Share

Bab 16

Penulis: SanASya
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 08:02:33

Bella terdiam ditempat, apa yang harus ia lakukan? pikirnya. Ditangan penculik itu bukan hanya ada Alan, tapi ada anak-anak lain didalam mobil, tentu Bella ingin menyelamatkan mereka juga.

Mendengar ancaman penculik, Bella tidak bisa meminta bantuan. Takutnya para penculik itu nekat dan menyakiti anak-anak.

"Masukkan dulu anak itu." Perintah penculik A.

Alan yang terbungkus karung segera dimasukkan ke dalam mobil, melihat itu Bella ingin maju menolongnya. Tapi pisau di tangan penculik kembali d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 201

    "Setelah semua luka kami mengering, aku, Rico, dan Vito akhirnya diizinkan untuk tinggal sementara waktu di desa perbatasan tersebut," lanjut Shin, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Bella. "Semua warga di sana memperlakukan kami dengan sangat baik. Selain merawat kami bertiga hingga sembuh total, orang-orang di desa juga mengajarkan kami beberapa kemampuan dasar untuk bertahan hidup secara mandiri. Sebagai gantinya, kami ikut membantu pekerjaan apa saja yang bisa kami lakukan di sana, hitung-hitung sebagai bayaran atas tumpangan dan makanan selama kami tinggal."Shin menjeda kalimatnya, menghela napas pendek. "Pertemuan kami dengan Nyonya DeLuca sendiri sebenarnya tidak banyak. Setelah seminggu kami sadar dan kondisi fisik kami hampir sembuh, kami tidak pernah lagi bertemu dengannya secara langsung. Nyonya DeLuca tidak lagi berkunjung ke desa itu. Namun, aku tahu dari pembicaraan kepala desa bahwa Ibumu adalah penyokong dana utama yang mengidupi seluruh warga di sana.""Bisa d

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 200

    Melihat kondisi fisik kakak beradik itu yang jauh lebih lemah darinya dan terus-menerus terluka, Shin akhirnya mengambil keputusan nekat untuk membawa mereka pergi melarikan diri dari pemukiman itu. Setelah berjalan tanpa arah selama tiga hari tiga malam penuh menembus lebatnya hutan, langkah kaki mereka akhirnya sampai di area perbatasan kota Blackstone.Saat itu, Shin sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membawa Rico dan Vito memasuki desa terdekat. Ia benar-benar tidak yakin apakah anak-anak kotor dari Blackstone seperti mereka akan diterima dengan baik oleh penduduk di sana. Tapi di sisi lain, kondisi fisik Shin yang sedang menggendong tubuh Vito sudah berada di ambang batas. Ia sudah tidak kuat lagi berjalan.Begitu pula dengan Rico. Tubuhnya ambruk, jatuh berbaring tak berdaya di atas tanah. Selain menahan rasa kesakitan yang luar biasa karena infeksi luka-luka di sekujur tubuh, mereka bertiga juga menderita kelaparan yang teramat sangat.Di saat ketiganya berada dalam ko

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 199 Ingatan.

    Bagi anak-anak yang lahir dan tinggal di kota Blackstone, arti hidup hanyalah tentang bagaimana cara bertarung untuk bisa bertahan hidup. Masa itu dipenuhi dengan banyak kesulitan bagi orang-orang lemah yang tidak memiliki kekuatan fisik mumpuni. Apalagi untuk anak-anak sebatang kara yang tidak memiliki orang tua dan keluarga, mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan memutar otak agar tetap bisa bernapas keesokan harinya.Shin pernah mengalami masa-masa sulit ketika usianya enam tahun, dimana ia berjuang untuk hidup ditengah kebingungan tentang jati dirinya yang sebenarnya. Entah apa yang ia alami sebelumnya, Shin hanya ingat nama panggilannya dan kenangan samar kecelakaan yang akan membuat kepalanya sakit jika ia memaksa untuk ingat. Hampir tidak ingat sebagian kisah hidupnya, untungnya Shin mengingat dengan baik bagaimana caranya bertarung. Merasakan tubuhnya sangat bersemangat dan begitu familiar dengan gerakan beladiri, seperti modal untuknya bertahan di tengah kerasnya ked

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 198

    Pagi harinya, Bella terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa senang yang hangat, bayangan kekhawatiran, sekaligus bingung dengan identitas baru yang ia dapatkan semalam sebagai kekasih seorang Luca Vitali. Saat ia mendudukkan diri di tepi ranjang, ingatan tentang pertemuan intim semalam mendadak berputar kembali di kepalanya. Bella menarik napas dalam-dalam, dan entah bagaimana, ia masih bisa menghirup aroma parfum maskulin yang samar-samar tertinggal di bantal dan selimutnya. Aroma itu kini telah menjadi candu tersendiri baginya, terutama setelah dua minggu lamanya ia menahan rindu tanpa bertemu dengan Shin. Sebenarnya, Bella pernah mencium aroma parfum yang persis sama sebelumnya pada seorang pria di pesta bangsawan. Namun kala itu, ia sama sekali tidak pernah berniat untuk mencari tahu atau menoleh dua kali, karena ia tahu mereka bukan Shin. Apa sebenarnya yang membedakan aroma parfum yang sama pada dua pria yang berbeda? E

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 197 Berkomitmen.

    Bella sempat mengira bahwa Shin sedang bersiap untuk menyatakan cinta kepadanya malam ini. Namun setelah dicerna kembali, ia merasa bahwa status menjadi sepasang kekasih yang pria itu maksud memiliki arti yang berbeda."Apa maksudmu dengan menjadi sepasang kekasih?" tanya Bella, mencoba kejelasan di antara mereka.Shin mengulas senyuman miringnya yang khas. "Kau tidak mungkin mendadak menjadi bodoh hanya karena ciuman tadi, bukan, Bella? Kau pasti tahu apa maksud dari penawaranku."Bella refleks menggembungkan kedua pipinya mendengar ejekan yang meluncur santai dari bibir pria itu. Di dalam hatinya, ia mengutuk bahwa pria di hadapannya ini dari hari ke hari justru semakin kurang ajar. Bagaimanapun juga, fakta tidak bisa dihapus bahwa Shin adalah seorang pemimpin mafia tertinggi dari kota Blackstone. Bersikap lembut, manis, atau sopan di depan umum mungkin tidak akan pernah dilakukan oleh pria itu dengan ketulusan hati yang murni. Atau... jangan-jangan pria

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 196

    Ketika ciuman mereka terasa semakin dalam dan dekapan protektif di antara kedua tubuh itu hampir tidak bisa dilepaskan lagi, Bella mendadak mengulurkan jemarinya, meremas lalu menarik pelan rambut belakang Shin. Sentakan halus itu membuat pagutan bibir mereka akhirnya terlepas.Bella segera meraup pasokan oksigen sebanyak mungkin dengan napas yang tersengal-sengal. Udara di dalam kamar tidur yang mendadak terasa begitu panas dan pekat membuat kulit keduanya sedikit dihiasi butiran keringat.Dengan posisi yang masih berdekatan, dahi mereka saling menempel satu sama lain. Keduanya terdiam selama beberapa saat, membiarkan keheningan malam menyelimuti momen yang terasa sangat intens dan berat barusan. Bella benar-benar tidak menyangka dirinya akan bisa terbuai sejauh ini hingga kehilangan kendali, meskipun logikanya sejak awal menolak keras. Beruntung, Shin masih memiliki kendali diri yang kuat dan tidak membawa keintiman mereka melangkah terlalu jauh malam ini.Setelah berhasil menenangk

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 49 Luca ingin dekat dengan Bella saja.

    Di dalam ruang tamu utama penthouse mewah, hanya diisi oleh kesunyian. Seorang pria berkumis tipis dengan rambut panjang sebahu duduk di sofa kulit hitam berbentuk setengah lingkaran. Laptop terbuka di pangkuannya, layar memantulkan sorot matanya yang tajam dan serius. Jari-jarinya bergerak cepat d

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 45 Hanya lewat dan menyapa.

    Bella mengerjap pelan, ekspresinya kembali tenang seperti semula, senyum lembut terukir tanpa kesan gugup."Bukankah Tuan Luca sudah bersama teman Anda?" ujarnya santai. "Kalian pasti punya rencana liburan sendiri. Saya tidak yakin Anda akan menikmati rencana liburan kami."Penolakan halus itu hamp

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 37 Mengajak Liburan.

    Bella masih berdiri di dekat sofa ketika pria itu melangkah ke hadapannya. Pria itu tersenyum lebih dulu, senyum yang hangat dan sopan.“Selamat sore, Nona Muda,” sapanya. “Masih ingat saya?”Bella menatapnya lebih saksama, lalu mengangguk. “Tentu saja, kamu Rico, kan?Aku tidak menyangka akan berte

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 36 Wajah familiar diantara mereka.

    Sepulang dari berbelanja, Bella merasa kelelahan. Ia duduk lemas di kursi belakang mobil, kepalanya sedikit miring ke jendela. Matanya terpejam dengan napas teratur, mengumpulkan tenaga yang habis tersedot setelah kakinya bolak-balik toko pakaian dan ruang ganti.Berbeda dengan Bella, Liana duduk d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status