LOGIN"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."
Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.
Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.
Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.
Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak tersentuh.
"Jangan berlagak suci di depanku, Sari," ucap Arya. Suaranya datar, namun nadanya setajam sembilu yang menyayat kulit. "Mari kita bicara angka sekali lagi, agar otakmu yang sedang emosional itu bisa mulai berfungsi secara realistis."
Arya bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang berat dan berirama mulai mengelilingi sofa tempat Sari meringkuk tak berdaya. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai granit seolah-olah sedang mengunci setiap jalan keluar yang dimiliki Sari. Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya perlahan bergerak merapat untuk menghimpit Sari.
"Tenang sebentar, mari kita hitung bersama," Arya berhenti tepat di belakang Sari. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, memerangkap Sari di tengah-tengah jangkauan tubuhnya.
Aroma parfum sandalwood yang maskulin, mahal, dan dingin menyerbu indra penciuman Sari, membuatnya merasa pening dan sesak secara bersamaan. Sari bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh tegap pria di belakangnya.
"Tunggakan kosmu tiga bulan. Biaya spion mobil saya yang harganya bisa membeli motor baru. Dan melihat wajahmu yang hampir seperti mayat. Saya yakin kamu bahkan tidak memiliki uang hanya untuk sekedar membeli makan."
Sari meremas jemarinya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari kekuatan yang sebenarnya sudah tidak ada. Setiap kata yang keluar dari mulut Arya terasa seperti pukulan palu godam yang menghancurkan benteng pertahanannya satu per satu.
"Jika kamu setuju," bisik Arya tepat di telinga Sari. Hembusan napasnya yang hangat berbau mint membuat gadis itu merinding ketakutan sekaligus merasakan getaran asing yang membakar kulit tengkuknya.
"Malam ini juga, kamu pindah dari kosan pengap itu ke sini. Kamu tidak perlu lagi memikirkan perutmu yang melilit lapar. Dan yang paling penting... biaya kuliahmu sampai lulus, saya yang tanggung. Semuanya. Tanpa kecuali. Kamu hanya perlu fokus... melayani saya."
Sari menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi telapak tangannya yang gemetar. Ia terjepit dalam dilema yang mematikan. Logikanya membenarkan semua ucapan Arya.
Tanpa bantuan ini, ia akan hancur dan menjadi gelandangan. Namun, jiwanya menjerit menolak. Menjual tubuhnya? Tubuh yang selama ini ia jaga kehormatannya dengan susah payah di tengah kemiskinan yang mencekik?
"Saya masih punya harga diri, Pak," isak Sari parau, mencoba melawan meski suaranya bergetar hebat.
"Harga diri tidak bisa dipakai untuk membayar uang kuliah, Sari," potong Arya dengan nada mengejek yang sangat kasar. "Harga diri juga tidak bisa membuat perutmu kenyang. Berhentilah bersikap dramatis seolah kamu punya pilihan lain."
Di tengah pergulatan batin yang menyiksa itu, ponsel di dalam tas Sari bergetar panjang. Sebuah getaran yang terasa seperti lonceng kematian.
Sari merogohnya dengan tangan lemas yang tak lagi bertenaga. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak seribu, memancarkan cahaya redup yang menyakitkan mata.
Pesan Peringatan Universitas:
Batas akhir pelunasan UKT adalah besok pukul 16.00 WIB. Jika tidak dilakukan pembayaran, status kemahasiswaan Anda akan dinonaktifkan secara otomatis dan Anda dianggap mengundurkan diri dari Universitas.
Sari mematung. Darahnya seolah berhenti mengalir dan jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat. Ini adalah pukulan terakhir yang menghancurkan segalanya.
Kuliah adalah satu-satunya tiketnya untuk keluar dari kubangan kemiskinan ini, satu-satunya harapan yang ia janjikan pada ayahnya yang sakit-sakitan di kampung.
Jika ia berhenti sekarang, semua keringat dan air mata selama tiga tahun terakhir akan hangus menjadi abu yang tak berharga.
Arya yang berdiri cukup dekat untuk melirik layar ponsel itu, menyadari apa yang sedang terjadi. Sebuah seringai puas muncul di wajah tampannya yang dingin.
Ia tidak perlu lagi bersusah payah membujuk atau mengancam. Takdir seolah sedang bekerja sama dengannya untuk menyeret Sari ke dalam jeratan yang telah ia siapkan dengan rapi.
"Sepertinya waktumu benar-benar sudah habis, Sari," ucap Arya rendah.
Ia berjalan kembali ke depan Sari, berdiri menjulang dengan tangan yang masuk ke saku celana, menatap rendah gadis yang sedang hancur itu.
"Pilihannya sekarang hanya dua. Menjadi milikku dan memiliki segalanya, atau keluar dari pintu itu sekarang juga dan biarkan dirimu hancur berkeping-keping."
Sari memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mencari celah untuk lari, namun yang ia temukan hanyalah jalan buntu yang gelap.
Seluruh tenaganya seolah menguap keluar dari pori-pori kulitnya. Ia merasa lemas, kosong, dan tidak lagi memiliki daya untuk memberontak.
Harga diri yang tadinya ia genggam erat sebagai satu-satunya harta, kini terasa seperti butiran pasir yang tertiup angin kencang. Hilang, tak berbekas, menyisakan kehampaan yang luar biasa pedih.
Ia membayangkan wajah ayahnya yang bangga saat melihatnya memakai toga nanti. Ia membayangkan rasa lapar yang akan terus mengejarnya seumur hidup jika ia kehilangan pendidikannya.
Ketakutan akan masa depan yang gelap ternyata jauh lebih besar daripada ketakutannya pada Arya.
Sari menarik napas panjang yang gemetar, seolah itu adalah napas terakhirnya sebagai manusia yang bebas. Bahunya merosot, tanda ia telah menyerah kalah pada garis hidup yang begitu kejam.
"Baik, Pak..." bisik Sari parau, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan rumah mewah yang dingin itu. "Saya... saya terima tawaran Bapak. Tolong bantu saya."
Arya menarik napas panjang, sebuah ekspresi kemenangan yang sangat murni terpancar dari wajahnya. Ia mendekat, jemarinya yang hangat dan kuat menyentuh dagu Sari, mengangkat wajah gadis itu dengan paksa agar menatap langsung ke matanya yang gelap.
Ia memperhatikan mata Sari yang merah, sembab, dan bibirnya yang masih bergetar hebat karena trauma.
"Pilihan yang sangat cerdas, Sari," bisik Arya, suaranya kini terdengar lebih dalam, berat, dan penuh gairah yang mulai tersulut. "Mulai detik ini, setiap jengkal kulitmu, setiap helai rambutmu, bahkan setiap tarikan napasmu... adalah milikku. Kamu paham?"
Sari tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa tertunduk pasrah, menangis tanpa suara sementara tangan Arya mulai mengusap lembut pipinya. Sebuah sentuhan yang terasa seperti tanda kepemilikan yang absolut dan permanen.
Sari tahu, setelah malam ini, ia bukan lagi Sari yang lama. Ia telah menandatangani kontrak tak tertulis dengan pria yang kini menatapnya dengan penuh nafsu dan kekuasaan mutlak.
Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan
Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid
Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel
Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke
Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat
"Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"
Suara derit kursi yang bergeser karena dorongan tubuh Arya terdengar seperti suara guntur di telinga Sari.Ruang kelas itu kini terasa sangat sempit, seolah-olah oksigen telah habis diisap oleh ketegangan seksual yang meledak-ledak di antara mereka.Punggung Sari terhimpit meja
Cahaya matahari pagi yang menyelinap di sela-sela gorden sutra kamar itu terasa seperti sembilu yang menyayat mata Sari.Ia terbangun dalam dekapan dingin hembusan AC yang masih menderu, namun sekujur tubuhnya terasa terbakar oleh rasa malu yang hebat.Sari menarik selimut abu-a
Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik, seolah-olah dinding marmer yang kokoh di sekeliling mereka perlahan menghimpit Sari hingga ia sulit bernapas.Perintah Arya untuk membuka kemeja putih itu masih menggantung di udara, dingin dan tajam seperti mata pisau.Sari mematun
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak d







