LOGIN"Alesha…"
Suara itu terdengar samar, seperti dipanggil dari kejauhan. Perlahan, kelopak mata Alesha bergerak, mencoba membuka diri melawan cahaya lampu kamar yang terasa menyilaukan. Bau minyak kayu putih menyengat di hidungnya, dan ada sesuatu yang dingin menempel di keningnya.
"Alesha, sayang… kamu dengar Mama?"
Suara Helena. Penuh kekhawatiran.
Alesha mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terbangun. Ia mendapati dirinya berbaring di ranjangnya sendiri, masih mengenakan gaun pertunangan yang tadi malam ia kenakan dengan penuh harap. Untuk sesaat, pikirannya kosong. Namun begitu ingatan tentang ballroom, tentang Kaivan, tentang Vanessa kembali memenuhi kepalanya satu per satu, dadanya langsung terasa seperti diremas.
Ia jatuh pingsan di depan semua orang.
Rasa malu yang sempat tertunda saat tubuhnya kehilangan kesadaran kini kembali menghantam, kali ini berlipat ganda.
"Aku… kenapa aku di sini?" suara Alesha terdengar serak.
"Kamu pingsan, Sayang. Papa yang menggotongmu ke mobil." Helena mengusap pelan rambut putrinya, matanya berkaca-kaca. "Dokter bilang kamu cuma kelelahan dan syok. Tidak ada yang serius."
Tidak ada yang serius.
Alesha hampir tertawa mendengar kalimat itu. Tubuhnya memang tidak apa-apa. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa retak, dan ia tidak yakin dokter mana pun bisa menyembuhkan itu.
Ia masih duduk di tepi ranjang dengan gaun pertunangan yang sengaja belum dilepas, tatapannya kosong menatap buket bunga putih yang tergeletak di atas ranjang. Buket yang beberapa jam lalu ia genggam dengan bahagia, kini hanya terasa seperti simbol penghinaan yang menghancurkan dirinya.
Tubuh Alesha terasa lelah, tetapi rasa sakit di dadanya jauh lebih berat daripada kelelahan itu sendiri. Di tengah kamar yang sunyi, ia akhirnya menyadari bahwa malam pertunangannya tidak hanya merusak mimpinya, tetapi juga meninggalkan luka yang mungkin akan terus ia ingat seumur hidup.
"Alesha, ayo makan dulu…" Helena mendekat perlahan sambil membawa nampan makanan yang sudah mulai dingin.
"Aku gak lapar, Ma."
Helena menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, merasa semakin khawatir melihat keadaan Alesha yang terdiam sejak siuman. Alesha mengurung diri dalam keheningan, seolah kehilangan seluruh tenaganya untuk sekadar menangis atau meluapkan rasa sakitnya.
Justru sikap diam itu yang membuat Helena takut. Ia mengenal putrinya dengan baik. Alesha bukan tipe perempuan yang mudah menunjukkan kesedihan. Namun malam itu, keheningan Alesha terasa jauh lebih menyakitkan daripada air mata mana pun.
"Papamu marah besar pada keluarga Adhitama," ujar Helena hati-hati, mencoba memecah kesunyian.
Alesha tertawa kecil.
Tawa pahit yang terdengar menyakitkan.
"Untuk apa marah?" gumamnya lirih. "Kaivan hanya bicara jujur."
Helena langsung menggenggam tangan putrinya.
"Tidak ada laki-laki baik yang mempermalukan perempuan di depan banyak orang seperti itu."
Kalimat itu akhirnya membuat mata Alesha memanas lagi.
Ia menunduk cepat, karena pertahanannya mulai runtuh sedikit demi sedikit.
"Aku kira…" napasnya bergetar. "Aku sempat berpikir, dia akan menghargai aku walaupun sedikit saja." Suara Alesha pecah di akhir kalimat.
Dan untuk pertama kalinya sejak semalam air matanya jatuh.
Helena langsung memeluk putrinya erat, membiarkan Alesha menangis sepuasnya di bahunya. Tidak ada kata-kata yang diucapkan untuk beberapa saat, hanya isak tangis yang pecah di tengah kesunyian kamar.
"Aku malu, Ma…" bisik Alesha gemetar. "Semua orang melihatku seperti perempuan yang memaksakan cinta laki-laki."
"Tidak," Helena menggeleng cepat. "Kamu tidak salah karena mencintai seseorang."
"Tapi aku bodoh."
Tidak lama kemudian, Mahesa meminta Helena keluar dari kamar, ingin berbicara berdua saja dengan putrinya. Namun begitu pintu tertutup, ruangan itu justru dipenuhi keheningan yang terasa berat. Mahesa menatap putrinya yang duduk diam dengan tatapan kosong, sementara hatinya dipenuhi rasa marah dan rasa bersalah karena tidak mampu melindungi Alesha dari penghinaan semalam.
Untuk pertama kalinya, Mahesa melihat putrinya tampak begitu rapuh. Tidak ada tangisan histeris atau amarah, hanya sorot mata kosong yang membuat dadanya terasa sesak. Ia sadar luka yang ditinggalkan Kaivan bukan sekadar rasa malu, tetapi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada itu.
Dua hari kemudian, suasana di ruang keluarga rumah Wijanarka masih terasa tegang. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton, sementara secangkir kopi di meja Mahesa sudah dingin sejak pagi.
"Apa mereka tidak punya kerjaan selain mengurusi hidup orang lain?" geram Keano dari sofa, melempar ponselnya ke sofa dengan kesal setelah membaca komentar-komentar di media sosial.
Mahesa yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan koran di meja dengan keras.
"Adrian keterlaluan karena membiarkan anaknya mempermalukan kamu seperti itu."
"Sudahlah, Pa," lirih Alesha sambil mematikan layar ponselnya yang sejak tadi terus bergetar oleh notifikasi yang tidak ingin ia baca. "Aku capek."
Ia benar-benar lelah.
Lelah berharap.
Lelah malu.
Lelah mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah menginginkannya.
"Alesha," Mahesa menatap putrinya dengan penuh rasa bersalah. "Papa tidak tahu Kaivan akan bertindak sejauh itu."
Alesha tersenyum kecil dan tipis.
"Kaivan hanya berusaha bicara jujur, Pa."
Mahesa menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di depan Alesha. Ia ingin marah, ingin menghancurkan Kaivan karena telah mempermalukan putrinya di depan banyak orang, tetapi melihat kondisi Alesha sekarang justru membuat semua emosinya berubah menjadi rasa sakit yang menyesakkan. Putrinya yang biasanya kuat kini hanya diam dengan tatapan kosong, seolah kehilangan semangat untuk sekadar berbicara.
Perlahan, Mahesa menggenggam tangan Alesha dan meminta maaf karena telah memaksanya menerima pertunangan itu. Suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan, sebab sekarang ia sadar bahwa ambisi dan gengsi keluarga telah membuat putrinya menanggung luka sebesar itu.
Tiga hari setelah kejadian itu, Alesha memaksakan diri untuk kembali mengajar. Ia tahu cepat atau lambat ia harus menghadapi tatapan orang-orang, dan menunda hanya akan membuat semuanya semakin berat.
Namun begitu ia melangkah masuk ke area parkir kampus, dua orang mahasiswa yang sedang berjalan di depannya tiba-tiba berbisik. Bisikan yang sengaja dibuat cukup keras agar terdengar.
"Bukannya itu Bu Alesha?"
"Iya… yang ditolak Pengusaha Kaivan Adhitama."
"Kasihan banget…"
Langkah Alesha sempat goyah. Ia merasakan wajahnya memanas, jantungnya berdebar tidak nyaman, dan untuk sepersekian detik ia ingin berbalik arah, kembali ke mobil, dan tidak pernah keluar lagi. Namun ia menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan tetap berjalan seolah tidak mendengar apa pun.
Harga dirinya sudah cukup hancur. Ia tidak ingin kehilangan martabatnya juga.
"Alesha."
Suara seorang dosen perempuan menghentikannya.
Maya, rekan dosennya sekaligus sahabatnya, mendekat dengan ekspresi khawatir. "Kamu gak apa-apa?"
Alesha mengangguk kecil. "Gak apa-apa. Aku masih hidup."
Jawaban itu justru membuat Maya semakin sedih.
"Kamu gak harus selalu terlihat kuat."
Alesha tersenyum tipis.
Sayangnya, senyum itu terlihat dipaksakan.
"Aku cuma gak mau terlihat menyedihkan."
Malam harinya, Alesha duduk sendirian di balkon kamar sambil menatap lampu kota yang tampak samar dari kejauhan. Angin malam terasa dingin menusuk kulitnya, tetapi ia tidak beranjak. Hatinya terasa sesak setelah semua penghinaan yang ia terima beberapa hari ini, dan entah kenapa, justru di tempat sepi seperti inilah rasa sakit itu terasa paling jelas.
Saat ponselnya tiba-tiba bergetar dan nama Kaivan muncul di layar, jantungnya langsung berdetak keras. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap layar itu tanpa bergerak, karena Kaivan tidak pernah menghubunginya lebih dulu. Tidak sekali pun, sepanjang mereka mengenal satu sama lain.
“Kaivan… mau apa dia menghubungiku? Apa mungkin dia mau minta maaf?” pikirnya, sedikit berharap.
Dengan tangan gemetar, Alesha akhirnya mengangkat panggilan itu. Harapan bodoh sempat muncul di dalam dirinya, berharap Kaivan menelepon untuk meminta maaf. Namun semua harapan itu runtuh begitu suara dingin pria itu terdengar dari seberang sana, menghancurkan hati Alesha sekali lagi.
"Al, aku harap setelah ini keluargamu berhenti membahas masalah pertunangan itu."
Napas Alesha tercekat.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penyesalan. Hanya penolakan lagi.
"Aku tidak ingin Vanessa salah paham."
Kalimat itu terasa seperti pisau kedua.
Alesha memejamkan matanya pelan. Dan untuk pertama kalinya, ia mulai merasa lelah karena mencintai Kaivan Adhitama.
"Aku mengerti," jawab Alesha pelan.
Keheningan muncul selama beberapa detik di antara mereka, hanya terdengar suara angin malam yang berembus pelan di balkon.
Kaivan tampak sedikit terdiam, seolah tidak menyangka Alesha akan menjawab setenang itu. Biasanya perempuan itu akan berusaha menjelaskan atau mempertahankan perasaannya. Namun tidak kali ini.
"Alesha…"
"Aku capek, Kaivan," potongnya lirih. "Jadi tenang saja. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."
Untuk pertama kalinya, Kaivan terdiam dan tidak langsung menjawab. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak saat mendengar nada datar dalam suara Alesha.
Namun rasa itu kalah oleh ego dan amarah yang selama ini ia pelihara. Kaivan memilih tetap dingin, menekan rasa bersalah yang sempat muncul di hatinya.
"Bagus kalau begitu. Artinya urusan kita selesai sampai di sini. Ke depannya, jangan pernah lagi kamu mengganggu hubunganku dengan Vanessa," ucap Kaivan dengan nada sinis.
"Tentu saja. Kamu tidak perlu khawatir," balas Alesha singkat.
Panggilan telepon itu berakhir. Alesha yang mematikannya lebih dulu.
Alesha meremas ponselnya kencang. Perasaan marah, terluka, kecewa, dan sakit hati bercampur menjadi satu, memenuhi dadanya hingga rasanya sulit bernapas.
"Demi Tuhan aku bersumpah. Mulai detik ini, aku haramkan cintaku untuk Kaivan Adhitama." Sumpah itu keluar dari mulut Alesha, dibarengi air mata yang mengalir di kedua matanya.
Ia menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, mencoba menenangkan diri. Namun belum sempat napasnya benar-benar stabil, ponsel di tangannya kembali bergetar kali ini bukan panggilan, melainkan notifikasi dari sebuah akun gosip yang baru saja memposting sesuatu.
Dengan tangan yang masih gemetar, Alesha membuka notifikasi itu tanpa berpikir panjang.
Sebuah foto langsung memenuhi layar ponselnya.
Foto Kaivan dan Vanessa, berpelukan mesra di salah satu sudut ballroom Hotel Grand Arcadia diambil tepat beberapa menit setelah Alesha jatuh pingsan di lantai yang sama.
Keterangan foto itu tertulis dengan huruf tebal.
Pengusaha muda Kaivan Adhitama batalkan pertunangan demi kekasihnya. Siapa wanita yang ditinggalkan ini?
Jari Alesha membeku di atas layar.
Alesha terdiam sejenak mendengar penjelasan Lavienna, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat perutnya terasa mual. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong kampus, mencoba mencerna informasi yang begitu mengganggu itu."Tante tahu Vanessa membisikkan apa ke Kaivan?" tanya Alesha hati-hati, suaranya terdengar penuh kecurigaan yang sulit ia sembunyikan.Lavienna menghela napas berat di seberang telepon, jelas terdengar betapa gelisahnya wanita itu sejak kejadian tadi pagi."Satpamnya tidak dengar jelas, cuma lihat Vanessa mendekatkan wajahnya ke telinga Kaivan sebentar sebelum akhirnya ditarik paksa keluar. Tapi yang bikin Tante curiga, kenapa tepat setelah itu detak jantungnya jadi tidak stabil?" ucap Lavienna dengan nada penuh kekhawatiran, seolah pertanyaan itu sudah mengganggu pikirannya
Alesha menatap layar ponselnya sejenak, jantungnya berdebar kencang membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Kaivan. Ia melangkah mundur dari pintu kelas yang baru saja hendak ia masuki, memilih menjawab panggilan itu terlebih dahulu di lorong yang lebih sepi."Halo, Tante? Ada apa?" tanya Alesha cepat, suaranya sedikit terburu-buru karena firasat tidak enak yang tiba-tiba menyergap dadanya.Suara Lavienna dari seberang telepon terdengar terengah-engah, seolah baru saja berlari atau sedang dalam keadaan yang begitu tergesa-gesa."Alesha, kamu di mana sekarang? Bisa tolong kembali ke rumah sakit secepatnya?" tanya Lavienna dengan nada yang sulit ditebak, campuran antara panik dan sesuatu yang terdengar seperti harapan.Alesha langsung merasakan jantungnya
Helena terdiam cukup lama di seberang telepon, membuat Alesha yang sudah memarkirkan mobilnya di area kampus semakin tidak sabar menunggu jawaban dari pertanyaannya sendiri. Suasana hening itu terasa begitu janggal, jauh berbeda dari kebiasaan mamanya yang biasanya selalu terbuka menceritakan apa pun kepadanya."Ma? Kenapa diam? Ada apa sebenarnya?" tanya Alesha lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak, tangannya mematikan mesin mobil namun ia belum juga beranjak turun karena terlalu fokus dengan percakapan itu.Helena akhirnya menghela napas panjang, seolah mempertimbangkan dengan matang apakah ini saat yang tepat untuk membuka sesuatu yang selama ini ia simpan sendiri."Sebenarnya, dulu perjodohan kamu dengan Kaivan itu bukan cuma karena Mama dan Lavienna berteman sejak kecil, Alesha. Ada alasan lain yang le
Helena terdiam sejenak. Setelah itu, ia menjawab dengan nada cemas dan sedikit bingung mendengar pertanyaan dari putrinya."Mama lihat beritanya di televisi tadi pagi, Sayang. Ada tayangan infotainment yang membahas kecelakaan yang menimpa Kaivan Adhitama," jawab Helena, membuat Alesha yang sedang menyetir langsung tersadar dan menepuk keningnya sendiri karena baru mengingat sesuatu yang sempat terlupakan sesaat.Alesha memang sempat lupa bahwa keluarga Kaivan bukanlah keluarga biasa. Nama Adhitama sudah begitu dikenal luas di kalangan publik, terutama karena Adhitama Group merupakan salah satu perusahaan teknologi dan investasi terbesar yang berpengaruh di negeri ini."Astaga, aku sampai lupa kalau keluarga Kaivan itu keluarga terkenal," gumam Alesha pelan, lebih kepada dirinya sendiri, meski suaranya masih cukup jelas terdengar melalui mode speaker ponselnya.Helena yang mendengar gumaman itu langsung bertanya dengan nada penasaran, mencoba memahami situasi yang sebenarnya sedang di
Alesha menempelkan ponsel ke telinganya dengan perasaan sedikit waswas, tidak yakin siapa yang menghubunginya sepagi ini dengan nomor yang sama sekali tidak ia kenal. Ia melirik sekilas ke arah Adrian dan Lavienna yang masih duduk lelah di kursi ruang tunggu sebelum akhirnya menjawab panggilan itu."Ya, benar. Ini dengan siapa?" tanya Alesha hati-hati, suaranya masih terdengar sedikit serak karena belum tidur semalaman.Suara di seberang telepon terdengar formal dan tegas, jauh berbeda dari suara-suara panik yang selama semalam ini terus menghantui pendengarannya."Saya dari Kepolisian Sektor setempat. Kami sedang menangani kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan saudara Kaivan Adhitama. Kami mendapat informasi bahwa Anda adalah orang yang pertama kali menemukan korban di lokasi kejadian," ucap suara itu dengan
Alesha menatap Lavienna yang masih menggenggam tangannya erat, hatinya tersentuh melihat betapa rapuhnya wanita yang biasanya begitu anggun dan tenang itu kini duduk terpuruk dengan wajah penuh harap. Ia menghela napas pelan, memantapkan hati sebelum akhirnya mengangguk yakin."Baik, Tante. Aku akan menemani Tante dan Om di sini," ucap Alesha lembut, menggenggam balik tangan Lavienna yang dingin dengan penuh ketulusan.Lavienna langsung menatap Alesha dengan mata berbinar di tengah air mata yang masih membasahi wajahnya, seolah baru saja mendapatkan setitik cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya sejak semalam."Benarkah? Tapi kamu pasti punya kesibukan sendiri, Alesha. Tante tidak ingin merepotkanmu," ucap Lavienna ragu, meski jelas terlihat betapa ia berharap Alesha benar-benar akan menepati kata-katan







