LOGIN"Aku akan bungkam mulut kambing bendot itu." Yudha mengepalkan tangannya geram, sementara Ratna yang pada saat itu diangggap sebagai bahan taruhan lekas pergi menjauh. Yudha segera mengejar Ratna agar tak terjadi salah paham. "Ratna, kenapa kamu muram begitu?""Aku enggak suka dengan caramu. Lagian kita bisa menjalani hubungan tanpa kamu meladeni bapakku," jawab Ratna. "Aku hanya ingin dia berhenti mengejek, itu aja," Yudha mencoba menjelaskan pada Ratna, namun anak juragan paling kaya di desa itu seperti enggan menghiraukan. Dia tetap pergi entah memikirkan apa.Ocehan kasar Juragan Kardi seperti tantangan tersendiri bagi Yudha, ia pergi meninggalkan kerumunan untuk pulang ke rumah."Ada berita apa? Aku dengar kegaduhan di pelabuhan," tanya Sari saat Yudha memasuki pintu rumah."Katanya desa ini habis didatangi perampok, Juragan Kardi sampai mengeluarkan sayembara pada warga desa yang berani melawan perampok,""Ah, kamu masih memperdulikan ocehan orang itu? Kita sekarang sudah punya
Kamar mandi di rumah itu tak memiliki atap, hanya dinding dari bambu setinggi hampir dua meter. Yudha mengintip ke dalam, ia melihat Yasmin sedang duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya mengusap melon kembar, sementara tangan lainnya naik turun mengusap serabi miliknya."Aaaahm, a---aaaakh!" Yasmin terpejam, mulutnya mendesis dengan gerakan jari yang cepat mengusap belahan hutan belantara miliknya yang becek."Yasmin, kamu lagi ngapain?" tanya Yudha, seketika Yasmin langsung berhenti. Dia malu karena Yudha mengetahui apa yang dia kerjakan di dalam kamar mandi. "Ehm, aku lagi mau pipis!" jawab Yasmin dengan suara sedikit meninggi. Dia kesal karena Yudha seperti sengaja menghindari dirinya, ada rasa cemburu saat melihat perlakuan Yudha ke Ratna tadi.Sekitar jam 11 malam Sari dan Pak Wagino datang bersama seseorang. Yudha yang mengetahui sebelum mereka masuk pun segera kembali ke kamar dan berpura-pura tidur."Yasmin, gimana keadaan Yudha?" Pak Wagino bertanya pada cucunya yang dudu
Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p
Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem
Mahluk berwujud menyeramkan dengan badan bagian bawah menyerupai ikan, bersisik yang berkilau, matanya besar dan menonjol, lengan yang panjang berselaput dan bersirip. Mahluk itu bergerak cepat meski merayap, Ratna melihat pergerakan mahluk di belakang punggung Yudha, secara spontan Yudha mengarahkan tombak itu ke dada mahluk buas tersebut.Sraaak!Bilah tombak yang tajam tak mampu melukai sedikit pun, meski ujung tombak mengenai leher mahluk berwujud manusia setengah ikan. Hanya satu kali tepisan tombak itu patah, tangannya yang kuat dan kekar mengangkat Yudha ke udara dan melemparkannya membentur dinding.Braaak!Seluruh tulang Yudha terasa remuk, badannya nyeri luar biasa. Kini mahluk itu berdiri tepat di hadapan Ratna dengan dua tangan berkuku panjang yang siap menerkam."Yudha, tolooong!" pekik Ratna, karena tak ingin Ratna menjadi santapan mahluk itu Yudha kembali bangkit. Dia memegang serpihan tombak dan sekali lagi menyerang mahluk tersebut dari samping.Craaash!Bilah tajam i
Di dek kapal, Yudha merasakan kenyamanan sebab perempuan yang selama ini ia inginkan datang sendiri ke pelukannya. Matanya memandang hamparan lautan, ada rasa lega yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Namun berbeda dengan Yudha pikirannya dipenuhi cinta, Ratna justru mendekap penuh gairah. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat pelukan semakin erat berbaur dengan keinginan bercumbu yang hebat."Di sini dingin, bagaimana kalau kita ngobrol di kamar?" tanya Ratna, ucapan itu membuat lamunan Yudha membuyar. Ia tetap tak bisa menolak meski saat ini harus tetap mengawasi perangkap ikan yang dipasang di bawah lambung kapal.Keduanya berjalan menuju kamar, sebuah tempat hangat yang kedap udara sehingga angin laut tak mampu masuk ke dalam. Sesampainya di kamar, Ratna melepaskan mantel tebal, ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar serta menyalakan keran yang mengalirkan air hangat."Kamu mau mandi bareng aku?" tanya Ratna, Yudha mengangguk pelan, ia hanya bisa menurut seperti kerb







