Masuk“T-tuan ...?”
“Ya.”Suara itu semakin dekat.“Akulah tuanmu, Ara.”Jantung Ara berdegup liar. Dengan gerakan kaku, dia menarik tubuhnya menjauh, pisau di genggamannya pun ikut tertarik keluar. Seketika cairan merah pekat mengalir. Namun, sosok di hadapannya tidak mengerang. Tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun.Ara menoleh ke sekeliling dengan panik, dan dunia kembali runtuh.Dia tidak lagi berada di rumah pamannya, kini dia berada diPada akhirnya, seluruh hidangan yang disajikan habis tak bersisa, termasuk hidangan penutup berupa mango cheesecake dengan yuzu sorbet, serta mille-feuille yang dihiasi anggur dan rasberi segar.Anthony memperhatikan Ara sejak suapan pertama hingga terakhir, gadis itu makan dengan lahap dan tidak sekali pun menunjukkan tanda-tanda mual.Makan malam mereka berakhir di bar lantai lima puluh dua. Lagi-lagi, tak ada tamu lain selain mereka. Suasana tenang itu seolah menjadi hadiah terakhir bagi dua insan yang sedang menikmati penghujung tahun.Dari balik dinding kaca, London bermandikan cahaya. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Anthony sesekali menyesap cocktail-nya, sementara Ara menikmati secangkir minuman hangat sambil terus memandangi pemandangan di luar.Udara musim dingin terasa begitu dingin. Namun, jemari mereka yang terus bertaut membuat Ara sama sekali tidak merasakannya.Tak lama kemudian, mereka men
"Kau baik-baik saja?" Anthony segera bangkit dari kursinya, lalu berlutut di sisi Ara. Tangannya mengusap perlahan punggung gadis itu, berusaha meredakan rasa mual yang datang tiba-tiba.Wajahnyadipenuhikekhawatiran.SudahlebihdarisemingguAratidakmengalamimorningsickness.Anthonysempatberpikirkondisikehamilangadisitumulaistabil.Namun,melihatAramenutupmulutsepertiini,seluruhketenanganyangberusahadiabangunseketikaruntuh.Aramenganggukpelan.Rasabersalahjustrumemenuhidadanya.DiatidakinginmerusakmalamyangtelahdipersiapkanAnthonydengansepenuhhati."Hanyamualsedikit,"ucapnyasambiltersenyumtipis. 
'Kalau aku yang lebih dulu pergi, siapa yang akan membangunkanmu kembali ketika kau hancur, Ara?'"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Anthony, memilih mengabaikan pikirannya sendiri.Ara tersentak pelan. Dia menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak."Dia mendongak hanya untuk mendapati tuan Wallenstein yang sedang menundukkan kepala, menatapnya penuh kasih. Tanpa disadari, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman indah yang memancing Anthony untuk mendaratkan kecupan lembut di atasnya. Walau dia bertanya seperti itu, Ara tahu bahwa sang tuan mendengarnya."Masih ada waktu dua puluh menit lagi, apa kau masih ingin di sini?"Ara mengangguk. Entah sudah berapa kali Ara memandangi wajah pria itu, tetapi rasanya dia tidak akan pernah bosan. Pria ini tidak pernah gagal membuat Ara jatuh cinta, dia benar-benar mencintainya, bahkan lebih besar dari yang dia kira. Setiap kali menatap Anthony, hatinya selalu dipenuhi berbagai macam pe
Setelah berkendara hampir setengah jam, menikmati hamparan salju yang menyelimuti London, gemerlap lampu Natal yang menghiasi setiap sudut jalan, serta tawa hangat para penduduk lokal dan wisatawan yang larut dalam semangat pergantian tahun, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.Sebenarnya ada jalur yang lebih singkat, hanya sekitar lima belas menit. Namun, Anthony sengaja memilih jalan memutar. "Supaya perjalanan kita tidak membosankan. Sekalian menikmati pemandangan," begitu katanya.Bagi Ara, alasan itu sama sekali tidak penting. Lima belas menit ataupun tiga puluh menit, semuanya terasa sama selama Anthony berada di sampingnya.Sejak meninggalkan Stasiun Paddington, pria itu tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka. Sesekali Anthony mengangkat tangan Ara untuk dikecup lembut, lalu melontarkan kalimat-kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat pipi gadis itu memerah.Berkat semua itu, perjalanan mereka terasa begitu singkat. Traum
Decak kagum nyaris lolos dari bibir Ara ketika sebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di hadapannya.Cahaya matahari sore memantul di permukaan bodinya yang elegan, membuat kendaraan itu tampak begitu mencolok di tengah jalanan London yang dipenuhi salju. Tak sedikit pejalan kaki yang melirik ke arahnya. Namun, yang jauh lebih mencuri perhatian adalah pria yang baru saja keluar dari balik kemudi.Anthony J. Wallenstein.Dengan mantel hitam panjang yang membungkus tubuh tegapnya, pria itu melangkah tenang menuju Ara. Rambut hitamnya bergerak pelan diterpa angin musim dingin, sementara sorot mata hitam dengan semburat biru samudera itu tetap tertuju hanya pada satu orang.Beberapa waktu sebelumnya, mereka baru tiba di Stasiun Paddington setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam. Ini bukan pertama kalinya Ara menginjakkan kaki di London. Meski belum benar-benar akrab, kota metropolitan itu tidak lagi terasa asing baginya.Apalagi menjelang
"Kau melakukannya lagi, Ara." Anthony berbisik pelan, suaranya rendah dan dipenuhi godaan. "Sepertinya kau memang berniat menggodaku dengan ekspresi seperti itu. Menurutmu, apa yang akan aku lakukan selanjutnya?"Ara menahan napas. Ucapan itu saja sudah cukup membuat wajahnya memanas. Tangannya spontan menutupi wajah, berusaha menyembunyikan pipi yang pasti telah semerah tomat matang.Selanjutnya ....Apa yang akan dilakukan Anthony?Ara bukan lagi gadis polos yang tidak mengerti apa pun. Dia memahami betul arti tatapan pria di hadapannya, juga menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah permulaan. Apalagi tangan tuannya sudah berada di area intimnya. Jantungnya berdetak semakin kacau merasakan kehangatan dari tangan tersebut.Tidak boleh.Kalau Anthony melihat wajahnya sekarang, pria itu pasti akan menyalahgunakannya sebagai bentuk godaan untuknya.Padahal, kan, Ara merasa malu luar biasa. Tetapi Tuan tampan dan perkasa milik
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpik
Ketika mata ini terpejam, sebenarnya Ara merasa takut.Dia takut jika hal yang sebelumnya terjadi akan kembali terulang. Takut jika dirinya kembali terjebak dalam kenangan yang menyakitkan, dipaksa menyaksikan luka-luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.Namun, bisikan s
“Keluarlah, Noah Lee. Sampai kapan kau akan bersembunyi di sana?” ujar Anthony tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara.Vance tidak tampak terkejut. Sejak tadi, indra tajamnya sudah menangkap keberadaan seseorang yang berdiam di balik pepohonan. Hanya saja, dia terlalu fokus menjaga Ara







