LOGIN“Kamu ingat nggak, Ka. Dulu kita sering ke kota saat bolos sekolah dan kita gantian nyetir motor.” “Iya,” jawab Saka singkat. “Warung yang dulu kita sering singgah masih ada nggak ya, Ka?” “Kamu kan sering lewat sana, masak tidak tahu.” Farah memang akhirnya menyetir mobil Ica, dengan Ica yang duduk di kursi belakang, sambil kakinya dia selonjorkan di atas pangkuan Saka. Ini Saka sendiri yang minta lho, Ica sudah berusaha menolak tapi suaminya itu ternyata keras kepala juga kalau sudah mau. Ica akhirnya menurut, tapi dia senang juga sih melihat reaksi Farah. Disuruh nyetiri, dipaksa melihat Saka yang begitu perhatian memijat pelan kaki Ica bahkan meniup lukanya tadi meski kaki Ica sudah tidak sakit lagi, tapi kapan lagi suaminya yang kayak kulkas berjalan ini bisa perhatian padanya. Kalau Farah marah lalu mengamuk, tentu Ica akan sangat senang, tapi wanita itu punya cara paling licik untuk melampiaskan rasa marahnya. Apalagi kalau membicarakan kenangan mereka berdua. Ica? Y
“Kamu kan tahu, Ka. Aku mabuk kalau duduk di belakang.” Ica menatap sang suami sambil menaikkan alisnya. Bisa-bisanya ya nih wewe gombel mengatakan hal itu sudah numpang merepotkan lagi. Ica sih sama sekali nggak ngajak ya, Saka juga tidak, suaminya itu hanya mengatakan dengan jujur kalau mereka akan ke kota kecamatan untuk menjenguk anak bu Mirah dan dengan tak tahu malunya Farah bilang ingin ikut sekian mereka bisa makan makanan buatannya di sana. Sebenarnya bukan masalah bagi Ica asal wanita itu tidak bersikap genit pada suaminya dan menganggapnya tak kasat mata. “Tanya saja, Ica. Dia yang punya mobil.”“Lho pak Tarso bilang kamu beli cas di dealernya.” “Aku beli untuk Ica,” jawab Saka kalem, sambil menatap sang istri yang sudah menatapnya geram tapi seperti biasa, pria itu kan tidak peka. “Ya berarti ini mobil kamu wong kamu yang bayar,” jawab Farah ngeyel. Ica masih berdiri memperhatikan dua orang itu. “Boleh,” jawab ica kalem.“Mas pergi saja sama mbak Farah aku nanti
Ini sudah baju kelima yang dia coba, tapi Ica merasa penampilannya jelek sekali. Padahal Saka hanya mengajaknya belajar menyetir sekalian ke kota menjenguk anak bu Mirah, bukan berkencan. Ica melepaskan terusan yang digunakannya hingga hanya menyisakan bra dan celana dalam saja. Memang pilihan pertama biasanya yang paling bagus. Ica kembali mengambil satu blus warna tosca dan celana bahan berpotongan lurus berwarna putih tulang. Menggunakan celana standart tentu akan membuatnya lebih mudah belajar mengemudikan mobil dari pada menggunakan dress-dress itu. Baru saja Ica meraih blusnya saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. “Akhh!” Ica panik dia meraih apa saja kain yang ada di depannya untuk menutupi ketelanjangannya. “Kita suami istri kalau kamu lupa.” Ica kesal melihat Saka yang dengan tenang membuka pintu lemari, mengabaikannya yang masih menutupi tubuhnya dengan… kemeja Saka yang tadi dia ambilkan. Astaga! “Itu kemejaku.” Pria itu mengambil kemejanya begitu saja dari tangan
“I-ini sudah setengah tujuh mas bisa telat kerja,” Ica berusaha keras mengalihkan kecanggungan di antara mereka. Dia tahu sih kalau Saka memang berhak melakukan hal itu padanya bahkan lebih dari itu, tapi inikan ciuman pertamanya. Sumpah! Dia memang kadang bandel dan keras kepala tapi dia tidak berani melanggar batas yang ditetapkan bapak dan ibu, bisa dikutuk dia jadi malin kundang kalau nekad melakukannya. Kata Tata, ini memang resiko menikah dengan duda. Waktu itu Ica tak terlalu menanggapi, duda juga manusia dan jelas sifatnya tidak sama, tapi ternyata meski selalu datar Saka tetap saja seperti yang dibilang Tata. Ica berharap Saka cepat berangkat kerja, meski nanti dia memang takut sendirian di rumah sebesar ini tapi baginya itu lebih baik dari pada diserang rasa canggung seperti ini. “Aku libur hari ini.” “Hah!!!” Ica tadi memang sengaja masak sehabis subuh supaya sebelum jam enam Saka sudah bisa sarapan pagi seperti biasa saat bu Mirah ada di rumah ini. Dia mempe
“Mas tunggu sebentar.” Ica buru-buru mengambil ponselnya, bahkan dengan tak sabar dia sudah menabrak kursi hingga terguling. Begitu mendapatkan ponselnya Ica duduk di dekat suaminya dan dengan tekun membaca entah apa di dalam ponselnya, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dan berdiri lagi, menyalakan kompor merebus air dan menunggunya dengan tak sabar. “Kamu ngapain, Ca?” tanya Saka tak mengerti dengan sikap aneh istrinya. Ica tak menjawab, dia hanya bergerak secepat yang dia bisa. Ugh!!! Berdosa nggak ya dia menyajikan makanan beracun kayak gitu pada suaminya meski dengan alasan tak sengaja, jangan sampai Saka jatuh sakit dan dia nanti yang akan disalahkan juga. Saat seperti ini penyesalan menghantuinya, harusnya dia dulu nurut apa kata ibu yang memintanya untuk memasak sesekali, atau bertanya langsung bagaimana mengolah bahan makanan itu menjadi makanan lezat, tapi Ica dulu mengira dia masih punya waktu panjang untuk mempelajarinya, apalagi dulu Adam bilang kalau setelah
“Sudah matang ya, biar aku bantu bawa ke meja makan.” Ica sudah berusaha membuat tampilan makanan buatannya secantik mungkin, agar selera makan suaminya bisa naik meski rasanya belum bisa dipastikan. Ica lho sampai takut sendiri mau mencicipi, takutnya rasanya nggak karuan. Dia sudah berpikir untuk membuangnya tadi dan menggoreng telur saja yang sudah biasa dia lakukan, tapi Saka keburu datang ke dapur dan melihatnya yang sejak subuh sudah sangat sibuk di dapur datang menghampiri. Bu Mirah memang rencananya tidak pulang hari ini begitupun pak Sarmin, jadi mereka hanya makan berdua, dan bisa dipastikan kalau nanti siang Ica akan di rumah sendiri seperti kemarin. Membayangkannya saja membuatnya takut, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan suaminya. “Ini pertama kalinya aku memasak sayur sop,” kata Ica terus terang. Dia sudah siap jika nanti Saka membuang makanan yang sudah susah payah dia buat sejak subuh. Memangnya siapa sih mau makanan makanan tidak layak makan seperti i
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere







