MasukSetelah ritual mandi yang cukup lama—meskipun Samudera harus menahan diri dengan sangat keras agar tidak kembali menerjang istrinya di atas lantai kamar mandi—mereka akhirnya keluar. Samudera hanya mengenakan celana dalam hitam, membiarkan tubuh bagian atasnya yang luar biasa kekar terekspos bebas. Tubuh Samudera benar-benar definisi dari proporsi tubuh yang sempurna dan intimidatif. Bahunya luar biasa lebar dan tegap, dadanya bidang berlapis otot padat yang tebal, dan perutnya membentuk deretan eight-pack yang sangat simetris dan keras. Ditambah lagi dengan tinggi badannya yang menjulang tinggi, menjadikannya sosok yang begitu dominan. Saat Samudera sedang berdiri menghadap cermin besar untuk menyisir rambut tebalnya yang setengah basah, Seraphine berjalan mendekat dari arah belakang. Dengan gerakan perlahan, ia melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling perut berotot Samudera, menyandarkan pipinya pada punggung lebar sang suami. Seraphine tertegun sejenak saat merasakan b
Pagi itu, Seraphine adalah yang pertama kali membuka mata. Rasa lelah masih menggelayuti seluruh persendiannya. Namun, yang pertama kali menyapa kesadarannya bukan rasa sakit itu, melainkan beban berat yang menempel erat di atas dadanya. Samudera masih di sana. Wajah tampannya terbenam nyaman di antara belahan dadanya. Tangan kekarnya melingkar protektif di sekiling pinggang ramping Seraphine. Membuat Seraphine tersenyum tipis dan menyusupkan jemari lentiknya ke rambut tebal Samudera, mengelusnya dengan penuh kasih sayang. "Sam... bangun, Sayang," bisik Seraphine lembut, suaranya masih sedikit serak khas orang bangun tidur, berbaur dengan sisa keparauan akibat desahan malam tadi. "Udah jam lima. Kamu harus siap-siap. Nanti telat ke bandaranya." Samudera hanya melenguh rendah. Bukannya menjauh, pria itu justru semakin mempererat pelukannya, membawa tubuh polos Seraphine semakin menempel tanpa celah pada dada bidangnya yang telanjang. Bibirnya bergerak liar, menghisap kembali pucuk d
"AAHHH... Sam... mhhh, geli..." Seraphine melenguh, jarinya bergerak secara naluriah menyusup ke dalam rambut tebal Samudera, mencengkeramnya pelan saat rasa geli dan nikmat kembali menjalar dari dadanya. "Katanya... hhh... katanya cuma mau nenen... jangan digigit... mhhh..." "Nggghhh... enak banget, Sera..." gumam Samudera di sela-sela kegiatannya menghisap dada istrinya. Suara decapan basah kembali terdengar di dalam kamar. Pria itu benar-benar memperlakukan dada Seraphine seperti milik anak bayi, menghisapnya dengan kuat, memainkan lidahnya di sekitar puting yang mengeras, membuat tubuh Seraphine kembali bergetar halus. "Bau kamu... rasa kulit kamu... semuanya bakal bikin aku kangen setengah mati di sana." "Mhhh... Sam... ahhh... kalau kangen... kan bisa video call... akhh, jangan terlalu kenceng hisapnya..." Seraphine memejamkan matanya, menikmati kelembutan yang diberikan Samudera setelah permainan brutal mereka sebelumnya. "Nggak sama, Sayang. Video call gak bisa bikin aku ng
Keduanya terengah-engah hebat. Seraphine meletakkan kepalanya di bahu Samudera, tubuhnya nyaris merosot jatuh ke atas kasur jika tangan kekar pria itu tidak menahan pinggang dan bokongnya dengan kuat. Sisa-sisa kontraksi dari orgasme ketiga mereka masih terasa seperti sengatan listrik kecil yang berkedut di dalam liang intim Seraphine, memeras perlahan sisa-sisa benih panas Samudera yang kini sudah meluap, membanjiri perpotongan paha mereka hingga menetes kotor ke atas sprei putih yang sudah berantakan."Hhh... hhh... Sam... cabut... please, keluarin..." rintih Seraphine dengan suara yang teramat serak, nyaris habis. Bibirnya yang bengkak kemerahan menempel di ceruk leher Samudera, menghirup aroma maskulin suaminya yang kini bercampur dengan bau keringat dan gairah yang pekat. "Perut aku... akhh, begah banget, Sam... Punya kamu masih di dalem... ganjel banget... hhh..."Samudera tidak langsung menuruti perintah istrinya. Pria itu justru mempererat pelukannya pada tubuh polos Seraphine
“Sam… dengerin aku… demi Tuhan, Samudera…” Seraphine terisak kecil di atas bantal, suaranya parau nyaris habis.Kedua tangannya yang lemas mencoba mencengeram seprai, menggunakan sisa-sisa tenaga di ujung jemarinya untuk merangkak mundur. Ia ingin melarikan diri dari wilayah tengah ranjang ini.Samudera hanya menyeringai tipis. Dengan satu gerakan santai namun penuh perhitungan, tangan besarnya meluncur ke bawah, mencengkeram pergelangan kaki kanan Seraphine yang ramping."Mau ke mana, Sayang? Hm?" bisik Samudera, suaranya deep dan serak. Ia menyeret tubuh Seraphine kembali ke bawah kungkungannya dengan satu tarikan mudah. "Permainan kita baru dimulai. Siapa yang ngizinin kamu kabur?"“Sam… pelase… ini udah ronde kedua… Rahim aku rasanya mau copot, Sam,” ujar Seraphine dengan napas putus-putus.“Nggak ada alasan, Nyonya Wicaksana,” potong Samudera.Pria itu merangkak naik, mengunci tubuh Seraphine di antara kedua paha kokohnya. T
"Sembilan belas kali lagi?! Samudera, kamu mau bunuh aku?!"Seraphine membelalakkan matanya, menatap horor pada suaminya yang kini menyeringai lebar dengan wajah basah oleh keringat. Tangan wanita itu dengan lemah memukul dada bidang Samudera, mencoba mendorong tubuh berat yang masih menindihnya itu. Namun jangankan bergeser, otot-otot di lengan Samudera justru semakin mengencang, mengunci posisi mereka agar tak ada jarak sedikit pun.Samudera tertawa rendah, sebuah tawa maskulin yang bergetar di dadanya dan terasa hingga ke kulit Seraphine. Tangan besarnya menangkap kedua pergelangan tangan istrinya, lalu menguncinya di atas kepala Seraphine dengan mudah menggunakan satu tangan saja."Siapa suruh kamu cantik banget malam ini, hm?" goda Samudera dengan suara parau yang memabukkan. Hidung mancungnya menggesek rahang Seraphine. "Siapa suruh kamu repot-repot beliin barang buat anak-anak Motion13? Siapa suruh kamu ngingetin aku buat jaga kesehatan pakai suara lembut kayak gitu? Kamu sendi
Seraphine tersenyum tipis, sebuah binar jenaka sekaligus hangat terpancar dari matanya. "Kamu mau tahu yang beneran? Kamu jangan ngamuk ya?" "Tergantung jawabannya," sahut Samudera sambil menaikkan sebelah alisnya. "Pas kamu pamitan di dalam mobil sebelum berangkat world tour ke London sebulan
Suasana di kamar itu masih dipenuhi dengan keheningan. Samudera masih mengusap lembut lengan istrinya dengan gerakan yang ritmis, sesekali mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang, membuat Seraphine yang bersandar di dada bidang suaminya menikmati momen ini sambil memejamkan mata. Tetapi, sema
Samudera sampai rumah tepat saat waktu menunjukkan pukul 17.30. Ia langsung berjalan cepat menuju kamar utama. Senyumannya mengembang hanya dengan membayangkan ada istri cantik yang menunggunya. Begitu pintu kamar terbuka, pandangan Samudera langsung terkunci pada sosok wanita yang sedang bersandar
Tepat pukul 15.50 WIB, Samudera sudah berada di basement apartemen mewah tempat Jauzan tinggal. Samudera tidak langsung turun dari mobil SUV hitamnya, ia menyandarkan kepala sejenak pada sandaran kursi, memejamkan mata untuk mengambil napas panjang berulang kali.Kata-kata Seraphine sebelum ia bera







