مشاركة

Bab 3

مؤلف: Sedap Malam
last update تاريخ النشر: 2026-06-24 10:04:02

Gemuruh ombak yang tadinya setinggi gunung perlahan mereda, angin bertiup tenang. Hawa dingin akibat badai itu lenyap, berganti kehangatan magis yang membuat Yudha merasa nyaman.

Dari lautan yang tenang, perlahan muncul hamparan kabut biru kehijauan, membuat kapal kecil Yudha seolah melayang di atas bukit gaib. "Ya Tuhan, apa ini?" gumam Yudha sembari memandang sekeliling kapal yang hampir hancur tanpa tepi itu.

Perlahan, sosok wanita bertubuh sintal dan menggoda, berpakaian seperti sutra biru yang transparan melekat ketat mencetak jelas bentuk tubuhnya yang penuh dan membusung serta pinggulnya yang padat berisi hingga Yudha bisa menerawang apa yang tertutup di sana. Mahluk rupawan itu bergerak melangkah di udara, lalu naik ke atas perahu.

Ajaibnya, setiap langkah mistis wanita itu membuat kayu-kayu kapal yang tadinya hancur kembali menyatu dan pulih seperti baru. Kulitnya yang kuning langsat tampak berkilau basah, memancarkan aroma harum yang seketika memicu gairah liar pria mana pun.

"Mungkin saatnya aku mati," ucap Yudha gemetar, langsung bersimpuh di depan wanita mistis yang dipenuhi daya pikat mematikan tersebut.

"Angkat wajahmu, anak muda. Aku Dewi Lanjar, penguasa lautan ini," pinta sang dewi dengan suara mendesah manja namun berwibawa. Yudha diam tak bereaksi, wajahnya semakin pucat, menyembunyikan badannya yang gemetar hebat karena tahu kalung di lehernya adalah benda yang ia temukan tanpa izin.

"Maafkan saya karena telah lancang, memang saya pantas dihukum dan saya akan kembalikan benda keramat ini. Jangan bunuh saya, Nyai Ratu," Yudha bersujud memohon ampun dengan mata terpejam rapat.

Dewi Lanjar tertawa sinis, membuat tubuh bagian atasnya yang padat berguncang hebat di depan mata Yudha.

"Hahaha! Bukankah niatmu ke sini mencari mati? Lalu kenapa kini kamu memohon diberikan kehidupan?" cibir sang dewi dengan tatapan mata yang berkilat seksi.

"Lagipula, pertemuan kita telah ditakdirkan karena kamu adalah pewaris pilihan dari pusaka keramat itu," lanjut Sang Dewi sembari mengelus manja dagu Yudha. Yudha terdiam mengingat hinaan orang selama ini, namun mati di tangan penguasa laut dengan tubuh menggoda ini tentu bukan pilihannya.

Tiba-tiba, energi gaib yang begitu besar berputar di sekeliling tubuh molek sang dewi. Yudha tersentak saat merasakan gelombang panas luar biasa menjalar langsung ke celananya.

Seketika itu juga, kejantanan Yudha yang semula layu mendadak bangkit dan mengeras dengan ukuran luar biasa hingga merobek kain celananya. "Ma–maksudnya, Ratu?" tanya Yudha tergagap, menahan ketegangan hebat yang mendesak di bawah sana.

Sambil meliukkan pinggulnya yang sintal, Dewi Lanjar mendekat hingga aroma tubuhnya memabukkan akal sehat Yudha. "Aku tahu kehidupanmu penuh hinaan, cacat, dan kemiskinan, karena itu aku menawarkan takdir baru yang jauh lebih nikmat," bisik sang dewi menggoda.

"Kaki kirimu yang cacat akan sembuh, dan keperkasaan raksasa ini akan menjadi milikmu secara permanen. Aku juga akan memberimu kemampuan berpikir yang bisa mendatangkan kekayaan melimpah untuk membungkam semua orang yang merendahkanmu," lanjutnya sembari mengedipkan mata.

Yudha terpaku merasakan kakinya kini berangsur normal dan kokoh, namun rasa takjub itu segera berganti kecemasan. "Tapi ada syaratnya, Yudha. Kamu harus memuaskan para perempuan di desamu demi menjaga energi kecantikanku agar tetap abadi," tegas Dewi Lanjar.

"Setiap kali kamu membenamkan milikmu yang perkasa ini dan membuat mereka puas, itu akan mengumpulkan energi dalam jiwaku," tambahnya dengan senyuman penuh arti.

"Para perempuan? Tapi aku–" Yudha membeliak panik karena dirinya sudah terlanjur dicap sebagai pria impoten seantero kampung. Tugas memuaskan banyak wanita jelas terasa mustahil bagi pria yang selalu dijadikan bahan ejekan seperti dirinya.

Dewi Lanjar tidak memedulikan kepanikan itu, ia justru tersenyum misterius menjilat bibir bawahnya yang ranum. Ia menundukkan badannya yang padat, membuat belahan dadanya menyembul indah, menarik pandangan Yudha.

Dari sela bibir berwarna merah delima itu, tiba-tiba muncul sepasang taring kecil yang tajam dan berkilau. Tanpa aba-aba, tangan lembut sang dewi bergerak secepat kilat ke bawah, meraup dan menggenggam kuat milik Yudha yang sedang menegang hebat dalam satu sentakan.

"Aaaaakh!" Yudha memekik histeris saat seluruh dayanya tersedot, menyisakan ketegangan hebat yang mengunci tubuhnya di bawah kuasa sang dewi, sebelum pandangannya mendadak gelap gulita bagai ditelan bumi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Demi Ratna, Yudha rela melakukan dengan Sari

    Mendengar nama perempuan yang ia sukai menjadi tawanan para perampok, Yudha gemetar. Sepanjang perjalanan ia menuju pelabuhan terlihat banyak bangunan rusak, darah menggenang di beberapa titik ada serta orang-orang yang menangisi kerabat atau keluarga mereka yang tewas. Setidaknya dalam insiden itu ada empat orang terluka dan dua meninggal dunia. Kekacauan yang selama ini tak pernah dilihat oleh Yudha sejak kecil.Dia terus berlari menuju pelabuhan, di sana terlihat Juragan Kardi bersimpuh memandang lautan. Semua orang menjauh, bahkan anak buahnya pun tak ada yang mendekati untuk menghibur."Mereka membawa Ratna, aku terlambat mengejar," kata Juragan Kardi begitu Yudha berdiri di dekatnya."Ayo, kita kejar mereka. Kita gunakan semua kemampuan, jangan sampai di ditindas sama perampok," Yudha menghampiri anak buah juragan Kardi dan warga satu persatu, namun semuanya mundur."Para perampok itu sangat kejam, mereka bukan cuma mengincar harta tapi juga menganggap membunuh seperti sebuah ke

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    "Yudha, Mbak juga mau coba punyamu,"

    "Aku akan bungkam mulut kambing bendot itu." Yudha mengepalkan tangannya geram, sementara Ratna yang pada saat itu diangggap sebagai bahan taruhan lekas pergi menjauh. Yudha segera mengejar Ratna agar tak terjadi salah paham. "Ratna, kenapa kamu muram begitu?""Aku enggak suka dengan caramu. Lagian kita bisa menjalani hubungan tanpa kamu meladeni bapakku," jawab Ratna. "Aku hanya ingin dia berhenti mengejek, itu aja," Yudha mencoba menjelaskan pada Ratna, namun anak juragan paling kaya di desa itu seperti enggan menghiraukan. Dia tetap pergi entah memikirkan apa.Ocehan kasar Juragan Kardi seperti tantangan tersendiri bagi Yudha, ia pergi meninggalkan kerumunan untuk pulang ke rumah."Ada berita apa? Aku dengar kegaduhan di pelabuhan," tanya Sari saat Yudha memasuki pintu rumah."Katanya desa ini habis didatangi perampok, Juragan Kardi sampai mengeluarkan sayembara pada warga desa yang berani melawan perampok,""Ah, kamu masih memperdulikan ocehan orang itu? Kita sekarang sudah punya

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Sayembara Berhadiah Nikah

    Kamar mandi di rumah itu tak memiliki atap, hanya dinding dari bambu setinggi hampir dua meter. Yudha mengintip ke dalam, ia melihat Yasmin sedang duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya mengusap melon kembar, sementara tangan lainnya naik turun mengusap serabi miliknya. "Aaaahm, a---aaaakh!" Yasmin terpejam, mulutnya mendesis dengan gerakan jari yang cepat mengusap belahan hutan belantara miliknya yang becek. "Yasmin, kamu lagi ngapain?" tanya Yudha, seketika Yasmin langsung berhenti. Dia malu karena Yudha mengetahui apa yang dia kerjakan di dalam kamar mandi. "Ehm, aku lagi mau pipis!" jawab Yasmin dengan suara sedikit meninggi. Dia kesal karena Yudha seperti sengaja menghindari dirinya, ada rasa cemburu saat melihat perlakuan Yudha ke Ratna tadi. Sekitar jam 11 malam Sari dan Pak Wagino datang bersama seseorang. Yudha yang mengetahui sebelum mereka masuk pun segera kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. "Yasmin, gimana keadaan Yudha?" Pak Wagino bertanya pada cucunya yan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Yasmin Yang Genit

    Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pusaka Yudha Di balik Kain

    Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulau Misterius

    Mahluk berwujud menyeramkan dengan badan bagian bawah menyerupai ikan, bersisik yang berkilau, matanya besar dan menonjol, lengan yang panjang berselaput dan bersirip. Mahluk itu bergerak cepat meski merayap, Ratna melihat pergerakan mahluk di belakang punggung Yudha, secara spontan Yudha mengarahkan tombak itu ke dada mahluk buas tersebut.Sraaak!Bilah tombak yang tajam tak mampu melukai sedikit pun, meski ujung tombak mengenai leher mahluk berwujud manusia setengah ikan. Hanya satu kali tepisan tombak itu patah, tangannya yang kuat dan kekar mengangkat Yudha ke udara dan melemparkannya membentur dinding.Braaak!Seluruh tulang Yudha terasa remuk, badannya nyeri luar biasa. Kini mahluk itu berdiri tepat di hadapan Ratna dengan dua tangan berkuku panjang yang siap menerkam."Yudha, tolooong!" pekik Ratna, karena tak ingin Ratna menjadi santapan mahluk itu Yudha kembali bangkit. Dia memegang serpihan tombak dan sekali lagi menyerang mahluk tersebut dari samping.Craaash!Bilah tajam i

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status