LOGINArya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.
Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.
Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari.
"Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."
Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar.
"Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi, makanlah. Saya tidak ingin melihat wajah pucat seperti mayat di rumah ini."
Sari hanya bisa mengangguk patuh. Kakinya yang lemas melangkah menuju kamar mandi yang ditunjuk Arya.
Di dalam, ia terpaku melihat kemewahan yang ada. Dinding marmer, pencahayaan yang lembut, dan aroma aromaterapi yang menenangkan.
Sari segera menyalakan pancuran air hangat. Saat air itu menyentuh kulitnya, ia memejamkan mata. Rasa perih di sikunya perlahan memudar tersiram air, dan semua debu serta keringat yang menempel seharian luruh ke lantai.
Ia menggunakan semua sabun dan sampo bermerek yang tersedia. Ia ingin sejenak melupakan kenyataan bahwa ia sedang berada di rumah seorang pria yang baru saja membelinya.
Setelah mengeringkan tubuh, ia mengenakan kemeja putih pemberian Arya. Kemeja itu sangat kebesaran. Kerahnya merosot memperlihatkan tulang selangkanya yang menonjol, dan ujung kemejanya jatuh hingga ke pertengahan pahanya, menutupi lekuk tubuhnya dengan cara yang justru terlihat menggoda.
Rambutnya yang basah ia biarkan tergerai, memberikan kesan alami yang liar namun polos.
Saat Sari keluar dari kamar mandi, Arya sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Pria itu berbalik, dan untuk pertama kalinya, Sari melihat kilat yang berbeda di mata Arya.
Pria itu tertegun. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan melihat sosok di depannya. Sari terlihat jauh lebih cantik dari ekspetasinya.
Kemeja putih yang longgar itu justru membuat kecantikan Sari yang rapuh terpancar berkali-kali lipat lebih kuat.
Momen kekaguman itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum suara bel rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan.
"Makananmu sudah sampai," ucap Arya, segera mengalihkan pandangan dan kembali ke wajah dinginnya yang biasa.
Seorang kurir mengantarkan beberapa kantong makanan yang aromanya sangat menggugah selera.
Arya memberi isyarat agar Sari duduk di meja makan yang luas.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Sari mulai makan. Rasa lapar yang tadinya melilit perih kini mulai terobati. Setiap suapan nasi hangat dan lauk yang lezat terasa seperti surga di lidahnya.
Di sela-sela makannya, Sari merasakan perubahan aneh pada dirinya. Perutnya tidak lagi perih. Badannya terasa bersih, segar, dan harum. Kemeja halus yang ia kenakan memberikan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Untuk sekejap, hanya sekejap, ia lupa pada harga yang harus ia bayar. Ia lupa pada kontrak harga diri yang baru saja ia setujui.
Tanpa sadar, sudut bibir Sari terangkat. Ia tersenyum kecil, merasa sedikit manusiawi kembali setelah seharian diinjak-injak oleh nasib.
Arya, yang sejak tadi duduk diam memperhatikannya dengan mata menyipit, bertanya dengan nada rendah, "Kenapa kamu tersenyum?"
Sari menoleh, matanya yang jernih menatap Arya dengan tulus. "Terima kasih, Pak. Terima kasih atas kebaikan Bapak... sudah memberi saya makan dan tempat untuk mandi."
Arya tidak bergeming. Wajahnya tetap datar seperti pahatan batu. Ia meletakkan tangan di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Sari hingga jarak mereka kembali menyempit.
"Jangan salah paham, Sari. Tidak perlu berterima kasih," jawab Arya, suaranya terdengar seperti vonis. "Ini memang yang sudah seharusnya kamu dapatkan. Aku tidak mau menyentuh wanita yang kotor dan lusuh. Jadi sudah seharusnya kamu membersihkan diri agar layak untukku."
Senyum Sari membeku.
"Dan kamu memang harus makan," lanjut Arya, matanya kini menatap bibir Sari yang sedikit basah. "Jika tidak makan, bagaimana kamu akan melayaniku nanti? Melakukan hal itu juga membutuhkan tenaga yang besar, Sari. Jadi jangan senang dulu."
Suasana di meja makan itu mendadak mendingin. Rasa lezat dari makanan yang baru saja ditelan Sari seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang menyumbat tenggorokannya.
"Malam ini adalah tugas pertamamu," ucap Arya sembari bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya dan menatap Sari dengan tatapan penuh kepemilikan. "Setelah selesai makan, persiapkan dirimu. Naik ke atas, dan masuk ke kamar saya. Jangan terlambat."
Arya berbalik dan berjalan pergi menuju lantai dua, meninggalkan Sari sendirian di ruang makan yang mewah itu.
Sari mematung. Sendok di tangannya terasa sangat berat hingga akhirnya terjatuh ke atas piring dengan suara berdenting yang menyakitkan.
Kehangatan yang baru saja ia rasakan seketika lenyap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.
Nikmatnya makanan di lidahnya kini terasa hambar, tertutup oleh rasa takut yang luar biasa.
Ia melihat ke arah tangga yang menuju kamar Arya. Tangga itu kini tampak seperti jalan menuju tempat penjagalan, dan ia adalah domba yang baru saja diberi makan enak sebelum disembelih.
Sari meremat ujung kemeja putih milik Arya, menyadari bahwa mulai
malam ini, ia akan kehilangan tubuhnya dan atau mungkin juga jiwanya.
Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan
Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid
Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel
Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke
Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat
"Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada b
Bunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.Rp30.150,-Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih.
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh







