan Agribisnis dari luar negeri yang sengaja menyembunyikan kekayaannya demi membangun desa dan kunci bagi keselamatan keluarga Silvia. Malam pertamanya adalah malam tak terlupakan sekaligus kesalahan. Bagaimana kelanjutan pernikahan Silvia dan Bara? Bagaimana jika Silvia bertemu kembali dengan pria idamannya di masa kuliah? Apakah ia akan meninggalkan Bara demi pria idamannya? Ikuti kelanjutan...
View More'Aku hamil anak kamu, Mas Zay.'
"Aaaaaa …." Kina Anggita Dharmasya berteriak horor, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Jantung Kina berdebar kencang, wajahnya pucat dan tubuhnya tegang. Dia bermimpi yang bukan-bukan, melakukan 'itu dengan kakak iparnya lalu dalam mimpi dia berakhir hamil.Setelah merasa sedikit tenang dari rasa syok tersebut, Kina buru-buru meraih HP. Di papan pencarian, Kina mengetik 'arti mimpi hamil. Banyak artikel yang bermunculan, namun sebagian mengatakan jika arti dari mimpi tersebut pertanda akan datangnya seorang jodoh."Jodoh sudah dekat?" Kina mengerutkan kening, membaca artikel di layar ponsel, "idih, dikira sumber air apa?! Gila, jodoh datang sedangkan aku masih pengangguran begini. Alah, hoaks ini!" gerutu Kina, kesal sendiri setelah membaca artikel dari arti mimpi hamil.Tak ada yang Kina bisa benarkan. Di situ dikatakan artinya jika jodoh seseorang yang memimpikan sudah sangat dekat, si pemimpi akan menikah dalam waktu dekat, jodoh yang selama ini si pemimpi tunggu ternyata berasal dari orang terdekat."Huh, kampret!" umpat Kina, memilih meletakan HP di atas nakas lalu segera bangkit dari ranjang.Kina memilih mandi kemudian segera keluar kamar. Mungkin keponakannya sudah datang, dan mereka akan bermain bersama.Semenjak berusia lima bulan, Kina lah yang mengasuh keponakannya. Sheila–kakanya, mengidap penyakit autoimun dan semakin parah setelah melahirkan. Sedangkan kakak iparnya, dia banyak pekerjaan.Zayyan LavRoy Azam! Kakak ipar Kina yang sangat tampan dan penuh pesona. Dia adalah makhluk tuhan yang bisa membuat perempuan menjerit hanya karena melihat rupanya. Namun, dibalik pesonanya, seorang Zayyan adalah sosok dingin, misterius dan kejam.Rumor mengatakan Zayyan tak pernah peduli pada Sheila, dia suami yang jahat. Tetapi Kina tidak percaya, Zayyan selalu bersikap sopan padanya dan tidak pernah menunjukkan bahasa kebencian. Karena seharusnya, jika Zayyan membenci Sheila, otomatis Zayyan juga membencinya bukan. Namun ini tidak.Walau begitu, Kina memang sedikit takut pada kakak iparnya. Pria tersebut sosok yang berbicara seadanya dan cuek minta ampun. Kina tak nyaman berada di sekitar Zayyan. Beberapa kali dia ke rumah sang kakak untuk mengasuh Zana, Kina selalu menghindar. Dia setakut itu pada Zayyan, berbicara dengan pria itu saja kadang Kina gagap."Untung Nona muda sudah bangun," ucap kepala pelayan di rumah Kina, berpapasan dengannya saat Kina akan turun ke lantai bawah."Memangnya kenapa, Kak?" tanya Kina."Nona Zana sudah dibawah, berserta Tuan Zay."Kina mengerutkan kening. Tumben sekali Zayyan mau mengantar Zana ke tempat ini. Apa terjadi sesuatu?"Yaudah deh nggak jadi turun. Kabari kalau Kak Zay pulang, baru nanti aku turun ke bawah, Kak," ucap Kina pada maid tersebut.Namun, ketika dia melangkah untuk kembali ke kamar, maid tersebut melarang dan menghadang."Nona harus kebawah. Tuan besar memerintahkan," panik maid itu. "Ck, apa lagi sih tuh pak tua?!" ketus Kina, akan tetapi tetap menurut dengan turun ke bawah.Kina memang menaruh perasaan benci pada orang tuanya sebab merasa kurang kasih sayang dan tak mendapat sikap adil dari orang tuanya. Sejak dulu orang tuanya hanya peduli pada Sheila (kakaknya yang sudah tiada). Kina paham kakanya butuh dukungan dan kasih sayang lebih sebab penyakit yang dia derita. Namun, haruskah itu membuat orang tua mereka tidak memberikan perhatian serta cinta pada Kina?Selama ini Kina mengemis kasih sayang pada orang tuanya. Akan tetapi bahkan setelah Sheila matipun mereka tetap tak peduli padanya. Enam bulan yang lalu, Kina menyelesaikan pendidikannya. Namun, sampai sekarang dia masih pengangguran. Kina dilarang bekerja agar Kina fokus menjaga Zana.Dulu, kakaknya diperbolehkan menempuh pendidikan di Luar negeri. Bahkan orang tuanya ikut tinggal di sana demi memastikan kondisi Sheila. Kina ditinggalkan di sini, dititip kepada neneknya.Namun, saat Kina yang punya cita-cita menjadi desainer dan ingin bersekolah di Paris, di pusat dunia fashion, orang tuanya melarang. Alasan karena Kina seorang perempuan dan tidak bisa menjaga diri.Hidupnya terasa tak adil, namun meskipun begitu Kina tak pernah menaruh kebencian pada Sheila dan Zana. Karena menurutnya yang salah adalah orang tuanya. Bukan kakak dan keponakannya."Kakaaaaaak …." Saat Kina tiba-tiba di bawah, suara teriakan bahagia mengalun di sana. Seorang anak perempuan cantik dengan rambut panjang–mengenakan dress berwarna pink, berlari ke arah Kina.Kina menyambut hangat, menangkap tubuh tersebut lalu membawanya ke dalam pelukannya."Eih, sudah cantik ajah." Kina berkata dengan manis, nadanya senang dan wajahnya ceria. Bukan hanya sebagai keponakan, baginya Zana adalah teman untuknya. "Tumben cantik, Na, biasanya datang ke sini belum mandi, masih pake piyama."Zana memang memanggilnya kakak, sebab Kina melarang bocah ini memanggilnya aunty atau mama. Kina merasa aneh dan tua kalau Zana memanggilnya Aunty. Sedangkan Mama, Kina merasa merebut Zana dari kakaknya. Oleh sebab itu dia menyuruh Zana memanggilnya Kakak. Dengan begitu dia berasa tetap berada awet muda serta tak merebut Zana dari ibu kandungnya.Sejujurnya Kina memang masih tergolong muda, usianya baru dua puluh tiga tahun–masuk dua puluh empat tahun. Sedangkan Kakaknya dan sang Tuan Zay, mereka sama-sama berusia 34 tahun.Katanya, Zayyan adalah teman kakaknya dahulu. Akan tetapi Kina tak pernah ingat jika Sheila dan Zayyan dulunya adalah seorang teman."Hehehe … karena Nana ingin melamar Kakak sebagai Mommy untuk Nana." Dengan ceria, gadis kecil yang cantik tersebut berucap. Lalu dia melepas pelukan tantenya kemudian menekuk lutut dilantai, seperti gerakan bersiap-siap lomba lari. Akan tetapi tangan Zana tak menyentuh lantai, melainkan terulur ke depan Kina--menyodorkan sebuah bunga mawar serta kotak mewah terbuka berisi permen pada Kina, "maukah Kakak menjadi Mommy Kina?"Deg deg deg'Orang-orang tertawa sebab merasa lucu dengan tingkah Zana, tetapi tidak dengan Kina yang sudah panik sendiri. Apa ini maksud mimpinya? Menikah dalam waktu dekat dan jodohnya berada dari keluarga terdekat. Ti-tidak!"Zana, kamu ngapain? Si--siapa yang menyuruhmu begini?" ucap Kina dengan taut muka muram serta malu secara bersamaan. "Daddy." Zana menjawab."Daddy kamu bego yah?!" galak Kina pada Zana, akan tetapi menyesali ucapannya sebab orang yang dia sebut 'bego tersebut ada di sana–duduk dengan aura alpha, menampilkan ekspresi datar serta dingin dan sedang menatap ke arah Kina. Matanya menghunus tajam ke arah Kina.Kina langsung menutup mulut dengan tangan, membungkuk sedikit pada sosok itu sebagai tanda maaf. Sialnya, sosok itu tetap menatapnya dengan tajam."Daddy bilang jika Kakak mengambil bunga dan permennya, maka Kakak bersedia menikah dengan Daddy. Tapi jika Kakak tidak mengambilnya, itu artinya Kakak bersedia menjadi Mommy baru Nana," ceria anak itu dengan senyuman lebar. Tanpa peduli jika Kina sebelumnya mengatai Daddynya.Bagi Zana, Kina adalah segalanya–Kina mama maupun sahabat, wanita inilah yang membesarkannya sejak bayi. Zana takut pada Daddynya, tetapi jika Kina menjadi ibunya, maka di rumah dia tidak merasa seram lagi. Sebab Kina akan tinggal denganya dan Daddynya."Kedatangan Tuan Zayyan kemari adalah untuk melamarmu sebagai istri, Kina. Ambil bunganya dan kemari lah," seru Luis, ayah Kina. Di depan orang, dia memang akan bersikap manis. Tetapi jika tak ada orang, mana mau dia bersikap seperti sekarang pada Kina.Tubuh Kina menegang kaku, jantungnya terasa akan copot dalam sana. Apa? Zayyan datang untuk melamarnya? Bagaimana bisa pria itu berpikir untuk menikahinya? Kina adik iparnya, dan bagi Kina Zayyan sudah seperti kakak untuknya. Dia menghormati pria itu serta segan.Kina menatap ragu-ragu pada Zayyan, akan tetapi langsung memalingkan wajah sebab pria tiba-tiba menyeringai padanya. Orang-orang tak akan percaya, akan tetapi Kina melihat dengan jelas.'Sudah dikasih isyarat dari mimpi, masih saja aku turun ke sini. Tahu gini mending tadi aku kabur dari balkon kamar.'Mengingat mimpinya tadi, Kina jadi merinding disko saat bersitatap dengan Zayyan.Zayyan tiba-tiba berdiri, berjalan mendekati Kina dan putrinya. Dia meraih permen di kotak putrinya lalu meletakkannya di tangan Kina.Zayyan menyunggingkan evil smirk pada Kina, menatap adik iparnya tersebut secara deep dan penuh maksud. "Sejujurnya aku datang bukan untuk melamarmu, Angie, tetapi sedang memberitahu keluargamu jika minggu depan kita akan menikah."Deg deg degSelamat datang di novel baru kita, MyRe. Semoga suka!!Kami tiba di rumah saat benar-benar gelap. Aku menggigil sudah kedinginan sejak tadi, bahkan jemariku keriput.Begitu pintu terbuka, aku langsung melangkah masuk dengan menghentakkan kaki lebar-lebar, meninggalkan jejak-jejak air yang menetes dari ujung rokku ke atas ubin.Penampilanku saat ini sudah tidak ada bedanya dengan hantu penunggu hulu sungai. Bajuku yang robek akibat keganasan badai cemburu Bara tadi sore terpaksa kutinggalkan di hutan. Sebagai gantinya, sekarang aku memakai kaus oblong hitam polos milik Bara yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badanku, tenggelam sampai ke paha, berpadu dengan rok panjangku yang masih basah kuyup dan melekat dingin di kaki.Rambutku? Jangan ditanya. Acak-acakan kering seadanya, dengan beberapa helai daun kering yang terselip di sela-selanya.“Pria gila! Egois! Capybara tidak punya perasaan!” omelku berapi-api sambil melempar sandal jepitku ke sudut ruang tamu dengan kesal. Aku berbalik, menunjuk muka Bara yang berjalan santai di belaka
Bahu Aditya akhirnya sudah jauh lebih baik. Beruntung itu hanya otot yang tiba-tiba menegang karena nekat mengangkat beban berat tanpa pemanasan, bukan cedera serius. Namun, drama hari ini ternyata belum selesai. Dalam perjalanan pulang kami menggunakan mobil, di dalam kabin terasa begitu pekat dan membisu. Bara menyetir dengan rahang mengeras rapat tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Hingga di pertengahan jalan yang sepi, Bara mendadak membanting setir dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Hari sudah sore, matahari hampir tenggelam sepenuhnya, dan siluet pepohonan di sekitar kami mulai meremang gelap.“Lho, kok berhenti di sini, Mas?” tanyaku heran, menatap sekeliling yang hanya berupa vegetasi liar.“Turun!” perintah Bara pendek. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung melompat turun lebih dulu dari mobil.Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu mobil dengan perasaan waswas. “Mas Bara mau ngapain di sini? Ini sudah mau gelap, lho.”“Turun, Silvia.” Kali ini ia berbalik, m
“Ah, Pak Bara bisa saja. Saya nggak sampai dehidrasi kok, cuma agak haus,” sanggah Aditya cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sedikit tercoreng.Melihat situasi yang canggung, Asih segera bergerak gesit. Ia mengambil teko berisi air putih dingin, lalu meletakkannya di atas nampan bersama dua buah gelas kosong untuk Bara dan Aditya.Kami berempat pun keluar dari kantor guru menuju selasar depan sekolah yang agak teduh. Sembari duduk melepas lelah di lantai selasar, Asih dengan telaten menuangkan air putih ke dalam dua gelas tersebut. Satu gelas pertama diserahkannya kepada Aditya yang langsung menerimanya dengan anggukan lega. Namun, saat Mbak Asih hendak menyerahkan gelas kedua kepada Bara, suamiku itu tiba-tiba menoleh menatapku tajam.“Silvi, sini!” panggil Bara, suaranya berat dan mutlak.Aku mengernyitkan dahi bingung, tapi kaki ini tetap melangkah menuruti panggilannya. Begitu aku sudah berdiri dekat di hadapannya, aku bertanya, “Ada apa, Mas?”Tanpa menjawab, tangan
Aku berjalan dengan langkah canggung menyusuri koridor selasar. Mau kembali ke toilet lagi jelas tidak mungkin, bisa-bisa dikira aku sedang diare. Tapi kalau bertahan di halaman depan, mataku benar-benar diuji oleh pemandangan yang luar biasa ajaib. Dokter Aditya ternyata sudah mulai kewalahan. Baru mengangkat dua sak semen yang masing-masing beratnya 40 kilogram itu, nafasnya sudah tersengal-sengal. Kulitnya yang putih bersih langsung berubah merah padam, dan tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat. Otot gym-nya yang estetik itu ternyata langsung menyerah begitu berhadapan dengan realita semen proyek yang berdebu dan kasar. Melihat lawannya sudah ngos-ngosan, Bara mendengkus geli sebuah ejekan tanpa suara yang sangat menyebalkan. “Biar saya yang urus semennya, Dok. Dokter angkat batako saja,” ujar Bara dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Tanpa babibu, si Capybara itu langsung memosisikan tubuhnya di dekat truk. Dengan gerakan yang terlihat begitu terlatih dan enteng, ia me
“Apa sih?” aku mengerling padanya dengan wajah kesal.“Jangan khawatir, aku sedang tidak berminat...” ujarnya enteng.“Lagipula, kamu sepertinya butuh waktu untuk mengembalikan fungsi bagian intimu agar bisa normal lagi,” tambah Bara dengan nada yang sangat menyebalkan. Ia berdiri di ambang pintu,
Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya Silvia keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara.“Sepi... kosong...” gumam Silvia, ia pun langsung masuk ke kamar.Ternyata Bara bera
Bu Dirman mengangguk lemah, wajahnya sudah basah karena peluh dan air mata. Aku segera ke dapur mencuci tangan dengan bersih, lalu segera kembali ke kamar bersalin.Aku berlutut di antara kedua kaki Ibu Dirman. Tanganku gemetar saat melakukan pemeriksaan dalam, namun aku berusaha tetap tenang.“Pe
Aku pun bangkit dari ayunan, hendak menghampiri suara tersebut. Aku menyusuri kebun belakang, di sana tampak dua orang anak. Salah satunya duduk di tanah terisak, penamilannya benar-benar kumal seolah tidak takut kotoran. Aku mendekati mereka perlahan, khawatir aku yang akan terjatuh di tanah basah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore