تسجيل الدخولMendengar nama itu, Chiara dan Adrian membeku karena tidak percaya. Keduanya saling melempar tatapan penuh tanya, mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dengar."Apakah dia... Luca Vitali yang sama dengan yang kita kenal? Ataukah ada orang lain yang memiliki nama serupa?" tanya Adrian dengan nada ragu.Bella mengangguk. "Orang yang menjemputku tadi memang Luca Vitali.""Apa sebenarnya hubungan kalian yang sesungguhnya?" tanya Adrian lagi, kali ini dengan raut wajah yang lebih serius."Kami... teman dekat," jawab Bella, sempat menjeda kalimatnya sejenak. "Sebenarnya, dia pernah mengutarakan perasaannya kepadaku. Namun, aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.""Bella, tidak baik membiarkan seorang pria yang sudah menyatakan cinta kepadamu menggantung tanpa penjelasan," timpal Chiara, memberikan nasihat sebagai seorang sahabat.Bella menatap Chiara lekat-lekat. "Aku tahu. Menurutmu, aku harus menjawab apa?"Mendengar pertanyaan itu, Chiara mendadak bungkam. Adria
Setelah mengantar Bella hingga ke depan kompleks perumahan, Shin langsung memacu mobilnya dan pergi. Setibanya di rumah, Bella segera melangkah masuk ke dalam kamar. Ia langsung menggeledah barang-barang belanjaan yang dibelikan oleh Shin. Semua barang itu sangat menarik. Sejujurnya, Bella tidak terlalu membutuhkannya, terutama pakaian-pakaian tersebut. Shin benar-benar bersikap seperti pria yang sangat memanjakan kekasihnya. Apa pun yang dilirik atau dilihat oleh Bella secara saksama, akan langsung dibeli oleh pria itu tanpa bertanya apakah Bella membutuhkannya atau tidak. Namun, Bella tidak menolaknya karena semua barang sudah terlanjur dibayar, dan mungkin akan berguna suatu saat nanti. Setelah merapikan barang-barang itu, Bella memilih untuk beristirahat di perpustakaan rumah. Ia membaca buku sembari sesekali menatap kosong ke luar jendela, seolah-olah sedang memikirkan banyak hal berat yang mengusik kepalanya. Malam harinya, setelah makan malam dan berbincang sedikit dengan ay
Bella menyambut dan membalas uluran tangan tersebut. "Aku Bella DeLuca, putri Walikota DeLuca, dan seorang guru TK."Hana membalas genggaman tangan itu dengan hangat. "Aku Hana Himuro, istri David Federico. Kalau begitu, aku pakai profesiku sebagai seorang pelukis saja." Keduanya pun saling melempar senyum mendengar perkenalan ulang yang unik itu.Hana penasaran saat mendengar profesi asli Bella. "Kau menjadi seorang guru TK? Kehidupanmu pasti cukup berwarna karena setiap hari mengajar anak-anak kecil."Bella mengedikkan bahunya ringan. "Begitulah. Anak-anak memang menyukai hal yang berwarna."Tidak terasa, keduanya sudah menghabiskan waktu berdua di dalam ruang privat selama satu jam. Semakin lama mereka berbicara, hubungan keduanya menjadi semakin akrab. Hal ini cukup mengejutkan bagi mereka berdua yang biasanya sangat menjaga jarak dengan orang baru, sampai obrolan hangat itu kemudian disela oleh suara ketukan pintu dan panggilan David kepada istrinya."Istriku, bukankah kamu bilan
Hana tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Saya dan David memang tidak ingin lagi berhubungan dengan dunia bawah, tetapi banyak urusan yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat." Pandangan Hana beralih menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang. "Saya tahu Anda menginginkan hal yang sama pada Shin, tetapi itu memang tidak mudah. Saya berbicara berdasarkan pengalaman sendiri. Sekadar informasi, saya adalah putri seorang pemimpin kelompok Yakuza."Bella terdiam seketika. Ia cukup terkejut dan tidak langsung merespons. Hana tertawa kecil melihat Bella yang hanya terpaku, lalu ia segera menjelaskan untuk mencairkan ketegangan. "Tenang saja, saya bukan musuh dan tidak akan menyakitimu."Bella memaksakan sebuah senyum canggung. "Anda mengatakan hal ini dengan sangat mudah, apakah tidak apa-apa?"Hana tampak tidak peduli. "Jika dengan orang lain, mungkin saya tidak akan pernah mengatakannya. Kenapa? Apakah kau merasa terbebani setelah mengetahui identitas asliku?"Bella menggeleng ce
Klub cerutu dan anggur itu tidak terlalu mewah.. Dindingnya didominasi warna gelap dengan dekorasi yang minim, tetapi tempat ini tetap mampu menarik banyak pengunjung yang sebagian besar adalah pria. Musik piano klasik yang mengalun lembut membuat suasana terasa santai. Satu-satunya area yang dihiasi banyak dekorasi, seperti hamparan bunga, adalah bagian panggung. Pada malam hari, panggung itu biasanya diisi oleh penampilan penyanyi jazz.Hana segera membawa Bella menuju salah satu ruang privat, meninggalkan Shin dan David yang berjalan ke arah bilik tertutup lainnya. Bella merasa pasangan suami istri ini bukanlah pebisnis biasa. Saat hendak melangkah masuk ke dalam ruang privat, sudut matanya tidak sengaja menangkap pergerakan beberapa orang berpakaian santai yang sebelumnya ia lihat di luar. Orang-orang itu kini ikut masuk ke dalam klub. Bella tidak tahu siapa mereka, tetapi instingnya mengatakan bahwa mereka sedang mengikutinya.Seketika langkah Bella terhenti. Perubahan gerak-geri
Bella tersenyum puas mendengar jawaban Shin. "Jangan menyesal. Setengah dari keuntunganmu mungkin akan kuambil dalam sekejap."Shin tidak peduli. "Benarkah? Aku tidak percaya kau bisa melakukannya."Keduanya terus berjalan dan sesekali masuk ke toko yang menarik perhatian Bella. Setiap keluar dari toko, Shin pasti membelikan sesuatu yang dia rasa disukai Bella, meskipun Bella hanya melihatnya sekilas.Setelah beberapa kali keluar masuk toko yang berbeda, Bella menyadari bahwa para karyawan di sana sepertinya tidak mengenali Shin. Sebagai pemilik utama distrik ini, pria itu seharusnya cukup menunjuk barang yang dia inginkan dan langsung mendapatkannya. Namun, Shin tetap membayar dengan kartu hitam miliknya. Sikap para karyawan juga sangat biasa, seperti melayani pengunjung pada umumnya.Dugaan Bella terbukti saat dia bertanya secara acak kepada salah satu staf butik, ketika Shin sedang membayar di kasir."Pelayanan di sini sangat bagus. Saya juga suka dengan desain pakaian di sini," ka
Kapal yang telah berlayar selama lebih dari seminggu akhirnya merapat di pelabuhan pantai Whitesand. Satu per satu penumpang turun dengan tertib. Suasana pelabuhan padat dan ramai oleh suara langkah kaki, percakapan, serta bisik-bisik orang yang masih belum puas menikmati perjalanan terdengar di ma
Di luar kamar penahanan, waktu tanpa terasa sudah lebih dari setengah jam sejak Luca, Matteo, dan Vito masuk ke dalam. Akan tetapi, pintu itu belum juga terbuka.Salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu mulai gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah daun pintu yang tertutup rapat
Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil a
Bella masih berdiri di dekat sofa ketika pria itu melangkah ke hadapannya. Pria itu tersenyum lebih dulu, senyum yang hangat dan sopan.“Selamat sore, Nona Muda,” sapanya. “Masih ingat saya?”Bella menatapnya lebih saksama, lalu mengangguk. “Tentu saja, kamu Rico, kan?Aku tidak menyangka akan berte







