LOGIN“Kamu udah pernah cium cewek atau belum sih?” Lusty menatap Raman dengan sedikit gemas. Ia sudah menyodorkan bibirnya sedari tadi di dalam keheningan bilik yang sempit itu, namun Raman malah mematung bagai kehilangan seluruh sendi di tubuhnya.
“Saya belum pernah….” Perkataan Raman terpotong ketika Lusty dengan agresif menarik kerah kemeja baru pria itu, memaksa jarak di antara mereka terkikis habis hingga bibir mereka menempel. Kulit Raman terasa hangat oleh keringat dingin yang mendadak bercucuran, namun bibir pria itu malah gemetaran karena saking gugupnya menghadapi pesona sang atasan.
Lusty melepaskan tautan mereka sejenak, memberikan jeda agar pasokan oksigen kembali memenuhi rongga dada mereka yang berhimpitan. Napasnya sendiri sudah sedikit memburu, ada letup adrenalin yang tak biasa ia rasakan selama ini. “Aku juga belum pernah mencium cowok, karena itu ayo kita coba kayak di film romantis itu….”
Lusty meraih kedua tangan kekar Raman yang kasar akibat kerja keras sehari-hari, lalu mengarahkannya ke pinggangnya agar memeluknya erat. Namun, tepat ketika jemari Raman mulai merasakan kelembutan pinggang Lusty, suara langkah kaki terdengar mendekat dari area luar. Seseorang melangkah masuk ke bilik lain tepat di sebelah bilik mereka, diikuti suara gantungan baju besi yang digeser kasar pada tiangnya.
“Shhh… kita lanjut tanpa suara ya?” bisik Lusty dengan tatapan mata yang tampak penuh gairah di balik kacamatanya. “Aku pengen disentuh kamu.”
“Non… jangan nanti ketahuan,” potong Raman panik, suaranya nyaris berupa hembusan angin. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup keluarganya, serta taruhan harga dirinya, seketika membuat akal sehat Raman kembali tegak. Raman dengan lembut namun tegas melepaskan tangan Lusty dari tubuhnya, lalu melangkah mundur setengah jengkal sembari berusaha merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
Lusty menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran gila di dadanya yang berkejaran, lalu menuruti kata-kata Raman. Ia kembali memakai kacamatanya yang sempat agak turun dan merapikan blus kerjanya yang sempat sedikit bergeser akibat rengkuhan singkat tadi. Namun, saat ia berbalik dalam ruang yang begitu sempit untuk mengambil tasnya, tanpa sengaja punggung tangan Lusty menyentuh gundukan kejantanan Raman di celana pria itu.
Lusty menambahkan senyuman menggoda yang sangat menawan, menatap Raman dari balik bingkai kacamatanya. “Hayo, kamu sebenarnya pengen kan? Tuh celanamu tegang.”
Wajah Raman seketika memerah padam hingga ke ceruk lehernya. Jantungnya seolah mau melompat keluar karena tertangkap basah. “Ya, saya kan laki-laki normal, Non,” Raman berbisik, berusaha merendahkan suaranya seminimal mungkin agar tidak memicu kecurigaan orang di bilik sebelah.
Lusty tidak berkata apa-apa lagi. Dengan gerakan anggun yang kembali tenang, ia memutar selot kunci dan membuka pintu bilik. Begitu melangkah keluar ke area toko yang terang benderang, ia seketika kembali ke tampilan formalnya yang dingin, kaku, dan berwibawa. Ia berjalan tegak, berpura-pura seolah tidak terjadi apa pun di dalam bilik itu.
Setelah membayar baju dan celana baru tersebut di kasir menggunakan kartu kredit miliknya, Lusty membawa Raman pergi menuju sebuah restoran mewah bergaya fine dining di lantai teratas mall tersebut. Malam itu, Lusty benar-benar menepis jauh-jauh status sosial yang membentang lebar di antara mereka. Ia mengajak Raman makan malam ke restoran mewah tanpa khawatir ada orang kantor, relasi bisnis, ataupun kolega kelas atasnya yang melihatnya. Bagi Lusty, ketulusan dan perhatian tulus yang terpancar dari mata Raman jauh lebih menenangkan jiwanya yang kesepian daripada menghadiri ratusan penandatanganan kontrak bisnis yang penuh kepalsuan.
Di atas meja bertaplak putih bersih itu, Raman tampak kikuk memegang garpu dan pisau perak, sementara Lusty dengan sabar mengajarinya tanpa sedikit pun nada mengejek. Raman merasa dihargai sebagai seorang manusia, bukan sekadar buruh pembersih lantai yang kehadirannya sering kali dianggap tidak terlihat oleh orang lain.
Namun, kebahagiaan malam itu ternyata diawasi oleh sepasang mata yang penuh intrik. Tanpa mereka sadari, seorang manajer restoran yang mengenali Lusty sebagai CEO Mona Beauty Group diam-diam mengambil ponselnya, lalu mengabarkan kencan mereka ke keluarga besar Lusty lengkap dengan beberapa lampiran foto.
Kabar mengenai sang CEO wanita yang berjalan mesra dan makan malam bersama seorang cleaning service di mall mewah ternyata sempat difoto secara diam-diam oleh salah satu informan kantor juga, membuat desas-desus itu berlipat ganda dan beritanya langsung sampai ke telinga keluarga besar Lusty malam itu juga. Berita miring dan memalukan itu menyebar secepat kilat di kalangan petinggi perusahaan, memicu gunjingan masif yang merusak citra profesionalitas Lusty.
Selesai makan malam, Lusty mengantarkan Raman pulang ke indekosnya. Mobil mewah Lusty untuk pertama kalinya masuk ke gang sempit di perumahan kumuh di pinggir kota. Sontak perhatian penghuni indekos tersita ke arah mobil mewah itu.
“Terima kasih ya Non, menu makan malamnya lezat. Saya biasanya makan malam hanya nasi goreng atau mie goreng,” ujar Raman dengan wajah tersipu. “Terima kasih juga bajunya, entah bagaimana saya harus membalasnya….”
Lusty segera memotong. “Shhh, kamu itu sudah banyak membantu saya, jadi pemberian itu sudah layak kamu terima.”
“Terima kasih, Non. Hati-hati di jalan.” Raman masih mematung ketika Lusty melambaikan tangan dan menyetir mobilnya keluar dari gang indekos yang sempit itu.
Pertemuan mereka membuat buah bibir para penghuni indekos, ada yang bersiul-siul ketika melihat kecantikan Lusty, ada yang mengacungkan jempol ke arah Raman sebagai tanda selamat karena mendapatkan cewek secantik Lusty.
Namun, tanpa mereka sadari, sebuah sepeda motor membuntuti mereka sejak dari restoran. “Kurang ajar si Raman itu, berani-beraninya merayu Bos Lusty.” Suara jengkel terdengar dari dalam helm yang dipakai orang yang membuntuti itu. “Untung mereka gak ke hotel. Kalau sampai mereka cek in berdua di kamar hotel, maka habislah si Raman itu kita gerebek!”
“Kita hajar saja si Raman itu sekarang bagaimana?” ujar pengendara motor satunya.
“Kamu gak lihat penghuni indekos yang lain mendukung Raman? Kalau kita hajar sekarang si Raman itu, kamu mau dikeroyok warga sekitar?”
“Oh, kalau gitu, ya kita tunggu sampai si Raman itu sendirian ya?”
Suara menggerutu mereka terdengar bersama raungan sepeda motor ketika menggelinding pergi.
“Ah… Mas… akhirnya kita bertemu kembali setelah seminggu lebih aku di luar negeri… aku merindukanmu…” Desahan Lusty meluncur lembut namun penuh kerinduan yang mendalam begitu Raman melangkah masuk ke kamar utama rumah baru mereka yang kini sudah mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya.Ruangan itu sudah tertata rapi dan terasa begitu nyaman, meski sebagian bagian rumah lain masih dalam tahap penyelesaian perlahan. Cahaya senja yang keemasan menembus jendela kaca yang lebar, menerangi wajah Lusty yang tampak segar kembali setelah beristirahat cukup lama dari perjalanan jauh yang melelahkan dari luar negeri. Tanpa menunggu lama atau memberi kesempatan bagi suaminya untuk beristirahat lebih dulu, ia segera merangkul leher suaminya dengan erat, menariknya mendekat hingga tubuh mereka saling menempel rapat, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang yang begitu ia rindukan selama berhari-hari terpisah.Raman membalas pelukan itu dengan senyum lelah namun penuh kasih sayang yang tak pern
“Kenapa terasa begitu aneh…” Raman bergumam pelan sambil menekan pelan bagian bawah perutnya yang terasa nyeri samar namun tak nyaman. Rasanya persis seperti setelah mengalami mimpi basah yang sangat dahsyat dan menguras tenaga, namun kesadarannya utuh—ia tahu ia tidak sedang bermimpi, ia terjaga sepenuhnya, dan rasa lelah serta ngilu yang menjalar dari pinggang hingga ke seluruh persendian itu terasa begitu nyata dan melekat di sekujur tubuhnya. Ia mencoba mengingat-ingat potongan kejadian apa yang terjadi semalam, namun pikirannya terasa kabur dan berkabut, seolah ada selubung tebal yang sengaja menutupi ingatannya, menyisakan hanya rasa letih dan kebingungan yang tak terjelaskan.Belum sempat ia merenung lebih jauh, perutnya tiba-tiba terasa sangat lapar dan perih, seolah ia belum makan atau minum berhari-hari lamanya. Tanpa sadar dan tanpa banyak bertanya, ia kembali mengambil piring bersih lalu menyantap sisa masakan Fenina yang masih tersedia di meja makan dengan hidung yang mas
“Ah… Mas Raman… ya begitu… keluarkan semuanya… semuanya untukku…” Erangan Fenina makin nyaring, melengking halus namun penuh kepuasan yang tak terlukiskan saat ia merasakan kejantanan pria itu berdenyut kuat, melepaskan segala isinya perlahan namun pasti ke dalam rahimnya yang sudah lama ia dambakan untuk diisi olehnya. Tubuhnya menegang seketika, lalu luruh perlahan di atas dada bidang Raman, napasnya tersengal berat namun setiap helaan napas itu membawa rasa bahagia yang meluap-luap, seolah seluruh dunia kini ada di dalam genggamannya. Ia merasakan hangatnya benih kehidupan itu menyebar perlahan, memenuhi ruang di dalam dirinya, menanam harapan yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dalam hati. Perlahan ia menunduk, menempelkan bibirnya di dahi, pelipis, hingga ke bibir Raman. Kecupan itu penuh rasa ingin memiliki, penuh janji sunyi bahwa tak akan ada yang bisa memisahkan mereka lagi, bahkan takdir sekalipun. Ia memeluk erat tubuh itu, merapatkan dirinya seolah ingin menyatu sepen
“Ah… Mas… rasanya… sungguh sempurna…” Desahan panjang dan bergetar meluncur lepas dari bibir Fenina, memenuhi ruangan yang remang dan sunyi. Hanya cahaya lampu tidur yang meredup yang menyinari setiap lekuk tubuhnya yang kini melengkung indah di atas tubuh kekar yang masih terbaring tak sadarkan diri. Setiap gerakan naik turunnya memicu gelombang kenikmatan yang meledak hebat di setiap ujung sarafnya, merambat dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun, membuat seluruh kesadarannya seolah terbang ke tempat yang tak terjangkau oleh akal sehat.“Ahhh enak Mas Raman … ahhh yes….” Fenina mengerang nikmat. Rasa perih yang sempat terasa saat pertama kali menyatu kini telah sirna sepenuhnya, berganti dengan rasa penuh yang luar biasa—hangat, memabukkan, dan seolah mengisi setiap ruang kosong yang selama ini ia rasakan di dalam dirinya. Kakinya yang melilit erat pinggang pria itu kini gemetar hebat seiring puncak kenikmatan yang mulai mendekat, jari-jarinya mencengkeram bahu lebar Raman hingga
“Ramuan dan mantra pemikat itu tak berguna… tak ada yang mampu membelokkan hatinya, tak ada yang bisa memisahkan kalian berdua selain aku sendiri.” Fenina bergumam pelan namun penuh penekanan, jari-jarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Berhari-hari ia menanti perubahan yang tak pernah datang sedikit pun; kesetiaan Raman pada Lusty tetap tegak kokoh bagaikan benteng yang tak tersentuh, seolah segala ramuan, doa, dan ritual yang ia usahakan tak lebih dari sekadar air biasa yang meluap sia-sia. Harapan yang perlahan pudar kini berganti dengan tekad gelap yang tak lagi mengenal batas akal, norma, maupun aturan yang berlaku. Ia sadar sepenuhnya, tak ada jalan halus, tak ada cara yang pantas yang akan membawanya pada pria itu—maka ia pun memilih jalan yang paling nekat, paling berani, dan paling berbahaya yang pernah terlintas di benaknya.Tanpa ragu lagi, ia mencari cara lain yang dianggapnya lebih pasti. Ia mendapatkan obat bius yang cukup ampuh namun telah ia p
“Masih tidak bisa… aku tidak akan berhenti sampai kau menjadi milikku sepenuhnya.” Fenina bergumam pelan di dalam hati saat melangkah meninggalkan gedung kantor, hatinya terasa perih tertusuk kekecewaan namun tekad di dadanya justru semakin mengeras bagaikan batu karang. Penolakan demi penolakan yang halus namun tegas yang ia terima dari Raman tak sedikit pun membuatnya mundur atau menyadari diri; justru hal itu menyalakan api keinginan yang semakin besar dan tak terkendali di dalam dirinya. Ia merasa segala cara yang wajar sudah ia tempuh sepenuhnya—memberikan kebaikan tanpa pamrih, perhatian yang melimpah ruah, masakan yang selalu lezat dan disiapkan dengan hati, hingga rayuan yang terang-terangan namun tetap tertutup rapat sebagai perhatian sahabat—namun kesetiaan Raman pada Lusty tak tergoyahkan sedikit pun, tegak kokoh seolah tak tersentuh waktu maupun bujukan apa pun.***Esok harinya, ia memacu kendaraannya menuju daerah pinggiran kota yang sepi, rimbun, dan jauh dari hiruk-pik







