MasukKeluarga utuh disertai kehadiran buah hati adalah impian semua pasangan. Pun dengan Zana dan Haikal. Pasangan suami istri itu sudah sejak lama merindukan celoteh manja dari bibir mungil seorang bayi sebagai buah dari pernikahan mereka. Lebih dari dua tahun menikah, Zana tak kunjung hamil, membuat Haikal memilih rahim lain untuk menghadirkan buah hati untuknya. Memasuki tahun ketiga pernikahan, Haikal. Membawa bayi laki-laki untuk Zana yang ia sebut anak angkat. Tak ada gurat kecewa pada wajah tulus perempuan cantik itu, meski ia harus merawat bayi berusia dua bulan, sekaligus ibu mertuanya yang sakit parah. Hingga, pada siang itu, saat sebuah foto hingga rekaman video yang memperlihatkan kemesraan sang suami dengan wanita lain. Zana merasa kedua tungkainya melemah, menyisakan tubuh yang bergetar disebabkan sebuah pengkhianatan. Tak sampai di situ, anak yang ia rawat dengan penuh kasih sejak bayi itu tak lain adalah buah dari pengkhianatan suaminya.
Lihat lebih banyakAku tersenyum lalu mengangguk pelan. Ya, Rania akan menikah dengan Hendri. Lelaki itu telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Atas permintaan Rania, aku dan Bang Amar bercerita banyak tentang masa lalu beserta perubahan Rania pada Hendri, berharap Hendri bisa menerima apa adanya dan lebih mampu memahami Rania saat Hendri mengutarakan niatnya untuk serius pada Rania. Bahkan aku dan Bang Amar lah yang menjadi penyatu keduanya. Tentang Bang Haikal, kabar terakhir yang kudengar dari Kak Naima, mantan suamiku itu masih sendiri setelah Rania menolak untuk kembali. "Semoga sakinah hingga maut memisahkan." Do'a Farah. "Jujur, Na. Aku pun merasa iba pada Rania. Tapi saat mengingat wajah angkuhnya dulu, rasa itu memudar." "Semua pernah melakukan kesalahan, Fa, pun dengan Rania. Aku merasa aku masih di bawahnya. Aku tak tahu harus bagaimana jika aku yang berada di posisi Rania. Ia sangat butuh dukungan. Luka yang kurasakan karena sebuah penghianatan kurasa tak sebanding dengan luka yang ia
"Tak apa, aku hanya heran melihatmu yang tak seperti biasa." Amar berusaha mengalih perhatian Hendri. "Apa kau sudah jatuh cinta pada pandangan pertama?" Amar menggoda anak buahnya itu. Di luar keduanya memang terlihat tak ubah seperti teman. Amar sangat pintar menempatkan posisi. Ia tak begitu suka jika di luar kantor, Hendri atau anak buah yang lain menganggapnya seformal di kantor. Meski untuk panggilan, Hendri memanggilnya dengan embel-embel yang sama. Pak. Hendri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat salah tingkah. Malu jika dirinya harus mengakui rasa yang tiba-tiba datang tanpa permisi. "Sudah sewajarnya kamu cari pengganti almarhumah istrimu, Hen. Kamu masih sangat muda dan memiliki seorang putri yang sangat butuh sosok ibu."Hendri begeming, hatinya membenarkan perkataan Amar barusan. Namun rasanya terlalu cepat untuk mengatakan jika dirinya menaruh hati pada perempuan bergamis hitam yang baru saja ia lihat. Ia bahkan belum tahu nama perempuan itu. "Kau menar
"Semakin ke sini aku semakin merasa bersalah pada Zana. Aku tak ingin terus-terusan dihantui perasaan yang sama, atau bahkan lebih. Aku yakin, hanya dengan melihatku saja, Zana masih merasakan luka yang dulu kuciptakan, jadi kumohon, jangan membuatku merasa lebih tak nyaman karena aku sangat menikmati kehidupanku sekarang. Kehidupan yang tak lepas dari peran Zana di dalamnya."Apa yang dikatakan Rania benar adanya. Ia sangat menikmati saat sekarang, saat Harry mulai bisa menerimanya, membuat hatinya dipenuhi haru. "Jika Abang sayang aku dan Harry, maka akhirilah hubungan yang menyakiti banyak pihak ini. Mari kita mulai semuanya dari awal. Aku tak ingin tersiksa saat mengingat kembali caraku menghancurkan perasaan Zana dulu."Haikal membatu. Ia tak menyangka jika Rania akan mengatakan hal yang tidak pernah ia sangka seperti saat ini. "Kau tak perlu memikirkan orang lain, pikirkan saja perasaan kita berdua. Aku tau kau masih sangat mencintaiku." Haikal berusaha membujuk, berharap Rani
Aku menatap Bang Amar yang terhalang sandaran kursi menatapnya dengan tetapan heran. "Bukankah jika Rania yang datang, Harry tak perlu merasa khawatir kalau kita akan meninggalkannya di panti?""Kita bisa mengantar Harry ke panti, Sayang. Atau bisa juga denga mempertemukan mereka berdua di mana saja. Aku hanya ingin menghargaimu, dengan tidak adanya tamu asing lawan jenis yang datang ke rumah. Abang tak ingin istri Abang merasa tak nyaman." Senyum mengembang di wajahnya. Alasan Bang Amar ada benarnya juga. Mengapa aku tak memperhatikan hal sepenting itu? "Sayang, bagaimana pun dekatnya kau dengan Harry, mereka tetaplah orang asing bagi kita dan Harry bukanlah mahrammu."Aku pun paham kemana arah pembicaraan Bang Amar. Ini hanyalah langkahku untuk menyelamatkan tumbuh kembang Harry. Memberikan hak-haknya setelah terlahir menjadi seorang anak."Abang berharap, kelak Harry akan tinggal bersama Rania secara utuh. Tak apa kau menginginkan dia seperti anak sendiri seperti sekarang, yang
Waktu semakin larut berjalan, tanpa bisa beristirahat meski sejenak. Aku berpikir keras bagaimana caranya supaya Harry bisa kembali tanpa aku yang harus menjemputnya karena kecil kemungkinan Bang Amar mengizinkan. "Kau ke sana hanya berdua dengan Puji, ya, Ran?""Nggak, Na, kami bawa anak panti."Aku
"Ya, beda dong. Pokoknya pengen Abang yg bikin.""Iya, iya, Abang bikinin." Bang Amar mencubit hidungku lalu beranjak kembali ke dapur. *****Puji beserta rombongan sudah berangkat kembali ke panti sejak sore tadi. Rania duduk di kursi teras depan rumah Nek Rahima.Ia tengah memikirkan saran Zana untuk
Nek Rahima menatap lekat layar ponsel Rania. Tak diragukan lagi jika Harry adalah anak perempuan yang kini tengah duduk dengan wajah sayu di hadapannya. 'Tapi kenapa Harry seakan tak mengenal perempuan ini.' Nek Rahima membatin. Ia tak habis pikir kenapa anak itu melupakan ibunya sendiri. Apa mungki
"Zana hamil, Bu." Dengan penuh percaya diri lelaki itu berucap. Raut bahagia terpancar di wajahnya. Ibu terdiam beberapa saat. Sesaat kemudian matanya berkaca-kaca. Ibu menghambur memelukku. Suasana berubah haru. "Alhamdulillah, Na." Ibu mengusap lembut punggungku. Mengecup lembut pucuk kepalaku. "N


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan