LOGINMalam itu, hotel tempat Kiara menginap berubah menjadi panggung bagi para pemain kekuasaan. Aula utamanya dipenuhi cahaya kristal dari lampu gantung besar yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun, cukup untuk menciptakan suasana elegan tanpa mengganggu percakapan-percakapan penting yang terjadi di setiap sudut ruangan.
Kiara berdiri di salah satu sisi ruangan, memegang segelas champagne yang belum disentuh sejak ia menerimanya. Dress hitam yang dikenakannya membingkai tubuhnya dengan sempurna, elegan, sederhana, tapi cukup mencuri perhatian tanpa terlihat berusaha. Tapi dia tidak datang untuk dilihat, ia datang untuk melihat. Matanya bergerak perlahan, mengamati setiap wajah yang lewat. Para pengusaha, investor, sosialita— semuanya hadir dengan tujuan masing-masing. Beberapa berbicara dengan penuh percaya diri, yang lain tertawa terlalu keras, mencoba menutupi kegelisahan mereka sendiri. Kiara tidak tertarik pada mereka. Ia hanya menunggu satu orang. Dan tidak perlu menunggu lama, seseorang itu akhirnya datang. Perubahan suasana langsung terasa bahkan sebelum pria itu terlihat. Percakapan melambat. Perhatian bergeser. Dan dalam hitungan detik, pusat ruangan memiliki poros baru. Elvano Arvan Pramana telah tiba. Pria itu berjalan masuk dengan langkah tenang, diikuti beberapa orang di belakangnya yang tampak seperti bayangan—hadir, tapi tidak benar-benar penting. Jas hitam yang dikenakannya rapi tanpa cela, ekspresinya datar, dan sorot matanya tajam. Dingin. Terukur. Berbahaya. Kiara memperhatikannya dari kejauhan. Inilah pria yang akan dijadikan senjata. Bibirnya melengkung tipis. Menarik. Elvano berhenti sejenak di tengah ruangan, berbicara singkat dengan beberapa orang yang menyapanya. Ia tidak tersenyum berlebihan. Tidak terlihat mencoba menyenangkan siapa pun. Kiara menyukai itu. Pria sepertinya tidak mudah dipengaruhi. Tidak mudah ditipu. Ia menyesap sedikit champagne di tangannya, akhirnya memberi rasa pada minuman yang sejak tadi hanya ia gunakan sebagai properti. Waktunya hampir tepat. Namun Kiara tidak langsung bergerak. Ia menunggu. Mengamati pola. ... Sepuluh menit kemudian, Kiara meninggalkan aula utama dengan langkah santai. Ia tidak terlihat terburu-buru, tidak terlihat seperti seorang yang sedang mengejar sesuatu. Lorong hotel terlihat lebih sepi ketimbang aula. Cahaya lampunya terlihat lebih redup, suasananya lebih tenang, suara musik dan percakapan dari aula terdengar samar-samar dari kejauhan. Disinilah permainannya akan dimulai. Diletakkannya gelas kosong pada meja yang tersedia di pojok lorong itu. Lalu ia berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah taman hotel. Dihentikan langkah kakinya disana, lalu memandang keluar seolah tidak ada hal yang lebih menarik. Padahal ia tahu dan sudah menghitung waktu yang tepat. Dan benar saja, tidak perlu menunggu lama, langkah kaki terdengar beberapa detik kemudian. Kiara tidak langsung menoleh, membiarkan momen itu terasa alami. Didengarnya suara langkah kaki itu kian mendekat, sebelum akhirnya berhenti tepat disebelahnya. Baru saat itulah Kiara mulai berbicara. "Orang-orang di dalam sana terlihat terlalu menikmati diri mereka sendiri." Suaranya terdengar lembut, tapi jelas. Beberapa detik berlalu sebelum pria itu menjawabnya, "Menikmati atau... berpura-pura menikmati." Suaranya terdengar dalam dan dingin, tidak berusaha untuk terdengar ramah. Kiara akhirnya menolehkan kepalanya. Dan akhirnya untuk pertama kalinya, pandangan mereka bertemu. "Kadang sulit dibedakan." Jawab Kiara tanpa memutus pandangannya. Elvano memperhatikannya dengan seksama. Tidak terlihat seperti pria yang tertarik pada wanita yang ada didepannya. Tapi seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu yang belum ia pahami. "Biasanya tidak." katanya sebelum mengalihkan pandangannya pada apa yang terlihat dari balik kaca itu. Kiara mengangkat alisnya, "Kalau begitu, anda pasti sudah berpengalaman." Ada sesuatu di sudut bibir Elvano—bukan senyum, tapi mendekati. "Pengalaman mengajarkan banyak hal." "Termasuk dalam bagaimana menilai orang?" "Termasuk itu." Ucapnya sambil mengangguk-angguk kecil. Kiara akhirnya ikut mengalihkan pandangannya, keheningan kembali tercipta. "Dan? Apa yang Anda lihat sekarang?" Tanyanya santai. Pertanyaan itu menggantung. Elvano tidak langsung menjawab. Ia mengamati Kiara dari pantulan kaca— cara wanita itu berdiri, berbicara, cara ia tidak berusaha menarik perhatian tapi tetap berhasil melakukannya. Berbeda. "Belum yakin." Jawabnya jujur. Itu bukan jawaban yang biasanya ia berikan. Dan Kiara tahu pasti akan hal itu. "Jawaban yang aman." "Jawaban yang jujur." "Biasanya orang seperti anda tidak membuang waktu untuk kejujuran." Elvano mengernyitkan dahinya, dan menolehkan kepalanya untuk menatap kembali secara langsung wanita disampingnya. "Orang seperti saya?" Kiara kembali menolehkan kepalanya menghadap pria itu, "Yang biasa mengendalikan situasi." Ucapnya dengan senyum kecil yang tersemat pada bibirnya. Satu detik. Dua detik. Dan sesuatu berubah. Untuk pertama kalinya Elvano benar-benar tertarik. Bukan karena wajahnya. Ataupun penampilannya. Tapi pada cara wanita itu berbicara seolah ia tidak terintimidasi. "Dan Anda?" Tanyanya balik, "Anda termasuk dalam kategori apa?" Kiara tidak langsung menjawab. Dibalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap pria itu. "Aku?" Jawabnya ringan. "Hnya seseorang yang tahu apa yang ia inginkan." Tatapan mata keduanya kembali bertemu. Namun kali ini, lebih tajam. "Dan biasanya," lanjutnya pelan "aku bisa selalu mendapatkannya." Elvano tidak bergerak. Ia hanya menatap wanita itu dengan fokus yang tidak lagi ia sembunyikan. Kiara merasa momen itu sudah cukup. Ia berbalik sepenuhnya, mulai melangkah pergi tanpa menunggu respon. "Nama Anda?" Tanya Elvano menghentikan langkah kakinya. Kiara berhenti. Senyum kembali tersemat dibibirnya. Ditolehkan sedikit kepalanya lalu menjawab, "Kalau Anda benar-benar ingin tahu, anda akan menemukannya." Sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Elvano sendirian di lorong itu. Dua menit berlalu. Dan Elvano masih berdiri terdiam ditempat yang sama. Tatapannya masih tertuju pada arah dimana Kiara menghilang. Ia tidak mengejar. Atau lebih tepatnya tidak pernah mengejar. Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia penasaran. Dan rasa penasaran itu adalah hal yang tidak ia sukai. Karena ia tahu— rasa itu adalah awal dari kehilangan kendali. ... Di sisi lain hotel nampak Kiara yang berjalan dengan tenang, langkahnya terdengar pasti meksipun detak jantungnya sedikit berubah. Bukan karena gugup atau sesuatu yang lain. Tapi karena ia berhasil. Lebih cepat dari apa yang ia bayangkan. Elvano Arvan Pranama sudah memakan bait yang ia pasang. Dan ini baru permulaan. Senyum lebar tersemat dibibirnya. Permainan ini akhirnya dimulai.Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,
Keputusan itu tidak lagi sekadar memenuhi sudut pikirannya.Selama dua hari terakhir, Kiara berusaha kembali pada rutinitas yang selama ini membantunya menjaga kendali. Ia membaca ulang laporan Arga, menelusuri catatan mengenai Saint Orla, bahkan mencoba menyusun kembali kronologi yang berkaitan dengan Darian. Namun setiap kali berhasil memusatkan perhatian pada penyelidikan, pikirannya selalu kembali berputar pada titik yang sama.Celine.Bukan pada kebenciannya.Melainkan pada ketakutan yang berulang kali berhasil ia tangkap di balik ketenangan perempuan itu.Semakin lama ia memikirkannya, semakin yakin Kiara bahwa seluruh pertahanan Celine berdiri di atas satu harapan yang sama—harapan keluarga Pramana akan seorang penerus.Kesimpulan itu tidak membuatnya merasa puas.Justru sebaliknya.Ia berharap menemukan jalan lain.Namun setiap kemungkinan yang ia susun selalu berakhir pada tujuan yang sama.Menjelang siang, Kiara akhirnya mengambil ponselnya.Ia mengetik sebuah pesan singkat.
Pikiran itu tidak hilang setelah malam berlalu.Bahkan ketika Kiara mencoba mengalihkan perhatiannya pada dokumen Saint Orla, laporan Arga, atau catatan lama tentang Darian, selalu ada satu bagian dalam pikirannya yang kembali pada halaman yang sama.Bukan karena ia belum menemukan jawaban.Melainkan karena perlahan ia mulai memahami arah yang selama ini berusaha ia hindari.Kesadaran itu membuatnya merasa tidak nyaman.Kiara duduk di ruang kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di atas meja. Namun tidak satu pun benar-benar ia baca. Matanya hanya tertuju pada catatan yang sebelumnya ia buat, seolah berharap kata-kata di halaman itu akan berubah jika ia melihatnya cukup lama.Ia kembali menatap catatan yang berisi berbagai kemungkinan yang sudah ia kumpulkan.Tentang posisi seseorang di dalam keluarga. Tentang bagaimana sebuah nama dan pengaruh dapat dipertahankan. Tentang faktor-faktor yang menentukan arah masa depan
Garis tebal yang dibuat Kiara di bawah kata anak masih terlihat jelas di buku catatannya.Sejak malam sebelumnya, ia sudah beberapa kali menutup buku itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba kembali fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. Namun setiap kali buku itu terbuka lagi, pandangannya selalu kembali pada halaman yang sama.Status.Anak.Hak waris.Posisi keluarga.Empat hal yang awalnya hanya ia anggap sebagai bagian dari strategi. Cara untuk memahami bagaimana keluarga Pramana melihat kekuasaan, hubungan, dan masa depan mereka. Cara untuk menemukan celah yang bisa digunakan untuk menghadapi Celine.Namun semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya menganggap semua itu hanya sebagai informasi biasa.Karena sekarang yang ia lihat bukan hanya sebuah kelemahan.Ia mulai melihat akibat yang mungkin muncul dari keputusan yang ia ambil. Dan semakin jelas gambaran itu terbentuk, semaki
Kiara baru benar-benar tertidur ketika dini hari hampir berganti pagi. Tidurnya pun tidak nyenyak. Beberapa kali ia terbangun sebelum akhirnya membuka mata saat cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai apartemennya. Ia tetap berbaring beberapa saat, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terasa penuh, meski ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak ada hal penting yang sedang dipikirkannya.Namun ingatannya kembali pada percakapannya dengan Celine semalam.Status tidak selalu mengikuti perasaan.Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Diucapkan dengan nada yang tenang, tanpa ancaman atau emosi yang berlebihan, tetapi justru karena itulah kata-kata tersebut meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.Dengan embusan napas pelan, Kiara bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang kerja. Laptop yang semalam ia tinggalkan masih tergeletak di atas meja. Begitu layar menyala, halaman terakhir yang terbuka langsung muncul di had
Celine tidak langsung pulang setelah meninggalkan klinik. Mobilnya masih terparkir di tempat yang sama, sementara amplop berisi hasil pemeriksaan itu terletak diam di kursi penumpang sebelah. Ia tidak perlu membukanya lagi. Isi dokumen tersebut sudah terlalu akrab untuk dilupakan. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Jalanan di hadapannya ramai seperti biasa, tetapi pikirannya masih tertinggal di ruang konsultasi beberapa menit lalu. -Peluang kehamilan alami Anda masih sangat rendah.- Kalimat itu tidak membawa kabar baru. Ia sudah mendengar versi yang sama bertahun-tahun lalu. Namun mendengarnya kembali tetap menimbulkan rasa sesak yang tidak pernah benar-benar hilang. Selama ini Celine berhasil hidup berdampingan dengan kenyataan tersebut. Ia menyimpannya rapat-rapat, jauh dari jangkauan keluarga Pramana, jauh dari pertanyaan Adrian, dan terutama jauh dari Elvano. Ia belajar ter
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di pintu balkon. Udara malam yang sebelumnya terasa tenang kini berubah—lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di antara tiga orang yang berdiri di sana. Kiara tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Dan karena itu,
Elvano tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Ia terbiasa berada satu langkah lebih depan. Terbiasa mengetahui siapa yang ia hadapi, apa yang mereka inginkan, dan sejauh mana mereka bersedia melangkah untuk mendapatkannya. Dunia tempatnya berdiri tidak memberi ruang untuk ketidaktah
Kota Valencia tidak pernah benar-benar tidur. Kota itu berdenyut pelan dibawah langit malam, hidup dalam cahaya lampu yang berkilau seperti ilusi yang terlalu indah untuk disentuh. Jalanan dipenuhi kendaraan yang meluncur tanpa henti, suara tawa yang bisa terdengar disetiap sudut kota. Dari mobi
"Orang-orang bilang ada lima tahap dalam berduka." Suara itu terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan kehilangan. "Hm," "Tapi mereka salah." Ada jeda di seberang sana, cukup lama untuk meneruskan penilaiannya. "Lalu? Apa yang benar?" "Mereka melupakan sa







