LOGIN"Kau bisa pergi ... jika kau mau."
Wajah Ara memucat, kalimat itu menghantamnya keras. Tangannya mencengkeram pakaian Anthony, gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh. Kepalanya menggeleng berulang kali, sementara matanya terpejam erat."Apa Tuan ingin membuangku?"Suara Ara nyaris pecah. Kalimat itu memang terdengar kecil, rapuh. Namun, justru menghantam lebih keras dari teriakan.Juslandier Bloodfallen—yang bahkan tidak gen"Vance, kau yakin ingin pergi sekarang? Festival Yule akan segera dimulai. Kau bisa tinggal untuk merayakannya. Akan ada banyak persembahan, dan para peri serta spirit akan memenuhi jalanan hingga cahaya terlihat di mana-mana."Yang disebut namanya tersenyum tipis. Dia membetulkan syal hitam pemberian Alice, lalu melangkah menghampiri teman familiar-nya itu dan mengusap kepalanya pelan."Sudah waktunya aku pergi," ujarnya lembut. "Ara membutuhkanku."Alice merasakan kehangatan dari telapak tangan Vance. Dengan bibir sedikit mengerucut, dia mengangguk pelan meskipun rasa enggan masih memenuhi hatinya. Bohong jika dia tidak sedih. Kehadiran Vance membuat hari-harinya jauh lebih menyenangkan, tidak seperti familiar lain milik sang Ratu yang sering membuat emosinya naik turun."Baiklah. Kalau kau punya waktu, berkunjunglah lagi ke sini. Yang Mulia Ratu pasti akan senang."Vance mengangguk. Dia menoleh ke kanan dan kiri, membalas senyum para penghuni T&
"Kau bersenandung?"Ara tertegun ketika Anthony tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Padahal, beberapa saat lalu pria itu baru saja mengatakan akan mengambil botol air minum dari dalam rumah.Mereka baru selesai berjalan-jalan di sekitar lingkungan kediaman Wallenstein. Namun, Ara hanya mampu bertahan selama setengah jam sebelum napasnya mulai terengah-engah. Alhasil, dia kembali digendong pulang dan kini duduk di atas batu besar di pekarangan rumah sambil menikmati hangatnya matahari."Entah kenapa, aku merasa sangat senang." Ara menyentuh dada kirinya saat menjawab. Dia mendongak menatap Anthony yang berdiri di hadapannya, lalu memperhatikan pria itu berjongkok di depan dirinya.Setelah mengucapkan terima kasih, Ara menerima botol minum yang diberikan Anthony dan menyesapnya perlahan. Namun, tak lama kemudian dia malah tertawa kecil saat menyadari betapa menawannya sosok yang tersaji di depan kedua matanya; menertawakan ketampanan seorang Anthony yang
"Ugh, aku sangat merindukannya."Pria berpakaian serba hitam itu merebahkan kepalanya di atas tunggul pohon yang dijadikan meja. Untuk kesekian kalinya, Vance mengembuskan napas panjang hingga membuat sosok yang duduk di seberangnya mengernyit heran. Namun, sebelum dia sempat mengeluh, sebuah tangan sudah lebih dulu mengacak rambutnya."Hei!" Vance segera menegakkan tubuhnya dan menepis tangan itu. "Rambutku ini milik Jung Ara. Hanya dia yang boleh menyentuhnya."Alice tertawa geli."Kau ini sensitif sekali." Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menggerakkan telunjuknya seperti jarum jam. "Dan tidak sabaran juga. Bagaimana bisa majikanmu tahan menghadapi sifatmu?""Ara bukan majikanku," sahut Vance sewot."Lalu apa?"Vance berkedip dua kali. Dia memalingkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap Alice yang kini memandanginya penuh rasa ingin tahu. Kalau ditanya tiba-tiba seperti ini, dia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Aku mulai kesulitan menahan diriku setiap kali berada di dekatmu." Anthony menatap Ara lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum tipis yang membuat jantung Ara berdebar semakin kencang. "Rasanya aku ingin memakanmu saat ini juga."Seketika itu juga, panas menjalar hingga ke ujung telinga Ara. Terlebih ketika melihat sorot mata Anthony yang melembut sekaligus membara. Itu adalah tatapan seorang pria kepada wanita yang sangat diinginkannya.Ara menggigit bagian dalam bibirnya. Tenggorokannya terasa kering."J-jika Tuan mau ... Tuan bisa melakukannya," lirihnya setelah beberapa saat terdiam. Jemarinya meremas kemeja hitam Anthony, berusaha menenangkan kegugupan yang menguasai dirinya.Anthony mengangkat sebelah alis. "Apa?""M-memakanku." Ara menelan ludah. Wajahnya makin memanas saat melanjutkan, "Apalagi sekarang ... sepertinya Tuan sedang kesulitan."Ucapan itu langsung disambut oleh tawa rendah Anthony. Dia memeluk erat makhluk menggemaskan
"Kalau begitu," bisiknya sambil menarik Ara kembali ke dalam pelukannya, lalu melanjutkan, "tetaplah bahagia bersamaku."Ara terdiam beberapa saat seraya menggigit bibirnya pelan, lalu mengangguk dan kembali memeluk Anthony. Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, sebelum akhirnya Anthony lebih dulu mengurai pelukan mereka dan beringsut ke tepi ranjang, dan duduk di sana.Ara masih berbaring, dan lagi-lagi memandangi punggung Anthony. Bohong jika dia mengatakan bahwa dirinya tidak tertegun setiap kali melihat luka itu. Namun, anehnya, tak setetes darah pun pernah menetes dari daging yang koyak tersebut, bahkan ketika Anthony berbaring atau bergerak.Anthony pernah mengatakan bahwa darah dari luka itu telah berubah menjadi sutra merah. Menjadi selimut yang pernah menghangatkan tubuhnya dan kain yang selama ini melindungi matanya.Memikirkannya membuat dada Ara kembali terasa sesak.Ingatan tentang mimpi yang dialaminya selama koma berputar lagi di
Sosok tegap dengan tubuh bagian atas yang tak tertutupi sehelai benang pun itu sedang berbaring di atas ranjangnya. Seulas senyum tipis terukir di bibir Anthony saat memandangi wajah gadis yang tertidur dalam pelukannya, terlelap dengan kepala bersandar pada lengannya yang dijadikan bantal.Wajah itu terlihat begitu tenang.Kulitnya yang pucat dan halus tampak semakin lembut di bawah cahaya pagi yang menyelinap dari balik tirai. Bulu mata Ara melengkung cantik, hidung kecilnya terlihat menggemaskan, pipinya yang kini sedikit lebih berisi tampak sehat, sementara bibir mungilnya sesekali merengut setiap kali Anthony dengan jahil menyentuh pipinya.Memang, hanya Jung Ara yang mampu membuat Anthony meragukan seluruh keyakinan yang selama ratusan tahun dia pegang teguh.Dulu, Anthony percaya bahwa dirinya tak akan pernah mencintai siapa pun lagi. Setelah kehilangan Araphael, dia mengira seluruh cinta dalam dirinya telah mati. Namun, Jung Ara mematahkan semua k
Hari-hari terus berlalu.Siang, malam, bahkan ketika pagi kembali datang, Ara hanya diam di sudut ruangan, duduk memeluk kedua lutut tanpa mengenal lelah. Tempat yang dulu pernah dia sebut sebagai rumah itu terasa begitu hangat, sekalipun kini dirinya hanya seorang pengamat yang terjebak
Ketika mata ini terpejam, sebenarnya Ara merasa takut.Dia takut jika hal yang sebelumnya terjadi akan kembali terulang. Takut jika dirinya kembali terjebak dalam kenangan yang menyakitkan, dipaksa menyaksikan luka-luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Namun, bisikan s
Kejadian malam itu menjadi awal yang buruk bagi Sora.Lingkar hitam menghiasi bawah matanya, menandakan betapa lelahnya dia setelah terus mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sudah berbagai pekerjaan dia jalani—karyawan minimarket, pelayan restoran cepat saji, pengemas makanan, hingga
Kedua pelupuk Ara perlahan tersingkap ketika mendengar suara pintu terbuka. Samar-samar, suara seorang pria disusul suara wanita menyambangi rungunya, membuat Ara berinisiatif untuk bangun dan duduk.Pandangan gadis itu tertuju pada dinding putih yang dipenuhi coretan abstrak krayon berw







