Share

7. PERINTAH PERTAMA

Author: FWW
last update publish date: 2026-05-06 05:36:19

Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.

Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.

Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.

Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.

Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menunggu. Pria itu bersandar pada kepala ranjang dengan santai, kedua kakinya ber selonjor dengan angkuh. Ia mengenakan piyama satin berwarna biru dongker yang berkilat mewah di bawah temaram lampu tidur.

Mata Arya yang tajam dan kelam segera menghujam sosok Sari, seolah sedang menelanjangi setiap inci ketakutan yang terpampang di wajah gadis itu. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Jenis senyum yang biasa diberikan seorang kolektor saat menatap barang antik yang baru saja dimenangkannya dalam sebuah lelang.

"Masuk, Sari. Kenapa masih berdiri di sana? Kamu terlihat seperti pencuri yang ketakutan di rumah sendiri," ucap Arya. Suaranya bariton, tenang, namun mengandung otoritas yang mampu membuat bulu kuduk Sari meremang.

"Sa—saya..." Sari terbata, suaranya tercekat di kerongkongan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia takut Arya bisa mendengarnya dari kejauhan.

"Masuk," ulang Arya, kali ini dengan penekanan yang tak terbantahkan.

Sari melangkah ragu, kakinya terasa lemas seperti jeli. Begitu ia mencapai tengah ruangan, perintah Arya kembali memecah kesunyian.

"Berhenti di situ. Berbaliklah, belakangi aku... lalu menunduk."

Sari membelalak. Tubuhnya bergetar, namun ia tidak punya kuasa untuk membantah. Ia membalikkan badan, memunggungi Arya, lalu perlahan membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu pada lutut.

Karena posisi itu, kemeja putih milik Arya yang ia kenakan, yang memang terlalu besar dan longgar, terangkat tinggi. Kain itu tersingkap ke atas, memamerkan jenjang paha Sari yang mulus hingga hampir mengekspos area sensitif di pangkal pahanya.

Di belakang sana, mata Arya menjelajahi lekuk tubuh Sari dengan lapar. Ia menyesap pemandangan itu seolah itu adalah minuman paling nikmat di dunia. Sebuah tawa kecil, kering, dan penuh kepuasan lolos dari bibir Arya.

"Barang bagus," gumam Arya, suaranya kini terdengar lebih dekat. "Sepertinya aku tidak salah beli. Harga yang aku bayar ternyata sepadan dengan apa yang aku dapatkan."

Air mata Sari menetes, jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Ia merasa hancur. Ia bukan lagi Sari si mahasiswi berprestasi. Ia hanyalah sebuah benda yang baru saja dinilai kelayakannya. Harga dirinya terasa sudah habis tak bersisa, lumat di bawah tatapan pria yang kini menjadi tuannya.

"Naik ke ranjang," perintah Arya lagi.

Sari merangkak naik dengan gerakan rapuh. Arya menarik pinggangnya, memaksa Sari duduk tepat di atas pahanya yang ber selonjor.

Arya memajukan tubuhnya, mengunci Sari dalam jarak yang begitu tipis hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Sari bisa merasakan hembusan napas Arya yang hangat dan beraroma mint menyapu kulit wajahnya, mengirimkan gelenyar aneh yang menakutkan sekaligus membingungkan.

Arya kembali tersenyum intim, senyum yang membuat Sari merasa kecil dan tidak berdaya. "Ini perintah pertamaku," bisik Arya serak. "Buka bajuku."

Mata Sari melotot terkejut. "Pa—Pak... saya..."

Arya justru semakin melebarkan senyumnya. Jenis senyum yang seolah berkata: Iya, ayo, cepat lakukan. Kamu tidak punya hak untuk menolak.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Sari mulai menyentuh kancing teratas piyama satin Arya. Ia sangat gugup, jemarinya terasa kaku.

Tanpa sengaja, ujung jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit dada Arya yang hangat. Sensasi itu seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh saraf Sari, menimbulkan desiran aneh yang membuatnya semakin canggung.

Suara detak jantung Sari kini benar-benar berisik di telinganya sendiri. Peluh dingin mulai membasahi pelipisnya.

Satu demi satu kancing baju terlepas, hingga akhirnya piyama satin itu tanggal dari bahu Arya, memperlihatkan tubuh atletis pria itu. Otot-otot dadanya yang padat dan bentuk abdominis yang terpahat sempurna seperti karya seni mahal membuat Sari secara refleks menelan ludah.

Takut, gelisah, dan berdebar menjadi satu adonan yang menyesakkan dadanya.

Arya meraih telapak tangan Sari yang mungil, lalu mengarahkan tangan itu ke atas salah satu pundaknya yang kokoh. Ia kembali mencondongkan tubuh, kali ini begitu dekat hingga kulit wajah mereka benar-benar bersentuhan. Arya kemudian memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya di dekat daun telinga Sari.

"Pijat aku, Sari," bisik Arya, suaranya menggetarkan udara di sekitar mereka. "Aku sangat lelah hari ini. Pastikan tanganmu bisa menenangkan aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   24. KEDAMAIAN MULAI RETAK

    Langkah kaki Sari dan Arya beradu di atas lantai marmer sebuah pusat perbelanjaan kelas atas yang berkilauan. Arya tidak lagi berjalan beberapa langkah di depan Sari seperti seorang majikan, melainkan berjalan bersisian, menggandeng tangan Sari dengan jemari yang saling bertaut erat. Sore itu, Arya membawa Sari menyusuri gerai-gerai desainer ternama, membiarkan gadis itu memilih apa pun yang ia sukai meski pada akhirnya, Aryalah yang lebih banyak mengambilkan gaun-gaun dari gantungan untuk Sari coba. "Mas, ini terlalu banyak. Aku tidak butuh baju sebanyak ini," bisik Sari saat mereka berada di dalam sebuah butik bergaya Prancis. Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti saat Sari keluar mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang pas di tubuhnya. Tatapan Arya melembut, sebuah binar kekaguman terpancar jelas dari matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Sari, dan menatap pantulan

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   23. DI LUAR BATAS KONTRAK

    Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   22. DINGIN YANG MULAI MEMUDAR

    Langkah kaki Arya yang tegas menggema di sepanjang koridor, namun kali ini tidak ada aura gelap yang mengikuti setiap ayunannya.Ia masuk ke dalam ruang kelas seminar dengan wibawa yang sama, tetapi sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak lebih tenang, hampir mendekati teduh. Ia meletakkan tas kulitnya di meja dosen, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang mendadak hening.Di barisan depan, Sari duduk dengan punggung tegak. Jika biasanya ia akan menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang ke bawah lantai, kali ini ia berani mengangkat wajah. Ia memperhatikan Arya yang sedang menyiapkan materi di layar proyektor. Melihat bagaimana jari-jari panjang pria itu bergerak lincah, jari-jari yang semalam membelai rambutnya dengan penuh kelembutan."Selamat pagi semuanya," sapa Arya. Suaranya bariton, mengisi setiap sudut ruangan tanpa ada nada intimidasi yang biasa ia gunakan untuk membungkam mahasiswa."Hari ini kita akan mel

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   21. ARYA YANG HANGAT

    Genggaman tangan Arya tidak ia lepaskan hingga mereka sampai di rumah. Jemari panjang pria itu masih bertaut erat pada jemari Sari bahkan saat mereka berjalan menuju kamar. Melewati keheningan rumah yang kini tidak lagi terasa mencekik, melainkan tenang dan privat."Mas... mau mandi duluan?" tanya Sari lirih saat mereka sudah berada di dalam kamar.Arya menoleh, menatap Sari dengan tatapan yang sulit diartikan namun terasa sangat lembut. "Bersama saja. Biar lebih cepat, setelah itu kita makan malam."Tidak ada perintah yang dingin, tidak ada paksaan yang mengintimidasi. Di bawah guyuran air hangat, suasana terasa jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya.Jika dulu air yang mengalir terasa seperti saksi bisu ketakutan Sari, kini air itu seolah membasuh sisa-sisa ketegangan mereka."Rambutmu sudah terlalu panjang, Sari," gumam Arya sambil membantu membasuhkan sampo ke rambut gadis itu. Gerakannya sangat hati-hati, jemarinya memijat kulit ke

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   20. HARI YANG LEBIH TENANG

    Sari mengerjapkan mata saat cahaya matahari pagi yang lembut menusuk kelopak matanya.Ia bergerak sedikit, dan seketika rasa kaku di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada penyerahan diri yang ia lakukan semalam.Saat ia menarik selimut lebih tinggi, ia bisa melihat pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar. Di balik helai kain sutra itu, bahu, dan dadanya penuh dengan tanda merah. jejak-jejak kepemilikan yang ditinggalkan Arya dengan begitu intens."Sudah bangun?" tanya Arya. Suaranya rendah, tidak ada nada dingin yang menusuk seperti hari-hari sebelumnya.Ia menoleh dan mendapati Arya sudah berdiri di sisi ranjang. Pria itu sudah rapi dengan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat dan jam tangan mewah yang selalu melingkar di sana.Arya tidak menatapnya dengan kemarahan atau kecurigaan. Pria itu justru berdiri diam, memperhatikan wajah Sari yang baru terbangun dengan tat

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   19. HANYA MILIK ARYA

    "Puas, Mas? Apa Mas puas melihatku dihina satu kampus tadi?"Suara Sari bergetar hebat saat mereka baru saja menginjakkan kaki di ruang tengah rumah mewah itu. Sari tidak lagi menunduk. Ia menatap lurus ke mata tajam Arya, mengabaikan rasa takut yang biasanya melumpuhkan sendi-sendinya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.Arya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja marmer dengan denting yang dingin, lalu melepaskan jam tangannya dengan gerakan yang sangat lambat."Kau bicara soal apa, Sari? Soal gosip mahasiswa yang tidak punya kerjaan itu?""Mas sengaja membiarkan mereka melihat kita keluar dari mobil yang sama! Mas sengaja merangkulku di depan Andra agar semua orang berpikir aku adalah wanita murahan!" Sari berteriak, suaranya pecah di tengah kesunyian rumah yang megah itu. "Dan di kelas tadi... Mas terus-menerus memojokkan Andra. Dia tidak salah apa-apa, Mas! Kenapa Mas begitu kejam padanya?"

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   11. JANGAN DI SINI

    Suara derit kursi yang bergeser karena dorongan tubuh Arya terdengar seperti suara guntur di telinga Sari.Ruang kelas itu kini terasa sangat sempit, seolah-olah oksigen telah habis diisap oleh ketegangan seksual yang meledak-ledak di antara mereka.Punggung Sari terhimpit meja

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   17. KLAIM UNTUK ANDRA

    Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout di kamar utama, memantul pada seprai sutra yang berantakan.Sari terbangun dengan perasaan yang asing. Ada ketenangan yang sempat singgah, sisa-sisa kelembutan Arya di bawah guyuran air semalam yang masih membekas di i

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   14. KEKUASAAN YANG MENEKAN

    Bunyi klik dari kunci otomatis di meja kerja Arya bergema seperti suara vonis mati di telinga. Sari tersentak, bahunya merosot saat menyadari bahwa ia hanya berdua saja dengan Arya di sini.Ruangan ini tidak lagi terasa seperti kantor dosen yang terhormat. Baginya, ini adalah sebuah alta

  • PELAMPIASAN HASRAT MAS ARYA   1. KESIALAN BERTUBI-TUBI

    Bunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.Rp30.150,-Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status