ログインReno perlahan menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan degup jantungnya yang sempat berpacu kencang. Dengan susah payah, ia menguasai diri dan memaksakan sebuah anggukan pelan, seolah-olah seluruh teka-teki itu kini sudah terpecahkan secara wajar di matanya."Ah... begitu ya," gumam Reno dengan nada sesantai mungkin, tersenyum tipis yang dibuat sealami mungkin. "Ya berarti emang beneran cuma kebetulan aja, Vi. Dunia ternyata sempit banget."Melihat respons Reno yang tampak begitu polos dan pasrah, kecurigaan Viona mendadak luruh. Bahunya yang tadinya tegang kini mengendur. Tidak ada wanita lain yang disembunyikan, atau kenalan wanita lain yang patut ia curigai dari ponsel pria itu. Semoga Lani yang mengusik pikirannya seharian ini benar-benar merujuk pada Lani sepupu jauhnya sendiri.Viona menghela napas panjang, mendadak merasa konyol dengan sikapnya sepanjang hari ini.'Ya ampun, Viona... kok kamu bisa-bisanya kekanak-kanakan gini sih? Sampai merajuk, ngunci diri di kamar, cu
Meskipun aroma hidangan hangat yang tersaji di meja makan begitu menggoda selera, jemari Viona yang memegang sendok dan garpu justru bergerak makin lambat. Ia menatap potongan daging di piringnya tanpa benar-benar berniat menyendoknya.Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak sirna begitu saja, tergantikan oleh riuh pikiran yang kembali memenuhi kepalanya.Nama Lani kembali berputar dan rasa penasaran yang sempat tertahan di kafe tadi kini jauh lebih besar. Bagaimana bisa mengetahui nama Lani?Apakah Lani yang dimaksud Reno benar-benar sepupu jauhnya? Kalau iya, dari mana Reno tahu? Viona melirik Reno dari sudut matanya. Pria di hadapannya itu tampak begitu tenang, menikmati makan malamnya dengan lahap seolah tidak ada beban sama sekali di kepalanya.'Iish, kok dia bisa setenang itu, sih?' batin Viona makin merana.Viona ingin sekali membuka mulut, menembak serangkaian pertanyaan dan menuntut penjelasan sampai tuntas saat ini juga. Tapi, gengsinya menjulang tinggi. Jika dia bertanya
Suara tawa pelan namun penuh arti terdengar dari ujung sambungan telepon di benua Eropa. Sambungan jarak jauh itu tidak mengurangi ketajaman suara sang kolega lama Pak Darmawan, seorang taipan yang telah lama malang melintang di dunia bisnis internasional."Darmawan? Wah, sudah lama kita tidak mengobrol," ucap suara di seberang sana dengan logat khas barat. "Dan tumben sekali kamu mendadak menghubungiku untuk urusan keluarga Wijaya. Tapi... ini kebetulan yang sangat menarik."Alis Pak Darmawan sedikit terangkat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulitnya, matanya menyipit penuh antisipasi. "Menarik bagaimana maksudmu?""Kau tidak tahu? Atau keluarga Wijaya sengaja menutupinya dari media?" balas pria di seberang sana dengan nada setengah meremehkan. "Perusahaan milik keluarga Dandi Wijaya di Eropa sedang tidak baik-baik saja. Kondisi finansial mereka goyah, bahkan beberapa minggu lalu mereka sempat mengajukan proposal restrukturisasi dan suntikan dana darurat ke beberapa mitra
Viona menghentikan langkah mondar-mandir kecilnya. Nama Lani kembali bergulung-gulung di kepalanya, memicu ingatan yang tadinya terkubur rapat.Langkah Viona terpaku di atas trotoar dingin Paris. Kerutan di dahinya makin dalam saat benaknya mulai menghubungkan benang-benang samar. Lani memang sepupu jauhnya yang sudah bertahun-tahun menetap di luar negeri dan jarang sekali bertukar kabar. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat hari pernikahan Viona, atau lebih tepatnya, hari di mana bencana itu terjadi. Katanya seminggu sebelumnya, Lani sengaja terbang pulang dari luar negeri khusus untuk menghadiri acara tersebut.Rapi saat acara pernikahannya itu, Viona sedang berada dalam kondisi hancur dan kacau akibat kaburnya Axel yang mendadak. Mereka hanya sempat bertegur sapa singkat, tanpa ada obrolan berarti. Setelahnya, Viona bahkan tidak tahu Lani terbang kembali ke negara mana atau tinggal di mana sekarang.Kenapa Reno bisa tahu atau mendadak nanyain nama Lani? Dari mana dia kenal
Viona memalingkan wajahnya ke arah luar jendela kaca, membiarkan pemandangan jalanan Paris yang ramai menjadi tempat pelariannya. Namun, fokusnya sama sekali tak ada di sana.Jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu kafe dengan ritme tak beraturan. 'Kalau aku nanya-nanya lagi, nanti si tengil ini makin kepedean dan mikir aku cemburu. Cemburu sama dia? Mana mungkin! Tapi ekspresinya itu... beda banget sama waktu dia cuma dapet pesan biasa,' batin Viona lagi.Di seberang meja, Reno sama sekali tidak menyadari kekesalan Viona yang tertahan di sebelahnya. Fokusnya benar-benar terserap oleh deretan kata di atas layar ponselnya.[Kebetulan kami tidak sengaja ketemu, Axel yang menyapa aku duluan. Dan dia di Milan itu katanya lagi ada proyek pekerjaan. Dia bareng dengan seorang wanita Indonesia yang diperkenalkan bernama Lani, katanya itu pacarnya, sstelah aku tanya dan aku pancing. Wanita yang sama saat pagi ketemu di kafe kemarin.][Kami beberapa tahun tidak bertemu, jadi mungkin Axel pikir aku
Reno membeku seketika. Sorot mata meredupnya mendadak berubah tajam, dipenuhi keterkejutan yang berusaha disembunyikan. Tanpa menyia-nyiakan waktu sedetik pun, jemari Reno bergerak secepat kilat menyambar ponselnya di atas meja, membalikkan layar hitam itu menghadap ke bawah sebelum Viona sempat menangkap sekilas isi pesannya.Viona tidak boleh tahu. Tidak sekarang saat semuanya belum jelas, dan saat wanita itu baru saja melunak dan mulai menatapnya dengan pendar empati. Viona yang menyadari gerakan impulsif itu menghentikan sendoknya. Dahi mulusnya berkerut curiga. "Kenapa? Pesan dari siapa sampai harus disembunyiin begitu?"Reno menata kembali ekspresinya dengan cepat. Sebuah senyum tipis, campuran antara lelah dan sisa duka, terulas di bibirnya untuk mengelabui Viona. "Bukan siapa-siapa, Nona. Cuma pesan dari teman. Aku cuma gak mau momen makan siang kita terganggu.""Awas aja kalau dari cewek lain," gumam Viona pelan, pura-pura menyantap pastanya walau matanya masih menatap Reno
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







