Home / Romansa / PEREMPUAN BERKALANG NODA / 111. Rencana Lamaran

Share

111. Rencana Lamaran

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-07-16 19:53:35

Fajar POV

"Calon suami Maya?"

Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu.

"Tidak, tidak itu tidak mungkin."

Aku menyanggah dengan gelisah.

"Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas."

"Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."

Aku menggeleng gamang.

"Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu."

"Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."

Aku sedikit mengunggah ketegasanku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
semoga saja lamaran itu tidak terjadi dan firasat Fajar benar ttg Anisa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    113. Drama Persidangan

    Maya POVTanganku masih gemetar menggenggam surat panggilan itu.Pada akhirnya aku harus menghadapi drama persidangan itu yang akan sangat mungkin menguras emosi.Jelas aku pasti akan dihadapkan pada pertanyaan demi pertanyaan yang selalu mengorek luka masa lalu, sebuah kisah yang sebenarnya sudah ingin aku kubur.Aku menelan ludah sambil menggenggam surat beramplop coklat itu."May..."Suara Fajar terdengar begitu lembut."Aku akan menemani kamu."Aku memejamkan mata sesaat."Aku takut, Jar.""Tak usah takut, hadapi saja semuanya dengan tenang."Aku mengangkat wajahku mulai menentang sorot mata Fajar yang selalu berusaha untuk melindungiku.Nyatanya perhatiannya malah menyusupkan perih di hati bila mengingat janji yang sebelumnya sudah aku cetuskan, untukku menjauh dari hidup pria berhati lembut itu.Fajar menatapku dengan penuh ketenangan."Kamu nggak sendiri."Tatapan itu membuat dadaku terasa hangat.Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya aku menganggukkan kepala pelan."Baik...

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    112. Alasan Untuk Bertemu

    Fajar POV"Bagaimana kalau kalian berdua ngobrol dulu di teras?" usul Ibu sambil menatapku bergantian dengan Anisa setelah kami selesai makan malam."Biar kalian bisa saling mengenal lebih dekat."Aku tak menemukan alasan untuk menolak. Dengan langkah pelan aku mengikuti Anisa menuju teras depan rumah. Malam terasa sejuk. Angin berembus perlahan, menggoyangkan tanaman melati yang ditanam ibu di sudut halaman.Beberapa detik kami sama-sama diam."Sudan lama mengajar?" tanyaku akhirnya, sekadar memecah keheningan."Iya cukup lama bahkan saat aku masih belum lulus sekolah aku sudah diminta abah untuk mengajar adik-adik sekolah dasar di TPQ.""Pasti sehari-hari kegiatan kamu padat terus."Anisa mengulas senyum tipis."Alhamdulillah, lumayan padat, Mas. Minggu ini anak-anak sedang persiapan ujian semester. Jadi saya lebih sering pulang sore karena harus mendampingi mereka belajar."Aku mengangguk pelan."Pasti melelahkan.""Capek memang, tapi menyenangkan. Saya senang kalau melihat murid-m

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    111. Rencana Lamaran

    Fajar POV"Calon suami Maya?"Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu."Tidak, tidak itu tidak mungkin."Aku menyanggah dengan gelisah."Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas.""Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."Aku menggeleng gamang."Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu.""Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."Aku sedikit mengunggah ketegasanku."Tapi Jar ...."Nada suara ibu terdengar menahanku.Aku segera membalas tatapan ibu. Lurus."Malam ini kamu jangan ke mana-mana."Aku mengernyit gundah."Keluarga Pak Husein akan datang bersama Anisa juga.""Untuk apa?""Mereka akan membicarakan tentang rencana lamaran kamu ke sana," ucap Ibu terdengar tanpa keraguan sedikitpun, seakan semua itu sudah beliau bicarakan kepadaku.Aku membeliak kecewa disertai dengan hembusan nafas panjang."Karena itu ibu tadi meminta bantuan pada Bulek Wati unt

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    110. Calon Suami Maya

    Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap ke rumah sakit.Setengah hati aku melangkah menuju meja makan. Pembicaraan dengan ibu semalam masih menyisakan gundah yang belum bisa aku netralkan.Sementara bayangan kehilangan untuk kedua kalinya dari sosok yang telah bertahun-tahun bertahta di hati menghantui dengan siksaan yang terasa kian perih.Belum lagi dengan rasa penasaranku yang tak tuntas. Dari mana sebetulnya ibu mengetahui tentang kisah kelam Maya, yang sebelumnya selalu aku rahasiakan.Aku mulai berandai-andai, jika saja aku sendiri yang menyampaikan fakta buruk Maya barangkali saja aku bisa membangkitkan perasaan maklum ibu.Tapi kini beliau justru mengetahui segalanya dari orang lain yang segera memantik sebuah sikap penghakiman yang sangat menyudutkan."Kamu sarapan dulu," ucap ibu yang kini sudah sibuk menyajikan tumis kangkung di atas meja.Aku yang sudah duduk di depan meja makan menatap semua masakan yang tersaji tanpa selera.Ibu bisa dengan segera menangkap sorot gelisahku."

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    109. Rahasia Yang Akhirnya Terungkap

    Fajar POV"Akhirnya kamu pulang, Jar."Suara ibu mengagetkan aku yang baru saja memasuki rumah.Suasana rumah yang sudah gelap jelas tak menyangka jika ibu sedang duduk di sofa ruang tamu, sedang menungguku.Aku melangkah gontai menuju saklar lampu, setelah menyalakannya aku mulai duduk di sisi ibu yang kini terlihat jelas tampak memandangku dengan ekspresi datar."Ibu, sudah menunggu dari tadi.""Kebetulan Ibu belum tidur, Fajar juga pengen ngomong sama Ibu."Bibir ini menjadi begitu mudah mengulas senyum. Gelenyar bahagia masih berbekas di hati setelah pertemuanku dengan Maya tadi. Sebuah pertemuan dimana kami bisa saling menguntai mimpi indah bersama.Keceriaanku berbanding terbalik dengan ekspresi yang kulihat saat ini dari wajah ibu.Tatapan beliau bahkan cenderung dingin.Senyumku pada akhirnya memudar.Tanpa sadar raut mukaku mulai memampang keseriusan."Apa Ibu ada hal penting yang ingin disampaikan?"Aku menjadi lebih berhati-hati. Sejak dulu aku selalu berusaha untuk menjaga

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    108. Berulangkali Melamar

    Maya POV"Apa kamu mencintai Hans?"Pertanyaan Carie membuat seluruh tubuhku menegang.Aku terpaku. Bibirku sedikit terbuka, tetapi tak satu kata pun berhasil keluar. Rasanya semua jawaban yang kusimpan di dalam hati mendadak menghilang.Aku bahkan belum sempat menarik napas."Maya."Suara Hans terdengar tenang memotong keheningan."Kami harus pergi."Aku menoleh cepat ke arahnya."Aku masih ada pekerjaan setelah ini."Carie tampak kecewa."Oh... padahal aku masih ingin mengobrol lebih lama."Hans hanya tersenyum tipis."Lain kali."Carie menghela napas pelan sebelum akhirnya berdiri dan memelukku dengan hangat."Senang bertemu denganmu, Maya."Aku membalas pelukannya sekadarnya."Terima kasih."Saat kami berbalik meninggalkan restoran, entah kenapa aku menoleh sekali lagi.Carie masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti langkah kami dengan penuh tanda tanya.Ada sesuatu dalam sorot matanya...Seolah-olah ia sedang mencoba memastikan sesuatu yang bahkan belum berhasil ia pahami

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    25. Kembali Pada Kenyataan

    Aku berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya yang terasa begitu asing.Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, padahal semalam… aku yakin tak ada apa pun yang tersisa di antara kami selain kehangatan.“Hans…” ulangku, lebih pelan.Akhirnya dia menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat. Setiap

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    22. Rasa Tak Terduga.

    “Apa yang harus aku lakukan?” ulangku pelan, masih mencoba menebak arah pikirannya.Bahkan aku tak bisa menepis tebakan kotorku bila mengingat keintiman yang selalu dia tuntut dariku, sebelumnya.Hans tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu menarikku berjalan lebih cepat menuju mob

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status