LOGINSetelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang
Anya refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa teramat malu sekaligus terangsang hebat melihat pemandangan vulgar nan erotis dari pantulan diri mereka sendiri. Cermin sebagai saksi kenikmatannya."Mas, jangan lihat, saya malu," bisik Anya dengan suara yang bergetar.Bagas memeluk tubuh Anya yang menggantung dari belakang, menumpukan dagunya di bahu ramping sang asisten sambil menatap tajam pantulan mata sayu Anya di cermin. Ia menurunkan paksa tangan Anya dari wajahnya, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat tanpa mengendurkan sedikit pun penyatuan intim mereka."Buka matamu, Sayang. Lihat ke cermin! Lihat bagaimana cantiknya dirimu saat saya miliki seutuhnya seperti ini," bisik Bagas dengan nada yang terdengar begitu romantis namun teramat panas, membuat jantung Anya berdentum dua kali lebih cepat. "Kamu adalah milik saya, dan pantulan di depan sana adalah buktinya."Bagas sengaja tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Anya menatapi pantulan tubuh mereka seje
Bagas menyunggingkan seringai puas saat melihat kemejanya kini telah menyatu dengan pakaian Anya, berserakan tak berdaya di atas lantai marmer ruang kerja. Kulit polos mereka yang saling bersentuhan tanpa pembatas seolah menciptakan sengatan listrik yang kian membakar atmosfer ruangan.Dengan dominasi yang mutlak, Bagas meraih pinggang ramping Anya. Ia menuntun tubuh molek sekretarisnya itu untuk berbalik, membelakanginya dan menghadap langsung ke arah meja kerja jati yang kokoh."Mas... apa tidak terlalu berisiko?" bisik Anya parau dengan napas yang memburu, melirik gugup ke arah pintu ruang kerja lewat sudut matanya.Bagas hanya menyunggingkan seringai tipis. Ia menunduk, mengecup tengkuk Anya yang mulus dengan kehangatan yang intim sebelum berbisik seksi, "Risiko terbesar saya adalah kehilangan kendali atas diri kamu, Anya. Jadi diam dan nikmati ini," geram Bagas rendah.Bagas merapatkan dada bidangnya yang tegap pada punggung polos Anya, merasakan detak jantung wanita itu yang ber
"Tamu atas nama, Ibu Claudia." Jawaban itu, terdengar jelas oleh Anya.Mendengar nama itu disebut, Bagas langsung menjawab dengan nada tegas dan penuh penekanan."Sampaikan kepada dia, saya tidak datang ke kantor. Minta dia pulang," perintah Bagas.Begitu Bagas menutup gagang telepon dengan hentakan pelan, suasana ruangan mendadak diselimuti kecurigaan yang tipis. Anya langsung melangkah mendekat, menatap sang CEO dengan sepasang mata yang menuntut penjelasan."Siapa Mas, Claudia itu?" tanya Anya langsung, mencoba menahan getaran penasaran sekaligus cemburu di dalam suaranya.Bagas berbalik, menatap Anya. Ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh mereka kembali berdekatan. Ditangkupnya kedua pipi Anya dengan tangan hangatnya, memaksa sang sekretaris untuk menatap langsung ke dalam manik matanya demi memberikan keyakinan penuh."Bukan siapa-siapa, sayang. Dia hanya wanita yang memang terobsesi untuk menjadi istri Saya, tapi Saya sama sekali tidak tertarik," jawab
Melihat reaksi Anya, Bagas tidak terburu-buru untuk langsung menyatukan kembali tubuh mereka. Setelah membaringkan Anya dalam posisi miring, Bagas merendahkan tubuhnya, perlahan mengangkat satu paha mulus Anya untuk bersandar di atas bahu kekarnya, membuka akses penuh pada keindahan di bawah sana. Tanpa memberikan aba-aba, Bagas langsung menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibir serta lidah hangatnya, menghisap bagian intim Anya dengan begitu lahap dan berirama."Mas Bagas, ahhh! Jangan dihisap lagi, Mas, emhh, geli sekali," jerit Anya tertahan, jemari tangannya meremas kuat bantal sofa kulit saat merasakan lidah Bagas bergerak kian piawai memanjakan pusat sensitivitasnya.Bagas terkekeh rendah di sela-sela kegiatannya, suaranya terdengar teredam namun sarat akan kepuasan mutlak. Ia mendongak sekilas, menatap wajah merona Anya dengan pandangan yang begitu dalam."Kamu tinggal menikmati bagaimana cara saya memujamu, Anya. Katakan, apa lidah saya terasa jauh lebih nikmat di bawah sana
"Mas Bagas, ahhh, saya milik Mas Bagas pagi ini. Tolong, hentikan gesekannya, Mas," rintih Anya pasrah, akhirnya menyerahkan seluruh harga dirinya demi menuntaskan dahaga gairah yang membakar.Bagas tersenyum puas mendengar pengakuan tulus dari belahan bibir Anya. Tanpa membuang waktu lagi, ia merangsek maju dan menyatukan tubuh mereka dalam satu hentakan dalam yang mantap. Anya memekik tertahan, tubuhnya menegang sempurna saat kejantanan Bagas langsung memenuhi dirinya tanpa menyisakan celah.Belum sempat Anya mengatur napasnya yang memburu akibat hantaman kenikmatan itu, Bagas tiba-tiba mencengkeram pinggang ramping Anya. Dengan kekuatan fisiknya yang dominan, ia mengangkat tubuh Anya dari atas permukaan meja kerja, sama sekali tanpa melepaskan penyatuan panas di antara mereka."Mas Bagas! Ahhh! Jatuh, saya takut jatuh, Mas!" jerit Anya panik dalam kegelapan kasat mata yang mengurungnya.Mau tidak mau, didorong rasa takut akan ketinggian dan posisi yang melayang, Anya refleks merang
"Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka
"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras,
Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, menc
“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata







