MasukReno mendengus geli mendengarnya, lalu terkekeh pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala."Pernah ke sini gimana maksud kamu, Vi?" sahut Reno santai. "Boro-boro pernah ke sini sama cewek lain... ini tuh pertama kalinya aku keluar negeri, tahu. Paspor sama visa aku aja baru dibikin mendadak kemarin pas mau berangkat sama kamu."Viona terdiam seketika. Bibirnya agak terbuka sedikit, baru menyadari betapa konyolnya tuduhan yang baru saja meluncur dari mulutnya. Logikanya langsung membenarkan, pria di hadapannya ini kan dulunya memang miskin, mana mungkin punya latar belakang jalan-jalan ke luar negeri."Lagian aku tahu mitos itu gara-gara semalam sempet baca-baca pas mataku sepet ngelihatin materi file dari Pak Heru," terang Reno jujur, teringat momen maraton belajarnya di meja depan sofa. "Aku iseng browsing tempat-tempat di Paris, ketemulah artikel soal jembatan ini. Pas tahu mitosnya, ya langsung kepikiran kamu. Makanya pas keluar tadi aku sempetin beli gemboknya."Penjelasan yan
Reno, yang baru saja berhasil mengontrol napasnya, mengusap wajahnya kasar lalu menatap Viona dengan kepasrahan tingkat tinggi. "Vi, tunggu dulu—""Tunggu apa!" potong Viona cepat, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah bawah selimut Reno dari balik benteng selimutnya sendiri. "Buktinya itu kamu... 'itu' kamu bangun pagi-pagi begini! Kamu ngapain aku pas aku tidur hah? Kamu mikir yang aneh-aneh kan tentang aku!"Melihat kepanikan Viona yang begitu dramatis, Reno bukannya takut, tapi justru menghela napas panjang sembari memijit pangkal hidungnya. Rasa canggung yang tadi sempat membakar darahnya mendadak berganti dengan rasa gemas dan geli melihat kepolosan sekaligus tuduhan tak berdasar dari istrinya itu."Vi, tolong ya, pakai logika dikit," sahut Reno dengan suara parau khas bangun tidur, tetap terlentang tanpa niat mendekat agar Viona tidak makin histeris. "Itu tuh reaksi biologis alami laki-laki tiap pagi. Semua cowok yang normal juga begitu pas bangun tidur, Itu tandanya dia normal, buka
"Astaga!"Viona berjingkat kaget, memekik kencang sembari menepuk dadanya sendiri. Jantungnya yang baru saja agak tenang akibat mimpi buruk kini melompat lagi, kali ini gara-gara suara berat dan parau khas orang bangun tidur di depannya.Reno perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan pandangannya dengan kegelapan ruangan. Ia menegakkan tubuhnya bersandar pada sofa, mengusap wajahnya yang masih penuh jejak rasa kantuk.Bukannya menjawab, gengsi Viona yang terluka karena ketahuan memerhatikan Reno langsung meledak dalam bentuk omelan."Reno! Bisa nggak sih gak usah kayak hantu?!" sembur Viona dengan bisikan kencang, matanya mendelik tajam. "Kaget tahu gak! Bikin jantung orang mau copot aja!"Reno terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat parau namun santai. Ia sama sekali tidak tersulut oleh nada tinggi Viona. "Ya maaf... lagian kamu ngapain berdiri di situ sambil matiin laptop aku? Jam berapa ini, Vi? Kenapa belum tidur?"Viona tersentak, baru teringat tujuan
Viona makin salah tingkah. Tatapan jenaka dan senyuman Reno yang mengunci pandangannya membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Demi menyelamatkan sisa-sisa gengsinya yang sudah di ujung tanduk, Viona mengalihkan pandangannya ke samping, menatap dinding."T-terserah kamu aja, lah!" cetus Viona cepat, suaranya naik satu oktav demi menutupi rasa gugup yang hampir meledak. "Mau di lantai, di sofa, di kamar mandi... terserah! Gak usah tanya-tanya aku!"Reno terkekeh pelan, makin gemas melihat reaksi defensif wanita di hadapannya. Ia sengaja memiringkan kepalanya lagi, menurunkan suaranya menjadi sedikit lebih dalam dan menggodanya dengan nada berbisik."Hmm... kalau terserah aku, berarti kalau aku memilih tidur di kasur... bareng kamu lagi... boleh, dong?" goda Reno dengan alis terangkat sebelah. "Lagian, semalam juga kasurnya muat buat berdua, kan? Kamu juga gak protes waktu bangun-bangun udah...""Reno! Stop!" potong Viona cepat, mukanya kini sudah merah padam sempurna sampai ke ujung
Reno perlahan menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan degup jantungnya yang sempat berpacu kencang. Dengan susah payah, ia menguasai diri dan memaksakan sebuah anggukan pelan, seolah-olah seluruh teka-teki itu kini sudah terpecahkan secara wajar di matanya."Ah... begitu ya," gumam Reno dengan nada sesantai mungkin, tersenyum tipis yang dibuat sealami mungkin. "Ya berarti emang beneran cuma kebetulan aja, Vi. Dunia ternyata sempit banget."Melihat respons Reno yang tampak begitu polos dan pasrah, kecurigaan Viona mendadak luruh. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur. Tidak ada wanita lain yang disembunyikan, atau kenalan wanita lain yang patut ia curigai dari ponsel pria itu. Semoga Lani yang mengusik pikirannya seharian ini benar-benar merujuk pada Lani sepupu jauhnya sendiri.Viona menghela napas panjang, mendadak merasa konyol dengan sikapnya sepanjang hari ini.'Ya ampun, Viona... kok kamu bisa-bisanya kekanak-kanakan gini sih? Sampai merajuk, ngunci diri di kamar, cu
Meskipun aroma hidangan hangat yang tersaji di meja makan begitu menggoda selera, jemari Viona yang memegang sendok dan garpu justru bergerak makin lambat. Ia menatap potongan daging di piringnya tanpa benar-benar berniat menyendoknya.Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak sirna begitu saja, tergantikan oleh riuh pikiran yang kembali memenuhi kepalanya.Nama Lani kembali berputar dan rasa penasaran yang sempat tertahan di kafe tadi kini jauh lebih besar. Bagaimana bisa mengetahui nama Lani?Apakah Lani yang dimaksud Reno benar-benar sepupu jauhnya? Kalau iya, dari mana Reno tahu? Viona melirik Reno dari sudut matanya. Pria di hadapannya itu tampak begitu tenang, menikmati makan malamnya dengan lahap seolah tidak ada beban sama sekali di kepalanya.'Iish, kok dia bisa setenang itu, sih?' batin Viona makin merana.Viona ingin sekali membuka mulut, menembak serangkaian pertanyaan dan menuntut penjelasan sampai tuntas saat ini juga. Tapi, gengsinya menjulang tinggi. Jika dia bertanya
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







