Share

Bab 4

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-06-24 10:07:11

Bersamaan dengan rasa sakit yang nikmat itu, sekelebat pengetahuan kuno tak kasat mata mengalir deras masuk membanjiri kepalanya.

"Ingat Yudha… buat para perempuan itu puas…"

Suara tawa panjang terdengar membuat kepala Yudha pening. Rasanya berputar-putar hingga Yudha hanya bisa terpejam. Suara tawa itu terdengar semakin menjauh, lalu berganti hawa di sekeliling Yudha yang sedingin es. Ia menggigil hebat.

Entah berapa jam kemudian, matahari pagi yang menghangatkan pipi membuat Yudha membuka mata perlahan.

Yudha mendapati dirinya masih berada di kapal tua yang ia bawa ke tengah samudra. Ingatannya agak buram, seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang. Ia hanya ingat dengan jelas momen saat mendorong kapal menuju badai, lalu... ada sosok wanita gaib yang menyentuhnya. Selebihnya, ingatan tentang detail syarat itu terkunci di balik kabut kepalanya.

Yudha kembali mendayung kapal itu dengan tangannya. Namun, rasanya berbeda. Kedua tangannya tampak kekar dan memiliki tenaga seperti orang yang rajin berolahraga.

"Tanganku kenapa ya? Padahal kemarin enggak gini?" Yudha menatap kedua telapak tangan, namun ia tak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang terjadi sebab haluan kapal telah sampai ke pinggiran dermaga.

"Lihat, si cacat itu kembali," kata seorang ibu-ibu.

"Harusnya dia tenggelam di lautan daripada jadi beban orang kampung. Hahaha!" Orang lainnya menyahut.

Yudha diam saja, ia fokus menarik perahu itu ke atas pasir. Tenaganya naik berkali-kali lipat. Sesuatu yang tak disadari oleh warga desa bahwa kondisi Yudha jauh berbeda dari sebelumnya. Setelah kapal itu berada di tempatnya, Yudha mengambil beberapa barang lalu berjalan tanpa memedulikan omongan orang.

"Yudha, kakimu–" seorang perempuan muda memperhatikan Yudha yang berjalan tegap tanpa tongkat penyangga. Matanya yang sebelah kiri sipit kini juga tampak simetris, pun demikian dengan kedua lengan Yudha yang kurus kini berisi.

"Aku pasti salah lihat, Yudha si cacat itu kenapa bisa begini?"

"Dia berbeda. Tak mungkin seseorang berubah hanya dalam waktu yang singkat," sahut warga lain.

Beberapa perempuan desa melihat dengan takjub. Yudha sendiri mulai menyadari perubahan fisiknya yang luar biasa, namun niatnya cuma satu: segera ingin pulang ke rumah menemui kakaknya.

Sesampainya di halaman rumah, Yudha terkejut karena beberapa orang berwajah sangar berdiri di depan pintu.

"Kalian siapa?" tanya Yudha.

"Kami disuruh Juragan Kardi, ia menginginkan Sari jadi istrinya," jawab orang itu acuh.

Yudha segera masuk, ia melihat dua orang duduk di dekat Sari dengan sikap mengintimidasi.

"Mbak Sari," sapa Yudha.

"Yudha, kamu dari mana saja?!" Sari menghambur mendekati adiknya.

"Yudha, untungnya kamu datang. Hehe, jadi kamu bisa menyaksikan kakakmu ini nanti menikah dengan Juragan Kardi. Hidupmu akan lebih baik," ujar seorang preman.

"Mbak mau menikah?" Yudha bertanya pada kakak tirinya itu.

"Aku enggak mau! Mereka sejak semalam mencoba memaksaku. Juragan Kardi itu terkenal kasar dan suka kawin, dia hanya menjadikan perempuan muda sebagai pelampiasan nafsu!" bisik Sari ketakutan.

"Sari, apa lagi yang kamu tunggu? Ayo ikut kami, Juragan Kardi sudah tak sabar. Dia ingin kami segera membawamu ke sana," ucap seorang preman sambil berjalan mendekat.

"Aku enggak mau! Pergi kalian!" usir Sari. Ia yang semula ketakutan kini memiliki sedikit keberanian sesudah Yudha tiba.

"Jual mahal banget. Mahar berapa pun pasti dikasih," cibir preman itu.

"Pergi kalian! Jangan paksa aku, kalian cuma buang-bagu waktu saja!" usir Sari, ia mendorong salah satu preman itu hingga hampir terjatuh.

"Kurang ajar! Menikah dengan Juragan Kardi bisa jadi solusi untuk hidup kalian yang miskin," kata preman lagi.

"Biar kami miskin itu lebih baik daripada menjadi budak nafsu!"

"Sialan! Bawa dia secara paksa!" Pimpinan preman yang sudah kehilangan kesabaran segera memerintahkan anak buahnya. Sari mendekap Yudha seolah tak ingin beranjak dari tempat itu saat dua tangan kasar memaksa menariknya.

"Lepaskan," ucap Yudha lirih. Ia tahu di masa lalu ia bukan lawan bagi para preman, tapi melihat ketakutan Sari membuat keberanian Yudha bangkit.

"Si cacat ini mau apa?!" Kepala preman tampak emosi, ia mendekati Yudha dengan tangan terkepal dan siap diayunkan.

Yudha melihat tangan itu melayang cepat ke arah wajahnya. Namun bagi Yudha, gerakan itu terlihat sangat lambat hingga dengan mudah ia menepisnya. Refleks, Yudha menendang dengan kaki kiri ke arah pria itu.

Braaak!

"Sialan! Habisi bocah cacat ini!" Perintah sang kepala preman yang habis terjungkal ke lantai kayu rumah Yudha.

Beberapa orang maju serempak, Yudha berdiri memasang kuda-kuda. Tangan kirinya memeluk Sari, sedangkan tangan kanan membentuk jurus silat yang tak pernah ia pelajari.

"Hiaaakh!"

Tendangan datang dari arah kiri, Yudha menghindar. Lalu dari arah depan sebuah ayunan celurit hampir mengenai leher Sari. Meskipun gerakan itu cepat, tapi bagi Yudha hanya seperti gerakan lambat.

Tiga serangan datang bertubi-tubi mengenai udara hampa, Yudha berpindah dari satu titik ke titik lainnya hanya dalam sekejap mata.

"Kali ini aku tak main-main!" Yudha langsung membalas dengan satu tendangan yang membuat ketiga preman itu terpental jauh, kekuatan kaki Yudha terasa setara pukulan besi berton-ton.

"Uuugh!" tiga preman nyaris pingsan, yang tersisa hanya satu kepala preman.

"Pergi sekarang, atau aku patahkan kaki kalian!" Yudha mengaum seperti singa. Para preman itu lari tunggang langgang sambil memegangi badannya yang sakit.

Suasana hening. Sari tak percaya apa yang ia lihat barusan.

"Yudha, kamu–," ia memeluk adiknya erat. Tanpa sengaja, perutnya menempel di bagian bawah Yudha.

Ada rasa yang hangat, sesuatu yang besar menyembul di celana Yudha.

"Kenapa bawa ikan di dalam celana lagi?" tanya Sari heran.

"Mbak, jangan!" Yudha coba menghentikan, tapi terlambat sebab Sari spontan merogoh kantong celana Yudha. Namun yang ia remas memiliki struktur yang berbeda. Penasaran, Sari langsung menarik turun celana Yudha.

Beberapa detik kemudian, dagunya turun. Mata Sari melotot sempurna.

"I–ini besar sekali..." Sari terpukau dengan mata tak berkedip, tangannya memegang gemas milik Yudha yang tegang sempurna.

"Jangan, Mbak," buru-buru Yudha memasukkan kembali benda itu ke dalam celananya.

"Yudha, kamu tidak pincang lagi, otot badanmu mengeras, dan kejantananmu…" Sari kembali menelan ludah, "apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Sari meraba perut hingga dada Yudha yang bidang dan berotot.

Tepat saat kulit lembut Sari meraba dadanya, sebuah kilatan ingatan mistis mendadak meledak di kepala Yudha–membuka segel memorinya tentang kutukan Dewi Lanjar dan syarat 100 bulan yang harus ia penuhi

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Upaya Membawa Ratna Pulang

    Yudha menuju ke tepian pantai, sementara di belakangnya ada Yasmin yang berlari kecil sambil membawa beberapa perbekalan. Keduanya naik ke atas perahu tua berukuran kecil yang biasa digunakan Yudha untuk mencari ikan. Mungkin bagi Yudha hanya perahu itu yang merupakan barang berharga miliknya sebab warung makan yang dia bangun beberapa minggu terakhir sudah menjadi puing-puing hangus sisa perbuatan para perampok.Perahu itu berjalan pelan mulai menjauhi pelabuhan mengandalkan daya dorong dari angin, Yudha duduk sambil mengasah tombak dan golok, di sampingnya Yasmin duduk menyalakan lampu penerangan dan beberapa peralatan yang mungkin dibutuhkan. Bahkan Yudha tidak tahu ke mana Ratna di bawah oleh para perampok itu, namun dia pernah mendengar dari para pelaut yang singgah di desanya jika ada pulau kecil di sebelah utara yang selama ini menjadi markas bagi para perampok laut."Kamu yakin mau ikut aku?" tanya Yudha pada Yasmin."Kalaupun aku tidak yakin kita sudah berada di tengah-tengah

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Demi Ratna, Yudha rela melakukan dengan Sari

    Mendengar nama perempuan yang ia sukai menjadi tawanan para perampok, Yudha gemetar. Sepanjang perjalanan ia menuju pelabuhan terlihat banyak bangunan rusak, darah menggenang di beberapa titik ada serta orang-orang yang menangisi kerabat atau keluarga mereka yang tewas. Setidaknya dalam insiden itu ada empat orang terluka dan dua meninggal dunia. Kekacauan yang selama ini tak pernah dilihat oleh Yudha sejak kecil.Dia terus berlari menuju pelabuhan, di sana terlihat Juragan Kardi bersimpuh memandang lautan. Semua orang menjauh, bahkan anak buahnya pun tak ada yang mendekati untuk menghibur."Mereka membawa Ratna, aku terlambat mengejar," kata Juragan Kardi begitu Yudha berdiri di dekatnya."Ayo, kita kejar mereka. Kita gunakan semua kemampuan, jangan sampai di ditindas sama perampok," Yudha menghampiri anak buah juragan Kardi dan warga satu persatu, namun semuanya mundur."Para perampok itu sangat kejam, mereka bukan cuma mengincar harta tapi juga menganggap membunuh seperti sebuah ke

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    "Yudha, Mbak juga mau coba punyamu,"

    "Aku akan bungkam mulut kambing bendot itu." Yudha mengepalkan tangannya geram, sementara Ratna yang pada saat itu diangggap sebagai bahan taruhan lekas pergi menjauh. Yudha segera mengejar Ratna agar tak terjadi salah paham. "Ratna, kenapa kamu muram begitu?""Aku enggak suka dengan caramu. Lagian kita bisa menjalani hubungan tanpa kamu meladeni bapakku," jawab Ratna. "Aku hanya ingin dia berhenti mengejek, itu aja," Yudha mencoba menjelaskan pada Ratna, namun anak juragan paling kaya di desa itu seperti enggan menghiraukan. Dia tetap pergi entah memikirkan apa.Ocehan kasar Juragan Kardi seperti tantangan tersendiri bagi Yudha, ia pergi meninggalkan kerumunan untuk pulang ke rumah."Ada berita apa? Aku dengar kegaduhan di pelabuhan," tanya Sari saat Yudha memasuki pintu rumah."Katanya desa ini habis didatangi perampok, Juragan Kardi sampai mengeluarkan sayembara pada warga desa yang berani melawan perampok,""Ah, kamu masih memperdulikan ocehan orang itu? Kita sekarang sudah punya

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Sayembara Berhadiah Nikah

    Kamar mandi di rumah itu tak memiliki atap, hanya dinding dari bambu setinggi hampir dua meter. Yudha mengintip ke dalam, ia melihat Yasmin sedang duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya mengusap melon kembar, sementara tangan lainnya naik turun mengusap serabi miliknya. "Aaaahm, a---aaaakh!" Yasmin terpejam, mulutnya mendesis dengan gerakan jari yang cepat mengusap belahan hutan belantara miliknya yang becek. "Yasmin, kamu lagi ngapain?" tanya Yudha, seketika Yasmin langsung berhenti. Dia malu karena Yudha mengetahui apa yang dia kerjakan di dalam kamar mandi. "Ehm, aku lagi mau pipis!" jawab Yasmin dengan suara sedikit meninggi. Dia kesal karena Yudha seperti sengaja menghindari dirinya, ada rasa cemburu saat melihat perlakuan Yudha ke Ratna tadi. Sekitar jam 11 malam Sari dan Pak Wagino datang bersama seseorang. Yudha yang mengetahui sebelum mereka masuk pun segera kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. "Yasmin, gimana keadaan Yudha?" Pak Wagino bertanya pada cucunya yan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Yasmin Yang Genit

    Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pusaka Yudha Di balik Kain

    Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status