LOGIN“Aku kira buahnya rasanya nggak enak,” kata Ica. Tangannya memeluk erat dua pot tanaman jeruk dan jambu air. Saka yang memberinya, tepatnya Ica yang terus menatap kedua jenis tanaman itu dengan pandangan tertarik jadi Saka berinisiatif menghadiahkan untuknya. “Sembarangan, kami melakukan penelitian khusus untuk itu, baik tampilannya juga rasanya, seharusnya tadi kita mengambil semua samplenya agar kamu bisa mencicipi satu persatu.” “Iya deh bapak petani aku percaya kok,” kata ica sedikit menggoda suaminya. Saka itu memang orangnya kalem dan cuek tapi kalau sudah bekerja sangat serius apalagi tadi sempat ada insiden kecil salah satu karyawan di sana yang mengatakan. “Halah tampang kayak gitu paling bentar lagi juga dilepeh, pak Saka kan temannya cantik-cantik ada artis juga.” Mereka nggak tahu saat itu Saka ada di belakang mereka, sedangkan Ica sedang ngobrol dengan mbak Wati yang meski terlihat nggak ikhlas menemaninya tapi tetap bersikap profesional saat mendengar suara k
“Ibu usul bagaimana kalau kita menggunakan tanaman produk Darma group sebagai souvenir pernikahan kita.” Baru sore hari mereka akhirnya mengakhiri pengalaman menyenangkan itu, bahkan petugas hotel yang bolak-balik mengetuk pintu tak mereka hiraukan, barulah saat perut Ica berbunyi nyaring, Saka berhenti memonopoli istrinya, dengan tertib mereka mandi bergantian, karena kalau sampai mandi bareng bisa dipastikan akan memakan lebih banyak waktu. Terlalu lelah untuk mencari makan di luar Saka memutuskan untuk memesan makanan lewat layanan kamar saja. Mereka makan dengan rakus saking laparnya, bahkan petugas restoran yang mengantar harus bolak-balik tiga kali untuk mengantarkan pesanan mereka. Setelah itu mereka memutuskan untuk tidur sejenak sebelum berkemas untuk pulang. Sebenarnya ibu mertuanya memesankan paket bukan madu dua hari dua malam, tapi Saka mendapat telepon dari perusahaan kakaknya kalau ada sedikit masalah, mau tak mau mereka harus pergi. “Yang kayak tanaman di r
“Kalian sudah ada di sana? Mana Ica?” Ica yang sedang menikmati pemandangan di luar kamar menoleh saat terdengar suara ibu mertuanya dan dengan isyarat tangan Saka memintanya mendekat. Perlahan Ica berdiri dari duduknya dan menghampiri sang suami. Wajah ibu mertuanya terpampang jelas di layar ponsel Saka. “Ibu tahu kami akan ke sini?” tanya Ica pelan pada sang suami. “Ibu yang pesankan kamar di sana, apa kamu nyaman, nak? Atau mau pindah ke kamar lain?” Oalah ternyata ibu mertuanya adalah sponsor utama kejadian ini, pantas saja suaminya yang bisanya lempeng dan tidak peka tiba-tiba mengajaknya ke hotel bintang lima dan pemilihan kamarnya juga tidak main-main, paket bulan madu dengan fasilitas president suite. Saat pertama kali masuk mereka disambut dengan hiasan bunga yang dibentuk indah memenuhi kamar. Juga pelayan yang menyediakan minuman dan camilan untuk mereka, tak lama kemudian pelayan lain datang membawakan pakaian mereka, tapi yang membuat Ica hampir menjerit adalah
Ica panik, Saka benar-benar menghentikan mobil di sebuah hotel bintang lima. “Ma-mas serius?!” tanya ica gugup. Kok dia merasa seperti cewek bookingan om-om ya. Padahal mereka sudah suami istri. Tunggu dulu, KTPnya masih berstatus single belum sempat merubah status perkawinan begitu juga dengan Saka. Hotel sebagus ini tak mungkin membiarkan pasangan yang belum halal untuk masuk dan menginap. Benar. Kalau Ica jadi pemilik hotel juga akan melakukan hal yang sama, reputasi sangat penting, apalagi banyak penggerebekan yang viral dan itu bisa merusak citra hotel. “Kamu tidak percaya sama suamimu,” kata Saka kalem. “Bu-bukan begitu.” Ica sih tidak keberatan harus memberikan hak suaminya, tapi masalahnya dia jadi luar biasa gugup dan malu. Berbagai pikiran buruk melintas membuatnya makin ketakutan.“Yuk.” Dengan enggan Ica turun dari mobil dan mengikuti langkah saka untuk masuk ke dalam. Semoga kita diusir dari sini. Amin!“Lho kok kesini? Resepsionis di sebelah sana,” kata Ica bingun
“Bagaimana dengan yang ini?” Ica berputar pelan di depan Saka memperlihatkan keindahan baju yang dia gunakan, tapi pria itu bukannya terpesona tapi malah menggeleng kuat-kuat. Ini sudah baju yang kelima. Dan yang Ica coba bukan daster ya yang tinggal pakai, ini baju pengantin yang gaunnya berat dan ruwet. Untuk memakainya saja Ica butuh bantuan dua orang pegawai butik. Iya butik, ibu mertuanya berkeras mereka fitting baju pengantin dulu yang sudah jadi di sebuah butik yang melihat dari jauh saja Ica sudah bisa menyimpulkan kalau nol di belakang angka rekening Saka jumlahnya berderet. Padahal ica nggak ada masalah kalau harus menyewa baju atau menggunakan kebayanya sendiri, itu lebih mudah apalagi ini hanya pesta perkenalan dirinya di lingkungan tempat tinggal suaminya. “Mas cari gaun yang kayak apa sih aku capek tahu bolak-balik ganti baju terus.” Jika wanita lain mungkin akan dengan senang hati mencoba semua gaun indah yang bisa membuat dirinya makin cantik, tapi Ic
“Duh pantas dikekepin mulu, suamimu tambah hot saja.” Ica ingin menjejalkan sambal ke mulut temannya yang tidak ada rem ini. Di depan sana, Saka yang sudah melihatnya berjalan tenang menghampiri. Ica jadi sebel saat meihat suaminya tebar pesona kayak gitu. Sudah tadi ninggalin dia sendiri sekarang sok-sokan nyusul ke sini. “Ta, mulutnya ya minta aku sumpal sama kaos kaki.” “Duh yang cemburu suaminya tuanya punya banyak penggemar.” Ica makin cemberut saat Tata malah tertawa geli, sedangkan di depan sana Saka berjalan dengan begitu percaya diri melewati beberapa mahasiswi yang menatapnya dengan tatapan memuja. Iyalah percaya diri, bagi saka yang bahkan pernah kuliah di kampus ternama di luar negeri, kampus kecil kayak gini serasa taman bermain. kok dia jadi nyesel ya tadi mendandani suaminya sebelum mereka berangkat ke kota. Saka masih menggunakan baju yang sama dengan yang dia pilihkan kemarin. Harusnya Ica tidak meminta Saka berpakaian serapi itu saat mengantar dan menjempu
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere







