Share

2. SPION PECAH

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-05 22:42:49

Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.

Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.

Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.

Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.

Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.

Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau.

"Ma-maaf, Pak... saya benar-benar minta maaf. Saya tidak sengaja," cicit Sari dengan suara yang hampir habis. Bibirnya gemetar hebat.

Arya sedikit membungkuk, membuat jarak di antara mereka menyempit drastis. Aroma parfum sandalwood yang berat dan maskulin kembali menyerbu indra penciuman Sari, mengaburkan bau aspal yang panas.

Sari bisa merasakan hawa tubuh Arya yang dominan, seolah pria itu sedang memerangkapnya meski tanpa sentuhan tangan.

"Minta maaf tidak akan memperbaiki spion itu, Sari," ucap Arya rendah.

Suara baritonnya terdengar tenang, namun setiap katanya terasa seperti bilah es yang menggores kulit.

"Saya... saya pasti ganti, Pak. Saya janji. Berikan saya waktu," Sari menatap Arya dengan tatapan memohon. Air mata yang sempat tertahan kini mengalir pelan, membasahi pipinya yang kemerahan.

Arya menyeringai tipis. Sebuah senyum yang sama sekali tidak terasa ramah. Ia berjongkok di depan Sari, membuat mata mereka kini sejajar.

Dengan gerakan yang sangat lambat, Arya menjulurkan tangannya, ujung jarinya yang dingin menyentuh dagu Sari, memaksa gadis itu untuk terus menatap matanya yang gelap dan tajam.

"Ganti rugi?" Arya terkekeh rendah, suara tawanya terdengar kering dan mengejek. "Hanya untuk spion ini, harganya lebih besar dari biaya kuliahmu setahun. Kamu mungkin harus bekerja seumur hidup hanya untuk mengganti bagian ini saja."

Sari tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Rasa gelisah yang sedari tadi menghimpit kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Sari merasa seperti seekor kelinci yang sudah masuk ke dalam mulut serigala.

"Saya akan kerja... saya akan cari uang tambahan," bisik Sari putus asa.

"Jangan memberikan janji manis jika kamu sendiri tidak tahu bagaimana cara memenuhinya," bisik Arya tepat di depan wajah Sari. Tekanan jarinya di dagu Sari sedikit mengeras, memastikan gadis itu merasakan setiap inci kekuasaannya.

Sari hanya bisa terpaku, tidak mampu mengeluarkan suara. Air mata jatuh membasahi pipinya, namun Arya tidak tampak tersentuh sedikit pun.

Pria itu justru melepaskan dagu Sari dengan gerakan kasar, seolah-olah menyentuh Sari adalah sesuatu yang melelahkan baginya.

Arya bangkit berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang sama sekali tidak kusut. Ia menatap Sari yang masih bersimpuh di aspal dengan luka di siku yang masih basah.k

"Saya tidak punya waktu untuk mendengarkan tangisanmu. Saya tunggu pembayaran ganti rugi yang kau janjikan," ucap Arya dingin sembari memakai kembali kacamata hitamnya.

Tanpa kata lagi, Arya berbalik dan masuk ke dalam mobil. Mesin mobil menderu halus, lalu perlahan bergerak meninggalkan parkiran tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sari yang masih terisak.

Sari menatap kepergian mobil itu dengan pandangan kabur. Ia ditinggalkan sendirian dengan luka yang perih dan beban hutang yang mustahil bisa ia bayar.

Kegelisahannya kini memuncak. Arya tidak memberinya keringanan, ia justru memberikan beban yang menggantung, menunggu janji yang entah bagaimana cara Sari menepatinya.

'Bagaimana caraku mengatasi ini semua? Apakah ada cara agar aku bisa lepas dari hutang yang menumpuk ini?' rintih Sari dalam batinnya. Mengharapkan sebuah keajaiban yang ia sendiri sadar bahwa keajaiban itu tidak akan ada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   24. KEDAMAIAN MULAI RETAK

    Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   23. DI LUAR BATAS KONTRAK

    Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   22. DINGIN YANG MULAI MEMUDAR

    Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   21. ARYA YANG HANGAT

    Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   20. HARI YANG LEBIH TENANG

    Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   19. HANYA MILIK ARYA

    "Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   9. SAKIT YANG NIKMAT

    Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik, seolah-olah dinding marmer yang kokoh di sekeliling mereka perlahan menghimpit Sari hingga ia sulit bernapas.Perintah Arya untuk membuka kemeja putih itu masih menggantung di udara, dingin dan tajam seperti mata pisau.Sari mematun

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   7. PERINTAH PERTAMA

    Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak d

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   6. TUGAS PERTAMA

    Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   5. HARGA SEBUAH KEHORMATAN

    "Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikira

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status