LOGINElvano tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Ia terbiasa berada satu langkah lebih depan. Terbiasa mengetahui siapa yang ia hadapi, apa yang mereka inginkan, dan sejauh mana mereka bersedia melangkah untuk mendapatkannya. Dunia tempatnya berdiri tidak memberi ruang untuk ketidaktahuan. Ketidaktahuan adalah kelemahan. Dan kelemahan, adalah satu hal yang tidak pernah ia toleransi. Namun malam ini, ada seorang wanita yang tidak bisa ia baca. Langkahnya tetap tenang saat ia kembali memasuki aula utama hotel. Wajahnya kembali pada ekspresi datar yang biasa ia kenakan—tak terbaca, seolah tidak ada percakapan singkat di lorong beberapa menit lalu. Seolah tidak ada yang berubah. Padahal perhatiannya telah terpecah dan itu cukup membuatnya merasa tidak nyaman. "Pak Elvano." Salah satu rekan bisnisnya mendekat, menyodorkan tangan dengan senyum lebar. "Saya sudah menunggu untuk berbicara dengan Anda." Elvano hanya menjabat uluran tangan itu dengan singkat. Profesional. Efisien. "Besok pagi," ucapnya singkat "Berikan jadwal Anda pada sekretaris saya." Elvano sudah beralih bahkan saat pria itu mulai berbicara. Matanya bergerak tanpa sadar, menyapu ruangan. Mencari. Ia berhenti di dekat meja minuman, mengambil segelas whiskey tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia lakukan. Cairan amber itu bergerak ringan saat gelas diangkat, mencerminkan kilasan cahaya dari lampu gantung di atas. Satu tegukan. Sensasi hangat langsung terasa di tenggorokannya. Namun minuman itu tidak mampu mengalihkan perhatiannya. Pikirannya masih tetap kembali pada satu hal. Wanita itu. Cara dia berbicara, cara dia menatapnya tanpa ragu, dan cara wanita itu pergi. Seolah dia tahu apa yang sedang ia lakukan. "Pak Elvano?" Suara lain kembali menariknya. Kali ini suara itu terdengar familiar. Ia menoleh sedikit. "Arga." Pria di hadapannya adalah Arga Wijaya, kepala tim kepercayaannya. Dia mengangguk singkat. Wajahnya serius, seperti biasa. Tidak banyak bicara, tapi selalu tepat sasaran. "Anda terlihat sedikit terganggu." Elvano menatapnya sebentar, "Tidak." Lalu jawabnya singkat. Arga tidak langsung menanggapi. Pengalamannya bekerja dengan Elvano selama bertahun-tahun membuatnya tahu kapan harus melangkah dan kapan harus berbicara. "Mungkin saya bisa sedikit membantu." Elvano terdiam dalam beberapa detik. Lalu tanpa basa basi ia berkata. "Ada seorang wanita disini." "Ciri-ciri?" "Tidak terlalu mencolok," ia sedikit memberi jeda "Tapi mampu membuat semua orang melihatnya. Dress hitam, rambut panjang terurai, dan cara berbicaranya... berbeda." Hening sejenak. "Nama?" Elvano menatap lurus kedepan, kembali ia sesap minuman yang ia pegang "Tidak tahu." Jawabnya singkat. Arga terheran, hal itu jarang terjadi. Sangat jarang. Dan itu sekarang membuat Arga benar-benar tertarik. "Saya akan cari tahu." Elvano mengangguk sekali. Arga langsung bergerak tanpa pertanyaan tambahan. ... Sementara itu, di sisi lain gedung, Kiara sudah berada jauh dari aula utama. Ia berdiri di balkon luar, jauh dari keramaian, membiarkan udara malam menyentuh kulitnya. Angin berhembus pelan, membawa suara kota yang samar dari kejauhan. Tenang. Kontras dengan apa yang baru saja terjadi. Ekspresinya masih saja terlihat datar. Tapi, entah kenapa tatapan matanya... terlihat hidup. Ia tahu persis apa yang terjadi di dalam aula sana. Elvano sedang mencarinya. Bukan karena tertarik sepenuhnya. Belum. Tetapi karena penasaran. Lalu, terdengar suara langkah kaki dari belakang. Menuju ke arahnya. Kiara tidak menoleh. "Tidak sopan meninggalkan percakapan tanpa penutup." Suara wanita. Terdengar halus, tapi mengandung ketegangan. Kiara mengenal dengan baik suara itu. Ia berbalik perlahan.Dan di sanalah dia berdiri. Terlihat wanita bergaun putih elegan, wajah yang sempurna, dan senyum yang terlihat dipaksakan. Kakak tirinya. Sudah sepuluh tahun berlalu. Tapi tidak ada yang berubah. Masih sama. Masih berpura-pura. "Maaf," ucap Kiara ringan. "Aku tidak sadar kita sedang benar-benar 'bercakap-cakap'." Ekspresi wanita itu terlihat sedikit menegang. "Kau berubah." Kiara mengangkat kecil bahunya. "Semua orang berubah." "Tidak semua orang kembali." Kalimatnya menggantung. Kiara menatapnya tanpa emosi. "Dan tidak semua orang menyambutnya." Hening. Angin malam berhembus sedikit kencang. Udaranya semakin dingin. Wanita itu melangkah mendekat, cukup untuk memasuki ruang personal Kiara tanpa benar-benar menyentuhnya. "Kau seharusnya tidak datang ke sini." Suaranya terdengar lembut, berbanding terbalik dengan apa yang ia ucapkan. Kiara tersenyum tipis. "Aku tidak membutuhkan izin." "Kau pikir kau bisa kembali dan… apa?" suara kakak tirinya turun satu nada. "Mengambil apa yang bukan milikmu?" Kiara tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang wanita itu dengan tenang. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, "Aku tidak datang untuk mengambil apapun," ucapnya pelan "Aku hanya kembali." Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Sementara itu, di dalam aula. Elvano masih berdiri di tempat yang sama saat Arga kembali. "Ada informasi." Elvano menolehkan kepalanya menghadap pria itu. "Dia terdaftar sebagai tamu hotel. Namanya—" Arga terdiam sejenak, memastikan. "Kiara Snow." Nama itu terdengar tidak asing. "Snow?" Tanya ulang Elvano pelan. Potongan ingatan mulai tersusun. Keluarga lama. Bisnis lama. Masalah lama. Ini bukan suatu kebetulan. "Dimana dia sekarang?" "Terakhir terlihat di balkon luar." Tanpa menunggu lebih lama Elvano bergerak. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama— ia tidak hanya penasaran. Ia waspada. ... Di balkon, Kiara dan kakak tirinya masih berdiri saling berhadapan. Percakapan mereka belum selesai. Bahkan belum benar-benar dimulai. "Ini bukan tempatmu lagi," kata kakak tirinya dingin. Kiara menatapnya lurus. "Dari awal pun, itu tidak pernah benar-benar jadi milikmu." Satu langkah. Jarak di antara mereka menyusut. Ketegangan meningkat. Dan tepat saat itu— Langkah kaki lain terdengar mendekat. Kiara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Permainan baru saja menjadi lebih menarik. Bibirnya melengkung perlahan. Dan untuk pertama kalinya malam itu— Ia benar-benar menikmati ini.Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,
Keputusan itu tidak lagi sekadar memenuhi sudut pikirannya.Selama dua hari terakhir, Kiara berusaha kembali pada rutinitas yang selama ini membantunya menjaga kendali. Ia membaca ulang laporan Arga, menelusuri catatan mengenai Saint Orla, bahkan mencoba menyusun kembali kronologi yang berkaitan dengan Darian. Namun setiap kali berhasil memusatkan perhatian pada penyelidikan, pikirannya selalu kembali berputar pada titik yang sama.Celine.Bukan pada kebenciannya.Melainkan pada ketakutan yang berulang kali berhasil ia tangkap di balik ketenangan perempuan itu.Semakin lama ia memikirkannya, semakin yakin Kiara bahwa seluruh pertahanan Celine berdiri di atas satu harapan yang sama—harapan keluarga Pramana akan seorang penerus.Kesimpulan itu tidak membuatnya merasa puas.Justru sebaliknya.Ia berharap menemukan jalan lain.Namun setiap kemungkinan yang ia susun selalu berakhir pada tujuan yang sama.Menjelang siang, Kiara akhirnya mengambil ponselnya.Ia mengetik sebuah pesan singkat.
Pikiran itu tidak hilang setelah malam berlalu.Bahkan ketika Kiara mencoba mengalihkan perhatiannya pada dokumen Saint Orla, laporan Arga, atau catatan lama tentang Darian, selalu ada satu bagian dalam pikirannya yang kembali pada halaman yang sama.Bukan karena ia belum menemukan jawaban.Melainkan karena perlahan ia mulai memahami arah yang selama ini berusaha ia hindari.Kesadaran itu membuatnya merasa tidak nyaman.Kiara duduk di ruang kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di atas meja. Namun tidak satu pun benar-benar ia baca. Matanya hanya tertuju pada catatan yang sebelumnya ia buat, seolah berharap kata-kata di halaman itu akan berubah jika ia melihatnya cukup lama.Ia kembali menatap catatan yang berisi berbagai kemungkinan yang sudah ia kumpulkan.Tentang posisi seseorang di dalam keluarga. Tentang bagaimana sebuah nama dan pengaruh dapat dipertahankan. Tentang faktor-faktor yang menentukan arah masa depan
Garis tebal yang dibuat Kiara di bawah kata anak masih terlihat jelas di buku catatannya.Sejak malam sebelumnya, ia sudah beberapa kali menutup buku itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba kembali fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. Namun setiap kali buku itu terbuka lagi, pandangannya selalu kembali pada halaman yang sama.Status.Anak.Hak waris.Posisi keluarga.Empat hal yang awalnya hanya ia anggap sebagai bagian dari strategi. Cara untuk memahami bagaimana keluarga Pramana melihat kekuasaan, hubungan, dan masa depan mereka. Cara untuk menemukan celah yang bisa digunakan untuk menghadapi Celine.Namun semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya menganggap semua itu hanya sebagai informasi biasa.Karena sekarang yang ia lihat bukan hanya sebuah kelemahan.Ia mulai melihat akibat yang mungkin muncul dari keputusan yang ia ambil. Dan semakin jelas gambaran itu terbentuk, semaki
Kiara baru benar-benar tertidur ketika dini hari hampir berganti pagi. Tidurnya pun tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun sebelum akhirnya membuka mata saat cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai apartemennya. Ia tetap berbaring beberapa saat, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terasa penuh, meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal penting yang sedang dipikirkannya.Namun ingatannya kembali pada percakapannya dengan Celine semalam.Status tidak selalu mengikuti perasaan.Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Diucapkan dengan nada yang tenang, tanpa ancaman atau emosi yang berlebihan, tetapi justru karena itulah kata-kata tersebut meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.Dengan embusan napas pelan, Kiara bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja. Laptop yang semalam ia tinggalkan masih tergeletak di atas meja. Begitu layar menyala, halaman terakhir yang terbuka langsung muncul di had
Celine tidak langsung pulang setelah meninggalkan klinik. Mobilnya masih terparkir di tempat yang sama, sementara amplop berisi hasil pemeriksaan itu terletak diam di kursi penumpang sebelah. Ia tidak perlu membukanya lagi. Isi dokumen tersebut sudah terlalu akrab untuk dilupakan. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Jalanan di hadapannya ramai seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertinggal di ruang konsultasi beberapa menit lalu. -Peluang kehamilan alami Anda masih sangat rendah.- Kalimat itu tidak membawa kabar baru. Ia sudah mendengar versi yang sama bertahun-tahun lalu. Namun mendengarnya kembali tetap menimbulkan rasa sesak yang tidak pernah benar-benar hilang. Selama ini Celine berhasil hidup berdampingan dengan kenyataan tersebut. Ia menyimpannya rapat-rapat, jauh dari jangkauan keluarga Pramana, jauh dari pertanyaan Adrian, dan terutama jauh dari Elvano. Ia belajar ter
"Orang-orang bilang ada lima tahap dalam berduka." Suara itu terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan kehilangan. "Hm," "Tapi mereka salah." Ada jeda di seberang sana, cukup lama untuk meneruskan penilaiannya. "Lalu? Apa yang benar?" "Mereka melupakan sa
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di pintu balkon. Udara malam yang sebelumnya terasa tenang kini berubah—lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di antara tiga orang yang berdiri di sana. Kiara tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Dan karena itu,
Malam itu, hotel tempat Kiara menginap berubah menjadi panggung bagi para pemain kekuasaan. Aula utamanya dipenuhi cahaya kristal dari lampu gantung besar yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun, cukup untuk menciptakan suasana elegan tanpa mengganggu percakapan-percak
Kota Valencia tidak pernah benar-benar tidur. Kota itu berdenyut pelan dibawah langit malam, hidup dalam cahaya lampu yang berkilau seperti ilusi yang terlalu indah untuk disentuh. Jalanan dipenuhi kendaraan yang meluncur tanpa henti, suara tawa yang bisa terdengar disetiap sudut kota. Dari mobi







