تسجيل الدخولMaya POV"Maya...."Aku perlahan mengangkat wajah.Air mataku masih membasahi pipi ketika kulihat Hans berdiri beberapa langkah di depanku. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan wajah yang terlihat lelah. Tatapannya penuh rasa bersalah."Aku sudah mencari kamu ke mana-mana."Aku segera berdiri lalu mengusap wajahku."Ada apa lagi?" tanyaku datar.Hans menghela napas panjang."Aku cuma ingin bicara.""Tentang apa? Kurasa sudah tak ada yang perlu dibicarakan."Aku mendesah pelan."Aku sudah menolak lamaranmu."Aku kemudian berbalik mengabaikan Hans yang masih menatapku lurus.Namun saat aku hendak melangkah pergi, Hans buru-buru berkata,"Kumohon ada yang ingin aku tunjukkan sama kamu."Aku mengernyit sejenak. Rasanya terlalu aneh mendapati sosok seperti Hans yang biasanya selalu otoriter kini malah memohon."Setelah ini kalau kamu tetap menolak, aku nggak akan memaksa lagi."Aku terdiam. Perlahan aku menoleh dan memandangnya.Hans menatapku dengan penuh kesungguhan.Aku akhirnya men
Maya POV"May, katakan padaku... apakah kamu masih mencintaiku?"Pertanyaan itu membuat tenggorokanku terasa tercekat.Aku hanya menunduk, menggenggam sendok yang tiba-tiba terasa begitu berat di tangan.Suasana ruang makan mendadak sunyi. Bahkan suara detik jam dinding terdengar begitu jelas di telingaku.Aku tak sanggup menatap wajah Fajar.Pertanyaannya justru menghidupkan kembali semua kenangan yang selama ini mati-matian coba aku kubur.Tentang segala kebersamaan kami dahulu, mulai dari awal saat kami masih memakai seragam abu-abu putih.Tentang canda tawa juga cita-cita kami di masa muda Dan tentang cinta yang selalu dia perjuangkan meski berkali-kali takdir memisahkan kami.Air mataku jatuh begitu saja.Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa semua itu sudah hilang?Tidak...Cinta itu masih ada.Masih sangat hidup.Bahkan mungkin lebih besar daripada sebelumnya.Justru karena aku masih mencintainya, aku tak ingin menghancurkan hidupnya.Aku mengangkat wajah perlahan.Kulihat ma
Maya POVAku langsung membuka mata saat kurasakan mobil yang dikendarai Fajar mulai berhenti. Nyatanya Fajar sekarang membawaku pulang ke rumah tersembunyinya. Rumah yang beberapa waktu silam pernah aku diami.Rumah yang dulu pernah menjadi tempatku berteduh ketika hidupku sedang berada di titik paling kelam.Aku menoleh ke arah Fajar."Jar, seharusnya kamu membawaku pulang ke kontrakan, bukan ke sini.""Sejak awal seharusnya kamu tidak perlu sampai mengontrak rumah. Kamu saja yang keras kepala."Fajar malah menyalahkan aku.Aku mengernyit jengah.Setelah itu Fajar keluar dari mobil begitu saja demi bisa membukakan pintu untukku.Ganti aku keluar dari dalam mobil lalu mengikuti langkah Fajar hingga masuk ke dalam rumah bercat putih itu."Apa ibu kamu masih belum kamu kasih tahu soal rumah ini?"Fajar hanya menggeleng menjawab pertanyaanku."Sampai kapan?"Fajar berkedik pelan sambil duduk di sofa ruang tamu.Mau tidak mau aku ikut duduk di sofa depannya.Aku menatapnya lebih lekat."
Maya POVTanganku masih gemetar menggenggam surat panggilan itu.Pada akhirnya aku harus menghadapi drama persidangan itu yang akan sangat mungkin menguras emosi.Jelas aku pasti akan dihadapkan pada pertanyaan demi pertanyaan yang selalu mengorek luka masa lalu, sebuah kisah yang sebenarnya sudah ingin aku kubur.Aku menelan ludah sambil menggenggam surat beramplop coklat itu."May..."Suara Fajar terdengar begitu lembut."Aku akan menemani kamu."Aku memejamkan mata sesaat."Aku takut, Jar.""Tak usah takut, hadapi saja semuanya dengan tenang."Aku mengangkat wajahku mulai menentang sorot mata Fajar yang selalu berusaha untuk melindungiku.Nyatanya perhatiannya malah menyusupkan perih di hati bila mengingat janji yang sebelumnya sudah aku cetuskan, untukku menjauh dari hidup pria berhati lembut itu.Fajar menatapku dengan penuh ketenangan."Kamu nggak sendiri."Tatapan itu membuat dadaku terasa hangat.Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya aku menganggukkan kepala pelan."Baik...
Fajar POV"Bagaimana kalau kalian berdua ngobrol dulu di teras?" usul Ibu sambil menatapku bergantian dengan Anisa setelah kami selesai makan malam."Biar kalian bisa saling mengenal lebih dekat."Aku tak menemukan alasan untuk menolak. Dengan langkah pelan aku mengikuti Anisa menuju teras depan rumah. Malam terasa sejuk. Angin berembus perlahan, menggoyangkan tanaman melati yang ditanam ibu di sudut halaman.Beberapa detik kami sama-sama diam."Sudan lama mengajar?" tanyaku akhirnya, sekadar memecah keheningan."Iya cukup lama bahkan saat aku masih belum lulus sekolah aku sudah diminta abah untuk mengajar adik-adik sekolah dasar di TPQ.""Pasti sehari-hari kegiatan kamu padat terus."Anisa mengulas senyum tipis."Alhamdulillah, lumayan padat, Mas. Minggu ini anak-anak sedang persiapan ujian semester. Jadi saya lebih sering pulang sore karena harus mendampingi mereka belajar."Aku mengangguk pelan."Pasti melelahkan.""Capek memang, tapi menyenangkan. Saya senang kalau melihat murid-m
Fajar POV"Calon suami Maya?"Aku terlalu kaget mendengar kalimat terakhir ibu."Tidak, tidak itu tidak mungkin."Aku menyanggah dengan gelisah."Tapi pria itu mengatakannya dengan sangat jelas.""Kamu bisa menanyakannya pada Pak Galih."Aku menggeleng gamang."Maya juga tidak mengingkari, dia tidak mengatakan apapun pada ibu. Dia terlihat sangat mudah mengabulkan permintaan ibu agar dia menjauhi kamu.""Kalau begitu aku akan menanyakannya pada Maya langsung."Aku sedikit mengunggah ketegasanku."Tapi Jar ...."Nada suara ibu terdengar menahanku.Aku segera membalas tatapan ibu. Lurus."Malam ini kamu jangan ke mana-mana."Aku mengernyit gundah."Keluarga Pak Husein akan datang bersama Anisa juga.""Untuk apa?""Mereka akan membicarakan tentang rencana lamaran kamu ke sana," ucap Ibu terdengar tanpa keraguan sedikitpun, seakan semua itu sudah beliau bicarakan kepadaku.Aku membeliak kecewa disertai dengan hembusan nafas panjang."Karena itu ibu tadi meminta bantuan pada Bulek Wati unt
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le
Maya POV"Sebentar lagi Benny akan datang, aku sudah menelponnya."Aku menggeleng panik.Bayangan menyeramkan malam itu kian memberiku siksaan."Mas, aku benar-benar tidak akan memaafkan kamu. Sejak awal memang tak seharusnya aku menyetujui perjodohan kita dulu, harusnya saat itu aku kabur, agar ak
"Rumah siapa ini Mas?""Untuk apa kita ke sini?" tanyaku dipenuhi rasa penasaran, ada gelisah yang semakin tak bisa kutulis kala memasuki daerah asing ini.Entah mengapa perasaanku seperti memendam sesuatu yang buruk sekarang.Tapi nyatanya saat kulihat Mas Angga mengukir segaris senyuman serta men
“Dita sakit, Mas,” ucapku tertahan seraya mendekap erat putriku yang malam ini suhu tubuhnya naik lagi.Lelaki yang sudah menikahiku enam tahun silam itu hanya melirikku, malas, sebelum perhatiannya kembali fokus pada layar ponsel di tangannya.Aku merangsek mendekat kian mengunggah kecemasan yang







