Share

6. Naya Terdesak!

Author: Dre LA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-08 15:15:51

Mata Dewa memerah seketika. Urat di pelipisnya menonjol keluar saat mendengar ancaman dari Naya tersebut.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Naya, membuat wanita itu terhuyung dan menabrak ujung ranjang. Namun, sebelum Naya bisa menyeimbangkan diri, Dewa sudah menerjang maju dan mencengkeram rahang Naya dengan kasar, memaksa wanita itu mendongak menatapnya.

"Lepaskan! Sakit, Dewa!" rintih Naya, air matanya jatuh membasahi tangan suaminya.

"Berani sekali kamu mengancamku, Pelacur Kecil?!" desis Dewa dengan napas memburu, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Naya yang ketakutan. "Kamu pikir ada yang akan percaya pada omongan wanita miskin kayak kamu?! Kamu pikir ibuku akan mendengarkan pembelaanmu, hah?!"

"A-aku... aku akan membuktikan semuanya!"

"Dengan apa?! Nggak bakalan ada yang akan membelamu di rumah ini, Naya!" Dewa menghempaskan wajah Naya hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

Dewa merogoh saku jasnya dengan kasar, mengeluarkan ponsel pintarnya, dan menekan nomor panggilan darurat.

"Apa yang kamu lakukan, Dewa?!" teriak Naya panik, berusaha bangkit.

"Kamu ingin bermain-main dengan nyawa, kan? Mari kita lihat seberapa besar harga dirimu sekarang!" Dewa menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo? Sambungkan saya dengan Direktur Rumah Sakit Medika sekarang juga. Ya, ini Dewa. Cepat!"

"Dewa, kumohon, hentikan! Tutup telepon itu!" Naya memohon, merangkak mendekati kaki suaminya sambil menangis ketakutan saat tahu apa yang hendak Dewa lakukan.

"Halo, Dokter Haris? Ya, ini saya, Dewa," ucap Dewa dingin, menatap tajam ke arah Naya yang kini bersimpuh di depannya. "Malam ini juga, detik ini juga, cabut semua fasilitas VVIP untuk pasien bernama Surya Kusuma."

"TIDAK! Dewa, jangan!" jerit Naya histeris, mencoba meraih ponsel di tangan suaminya, namun Dewa menendang pelan bahu Naya hingga wanita itu kembali tersungkur.

"Ya, Anda tidak salah dengar, Dokter," lanjut Dewa tanpa ampun, sama sekali tidak mempedulikan tangisan histeris istrinya di lantai. "Hentikan semua pasokan obatnya. Tarik semua perawat khusus dari kamarnya. Matikan ventilatornya jika perlu. Keluarga kami menarik seluruh pendanaan untuk orang tua itu malam ini juga! Jangan berikan perawatan apa pun kecuali ada yang membayar lunas depositnya!"

"Dewa, berikan ponsel itu padaku! Kumohon, Dewa, ampuni ayahku!" Naya menjerit sejadi-jadinya, air matanya membanjiri wajahnya yang kembali memar. Ia menarik-narik celana kain Dewa dengan putus asa.

Dewa memutus sambungan telepon itu secara sepihak dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia merapikan kerah jasnya dengan santai, menatap Naya yang menangis meraung-raung di bawah kakinya layaknya serangga yang tak berharga.

"Malam ini aku akan pergi ke kelab malam. Aku butuh hiburan setelah mendengar penolakan kasarmu tadi," ucap Dewa dengan nada mengejek.

"Dewa, cabut perintahmu, kumohon... Ayahku butuh alat itu untuk bernapas..." isak Naya, suaranya hampir habis.

"Sementara aku bersenang-senang, kamu punya banyak waktu untuk berpikir, Naya," potong Dewa dingin, berbalik menuju pintu kamar. "Pikirkan baik-baik penawaranku. Masuk ke kamar Rekha dan berikan aku ahli waris, atau kamu bisa mulai menggelar tikar untuk acara pemakaman ayahmu besok pagi."

Tanpa menoleh lagi, Dewa membuka pintu dan melangkah keluar, membantingnya dengan keras dan meninggalkan Naya yang hancur lebur sendirian di atas lantai yang dingin.

Naya memeluk tubuhnya sendiri, menangis terisak hingga napasnya tersengal. Dunia seakan runtuh menimpanya. Ia tidak punya siapa-siapa. Ia tidak punya uang. Ayahnya adalah satu-satunya alasan ia bertahan hidup di neraka ini.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, hanya diisi oleh suara isak tangis Naya.

Tiba-tiba, ponsel Naya yang tergeletak di atas meja nakas berdering nyaring.

Naya tersentak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia merangkak mendekati meja dan meraih ponselnya. Tertera nama 'Dokter Haris' di layar. Tangan Naya bergetar hebat saat menggeser tombol hijau.

"Halo... Dokter? B-bagaimana keadaan ayahku?" tanya Naya dengan suara serak.

"Nona Naya?! Syukurlah Anda mengangkatnya!" Suara Dokter Haris di seberang sana terdengar sangat panik dan dipenuhi suara bising alat medis di latar belakang. "Nona, Anda harus ke rumah sakit sekarang juga!"

"Ada apa, Dok?! Apa yang terjadi pada ayahku?!" jerit Naya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Beliau kritis, Nona! Tekanan darahnya anjlok drastis dan jantungnya baru saja berhenti berdetak beberapa menit yang lalu!"

"Lakukan tindakan, Dok! Kumohon selamatkan nyawa ayahku! Gunakan alat pemacunya!"

"Kami tidak bisa, Nona! Sistem administrasi rumah sakit secara otomatis memblokir semua akses pengobatan dan obat darurat untuk Tuan Surya setelah perintah pemutusan dana dari Tuan Dewa tadi! Kami tidak punya izin untuk memindahkannya ke ruang ICU darurat!"

"Tolong, Dok, bantu aku! Lakukan apa pun, aku akan cari uangnya! Aku mohon selamatkan ayahku!" tangis Naya meledak tak terkendali.

"Waktu kita tidak banyak, Nona Naya! Jika Anda tidak datang ke sini dalam waktu setengah jam dengan membawa persetujuan pencairan dana atau pelunasan deposit baru, nyawa Tuan Surya benar-benar tidak akan tertolong! Cepat datang kemari, Nona!"

*Tut. Tut. Tut.*

Sambungan terputus. Ponsel terlepas dari genggaman Naya, jatuh berdenting di atas lantai. Naya berteriak histeris, mengutuk takdirnya, mengutuk suaminya, dan menyadari bahwa ia baru saja didorong ke ujung tebing keputusasaan yang tidak memiliki jalan kembali.

"Aku harus gimana? Benarkah satu-satunya jalan adalah tidur dengan Rekha?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Telepon Tak Terduga

    "Mhhh... ahhh... terus... lebih keras, Rekha... mhhh!" Suara decakan basah dari gesekan daging dan benturan kulit yang keras mulai mendominasi seluruh penjuru ruangan. "Panggil namaku terus, Naya... hhh... jangan berhenti..." "Rekha! Akhhh! Rekha... aku mau keluar... ahhhh! Aku nggak tahan lagi!" Tubuh Naya seketika menegang kaku, sementara sepuluh jari kakinya melengkung tajam. Ia menjerit tertahan saat gelombang orgasme yang sangat dahsyat menghantam kesadarannya berkali-kali. "Ahhhhh! Rekhaaa!" Rekha memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasakan kedutan hebat di dinding dalam Naya yang menjepit erat batangnya tanpa ampun. "Shit... Naya... nghhh! Menjepit sekali... akhhh!" Rekha mengerang sangat panjang karena ia merasakan semburan panasnya akan segera datang. Dengan satu gerakan kilat, Rekha menarik pinggulnya mundur menjauh dari celah basah tersebut. Terdengar suara *pop* yang sangat nyaring saat batang raksasa itu terlepas keluar tepat satu detik sebelum ledakan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan Aku, Sayang!

    Rekha akhirnya melepaskan tautan ciuman mereka karena paru-paru mereka kembali menuntut pasokan udara, tetapi pria itu tetap menahan wajahnya agar berjarak hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Naya yang memerah padam. Mereka saling menatap langsung ke dalam mata satu sama lain dengan intensitas yang sangat membakar, sementara napas mereka yang sama-sama tersengal-sengal beradu panas di udara sempit di antara wajah mereka berdua. "Aku siap, Rekha... hancurkan aku..." bisik Naya dengan suara penuh gairah, matanya menatap tajam ke dalam sorot kelam pria itu. "Kamu yakin?" tanya Rekha dengan suara berat, dahinya berkeringat karena menahan ledakan yang semakin mendekat. "Aku yakin... aku ingin kita keluar, bersama-sama..." jawab Naya sambil mengangguk pelan, tangannya meraih tengkuk Rekha dan menariknya lebih dekat. Sorot mata kelam Rekha menelusuri setiap inci fitur wajah Naya yang basah oleh keringat, sedangkan Naya menatap balik manik mata tajam pria itu dengan sorot mata yang s

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Puaskan Aku!

    "Tahan sebentar, Naya... aku ingin merasakanmu lebih lama..." jawab Rekha dengan suara serak dan penuh nafsu, tetapi ritme pinggulnya semakin cepat tanpa bisa dikendalikan. Payudara Naya yang penuh dan bulat terus bergoyang liar ke segala arah akibat guncangan yang tidak stabil tersebut, seiring dengan tempo Rekha yang makin lama berubah menjadi semakin brutal dan tidak terkendali. "Nggak bisa... Rekha! Aku... aku tidak tahan lagi!" teriak Naya dengan suara parau, tubuhnya mulai kejang-kejang di bawah cengkeraman pria itu. "Tahan... tahan, Sayang... tunggu aku..." desah Rekha dengan napas tersengal, otot perutnya menegang sempurna setiap kali ia menumbuk Naya dengan segenap tenaga. Gempuran keras itu terus berlangsung tanpa penurunan intensitas sama sekali, sampai akhirnya setelah beberapa menit berlalu dalam siksaan nikmat yang membutakan akal sehat, Rekha merasakan perubahan fisik pada tubuh wanita di bawahnya. Naya tiba-tiba melepaskan cengkeraman putus asanya dari sprei kasur

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Semakin Liar

    Rekha terdiam sejenak untuk memulihkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya yang terasa terbakar, lalu pria itu segera bangun dari posisinya karena sisa-sisa gairah di dalam aliran darahnya masih terus bergejolak menuntut penuntasan yang lebih jauh. Dia perlahan menggeser tubuh besarnya yang bersimbah peluh ke arah ujung kasur, kemudian ia memposisikan dirinya berlutut tepat di antara kedua kaki Naya yang masih terbaring lemas akibat sisa orgasme sebelumnya. "Sayangku, Naya...."Rekha menatap tubuh telanjang Naya dengan sorot mata kelam yang dipenuhi oleh hasrat mendominasi, lalu ia menjulurkan kedua lengannya yang kekar untuk mengangkat kedua kaki jenjang wanita itu secara bersamaan. "A-apa yang mau kamu lakukan, Rekha?!" Naya sedikit panik saat melihat kobaran gairah di mata Rekha.Tanpa memberikan banyak waktu bagi Naya untuk memprotes, Rekha segera menyampirkan pergelangan kaki Naya ke atas bahu kiri dan bahu kanannya secara mantap, sehingga ia mengunci pergerakan wanita itu s

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Goyang Di Atas

    Rekha mengerang tertahan karena ia merasa gila, lalu ia refleks menyentakkan pinggulnya ke atas untuk menusuk Naya jauh lebih dalam lagi."Aku akan mati kalau kau terus begini..." desis Rekha dengan napas tersengal.Namun, Naya langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menekan bahu Rekha kuat-kuat ke matras agar punggung pria itu tetap rata menyentuh kasur."Kau kuasai sepenuhnya!" erang Rekha pasrah.Naya kembali menegakkan punggungnya, kemudian ia mulai memacu pinggulnya bergerak naik dan turun dengan ritme konstan, seolah ia sedang mengendalikan alur cerita percintaan mereka bagaikan seorang kreator jenius yang tengah mengeksekusi skenario sempurnanya."Hnnggh... lihat... aku yang menentukan segalanya," bisik Naya di antara hentakannya.Saat ia mengangkat tubuhnya, Naya sengaja memperlambat gerakannya supaya ia bisa menikmati setiap jengkal gesekan di dinding vaginanya, tetapi saat ia turun, Naya menekan kuat titik pertemuan mereka sehingga benturan yang tercipta terasa sangat

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Besar Sekali!

    "Dua puluh sentimeter panjangnya, dan empat sentimeter lebarnya," jawab Rekha dengan suara yang sangat serak, karena gairahnya sudah nyaris meruntuhkan akal sehatnya."Ya Tuhan... ukuranmu..." desis Naya pelan di antara napasnya yang mulai memburu.Naya menundukkan pandangannya, lalu matanya menelusuri batang kokoh yang berdiri tegak lurus itu, sementara jari telunjuknya bergerak lambat untuk menelusuri urat-urat kebiruan yang menonjol liar di sepanjang permukaannya."Hmm... kau begitu indah dari dekat," gumam Naya, lidahnya menjilat bibir atasnya.Rekha mengerang rendah, "Jangan hanya melihat... lakukan sesuatu."Karena Rekha merasa sangat tidak sabar, pria itu berusaha mengangkat pinggulnya, sedangkan tangannya bergerak liar agar ia bisa meraih pinggang ramping Naya."Ah—kau benar-benar tak bisa diam," ledek Naya sambil tertawa kecil.Akan tetapi, Naya langsung menahan kedua tangan Rekha, lalu menekannya dengan kuat ke sisi bantal."Diam!" perintahnya tegas, tapi bibirnya tersenyum

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status