Home / Romansa / Pembalasan Sang Siren / Bab 5 - Diantara Api dan Kendali

Share

Bab 5 - Diantara Api dan Kendali

Author: Eloise Vox
last update publish date: 2026-03-18 10:55:47

Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di pintu balkon.

Udara malam yang sebelumnya terasa tenang kini berubah—lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di antara tiga orang yang berdiri di sana.

Kiara tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Dan karena itu, ia memilih untuk tetap diam.

"Kau disini rupanya." Suaranya terdengar rendah dan tenang.

Elvano.

Kakak tiri Kiara adalah orang pertama yang memberikan reaksi. Ia segara memutar tubuhnya, senyum kembali terpasang. Terlihat sempurna dan anggun, seolah-olah tidak ada ketegangan beberapa detik sebelumnya.

"Elvano." Suaranya terdengar lembut, "Aku mencarimu."

Tidak terdengar kebohongan pada nada bicaranya. Namun juga tidak sepenuhnya jujur.

Elvano melangkah memasuki area balkon, tatapan matanya sekilas melihat sang istri sebelum berhenti pada sosok lain.

Kiara.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengetahui nama wanita itu, segalanya terasa berbeda.

Kiara Snow.

Bukan sekedar wanita misterius pada suatu pesta. Bukan juga sebuah kebetulan yang menarik.

"Sepertinya aku mengganggu," katanya datar.

Kiara baru menoleh saat itu. Tatapan matanya langsung bertemu dengan Elvano tanpa ragu seolah mereka tidak pernah berada dalam situasi rumit dari sekedar percakapan santai di salah satu lorong hotel itu.

"Kami baru saja selesai." Ujarnya ringan. Senyum kecil terbit dibibirnya.

Sang Kakak tiri langsung menyela, nada suaranya terdengar lebih tajam daripada sebelumnya. "Tidak, kita belum selesai."

Kiara meliriknya sekilas, sebelum kembali ke Elvano. Dan itu tidak luput dari perhatian pria itu.

Elvano memperhatikan pertukaran kecil itu tanpa komentar. Membaca sesuatu yang tidak dia ucapkan. Sangat menarik.

"Aku tidak tahu kalau kalian saling mengenal." Katanya yang ditujukan pada kedua wanita itu.

Kakak tiri Kiara tersenyum. "Tentu saja kita saling mengenal." Jawabnya dengan cepat, "Dia—"

"— Keluarga." Kiara memotong ucapannya dengan halus. Suaranya tetap terdengar tenang.

Tapi kata yang ia ucapkan terasa berbeda saat keluar dari bibirnya.

Keluarga.

Bukan pengakuan. Tapi lebih seperti... ironi.

Tatapan Elvano berpindah dari wanita satu ke wanita yang lain. Menilai, menghubungkan, menyusun potongan-potongan yang mulia terasa masuk akal.

"Sudah lama?" Tanyanya.

"Cukup lama." "Tidak cukup lama." Jawab keduanya bersamaan.

Kiara menoleh perlahan kearahnya, senyum kecil itu kembali muncul.

"Sepuluh tahun." Ucapnya pelan.

Reaksi itu datang dalam bentuk sesuatu yang hampir tidak terlihat. Tarikan napas yang lebih dalam, perubahan kecil di ekspresi wajah Kakak tirinya.

Tapi Elvano menangkapnya. Sepuluh tahun. Angka itu tidak terlihat seperti kebetulan. Dan sekarang ia tahu, bahwa ini bukan pertemuan biasa.

"Jadi," ucapnya pelan, "Ini bukan sekedar kebetulan."

Kiara menatapnya, "Menurut anda?"

Tidak ada usaha untuk menyangkal atau menghindar.

Elvano hampir tersenyum. Hampir.

"Kebetulan jarang terjadi di tempat seperti ini."

"Setuju." Kata Kiara, "Apalagi yang terlalu... sempurna."

Kakak tirinya maju dan berhenti tepat diantara Kiara dan Elvano, memotong garis pandang di antara mereka.

Ditatapnya sang suami, "Elvano, kita harus segera kembali kedalam. Ada beberapa orang yang ingin bertemu denganmu."

Elvano tidak bergerak. Tatapannya masih pada wanita yang berada dibelakang sang istri. Menilai. Menghitung.

"Sebentar." Jawabnya singkat.

Senyum di wajah sang istri menegang. Hanya sedikit, tapi cukup untuk menunjukkan retakan.

"Sepertinya aku benar-benar mengganggu sekarang." ucap Kiara, seolah ingin mengakhiri situasi.

Ia mundur selangkah, memberi jarak.

"Elvano," lanjutnya "Senang bertemu denganmu lagi."

Kiara tersenyum tipis. Lalu berbalik.

Ia bawa langkahnya meninggalkan balkon, meninggalkan dua orang dibelakangnya dan ketegangan yang belum usai.

Keheningan terjadi selama beberapa detik sejak ia pergi.

Elvano masih menatap arah dimana Kiara pergi. Pikirannya bergerak terlalu cepat. Ia tidak menyukai ini.

Tidak menyukai bahwa satu kehadiran bisa mengacaukan ritme yang selama ini selalu terkendali.

....

Di sisi lain, Kiara bisa merasakannya.

Cara Elvano menatapnya, cara Kakak tirinya bereaksi, bagaimana dinamika diantara mereka berdua mulai retak.

Semuanya berjalan sesuai rencana. Lebih cepat dari apa yang telah ia perkirakan.

"Langkah pertama." Bisiknya pelan.

Permainan ini baru saja dimulai. Dan sekarang— semua pemain sudah ada di papan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 71 - Batas yang Tidak Boleh Dilewati

    Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 70 — Aku Akan Mengandung Anakmu

    Keputusan itu tidak lagi sekadar memenuhi sudut pikirannya.Selama dua hari terakhir, Kiara berusaha kembali pada rutinitas yang selama ini membantunya menjaga kendali. Ia membaca ulang laporan Arga, menelusuri catatan mengenai Saint Orla, bahkan mencoba menyusun kembali kronologi yang berkaitan dengan Darian. Namun setiap kali berhasil memusatkan perhatian pada penyelidikan, pikirannya selalu kembali berputar pada titik yang sama.Celine.Bukan pada kebenciannya.Melainkan pada ketakutan yang berulang kali berhasil ia tangkap di balik ketenangan perempuan itu.Semakin lama ia memikirkannya, semakin yakin Kiara bahwa seluruh pertahanan Celine berdiri di atas satu harapan yang sama—harapan keluarga Pramana akan seorang penerus.Kesimpulan itu tidak membuatnya merasa puas.Justru sebaliknya.Ia berharap menemukan jalan lain.Namun setiap kemungkinan yang ia susun selalu berakhir pada tujuan yang sama.Menjelang siang, Kiara akhirnya mengambil ponselnya.Ia mengetik sebuah pesan singkat.

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 69 — Jalan Paling Kejam

    Pikiran itu tidak hilang setelah malam berlalu.Bahkan ketika Kiara mencoba mengalihkan perhatiannya pada dokumen Saint Orla, laporan Arga, atau catatan lama tentang Darian, selalu ada satu bagian dalam pikirannya yang kembali pada halaman yang sama.Bukan karena ia belum menemukan jawaban.Melainkan karena perlahan ia mulai memahami arah yang selama ini berusaha ia hindari.Kesadaran itu membuatnya merasa tidak nyaman.Kiara duduk di ruang kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di atas meja. Namun tidak satu pun benar-benar ia baca. Matanya hanya tertuju pada catatan yang sebelumnya ia buat, seolah berharap kata-kata di halaman itu akan berubah jika ia melihatnya cukup lama.Ia kembali menatap catatan yang berisi berbagai kemungkinan yang sudah ia kumpulkan.Tentang posisi seseorang di dalam keluarga. Tentang bagaimana sebuah nama dan pengaruh dapat dipertahankan. Tentang faktor-faktor yang menentukan arah masa depan

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 68 — Bukan Sekadar Balas Dendam

    Garis tebal yang dibuat Kiara di bawah kata anak masih terlihat jelas di buku catatannya.Sejak malam sebelumnya, ia sudah beberapa kali menutup buku itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba kembali fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. Namun setiap kali buku itu terbuka lagi, pandangannya selalu kembali pada halaman yang sama.Status.Anak.Hak waris.Posisi keluarga.Empat hal yang awalnya hanya ia anggap sebagai bagian dari strategi. Cara untuk memahami bagaimana keluarga Pramana melihat kekuasaan, hubungan, dan masa depan mereka. Cara untuk menemukan celah yang bisa digunakan untuk menghadapi Celine.Namun semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya menganggap semua itu hanya sebagai informasi biasa.Karena sekarang yang ia lihat bukan hanya sebuah kelemahan.Ia mulai melihat akibat yang mungkin muncul dari keputusan yang ia ambil. Dan semakin jelas gambaran itu terbentuk, semaki

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 67 — Keputusan Pertama

    Kiara baru benar-benar tertidur ketika dini hari hampir berganti pagi. Tidurnya pun tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun sebelum akhirnya membuka mata saat cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai apartemennya. Ia tetap berbaring beberapa saat, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terasa penuh, meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal penting yang sedang dipikirkannya.Namun ingatannya kembali pada percakapannya dengan Celine semalam.Status tidak selalu mengikuti perasaan.Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Diucapkan dengan nada yang tenang, tanpa ancaman atau emosi yang berlebihan, tetapi justru karena itulah kata-kata tersebut meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.Dengan embusan napas pelan, Kiara bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja. Laptop yang semalam ia tinggalkan masih tergeletak di atas meja. Begitu layar menyala, halaman terakhir yang terbuka langsung muncul di had

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 66 — Tawaran yang Tidak Diucapkan

    Celine tidak langsung pulang setelah meninggalkan klinik. Mobilnya masih terparkir di tempat yang sama, sementara amplop berisi hasil pemeriksaan itu terletak diam di kursi penumpang sebelah. Ia tidak perlu membukanya lagi. Isi dokumen tersebut sudah terlalu akrab untuk dilupakan. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Jalanan di hadapannya ramai seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertinggal di ruang konsultasi beberapa menit lalu. -Peluang kehamilan alami Anda masih sangat rendah.- Kalimat itu tidak membawa kabar baru. Ia sudah mendengar versi yang sama bertahun-tahun lalu. Namun mendengarnya kembali tetap menimbulkan rasa sesak yang tidak pernah benar-benar hilang. Selama ini Celine berhasil hidup berdampingan dengan kenyataan tersebut. Ia menyimpannya rapat-rapat, jauh dari jangkauan keluarga Pramana, jauh dari pertanyaan Adrian, dan terutama jauh dari Elvano. Ia belajar ter

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 4 — Rasa penasaran yang berbahaya

    Elvano tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Ia terbiasa berada satu langkah lebih depan. Terbiasa mengetahui siapa yang ia hadapi, apa yang mereka inginkan, dan sejauh mana mereka bersedia melangkah untuk mendapatkannya. Dunia tempatnya berdiri tidak memberi ruang untuk ketidaktah

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 3 — Kebetulan yang Dirancang

    Malam itu, hotel tempat Kiara menginap berubah menjadi panggung bagi para pemain kekuasaan. Aula utamanya dipenuhi cahaya kristal dari lampu gantung besar yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun, cukup untuk menciptakan suasana elegan tanpa mengganggu percakapan-percak

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 2 — Kota yang Tidak Pernah Berubah

    Kota Valencia tidak pernah benar-benar tidur. Kota itu berdenyut pelan dibawah langit malam, hidup dalam cahaya lampu yang berkilau seperti ilusi yang terlalu indah untuk disentuh. Jalanan dipenuhi kendaraan yang meluncur tanpa henti, suara tawa yang bisa terdengar disetiap sudut kota. Dari mobi

  • Pembalasan Sang Siren   Bab 1 — Tahapan Ke-Enam

    "Orang-orang bilang ada lima tahap dalam berduka." Suara itu terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan kehilangan. "Hm," "Tapi mereka salah." Ada jeda di seberang sana, cukup lama untuk meneruskan penilaiannya. "Lalu? Apa yang benar?" "Mereka melupakan sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status