MasukKejadian malam itu menjadi awal yang buruk bagi Sora.
Lingkar hitam menghiasi bawah matanya, menandakan betapa lelahnya dia setelah terus mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sudah berbagai pekerjaan dia jalani—karyawan minimarket, pelayan restoran cepat saji, pengemas makanan, hingga penyebar brosur. Kalaupun diterima bekerja, Sora hanya mampu bertahan seminggu. Selebihnya, dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja, menelepon nomor-nomor lowongan yang tertera di koran.<"Ugh, aku sangat merindukannya."Pria berpakaian serba hitam itu merebahkan kepalanya di atas tunggul pohon yang dijadikan meja. Untuk kesekian kalinya, Vance mengembuskan napas panjang hingga membuat sosok yang duduk di seberangnya mengernyit heran. Namun, sebelum dia sempat mengeluh, sebuah tangan sudah lebih dulu mengacak rambutnya."Hei!" Vance segera menegakkan tubuhnya dan menepis tangan itu. "Rambutku ini milik Jung Ara. Hanya dia yang boleh menyentuhnya."Alice tertawa geli."Kau ini sensitif sekali." Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menggerakkan telunjuknya seperti jarum jam. "Dan tidak sabaran juga. Bagaimana bisa majikanmu tahan menghadapi sifatmu?""Ara bukan majikanku," sahut Vance sewot."Lalu apa?"Vance berkedip dua kali. Dia memalingkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap Alice yang kini memandanginya penuh rasa ingin tahu. Kalau ditanya tiba-tiba seperti ini, dia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Aku mulai kesulitan menahan diriku setiap kali berada di dekatmu." Anthony menatap Ara lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum tipis yang membuat jantung Ara berdebar semakin kencang. "Rasanya aku ingin memakanmu saat ini juga."Seketika itu juga, panas menjalar hingga ke ujung telinga Ara. Terlebih ketika melihat sorot mata Anthony yang melembut sekaligus membara. Itu adalah tatapan seorang pria kepada wanita yang sangat diinginkannya.Ara menggigit bagian dalam bibirnya. Tenggorokannya terasa kering."J-jika Tuan mau ... Tuan bisa melakukannya," lirihnya setelah beberapa saat terdiam. Jemarinya meremas kemeja hitam Anthony, berusaha menenangkan kegugupan yang menguasai dirinya.Anthony mengangkat sebelah alis. "Apa?""M-memakanku." Ara menelan ludah. Wajahnya makin memanas saat melanjutkan, "Apalagi sekarang ... sepertinya Tuan sedang kesulitan."Ucapan itu langsung disambut oleh tawa rendah Anthony. Dia memeluk erat makhluk menggemaskan
"Kalau begitu," bisiknya sambil menarik Ara kembali ke dalam pelukannya, lalu melanjutkan, "tetaplah bahagia bersamaku."Ara terdiam beberapa saat seraya menggigit bibirnya pelan, lalu mengangguk dan kembali memeluk Anthony. Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, sebelum akhirnya Anthony lebih dulu mengurai pelukan mereka dan beringsut ke tepi ranjang, dan duduk di sana.Ara masih berbaring, dan lagi-lagi memandangi punggung Anthony. Bohong jika dia mengatakan bahwa dirinya tidak tertegun setiap kali melihat luka itu. Namun, anehnya, tak setetes darah pun pernah menetes dari daging yang koyak tersebut, bahkan ketika Anthony berbaring atau bergerak.Anthony pernah mengatakan bahwa darah dari luka itu telah berubah menjadi sutra merah. Menjadi selimut yang pernah menghangatkan tubuhnya dan kain yang selama ini melindungi matanya.Memikirkannya membuat dada Ara kembali terasa sesak.Ingatan tentang mimpi yang dialaminya selama koma berputar lagi di
Sosok tegap dengan tubuh bagian atas yang tak tertutupi sehelai benang pun itu sedang berbaring di atas ranjangnya. Seulas senyum tipis terukir di bibir Anthony saat memandangi wajah gadis yang tertidur dalam pelukannya, terlelap dengan kepala bersandar pada lengannya yang dijadikan bantal.Wajah itu terlihat begitu tenang.Kulitnya yang pucat dan halus tampak semakin lembut di bawah cahaya pagi yang menyelinap dari balik tirai. Bulu mata Ara melengkung cantik, hidung kecilnya terlihat menggemaskan, pipinya yang kini sedikit lebih berisi tampak sehat, sementara bibir mungilnya sesekali merengut setiap kali Anthony dengan jahil menyentuh pipinya.Memang, hanya Jung Ara yang mampu membuat Anthony meragukan seluruh keyakinan yang selama ratusan tahun dia pegang teguh.Dulu, Anthony percaya bahwa dirinya tak akan pernah mencintai siapa pun lagi. Setelah kehilangan Araphael, dia mengira seluruh cinta dalam dirinya telah mati. Namun, Jung Ara mematahkan semua k
"Hanya itu? Tuan tidak menyembunyikan apa pun dariku, 'kan?" Ara bertanya lirih, tatapannya begitu serius. Tersirat permohonan yang terpancar dari sana, seolah memberitahukan bahwa dia tidak ingin dibohongi.Jika Anthony berbohong lagi, sesuatu dalam dirinya akan benar-benar patah.Sedangkan sang iblis tak bersayap menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan."Tidak ada, Sayang." Suaranya terdengar rendah dan menenangkan. "Saat waktunya tiba, aku akan menunjukkannya padamu."Pipi Ara seketika menghangat saat Anthony memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Anthony mengatakannya dengan begitu alami, seolah panggilan itu memang sudah menjadi bagian dari dirinya. Baru saja Ara hendak membuka mulut untuk membantah atau setidaknya meminta penjelasan lebih lanjut, telunjuk Anthony lebih dulu menyentuh bibirnya."Aku bisa menebak apa yang ingin kau katakan," ujarnya, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang membuat diriny
"Hei, Vance. Apa yang kau lakukan? Kau tidak pergi?"Sosok yang dipanggil Vance tak menjawab. Dia menoleh ke belakang sambil memegang dada kirinya yang berdenyut tidak biasa. Tak ada siapa-siapa di sana selain pepohonan raksasa, angin yang berembus pelan, dan beberapa makhluk yang terlihat berlalu-lalang.Kedua alisnya mengernyit.Lalu, tanpa sadar, bibir tebal itu membisikkan sebuah nama yang telah terukir di dalam jiwanya.***"Jung Ara."Pemilik rambut jelaga itu tertawa pelan. Suara tawanya yang rendah dan berat mengalun hangat di antara mereka, seolah ingin meredakan kecemasan yang sejak tadi memenuhi dada sang gadis. Kemudian Anthony menggenggam kedua tangan Ara."Apa perlu aku memenuhi langit dengan tulisan, 'aku mencintaimu, Jung Ara', menggunakan darahku?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum tipis. "Atau kau ingin aku menguras lautan dan mempersembahkan kepala Raja Lautan untukmu?"Ara langsung menggeleng beber
Kedua pelupuk Ara perlahan tersingkap ketika mendengar suara pintu terbuka. Samar-samar, suara seorang pria disusul suara wanita menyambangi rungunya, membuat Ara berinisiatif untuk bangun dan duduk.Pandangan gadis itu tertuju pada dinding putih yang dipenuhi coretan abstrak krayon berw
"Apa masih ada yang terasa sakit?"Ara tidak segera menjawab. Usapan lembut di atas kepalanya oleh tangan Anthony seolah menyedot seluruh kewarasannya. Sentuhan itu terlalu halus, terlalu menenangkan, sampai-sampai pipinya perlahan dipenuhi rona kemerahan. Jari-jari kakinya menekuk gelis
“Keluarlah, Noah Lee. Sampai kapan kau akan bersembunyi di sana?” ujar Anthony tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara.Vance tidak tampak terkejut. Sejak tadi, indra tajamnya sudah menangkap keberadaan seseorang yang berdiam di balik pepohonan. Hanya saja, dia terlalu fokus menjaga Ara
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka







