LOGINYudha menuju ke tepian pantai, sementara di belakangnya ada Yasmin yang berlari kecil sambil membawa beberapa perbekalan. Keduanya naik ke atas perahu tua berukuran kecil yang biasa digunakan Yudha untuk mencari ikan. Mungkin bagi Yudha hanya perahu itu yang merupakan barang berharga miliknya sebab warung makan yang dia bangun beberapa minggu terakhir sudah menjadi puing-puing hangus sisa perbuatan para perampok.Perahu itu berjalan pelan mulai menjauhi pelabuhan mengandalkan daya dorong dari angin, Yudha duduk sambil mengasah tombak dan golok, di sampingnya Yasmin duduk menyalakan lampu penerangan dan beberapa peralatan yang mungkin dibutuhkan. Bahkan Yudha tidak tahu ke mana Ratna di bawah oleh para perampok itu, namun dia pernah mendengar dari para pelaut yang singgah di desanya jika ada pulau kecil di sebelah utara yang selama ini menjadi markas bagi para perampok laut."Kamu yakin mau ikut aku?" tanya Yudha pada Yasmin."Kalaupun aku tidak yakin kita sudah berada di tengah-tengah
Mendengar nama perempuan yang ia sukai menjadi tawanan para perampok, Yudha gemetar. Sepanjang perjalanan ia menuju pelabuhan terlihat banyak bangunan rusak, darah menggenang di beberapa titik ada serta orang-orang yang menangisi kerabat atau keluarga mereka yang tewas. Setidaknya dalam insiden itu ada empat orang terluka dan dua meninggal dunia. Kekacauan yang selama ini tak pernah dilihat oleh Yudha sejak kecil.Dia terus berlari menuju pelabuhan, di sana terlihat Juragan Kardi bersimpuh memandang lautan. Semua orang menjauh, bahkan anak buahnya pun tak ada yang mendekati untuk menghibur."Mereka membawa Ratna, aku terlambat mengejar," kata Juragan Kardi begitu Yudha berdiri di dekatnya."Ayo, kita kejar mereka. Kita gunakan semua kemampuan, jangan sampai di ditindas sama perampok," Yudha menghampiri anak buah juragan Kardi dan warga satu persatu, namun semuanya mundur."Para perampok itu sangat kejam, mereka bukan cuma mengincar harta tapi juga menganggap membunuh seperti sebuah ke
"Aku akan bungkam mulut kambing bendot itu." Yudha mengepalkan tangannya geram, sementara Ratna yang pada saat itu diangggap sebagai bahan taruhan lekas pergi menjauh. Yudha segera mengejar Ratna agar tak terjadi salah paham. "Ratna, kenapa kamu muram begitu?""Aku enggak suka dengan caramu. Lagian kita bisa menjalani hubungan tanpa kamu meladeni bapakku," jawab Ratna. "Aku hanya ingin dia berhenti mengejek, itu aja," Yudha mencoba menjelaskan pada Ratna, namun anak juragan paling kaya di desa itu seperti enggan menghiraukan. Dia tetap pergi entah memikirkan apa.Ocehan kasar Juragan Kardi seperti tantangan tersendiri bagi Yudha, ia pergi meninggalkan kerumunan untuk pulang ke rumah."Ada berita apa? Aku dengar kegaduhan di pelabuhan," tanya Sari saat Yudha memasuki pintu rumah."Katanya desa ini habis didatangi perampok, Juragan Kardi sampai mengeluarkan sayembara pada warga desa yang berani melawan perampok,""Ah, kamu masih memperdulikan ocehan orang itu? Kita sekarang sudah punya
Kamar mandi di rumah itu tak memiliki atap, hanya dinding dari bambu setinggi hampir dua meter. Yudha mengintip ke dalam, ia melihat Yasmin sedang duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya mengusap melon kembar, sementara tangan lainnya naik turun mengusap serabi miliknya. "Aaaahm, a---aaaakh!" Yasmin terpejam, mulutnya mendesis dengan gerakan jari yang cepat mengusap belahan hutan belantara miliknya yang becek. "Yasmin, kamu lagi ngapain?" tanya Yudha, seketika Yasmin langsung berhenti. Dia malu karena Yudha mengetahui apa yang dia kerjakan di dalam kamar mandi. "Ehm, aku lagi mau pipis!" jawab Yasmin dengan suara sedikit meninggi. Dia kesal karena Yudha seperti sengaja menghindari dirinya, ada rasa cemburu saat melihat perlakuan Yudha ke Ratna tadi. Sekitar jam 11 malam Sari dan Pak Wagino datang bersama seseorang. Yudha yang mengetahui sebelum mereka masuk pun segera kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. "Yasmin, gimana keadaan Yudha?" Pak Wagino bertanya pada cucunya yan
Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p
Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem







