Share

3. TITIK TERENDAH

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-06 05:11:24

Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.

Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.

Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.

Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.

Sari bangkit, merangkak perlahan menuju sudut ruangan tempat ia biasa menyimpan persediaan makanan.

Kosong.

Hanya ada satu bungkus mie instan yang plastiknya sudah terbuka dan isinya habis entah kapan. Ia beralih ke botol air mineral di atas meja kecilnya. Dengan harapan kecil, ia mengguncang botol itu. Hanya tersisa satu teguk air di dasar botol.

Sari meminumnya dengan rakus, membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya yang sudah kering kerontang. Namun, satu teguk tidak cukup untuk mengusir rasa haus yang membakar.

Sari kembali terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding tembok yang lembap. Rasa lapar, haus, letih, dan takut berbaur menjadi satu rasa sesak yang tak tertahankan di dadanya.

Air matanya kembali tumpah, kali ini lebih deras. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat di tengah kegelapan kamar yang tidak ia nyalakan lampunya.

"Tuhan... aku harus bagaimana?" bisiknya parau di sela isak tangis.

Tok! Tok! Tok!

Sari tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar sesenggukan. Dengan perasaan was-was, ia membuka pintu sedikit. Di sana berdiri Pak RT, pria paruh baya yang menjadi asisten pengelola kos.

"Mbak Sari, maaf mengganggu malam-malam," ucap pria itu dengan wajah tidak enak hati. "Saya baru saja ditelepon pemilik kos yang baru. Beliau tanya soal tunggakan Mbak Sari. Katanya kalau tidak ada kejelasan malam ini, besok pagi kuncinya harus diserahkan."

Dunia Sari serasa runtuh seketika.

"Pak... tolong, Pak. Saya janji minggu depan saya usahakan. Ayah saya sedang sakit di kampung, kiriman saya tersendat," mohon Sari dengan suara parau, nyaris bersimpuh di depan pria itu.

Pak RT menggeleng pelan. "Aduh, Mbak, saya cuma kaki tangan. Pemilik yang baru ini orangnya sangat disiplin. Saya tidak berani membantah. Dia bilang, aturan tetap aturan."

Sari menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Putus asa mulai menguasai akal sehatnya. "Pak, boleh saya tahu alamat pemilik kos ini? Biar saya sendiri yang memohon padanya. Saya tidak mau diusir ke jalanan, Pak. Saya mohon..."

Melihat wajah Sari yang pucat dan matanya yang sembab, Pak RT akhirnya luluh. Ia merobek selembar kertas kecil dan menuliskan sebuah alamat. "Ini alamat rumah pribadinya. Dia biasanya ada di sana malam-malam begini. Tapi hati-hati ya, Mbak, orangnya memang agak kaku."

Tanpa membuang waktu, Sari menyambar tasnya. Ia tidak peduli dengan perutnya yang melilit atau tenggorokannya yang kering. Ia harus berjuang. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia naik angkot terakhir menuju alamat yang tertera di kertas itu.

Langkah Sari terhenti di depan sebuah gerbang hitam yang tinggi dan kokoh. Di baliknya, berdiri sebuah rumah minimalis modern yang tampak sangat mewah dan maskulin.

Lampu-lampu taman yang hangat menyinari pilar-pilar beton yang gagah. Sari menelan ludah. Ia merasa sangat kecil di depan kemegahan ini.

Dengan tangan gemetar, Sari menekan bel di samping gerbang. Tidak lama kemudian, gerbang otomatis itu bergeser terbuka perlahan, mengeluarkan suara desis halus yang membuat jantung Sari berpacu gila-gilaan.

Sari berjalan menyusuri jalan setapak menuju pintu utama. Pintu kayu jati berukuran besar itu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Seorang pria berdiri di ambang pintu. Ia tidak lagi memakai kemeja rapi seperti di kampus, melainkan hanya mengenakan kaus polo hitam yang membentuk lekuk tubuh atletisnya dan celana santai.

Di tangannya, ia memegang sebuah gelas berisi cairan bening dengan es batu yang gemerincing.

Napas Sari tercekat. Matanya membelalak lebar seolah melihat hantu.

Pria itu adalah Arya.

Arya menurunkan gelasnya, menatap Sari dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat dalam dan mengintimidasi.

Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah seringai tipis yang terlihat sangat berbahaya namun menggoda di bawah cahaya lampu teras yang temaram.

"Kamu lagi, Sari?" ucap Arya dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar di udara malam. "Sepertinya kamu sangat suka berurusan dengan saya."

Sari mematung di tempatnya berdiri, merasa seolah seluruh oksigen di sekitarnya mendadak lenyap. Ia datang untuk melarikan diri dari satu masalah, namun justru berakhir di dalam genggaman pria yang paling ingin ia hindari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   24. KEDAMAIAN MULAI RETAK

    Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   23. DI LUAR BATAS KONTRAK

    Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   22. DINGIN YANG MULAI MEMUDAR

    Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   21. ARYA YANG HANGAT

    Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   20. HARI YANG LEBIH TENANG

    Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   19. HANYA MILIK ARYA

    "Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   17. KLAIM UNTUK ANDRA

    Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout di kamar utama, memantul pada seprai sutra yang berantakan.Sari terbangun dengan perasaan yang asing. Ada ketenangan yang sempat singgah, sisa-sisa kelembutan Arya di bawah guyuran air semalam yang masih membekas di i

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   4. TAWARAN KONTRAK

    Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   2. SPION PECAH

    Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   1. KESIALAN BERTUBI-TUBI

    Bunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.Rp30.150,-Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status