LOGINMaxwell segera menambahkan, “Nona Elora, Pak Jeffry meminta Anda meneruskan foto-foto itu kepadaku, termasuk IP orang yang kirimkan.”“Baik.”Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi antara Jeffry dan Shelly di Kota Sentara, seseorang sengaja mengambil foto-foto itu dan mengirimkannya kepadanya untuk mengadu domba hubungannya dengan Jeffry.Belum lama ini, Elora baru saja mencelakai Jeffry sekali. Kali ini, dia tidak boleh melakukan kesalahan lagi.Setelah menerima foto-foto itu, Maxwell membalas Elora dengan satu kata "OK".Kemudian, dia segera menyelidiki kedua foto tersebut.Karena sejak awal sudah memiliki arah penyelidikan, menemukan petunjuk kecil bukanlah hal yang sulit.Setelah mengatur beberapa hal, Jeffry berdiri dan pergi ke kantor Shelly.“Pak Jeffry, apa rapatnya sudah bisa dimulai?”Pintu kantor Shelly terbuka. Dia berdiri dan berjalan keluar dari balik meja kerja.Jeffry berhenti di samping meja kerjanya, lalu mengetukkan ujung jarinya dua kali di atas meja.“Kita difoto
Gerakan Shelly yang sedang makan tiba-tiba berhenti. Sarapannya bahkan belum sempat masuk ke mulut.“Baik.”Setelah dia menjawab, telepon langsung ditutup.Suasana hening beberapa saat, lalu Tania bersuara heran.“Eh? Kenapa jam tangan Pak Jeffry bisa ada di rumah Anda?”“Kamu pergi ambil.” Shelly menyerahkan kunci rumah kepadanya. “Cepat pergi dan cepat kembali.”Tania menerima kunci itu. Matanya bergerak-gerak sambil mengamati Shelly.Shelly tidak punya pilihan selain menambahkan penjelasan, “Kemarin demam Pak Jeffry tidak turun. Dia tidak membawa siapa pun ke Kota Sentara, jadi aku yang merawatnya.”“Aku juga sudah menduganya.” Tania tersenyum. “Anda masih hamil. Pasti hanya merawat Pak Jeffry. Tidak mungkin terjadi apa-apa.”“???”Kalau Tania tidak mengatakan apa-apa, mungkin masih lebih baik.Begitu dia mengatakannya, justru terdengar seperti sengaja menutupi sesuatu yang sebenarnya sudah jelas.Alis tipis Shelly langsung berkerut.Namun, Tania sudah berjalan keluar.Saat sampai d
“Pak Jeffry, akhirnya Anda datang sendiri.”Perkataan itu terdengar mengandung maksud lain, seolah-olah Shelly yang dikirim Jeffry ke sini adalah orang yang sangat tidak bisa diandalkan.Kelopak mata Jeffry yang sedikit terpejam perlahan terbuka. Tatapan penuh wibawa jatuh pada Wesley.Ini adalah pertama kalinya Wesley bertemu Jeffry.Dia merasa seluruh darah di tubuhnya seperti membeku dan tubuhnya mati rasa.“Bu Shelly.”Jeffry membuka bibir tipisnya dan melontarkan dua kata itu.Shelly langsung memahami maksudnya dan menurunkan kaca mobil.“Setengah jam lagi kita rapat. Sebelum itu, jangan mengganggu Pak Jeffry.”Wajah Wesley tampak canggung.Dia tahu Jeffry datang untuk mendukung Shelly.Namun, dia tidak menyangka Jeffry akan bersikap begitu tegas dan sama sekali tidak menghargainya.Wesley menutup pintu mobil, lalu mundur dua langkah untuk memberi jalan.Shelly pun mengendarai mobil menuju tempat parkir bawah tanah.Setelah turun, Shelly hendak membukakan pintu untuk Jeffry, tetap
“Dasar gila.”Joycelin bingung melihat Harrison tiba-tiba berbalik dan pergi begitu saja.Dia juga tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Harrison. Alhasil, dia pun berbalik dan melanjutkan belanja untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Kota Sentara.…Pukul enam pagi, Shelly terbangun karena suara alarm.Dia segera mematikan alarm ponsel, bangun, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Baru sampai setengah, bel pintu tiba-tiba berbunyi berkali-kali dengan cepat dan mendesak.Shelly menyelesaikan sikat giginya. Bahkan belum sempat mencuci wajah, dia langsung berlari membuka pintu.“Sarapan.”Saryna membawa piring porselen putih kecil. Roti lapis di atasnya terlihat cantik dan menggugah selera. Dia membuatnya sendiri.“Baik.”Shelly mengulurkan tangan untuk mengambil piring.Namun, sebelum tangannya menyentuh piring, Saryna sudah menepisnya.“Kamu lanjut bersih-bersih saja. Biar aku yang bawa masuk. Kebetulan kamu bisa jelaskan kepadaku sebenarnya ada apa dengan Jeffry.”S
Joycelin menggaruk kepalanya. “Orang yang seharusnya pergi ke Kota Sentara malah nggak pergi. Orang yang nggak seharusnya pergi justru pergi secepat itu.”“Siapa yang seharusnya pergi?” Nenek Mina menurunkan sedikit kacamata bacanya dan menatap Joycelin. “Kamu mau pergi?”“Bukan aku, tapi Harrison.” Joycelin berkata dengan penuh keyakinan, “Nenek mungkin belum tahu. Belakangan ini, Harrison pergi kencan buta setiap hari. Hampir semua wanita muda di Tavira sudah ditemuinya!”Kalau hubungan Keluarga Anderson dan Keluarga Wijaya tidak sedingin yang terlihat di permukaan, mungkin Joycelin sendiri juga sudah dijodohkan untuk kencan buta dengan Harrison.“Kamu masih belum mengerti?” Nenek Mina menghela napas. “Keluarga Wijaya pasti nggak setuju Lyly masuk ke keluarga mereka.”“Aku akan mencari karung, menculik Harrison, lalu menghajarnya habis-habisan. Dasar bajingan!”Joycelin begitu marah sampai menggertakkan gigi.Menurutnya, pria berengsek seperti Harrison sama sekali tidak pantas untuk
Gerakan Shelly mengangkat tangan untuk membuka pintu mobil membuat gaunnya menempel mengikuti bentuk tubuhnya.Perutnya yang sedikit membuncit terlihat sangat jelas.Tatapan Jeffry bergerak turun dan berhenti pada perutnya.Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan perlahan menyebar di dalam hatinya.“Bisa berdiri sendiri? Aku bantu.”Shelly membungkuk dan memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil, mencoba menopang Jeffry.Lengan Jeffry sedikit bergerak untuk menghindari tangannya.“Aku bisa sendiri.”Mendengar itu, Shelly pun berdiri tegak dan memberi jalan.Jeffry turun dari mobil. Langkahnya sedikit lemah saat berjalan menuju rumah Shelly.Shelly menutup pintu mobil, mengeluarkan kunci, lalu berjalan cepat menuju rumah. Dia mendahului Jeffry untuk membuka pintu.“Di sini ada sandal ….”Dia membungkuk hendak mengambil sandal dari dalam lemari.Namun, pergelangan tangannya tiba-tiba terasa erat karena digenggam tangan Jeffry yang memiliki ruas jari tegas.Jeffry berjongkok, membuka lema
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan
Napas Shelly seketika tertahan. Dia segera menjelaskan, “Saya merasa urusan pernikahan Anda dengan Nona Elora jauh lebih penting.”Sebagai sekretaris Jeffry, dia memang memiliki wewenang untuk menyesuaikan jadwal kerja secara wajar.Selama ini Jeffry tidak pernah mempermasalahkannya.Namun kali ini







