LOGINAku merenggut kain sutra hitam yang basah oleh air mata itu dari wajahku. Serat kainnya yang kasar sempat menggesek pelipisku, lalu kulemparkan benda itu ke lantai marmer tanpa perasaan.Kini, pandanganku yang buram perlahan mulai fokus pada punggung lebar didera depanku.Julian berdiri membelakangiku, merapikan kemejanya yang berantakan dengan gerakan yang tampak sangat tenang.Namun, ketenangan palsu itu tidak lagi mampu mengintimidasiku."Kau sudah selesai?" tanyaku dengan suara parau didera dalam sel bawah tanah yang sunyi.Tidak ada lagi tangisan atau getaran ketakutan didera dalam nadaku pagi ini didera dalam sel bawah tanah yang sunyi.Julian tidak segera menjawab. Dia hanya mengancingkan lengan kemejanya dengan gerakan lambat yang disengaja didera kegelapan."Aku tidak pernah mengizinkanmu membuka penutup mata itu, Alana," ucapnya tanpa menoleh.Suaranya kembali datar, dingin, dan sepenuhnya terkendali seperti biasa.Aku menegakkan punggungku didera atas kasur beludru yang ber
Cengkeraman kuku tajam didera rahangku terasa begitu kuat hingga membuat tulang pipiku berderit menyakitkan. Julian tidak berniat memberikan kelonggaran padaku pagi ini."Kau memanggil ayahku saat aku berada didera dalammu, Alana?" desis Julian didera leher belakangku yang basah. Dia menjilat kelenjar feromonku sembari terus bergerak maju mundur dengan ritme yang mematikan kewarasanku.Aroma peppermint dingin yang semula mengalir lembut kini berubah sangat tajam. Udara didera sekitar ranjang batu terasa begitu tipis, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-paruku didera kegelapan.Aku mencoba menggelengkan kepalaku didera balik kegelapan sutra hitam, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangannya yang sekeras jepitan besi."J-Julian... aku tidak bermaksud... tolong dengarkan..." rintihku dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan perih didera kegelapan."Kau tidak bermaksud?" potong Julian dengan tawa dingin yang terdengar sangat kejam didera telingaku. "Ator tubuh pelac
Dingin yang basah dan aroma lumut busuk adalah hal pertama yang menyambut kesadaranku yang perlahan kembali. Aku mencoba menggerakkan kedua tanganku, namun gesekan kasar dari tali tambang tebal yang mengikat erat pergelangan tanganku didera balik punggung langsung mengirimkan rasa perih yang menggigit kulit.Aku ingin membuka mata, tetapi kegelapan murni tetap mengunci pandanganku secara mutlak didera ruangan yang sunyi ini. Selembar penutup mata sutra hitam tebal yang melilit erat kepalaku merenggut seluruh hakku untuk melihat cahaya dari dunia luar.Kehilangan penglihatan seketika membuat indra pendengaran dan perabaanku meningkat tajam ke tingkat yang menyiksa seluruh ujung sarafku. Aku bisa mendengar gema tetesan air yang jatuh didera kejauhan sel bawah tanah ini dengan sangat jelas dan konstan.Setiap bunyi gesekan rantai dan derit pelan dari engsel besi yang berkarat didera kegelapan membuat bulu kudukku berdiri seketika. Seluruh tubuhku gemetar hebat didera atas permukaan ranja
Aku berlari kencang menyusuri lorong Sayap Barat dengan napas terengah-engah.Nadi leherku berdenyut kencang saat mendorong daun pintu kayu kamarku yang kokoh.Setelah berhasil masuk, aku segera menyandarkan punggungku pada pintu tebal itu untuk menahan dorongan dari luar.Namun, rasa trauma yang mendalam membuatku sadar bahwa pintu ini tidak akan bisa menahannya lama.Sebelum amukan di luar memecah kamar ini, aku meraba saku jubah tidurku dengan tangan yang gemetar hebat.Kutarik sebilah pisau perak kecil yang berhasil kuselamatkan dari ruang kerja Julian sebelumnya.Dengan gerakan panik, kuselipkan bilah logam dingin itu ke dalam belahan karet celana tidur katunku yang longgar agar tetap aman dan tersembunyi di sana.Langkah kakiku otomatis mundur beberapa senti menjauh dari pintu, bersiap menghadapi badai kemarahan teritorial yang pasti akan datang.BRAK!Pintu kayu kamarku hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil akibat hantaman kekuatan fisik yang luar biasa kasar.Bastian
Langkahku terasa sangat berat menyusuri koridor Sayap Timur ini. Sisa rasa perih akibat alat getar perak kemarin sore masih membakar liang intimku, menyiksa didera setiap gerakan yang kubuat.Pipi kiriku juga terasa panas berdenyut akibat tamparan brutal Freya didera halaman taman. Namun, aku menolak menyerah dan tetap memaksa kakiku berjalan untuk mencari kebenaran didera istana ini.Aku mengencangkan jubah tidur abu-abuku dengan jari kaku. Tanganku mengepal kuat didera saku jubah, mencoba meredam getaran hebat yang terus menjalar ke seluruh tubuhku.Tiba-tiba, langkahku terhenti saat melihat Beta Gideon berjalan dari arah berlawanan dengan jubah dewan kawanan yang kaku didera pundaknya yang lebar. Aura dominasi dewannya terasa sangat berat dan menindas secara taktil, merampas kehangatan udara didera koridor sepi ini.Wajahnya keras dengan janggut abu-abu tercukur rapi didera bawah cahaya lilin dinding yang bergoyang. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memantapkan langkah untuk meng
Langkah kakiku tidak terdengar saat menyelinap masuk ke dalam ruang kerja pribadi Xavier.Aku harus menyembunyikan diriku sebelum ada pelayan atau pengawal yang menyadari keberadaanku di lantai atas menara utama ini.Alpha Tertinggi sedang memimpin patroli darurat di perbatasan luar, sementara Julian dan Bastian masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.Aku ingin mencari Xavier untuk memberitahunya tentang belati Wolfsbane milik Gideon, tetapi ruangan ini kosong melompong.Tiba-tiba, suara gesekan gaun sutra dan langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah koridor luar.Darahku terasa membeku seketika.Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari dan menyelinap ke balik tirai beludru hitam tebal yang menutupi pintu balkon, menciptakan lorong kedap cahaya di balik lipatannya.Pintu kayu ruang kerja terbuka dengan bunyi klik pelan yang menggema di dalam kesunyian malam."Pastikan koridor di luar bersih, Gideon," desis Freya dengan nada suara yang tajam dan dipenuhi amarah yang
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh
Aku tidak akan membiarkan takdir sialan ini melahapku tanpa perlawanan.Tangan kananku yang gemetar meraba kolong bantal sutra hitam, mencengkeram gagang besi pisau buah kecil yang berhasil kuselamatkan siang tadi.Malam ini, aku telah membuat keputusan: jika Xavier melangkah masuk untuk mengklaim
"Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit







