LOGINYudha malu kalau kakaknya melihat pusaka itu, ia menutup celana dan bangkit.
"Yudha, kenapa kamu bisa begini? Apa yang terjadi padamu?" Sari terus mengekor hingga Yudha berada di ambang pintu kamar mandi. "Mbak ini apa-apaan sih? Aku mau mandi dulu. Nanti aku ceritakan," ucap Yudha. Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Sari bersandar pada dinding kamar mandi, matanya terpejam dengan pikiran penuh tanda tanya. "Apa dia habis mengonsumsi obat kejantanan ya? Setahuku dia itu impoten, bahkan jelas-jelas kakinya yang cacat sudah normal. Belum lagi badannya yang berubah kekar, jika itu pengaruh obat tentu tak baik untuknya." Rasa kagum itu pun memunculkan kekhawatiran yang baru. Dak dak dak! "Yudha, buka pintu. Mbak mau masuk!" teriak Sari sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Enggak boleh!" sahut Yudha lantang. Sari tak kehilangan akal. Dia pergi menjauhi pintu kamar mandi lalu menuju halaman samping. Dari halaman samping ia ingat ada celah kecil untuk melihat ke dalam kamar mandi. Dari celah selebar dua jari, mata Sari menyapu tubuh Yudha dari atas hingga bawah. Pusaka keramat Yudha masih berdiri anggun di antara perutnya yang kekar. Air liur Sari menetes, ia memandangnya penuh rasa takjub. "Ah, andai aku bisa mencobanya... jangan-jangan itu cuma kulit imitasi?" Sari membatin. Meski dia sudah memegang langsung, hal itu tak cukup membuat rasa penasaran itu lenyap begitu saja. Sementara itu, para preman yang habis dihajar Yudha telah kembali ke rumah Juragan Kardi dengan langkah tertatih dan pincang. Bahkan salah satu preman matanya bengkak sedangkan yang lainnya tak dapat menggerakkan tangan. Juragan Kardi yang melihat itu tampak bingung. Ia keluar menyambut anak buahnya sambil mencari Sari yang seharusnya datang bersama mereka. "Mana calon istriku, Man?" tanya Juragan Kardi pada Maman, si kepala preman. "Juragan, ceritanya panjang," balas Maman dengan suara lemah. "Maksudnya apa?!" bentak Juragan Kardi. Maman dan anak buahnya saling pandang. "Kami hampir berhasil membawanya ke sini, lalu Yudha datang mengacaukan. Kami dihajar Yudha, adik si Sari," jelas Maman. "Kalian dihajar Yudha? Hahahaha!" Juragan Kardi mengerutkan keningnya lalu tertawa geli. "Iya, Juragan," jawab Maman malu-malu. "Lelucon macam apa ini? Yudha si pincang menghajar kalian yang badannya besar seperti kerbau ini? Hahahaa! Tak masuk akal! Bahkan Yudha sendiri berjalan dengan bantuan tongkat dan napasnya ngos-ngosan kaya orang kena tipes itu. Maman, kalau bohong yang masuk logika dong!" sentak Juragan Kardi. "Saya tak bohong, mungkin Yudha baru saja mendapatkan kekuatan ajaib atau bagaimana," "Payah. Dengar ya, kalau kalian bohong awas!" ancam Juragan Kardi. Pria paruh baya itu menyuruh Maman dan anak buahnya beristirahat sambil mengobati badannya, sementara Juragan Kardi menuju ke dermaga. Di sana beberapa orang pilihannya yang benar-benar memiliki ilmu bela diri bekerja mengawasi bongkar muat kapal ikan. Bara, Darto, dan Jarwo. Tiga anak buah Juragan Kardi yang terkenal memiliki ilmu bela diri, mereka merupakan orang pilihan yang sering digunakan Juragan Kardi untuk menagih utang atau menakuti-nakuti lawan bisnisnya. "Bara, Darto, Jarwo... sini!" pekik Juragan Kardi dari kejauhan saat ketiganya sedang mengawasi bongkar muat barang. "Ada apa, Juragan?" tanya Bara begitu sudah berada di tempat yang sama dengan sang juragan. "Kamu ajak anak buahmu ke rumah Yudha, bawa Sari ke hadapanku!" perintah Juragan Kardi. "Lho bukannya Maman sudah ke sana?" tanya Bara. "Itu dia, Maman babak belur. Dia bilang habis dihajar Yudha. Aku tak percaya ucapan Maman, tugasmu kali ini memastikan. Cepat sana, kalau perlu bawa tenth orang yang penting Sari tiba di sini. Biar Darto dan Jarwo yang mengawasi bongkar muat," perintah Kardi. Bara cuma mengangguk. Ia mengencangkan ikat pinggang lalu mengajak sekumpulan buruh di dermaga untuk pergi ke rumah Yudha. Berbeda dengan Maman, Bara memiliki postur tubuh kekar berotot seorang petarung, ada bekas bacokan memanjang di dada dan pipi. Sorot matanya tajam, nyaris tak pernah tersenyum. Sepuluh orang buruh dermaga yang bersenjata benda tajam, Bara langsung mendobrak pintu kayu rumah Yudha hingga jebol. Braaak! Sari yang sedang duduk menyisir rambut terkejut, ia langsung menoleh ke arah pintu. "Ikut aku atau kami hanguskan rumah ini!" Bara langsung mencengkeram lengan Sari. Dalam sekejap rumah itu dipenuhi para preman anak buah Juragan Kardi. "Kalian mau apa lagi?! Jangan macam-macam!" bentak Sari. Di saat ketegangan itu berlangsung, tiba-tiba Yudha yang baru dari pasar membawa sayuran berhenti di depan pintu. "Kalian yang merusak pintu rumahku?" tanya Yudha. Bara hanya tersenyum tipis dan melangkah menuju pintu. "Heh, kalian punya mulut kan? Kalian harus perbaiki pintunya ini!" kata Yudha lagi. "Kalau aku enggak mau, kamu mau apa?" tanya Bara meremehkan. "Perbaiki sekarang!" bentak Yudha dengan suara lantang yang membuat para preman mendadak berdebar, seolah bukan Yudha yang biasa mereka injak-injak. "Jangan halangi langkahku, atau kubuat kamu menyesal!" ancam Bara. "Yudha, tolong! Mereka mau bawa aku ke sana lagi," ratap Sari. Yudha diam, dadanya membusung dan tangan terkepal. "Hiaaakh!" satu pukulan keras ke arah hidung membuat Bara tersungkur. Ada suara retakan, seolah tulang hidung Bara patah seketika. Melihat kejadian itu, para anak buahnya yang lain langsung nyali ciut dan kabur tunggang langgang. Bara terkapar dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah. Ia merayap ingin pergi, tapi Yudha menginjak kakinya kuat-kuat hingga Bara merintih. "Biarkan aku pergi..." "Perbaiki pintunya dulu!" tegas Yudha. Mau tak mau, pria berbadan kekar itu harus memperbaiki pintu Yudha hingga selesai lalu pergi dengan wajah berlumur darah. Setelah suasana kembali normal, Sari mendekati adiknya. "Yudha, kamu kuat sekali. Sangat berbeda dari sebelumnya. Kamu belum ceritakan apa yang terjadi padamu saat pergi," ucap Sari dengan nada penasaran. Yudha menarik napas dalam-dalam. Ingatannya tentang malam itu kini sudah kembali utuh setelah dipicu sentuhan Sari tadi. "Malam itu, kapalku hancur oleh badai. Lalu datang Dewi Lanjar, ia menawarkan kehidupan baru seperti sekarang. Aku memiliki tubuh yang perkasa, tapi ada syaratnya ...." ucap Yudha dengan suara tertahan. "Dewi Lanjar makhluk mistis penguasa laut Utara yang legendaris itu?!" Sari sampai ternganga. Yudha hanya mengangguk pelan. "Dia meminta aku mengumpulkan energi agar dia tetap cantik, dengan cara berhubungan dengan para perempuan cantik di daratan setiap satu bulan sekali hingga 100 bulan." Sari memandangi Yudha dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan. Matanya perlahan turun ke arah celana adiknya. "Maksudmu dengan milikmu yang besar dan kuat itu? Bagaimana kalau dicoba denganku dulu? Aku ingin membuktikannya, Yudha... Aku penasaran," bisik Sari, sambil berjalan mendekat.Setelah Ratna pulang dari dermaga atau pelabuhan, ia masuk dan mengurung diri di kamar. Beberapa jam ia sendirian, pikirannya kalut karena sang bapak rupanya mengingkari janji akan menikahkan Yudha dengannya."Ratna," dari balik pintu terdengar suara Sumiyati, Ratna hanya menoleh tanpa bermaksud ingin membuka pintunya."Buka pintu, kita bisa ngobrol jika kamu butuh teman," lanjut Sumiyati yang merupakan ibu sambung bagi Ratna. Usia mereka hanya terpaut sekitar sepuluh tahun, Sumiyati masih terlihat muda dan lebih cocok jika dipanggil kakak.Setelah merenung cukup lama, Ratna akhirnya membuka pintu. "Ada apa, Bu?""Ibu lihat sedari tadi kamu murung dan mengurung diri di kamar terus, apa yang membuatmu merasa sedih? Jika kamu nyaman ceritakan saja pada Ibu," tanya Sumiyati, dia duduk di samping tempat tidur Ratna."Ternyata bapak mengingkari janjinya. Dia mengatakan di hadapan orang-orang jika Yudha berhasil membawaku pulang dengan selamat, maka dia akan menikahkan kami. Semua itu cuma
Yudha dengan susah payah menuruni altar batu, dia merangkak di depan Dewi Lanjar. Badannya gemetar, rasa takut menyelubungi pikirannya. Kakinya yang cacat kembali seperti dulu, pusakanya mengecil dengan badan kerempeng dan rambut kusut."Hahaha! Kamu terlalu lugu, Yudha ... aku sudah memerintahkan kamu berkali-kali agar mencari wanita sebanyak mungkin untuk kamu tiduri, tapi kamu selalu menunda kesempatan tersebut. Kebakaran pada warungmu bukan sebuah kebetulan, aku yang menggerakkan pikiran para perampok tersebut agar kamu sadar jika kamu memiliki janji denganku. Sekarang pilihan ada pada dirimu, kembali ke desa dengan kaki yang cacat atau kembali di ke desa sebagai pria idaman para perempuan. Pilihlah!" ujar Dewi Lanjar yang wajahnya di penuhi aura kemarahan."Aku akan melakukan apa yang kamu mau, Dewi. Tapi tolong kembalikan ragaku seperti sebelumnya, aku tidak sanggup lagi hidup dalam cemoohan dan juga hinaan orang-orang, aku tidak rela jika kakak tiriku di peristri oleh juragan K
Hari beranjak malam ketika Yasmin dan Ratna terbangun, rasa kantuk masih menyelimuti mereka namun karena banyaknya nyamuk mereka sulit tertidur lagi di tempat seperti ini."Yudha mana? Kenapa kita ditinggal di sini?" tanya Ranta, Yasmin sendiri bingung. Seolah ingatan terakhirnya di tempat itu lenyap. Mereka tak tahu apa yang terjadi sebelumnya, yang mereka ingat cuma berlari dari kejaran anak buah Pak Darmo."Mungkin dia masih di perahu, ayo kita tunggu aja di sana daripada nanti malah tersesat," ajak Yasmin, keduanya meninggalkan semak belukar menuju tempat perahu bertambat.Pemandangan di tempat ini sungguh berbeda, memang di hadapan mereka merupakan laut yang luas tapi kali ini hanya hamparan kegelapan malam yang sangat pekat."Sepertinya Yudha benar-benar suka sama kamu, sampai dia berani pertaruhkan nyawa datang menyelamatkan kamu," sindir Yasmin saat keduanya baru tiba di perahu."Aku sendiri enggak tahu soal itu, yang jelas kami sudah berteman sejak kecil. Aku heran, kakinya b
Sebentar lagi mereka akan tiba di perahu, namun tiba-tiba dari arah berbeda muncul dua orang berlari kencang menubruk Ratna dari arah samping sehingga Ratna terjungkal. Yasmin coba membantunya berdiri, namun fisiknya kalah kuat dengan para pria anak buah Darmo tersebut."Kurang ajar kamu, berani-beraninya membuat ulah di kampung kami!" Salah satu dari mereka bernama Joko yang kemarin sempat bertemu di warung mie ayam Pak Ringgo."Perempuan ini cantik juga, apa sebaiknya kita bawa ke sana saja?" Temannya memberikan usulan."Hahaha! Iya, dua mangsa yang cocok untuk menemani kita tidur sebelum diserahkan pada Pak Darmo," sahut Joko.Mereka berperilaku kasar segera mengikat tangan Yasmin dan Ratna, lalu mendorong mereka untuk kembali ke pemukiman. Yudha yang berada di atas perahu segera turun, ya harus melupakan misinya melarikan diri demi menyelamatkan dua perempuan tersebut."Hentikan, kalian akan menyesal nanti!" ancam Yudha, namun salah satu dari mereka segera membalikkan badan sambil
Hari menjelang malam, suasana di rumah Pak Ringgo terasa senyap. Pria dengan tubuh penuh tato itu duduk memandang rumah tempat Ratna ditawan. Yudha menghampiri sambil mengamati situasi. "Apa yang terjadi di dalam sana? Aku ingin masuk," ucap Yudha."Jangan dulu, Nak. Dia aman di sana, kamu tak perlu kuatir berlebihan yang bisa mengacaukan keadaan. Di dalam rumah itu temanmu mendapatkan perlakuan yang layak serta makanan yang cukup. Dia akan tetap hidup agar mendapatkan tebusan," ucap Pak Ringgo."Lalu mau tidur di mana kami? Tak enak jika merepotkan Bapak," imbuh Yudha. "Ada satu kamar kosong di luar sana, tidurlah ... sayangnya kalian akan tidur sekamar agar tidak mengundang kecurigaan anak buah Darmo," kata Pak Ringgo lagi. Baru sekejap dia bicara, tiba-tiba rumah itu disambangi dua orang pria berwajah sangar dengan golok dan senapan di pinggang."Pak Ringgo, tolong antar makanan ke sana," ucap salah satu dari mereka. "Baik, tunggu saja sekitar dua puluhan menit," jawab Ringgo."Ter
Tangan Yudha merogoh masuk ke baju, menggenggam sebilah pisau namun Yasmin menahan. "Jangan sekarang, masih siang. Kita ikuti aja dulu ke mana Ratna akan dibawa," bisik Yasmin, Yudha melihat situasi di sekitarnya yang ramai dan kebanyakan mereka itu para preman, perampok dan pencuri kawakan. "Sepertinya di desa ini enggak ada kebaikan sama sekali," gumam Yudha, ia mengawasi gerak-gerik orang yang membawa Ratna bahkan mengikuti dari kejauhan. "Dia dibawa masuk ke rumah itu," Yasmin menunjuk ke arah rumah besar berbahan kayu berlantai dua. Tempatnya begitu tenang, beberapa perempuan muda tampak hilir mudik di sekitar rumah tersebut, ada juga orang berjualan dan anak-anak kecil berlarian. "Ayo kita singgah di warung itu," ajak Yasmin, keduanya bergerak menuju kedai kopi yang berada di samping rumah besar tadi. "Kopi satu tanpa gula, sama es teh," ucap Yudha pada penjaga warung, namun pria paruh baya itu cuma memandang tanpa menjawab. Yudha tidak begitu perduli sikap pemilik warung







