Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / Chapter 42: Murka yang Dingin

Share

Chapter 42: Murka yang Dingin

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-07-04 10:00:45

Cengkeraman kuku tajam didera rahangku terasa begitu kuat hingga membuat tulang pipiku berderit menyakitkan. Julian tidak berniat memberikan kelonggaran padaku pagi ini.

"Kau memanggil ayahku saat aku berada didera dalammu, Alana?" desis Julian didera leher belakangku yang basah. Dia menjilat kelenjar feromonku sembari terus bergerak maju mundur dengan ritme yang mematikan kewarasanku.

Aroma peppermint dingin yang semula mengalir lembut kini berubah sangat tajam. Udara didera sekitar ranjang ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 69: HARI KELIMA: LUKA YANG DISEMBUHKAN

    Rasa perih yang luar biasa menjalar ke seluruh persendianku saat kelopak mataku terbuka perlahan. Sisa-sisa kegilaan Penyatuan Tiga Alpha kemarin masih berdenyut nyata di setiap jengkal kulitku yang memar.Aku mencoba menggeser lenganku, namun ototku terasa kaku dan mati rasa. Di sudut ruangan, uap hangat mengepul tinggi dari sebuah bak mandi kayu besar yang telah terisi penuh."Jangan bergerak terlalu banyak, Alana," sebuah suara berat bergema lembut memecah kesunyian.Xavier berdiri di sisi ranjang dengan sehelai kain bersih di tangannya. Alpha Tertinggi itu tidak memancarkan dominasi yang menekan, melainkan keheningan yang suram dan menenangkan."Tubuhku... sangat sakit, Xavier," rintihku dengan suara parau yang hampir tak terdengar."Aku tahu," sahut Xavier membungkuk. Dia mengangkat tubuh mungilku dari ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati.Aku tidak memiliki sisa agensi untuk menolak saat dia membawaku mendekati bak mandi kayu itu. Air di dalamnya berwarna kecokelatan, di

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 68: HARI KEEMPAT: TIGA YANG MENJADI SATU

    Uap panas di dalam kabin kecil ini mencekik rongga tenggorokanku. Aroma vanila tubuhku yang meledak liar beradu dengan feromon kasturi pekat milik tiga pria yang mengepung ranjang.Aku mencoba meremas seprai kulit beruang di bawah punggungku. Namun, sisa tenagaku sudah habis terkuras.Tubuhku terus bergetar tanpa henti. Demam masa subur mendidih di dalam darahku seiring datangnya hari keempat siklus maut ini.Julian berdiri di sisi kiriku. Cengkeraman tangannya yang sedingin es mengunci kedua pergelangan tanganku ke atas ranjang hingga aku tidak bisa meronta."Suhu tubuhnya sudah melewati batas aman untuk proses pematangan sel telur," ucap Julian. Suaranya bergetar hebat didera gairah biologis. "Dia bisa mati jika kita bertindak ceroboh.""Persetan dengan analisismu, Julian!" bentak Bastian. Dia merangkak naik dari ujung ranjang dengan pupil mata yang menyempit liar."Saraf serigalaku terus mendidih sejak kemarin. Aku harus memasukinya sekarang juga!" lanjut Bastian menarik paksa paha

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 67: HARI KETIGA: DINGIN YANG MENGONTROL

    Hari ketiga siklus masa subur membakar tubuhku dengan cara yang jauh lebih menyiksa dari hukuman fisik. Sisa cairan Bastian semalam masih berdenyut di selangkanganku, namun rasa kosong di dalam rahimku menuntut lebih banyak benih.Aku mengerang pelan saat sepasang tangan yang sedingin es mengangkat tubuhku dari ranjang. Julian membawaku tanpa suara mendekati perapian batu di sudut kabin.Kayu pinus di dalam perapian berderak panas. Hawa hangatnya langsung menyengat kulit telanjangku yang dibanjiri keringat. Julian mendudukkanku di atas lantai kayu tepat di depan jilatan api."Suhu tubuhmu menyentuh angka tiga puluh sembilan derajat celcius, Alana," ucap Julian dengan nada suara sedatar es."Julian... tolong, kepalaku berputar sangat kencang," rintihku. Aku menyandarkan dahi basahku ke dadanya yang terasa menyejukkan kulitku."Aku tahu. Aku di sini untuk mengontrol gairah biologismu yang tidak stabil," balas Julian pelan.Julian berlutut di belakangku. Dia menarik pinggulku hingga pung

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 66: HARI KEDUA: BRUTAL YANG MEMOHON

    Rasa penuh yang tersisa di dalam rahimku memaksaku terbangun dengan rintihan pelan. Cairan hangat sisa penguncian benih semalam terasa lengket di selangkanganku.Aku menggeser tubuhku yang kaku. Suara gemerincing rantai besi di pergelangan kakiku langsung memecah kesunyian kabin kayu ini.Otot-ototku terasa sangat lemas dan kebas akibat gempuran tanpa henti Xavier kemarin."Kau akhirnya membuka matamu, jalang kecilku," sapa sebuah suara serak dari kegelapan pagi yang menggigit.Bastian berdiri tepat di tepi ranjang. Tubuh raksasanya yang telanjang memancarkan hawa panas yang kentara.Dadanya naik turun dengan kasar, menyebarkan aroma kulit hangat yang sangat tajam di udara kabin yang pengap."Bastian... tolong, biarkan aku menarik napas sebentar," bisikku lemas dengan tenggorokan yang terasa kering."Bernapas? Siklus gairahmu sedang berada di puncaknya, Alana," sahut Bastian merangkak naik ke atas kasur dengan gerakan memburu."Ayah sudah selesai menyegelmu kemarin. Kini giliranku unt

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 65: HARI PERTAMA: RAJA YANG MENGISI

    Cahaya fajar menyusup tipis melalui celah jendela kabin kayu. Namun, udara di sekitarku sama sekali tidak terasa dingin.Tubuhku terasa seperti logam yang dibakar di atas tungku mendidih. Rasa gatal dan denyut di perut bawahku semakin menyiksa kewarasan.Aku menggeliat tidak nyaman di atas ranjang kulit beruang. Suara gemerincing logam terdengar berdenting nyaring setiap kali aku bergeser.Kedua pergelangan kakiku telah diikat menggunakan rantai besi tipis yang terhubung ke pilar ranjang kayu pinus."Kau sudah bangun, Omega-ku?" sapa sebuah suara berat yang menggelegar dari sudut ruangan.Xavier berdiri di tepi ranjang tanpa busana. Tubuh raksasanya dipenuhi urat otot yang menegang keras.Aura dominasi merah gelap memancar dari tubuhnya, menekan rongga dadaku dengan paksa."Xavier... tolong... panas ini sangat menyiksa," rintihku dengan air mata menggenang di pelupuk mata."Aku tahu, Alana. Hari ini adalah giliranku," jawab Xavier sembari merangkak naik ke atas ranjang.Aroma kayu bak

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 64: KABIN YANG TERKUNCI

    Angin malam yang membawa butiran salju menusuk kulitku. Namun, di dalam tubuhku, api gairah terus mendidih hebat.Aku berada dalam dekapan dada bidang Xavier. Alpha Tertinggi itu berlari cepat melompati akar pohon pinus di tengah hutan.Gigi-gigiku mengatup rapat, mengeluarkan suara gemeletuk yang menyedihkan. Rasa panas di antara kedua pahaku semakin membakar."Tahan sedikit lagi, Alana," bisik Xavier. Suara beratnya bergetar di dekat telingaku."Panas... Xavier, tubuhku panas," rintihku mencengkeram jubah kulit beruang yang membungkus tubuhku."Kendalikan suaramu, Alana. Atau aku akan membaringkanmu di atas salju ini sekarang juga," sahut Bastian yang berlari di sisi kanan kami.Dada Bastian naik turun dengan cepat. Dia menyebarkan aroma kulit hangat yang tajam di udara dingin yang sunyi."Tutup mulutmu, Bastian. Fokus pada jalan," tegur Julian dingin dari sisi kiri."Provokasimu hanya akan membuat produksi feromonnya semakin liar," lanjut Julian mengatur napasnya."Saraf serigalaku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status