مشاركة

Pengakuan Rian

مؤلف: Helen.Sky
last update تاريخ النشر: 2026-07-20 22:47:52

Hendra melangkah masuk ke dalam dengan tangan kanan mendekap map plastik berisi berkas-berkas yang baru saja selesai diurusnya.

"Sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab," ucap Hendra.

Eva hanya bisa melempar senyuman kecil untuk menutupi detak jantungnya yang berpacu gila, sementara David menanggapi dengan sebuah anggukan kepala yang singkat.

Hendra berjalan menghampiri David, lalu menepuk pelan bahu David beberapa kali.

"David... terima kasih banyak," tutur Hendra.

"Untuk semuanya," tamb
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Menegang

    Eva akhirnya memaksakan kakinya melangkah maju mendekati pintu mobil yang terbuka lebar. Setiap helaan napasnya terasa begitu berat.Ia memberanikan diri mengintip ke dalam kabin penumpang belakang. Di sana, sosok Hendra tampak bersandar di sudut jok. Matanya terpejam rapat, dan deru napasnya terdengar secara teratur. Papanya tertidur pulas.Eva mengembuskan napas panjang. Rasa lega yang luar biasa mendadak membanjiri dadanya, membuat seluruh persendiannya yang tegang perlahan melunak.Ia bergerak sangat pelan, menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin lalu mendarat di jok sebelah Hendra. Saat Pak Jamal—supirnya—hendak mendorong pintu untuk menutupnya, Eva dengan refleks cepat menahan pinggiran pintu itu dengan ujung jarinya."Aku saja, Pak," bisik Eva setengah berdesis, suaranya sangat pelan, memberi sinyal penuh kewaspadaan lewat tatapan matanya.Pak Jamal yang mengerti maksud majikannya langsung mengangguk pelan dan melepaskan pegangannya dari gagang pintu. Eva menarik pintu mobil

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Ditunggu

    David ikut memajukan tubuhnya sedikit, melemparkan pandangan tajam ke luar jendela, mengamati gerak-gerik pria paruh baya yang berdiri gelisah di samping mobil jemputan Eva."Mas tidak pernah lihat sopir yang itu," ucap David datar. "Mungkin dia sopir baru. Kalau dia baru kerja, dia pasti tidak tahu ini mobil milik siapa."Eva bernapas lega. "Oh, begitu ya? Ya sudah, semoga saja dia benar-benar tidak tahu mobil siapa ini."Eva memutar tubuhnya, tangannya sudah bersiap menyentuh gagang pintu mobil. "Ya sudah, aku pulang dulu ya, Mas.""Iya, hati-hati," balas David pelan.Namun, tepat saat jemari Eva baru saja hendak menekan engsel pintu kabin, pergelangan tangannya mendadak dicengkeram dari samping. Membuat gerakan Eva terhenti seketika.Ia memutar kepalanya kembali, menatap David dengan dahi berkerut halus. "Kenapa, Mas?""Minum itu dulu. Obatnya," tegas David sambil mengarahkan dagunya ke arah botol cokelat yang masih berada di pangkuan Eva."Oh... iya, sampai lupa," gumam Eva cepat.

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di dalam mobil

    Pintu kabin sedan hitam milik David tertutup rapat. Eva menyandarkan kepala di jok kulit. Tangan kanannya yang masih berada di atas paha David, bergerak lembut naik turun. David menyalakan mesin. Tangannya merogoh konsol tengah, menarik kabel pengisi daya, lalu menyambar ponsel mati milik Eva dari jemari wanita itu. "Duduk yang benar. Batateraimu habis total," ucap David, mencoba menegakkan jarak aman di antara mereka. Namun, jarak sempit di dalam kabin mobil justru memisahkan mereka terlalu dekat. Eva tidak membenarkan posisi duduknya. Sebaliknya, ia malah mencondongkan tubuh ke arah tengah, menatap David dengan senyum tipis. "Makasih ya, Mas..." bisik Eva pelan. David menancapkan kabel ke ponsel Eva, berjuang keras mengabaikan tatapan itu. Namun, ketika ia hendak menarik tangannya kembali, jemari lentur Eva justru bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan David. "Mas kan sudah bilang, jangan minum," ucap David merusak ketegangan yang sudah membara di dada Eva. "Tadi di d

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Larangan

    "Hari pertama selesai juga..." ucap Eva saat sampai di sebuah restoran. Baru saja ia hendak melangkah masuk ke dalam restoran, suara langkah kaki dari belakang membuatnya menoleh. Mas David. Pria itu berjalan tenang dengan kemeja biru tua yang sejak pagi dikenakannya kini lengan bajunya sudah digulung hingga siku. "Mas," lirih Eva. David menghentikan langkahnya tepat beberapa langkah di belakang Eva. "Mas ngikutin aku, ya?" Sudut bibir Eva terangkat sedikit. Nada suaranya terdengar ringan, lebih seperti godaan daripada pertanyaan sungguhan. "Bukan," jawabannya singkat. Eva mengangkat sebelah alis. "Bukan?" "Aku memang makan di sini." David menggeser pandangannya ke arah papan nama restoran. "Sama tim." "Oh..." Eva mengangguk pelan sembari menahan senyum yang hampir lolos. "Teman-temanmu belum masuk?" Belum sempat Eva menjawab, terdengar suara Nisa dari kejauhan. "Eva!" Nisa melambaikan tangan sembari berjalan cepat bersama beberapa rekan kerja lainnya. "

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Refleks

    Tubuh Eva masih gemetar saat lengannya berada dalam genggaman seseorang. Selama beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong. Perlahan, Eva mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang sejak tadi ia perhatikan. "Mas David..." Suara itu nyaris tak terdengar. David masih menggenggam lengannya erat. Wajah pria itu terlihat tegang, napasnya sedikit tersengal karena berlari beberapa detik sebelumnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan. Eva hanya mampu mengangguk. Setelah melihat Eva mampu berdiri sendiri, David perlahan melepaskan genggamannya. Jarak di antara mereka kembali terbentang. Tatapan David berubah datar seperti biasa. "Hati-hati," ucapnya singkat. David berbalik dan melangkah kembali menuju rombongan yang sejak tadi menunggunya. "Pak, nggak apa-apa?" tanya salah seorang mandor saat David kembali. "Aman," jawab David singkat. Beberapa orang tanpa sadar menoleh ke arah Eva yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Itu anak baru ya?" "Iya, ka

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Menjaga Jarak

    Eva melangkah cepat meninggalkan site office. Semakin mendekati lorong toilet, langkahnya justru semakin melambat. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan tak ada satu pun rekan kerja yang memperhatikannya. Koridor itu lengang. Eva menarik napas pelan, lalu mendorong daun pintu toilet. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan saat pintu itu terbuka. Eva mengernyit pelan. "Mas...?" Suara lirih itu menghilang begitu saja di dalam ruangan yang sunyi. Tak ada jawaban. Alis Eva semakin berkerut. Bukankah Mas David tadi sudah lebih dulu masuk? batin Eva yang tidak menemukan siapun di dalam sana. Perlahan ia melangkah mendekati wastafel. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas permukaan marmer, sementara matanya menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin. "Duh... jangan-jangan aku salah paham." Eva mengembuskan napas pelan. Rasa kecewa mulai menyelinap ke dalam dadanya. Klik. Suara kunci pintu salah satu bilik toilet diputar. Eva langsung menoleh, matanya langsung beralih

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Tangan yang Gemetar

    Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Luar Kendali

    Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Di Bawah Meja Makan Malam

    Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini

  • Om David, Aku Mau Denganmu Saja!   Keputusan Final

    Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status