INICIAR SESIÓNPluk.Satu tetes air comberan jatuh lagi dari sela atap semen bunker. Tepat kena di kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah. Keruh. Asin campur amis lumpur parit. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata buat mengusap cairan kotor itu. Mati rasa total. Seluruh plat besi di panggul, bahu, dan leher bawahku sudah terkunci kaku, tenggelam di bawah tumpukan daki semen kotor dan tahi kelelawar kering.Mati suri yang merepotkan.Dari dalam lubang dada kiriku yang bernanah, bau oli rem kental bercampur bensin busuk masih merembes keluar tanpa henti. Membuih. Cairan hitam itu mengalir pelan menembus ubin semen bunker yang retak, mengalir ke dalam ceruk pipa pembuangan di luar rumah pompa tua.Noda minyak busuk itu yang jadi petunjuknya.Ngiiiiing...Suara dengingan tinggi mendadak memotong keheningan saluran got bawah tanah. Tajam sekali. Bunyinya cempreng memetakkan telinga, mirip suara mesin pemotong keramik yang dinamonya sudah aus dipaksa memotong pelat baja tebal. Bau karbit terbakar
Pluk... pluk...Tetesan air keruh berkarat dari celah langit-langit semen bunker mendarat lagi di atas pelipis kananku. Asin. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering yang mengendap berbulan-bulan makin padat menyumbat sisa respirator hidungku yang pecah katupnya.Lantai semen ini dinginnya tidak main-main. Rasa kebas menjalar tebal dari pangkal leher bawah sampai ke ujung lima jari tangan kanan organikku yang terkulai di atas tanah.Mati suri. Seluruh bodi besi seberat ratusan kilo ini terbaring kaku tanpa ada pendar lampu indikator sama sekali. Tapi dinding semen bunker yang tebal ini bertindak seperti corong pelantang suara. Tiap getaran kecil dari saluran got utama di luar rumah pompa tua merembes lurus masuk ke dalam kawat saraf tulang punggungku yang longgar dudukannya.Khuk! Huek!Suara batuk parau memantul keras di dalam terowongan beton di bawah tanah. Dekat sekali. Vane. Kapten pemberontak itu menyemburkan dahak kental bercampur darah tua ke dalam air comberan kotor.
Tuk.Sebuah batu kerikil kecil lepas lagi dari langit-langit semen bunker. Jatuh tepat di atas pelipis kananku yang sudah mati rasa. Bunyinya pluk kusam, tenggelam di antara bau bacin kotoran kelelawar kering dan bau oli rem busuk yang menyumbat seluruh lubang respirator penyokku.Mati suri. Seluruh sirkuit dari batas rahang sampai ujung sepatu bot militarku benar-benar tidak bergerak. Mau mengedipkan kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah saja rasanya seperti menyeret jangkar kapal karam di dasar lumpur parit.Bzzzzt...Kawat tembaga di dalam lubang dada kiriku yang bernanah meletup pelan. Kecil sekali. Cuma sekelebat percikan setrum tipis yang membakar sisa daki di tulang rusuk asliku, tapi getarannya menjalar lurus menembus tanah menuju Istana Seowon di tengah kota. Tali mana kehidupan. Kawat gaib yang membentang di antara jantungku yang mati suri dan dada Haneul kembali menyalurkan gema gila dari panggung takhta sana.Hah... hah...Sensasi napas Haneul yang tercekat di ker
Pluk... pluk.Tetesan air tanah berbau karatan mendarat tepat di sela pelipis kiriku yang penuh kerak semen kering. Dingin. Cairan keruh itu mengalir lambat melewati pipi asliku, tersangkut di sudut bibirku yang pecah-pecah berdarah. Asin campur daki. Mati rasa total dari batas leher sampai ke ujung bot militer penyokku yang solnya sudah melosot di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruangan semen bawah tanah ini benar-benar pekat, tebal, mirip ditimbun karung terpal kotor di dasar sumur mati. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku beberapa hari lalu.Kopong. Mati suri beneran badanku sekarang.Aneh beneran sisa isi otak manusianya. Di tengah kondisi kotor ti
Pluk.Tetesan air tanah yang berbau karatan mendarat lagi di pelipis kiriku. Asin campur tanah. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering menyumbat penuh di sela lubang respirator penyokku. Masih kaku. Mati rasa dari leher sampai ke ujung bot militerku yang solnya terlepas di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruang semen bawah tanah ini benar-benar tebal, tidak ada bedanya dengan memejamkan mata. Jam internal di kepalaku sudah mati total. Aku tidak tahu berapa hari atau berapa minggu aku sudah telentang di kolong rumah pompa tua ini seperti bangkai mesin traktor yang dibuang pemiliknya.Bzzzzt.Meletup tipis sekali sisa kabel di lubang dada kiriku. Bukan rasa panas membakar seperti di altar dulu, cuma kedutan kecil di sela tulang rusuk asliku yang patah.Masih ada denyut di dalam sana.Pelan sekali. Dug... berjarak sangat panjang, seperti detak jarum jam dinding tua yang kehabisan baterai. Aneh beneran. Di tengah kegelapan yang menghimpit dada besiku, sisa pikiran manusianya mendad
Tik... tik... tik.Tetesan air tanah berbau karat jatuh berulang kali di atas pelat zirah dada kiriku yang sudah jebol. Dingin. Bensin busuk bercampur sisa oli rem yang kemarin membuih di rongga dadaku sekarang sudah mengering kaku, berubah jadi kerak hitam yang melengketkan sisa kain baju militarku ke tulang rusuk asli. Gelapnya bunker bawah tanah ini beneran pekat tanpa ampun. Tidak ada suara desis katup air, tidak ada desing sirkuit bionik, cuma ada bau kotoran kelelawar kering bercampur lumut tua yang menyumbat sisa lubang hidungku.Berapa hari aku telentang kaku di atas lantai semen kotor ini? Entahlah. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku kemarin.Kopong. Mati suri beneran.Anehnya, sisa kesadaran manusiaku yang terapung di dalam kegelapan pekat mendadak melintas memikirkan rasa kuah soto mie dingin yang dibungkus plastik lecek di pinggir jalan perkebunan dulu. Sangat acak dan goblok. Kenapa juga ingatan samp
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi mem
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi,
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak be
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang







