ログイン"Mereka bilang ada lima tahapan berduka — penyangkalan, amarah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Namun aku ingin menambahkan satu hal, pembalasan" Sepuluh tahun sejak kematian sang ayah, Kiara Snow kembali ke Kota Valencia untuk menagih hutangnya. Untuk setiap kekejaman yang dilakukan oleh Ibu dan Kakak tirinya, dan ia akan membuat mereka membayar sepuluh kali lipat. Dan senjata yang akan dia gunakan untuk membalas denadam? Seorang pria yang penuh dengan pengaruh dan kekuasaan. Suami dari Kakak tiri tercintanya, CEO dari Inovara Corp. Elvano Arvan Pramana. Kiara akan membuat pria itu menjadi miliknya. Cara terkejam yang akan ia lakukan adalah dengan mengandung anak dari pria tersebut. Hal yang tidak akan pernah bisa sang Kakak lakukan.
もっと見る"Orang-orang bilang ada lima tahap dalam berduka."
Suara itu terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membicarakan kehilangan. "Hm," "Tapi mereka salah." Ada jeda di seberang sana, cukup lama untuk meneruskan penilaiannya. "Lalu? Apa yang benar?" "Mereka melupakan satu hal paling penting dari kelima tahapan itu." Sunyi kembali tercipta. Dia bisa membayangkan ekspresi dari seseorang diseberang sana— bingung, mungkin sedikit tidak sabar. "Dan apa itu Kiara? Jangan bertele-tele." Kekeh kecilnya terdengar sebelum jawaban yang dia tunggu datang. Kiara Snow, wanita yang sedang melakukan pembicaraan melalui telepon itu akhirnya menjawab, "Pembalasan." Dia tersenyum tipis, melihat bayangannya sendiri yang terpantul di kaca gelap. "Hal gila apa yang akan kau lakukan Kiara—" Belum sempat orang itu menyelesaikan kalimatnya, Kiara telah memutus sambungan telepon itu. Perlahan, diturunkan ponsel dari telinganya. Kaca hitam memantulkan sosoknya yang berdiri didepan jendela. Seorang wanita dengan tatapan mata terlalu tajam dan senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun waktu yang cukup lama untuk melupakan dan menyembuhkan luka, kata orang-orang. Lucu sekali. Sepuluh tahun sama sekali tidak menyembuhkan luka itu. Sepuluh tahun hanya memberinya waktu untuk memahami rasa sakit itu. Menguliti lapisan demi lapisan sampai yang tersisa adalah sesuatu yang lebih dingin. Lebih kejam. Lebih berbahaya. Dilangkahkan kakinya mendekati jendela, derap langkahnya terdengar pelan di lantai marmer yang dingin. Dibawah sana, terlihat Kota Valencia yang membentang luas, bercahaya seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Kota ini tidak berubah. Masih sama terlihat indah, namun tersembunyi kepalsuan disana. Gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan angkuh. Jalan dipenuhi orang-orang yang melangkah dengan pasti, mengenakan pakaian mahal dengan senyum yang tersemat lebar disana. Segalanya terasa... Sempurna. Padahal ia tahu betul, kota ini dibangun di atas kebusukan yang tidak pernah hilang. Hanya, disembunyikan dengan lebih rapi. Dirinya pernah menjadi bagian dari itu. Atau... Lebih tepatnya dipaksa menjadi bagian dari itu. Jemari lentiknya mengencang di sekitar gelas anggur yang sajak tadi digenggam. Diputarnya gelas itu dengan pelan hingga menciptakan pusaran kecil yang tampak seperti hipnotis. Merah. Warna yang selalu mengingatkannya akan dua hal— kehidupan dan kehilangan. Kiara Snow yang dulu mungkin akan menganggap momen ini adalah momen yang indah. Dia yang dulu terlalu polos, terlalu percaya, dan terlalu berharap bahwa suatu saat nanti dunia akan memperlakukannya dengan adil. Namun, sekarang gadis itu sudah mati. Ia mati pada hari yang sama saat ayahnya menghembuskan napas terakhir. Yang tersisa hanyalah dirinya yang sekarang. Versi yang telah dibentuk dari rasa kehilangan. Yang belajar bahwa dunia tidak pernah memberi tanpa mengambil sesuatu sebagai gantinya. Mereka bilang sang ayah meninggal karena sakit yang sudah lama dideritanya. Ditambah rasa penyesalan yang hadir setelah mengirimnya ke negeri seberang sebagai hukuman untuknya. Mungkin, alasan itu terdengar masuk akal. Namun dirinya ingat. Ingat akan segala hal. Malam-malam panjang ketika suara bisikan terdengar dari balik pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Suaranya terdengar terlalu pelan untuk bisa dipahami, tapi cukup jelas untuk membuat seorang anak kecil merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia ingat dengan jelas tatapan wanita yang seharusnya dipanggil Ibu itu. Tatapan yang selalu terasa seperti menilai apakah dirinya cukup berharga untuk dipertahankan. Dia juga ingat senyum itu, senyum dari sang Kakak tirinya, selalu tampak sempurna didepan orang lain. Namun berubah menjadi tajam saat tidak ada yang melihat. Dan ia juga ingat, Meskipun dengan tipu daya yang telah dilakukan sang Ibu dan Kakak tirinya, dia tahu bahwa sang Ayah bukan pria yang ceroboh. Dan pria itu tidak hanya mati karena sakit yang dideritanya. Ia disingkirkan. Perlahan. Rapi. Dengan waktu yang cukup lama tanpa meninggalkan cukup bukti untuk membuat siapa pun mempertanyakannya. Kecuali dirinya, Kiara Snow. Kesalahan terbesar mereka bukanlah atas apa yang dilakukan pada sang Ayah. Kesalahan mereka adalah membiarkannya tetap hidup setelahnya. Mereka pikir, dengan tetap membiarkannya di pengasingan tidak akan menggangu rencana yang sudah mereka jalankan. Mereka pikir, Kiara, sang gadis polos itu tidak akan berani melakukan apapun atas hal yang telah terjadi. Dari kejauhan, matanya menangkap satu bangunan yang terlihat berdiri mencolok diantara bangunan lain. Tinggi, megah, dan dingin. Simbol kekuasaan. Simbol kendali. Disitulah mereka sekarang. Dia bisa membayangkan mereka tertawa di balik dinding-dinding itu. Menghadiri pesta-pesta mewah. Bertukar basa-basi dengan orang-orang penting. Hidup seolah dunia ini memang milik mereka. Kiara telah belajar mengendalikan diri. Belajar menahan amarah hingga ia berubah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Sesuatu yang lebih.... strategis. Semua sudah dipersiapkan. Setiap langkah telah diperhitungkan. Setiap kemungkinan telah dipikirkan. Setiap celah telah dipelajari. Dia tidak lagi bergerak dengan emosi. Ia sekarang bergerak dengan tujuan. Tentang memastikan bahwa rasa sakit yang pernah ia terima akan kembali kepada mereka. Bukan hanya sekali. Namun berkali-kali lipat. Mereka bilang tahap terakhir dari berduka adalah penerimaan. Dia pernah mencoba mempercayainya. Dia pernah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin… mungkin semua ini memang sudah seharusnya terjadi. Bahwa mungkin ayahnya benar-benar menjadi korban dari nasib yang buruk. Bahwa mungkin dirinya harus belajar cara melepaskan, untuk melupakan, dan menjalankan hidup. Tetapi setiap kali dirinya mencoba... sesuatu dalam dirinya seakan menolak gagasan itu. Karena jauh di dalam, dirinya tahu, bahwa ini belum selesai. Diteguknya anggur itu secara perlahan. Cairan itu terasa hangat saat melewati tenggorokannya, meninggalkan jejak pahit yang tertinggal lebih lama dari yang seharusnya. Persis seperti kenangan. "Sepuluh tahun." Bisiknya lirih. Waktu yang cukup untuk belajar dan menjadi seseorang yang tidak akan pernah mereka duga. Diletakkannya gelas kosong itu di meja dengan perlahan. Suara kecil yang dihasilkannya hampir tidak terdengar, tapi cukup untuk menandai sesuatu. Awal. Tanganku bergerak perlahan, meraih mantel yang tergantung di sandaran kursi. Kainnya terasa halus dan memiliki kesan mahal, elegan, sempurna. Seperti topeng yang akan ia pakai. Dipakainya dengan tenang, dibetulkannya kerahnya sebelum melihat kembali pantulan dirinya yang terlihat dari kaca. Tidak ada lagi jejak gadis polos itu. Tidak ada lagi keraguan didalamnya. Yang tersisa hanyalah seseorang yang tahu persis atas apa yang ia inginkan dan sejauh apa dia mampu berjalan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dibukanya pintu kamar, langkahnya ringan namun pasti. Dan tepat sebelum dirinya benar-benar keluar, dia berhenti sejenak. Satu tarikan napas. Satu detik keheningan. Cukup untuk mengingatkan dirinya sendiri— bahwa dia tidak kembali untuk mengenang. Tidak kembali untuk memaafkan. Dirinya kembali untuk mengakhiri. Senyum tipis itu kembali muncul. Dan kali ini… tidak ada yang menahannya. Kiara Snow akhirnya pulang.Kiara menatap pintu apartemen yang baru saja tertutup.Suara langkah Elvano sudah lama menghilang dari balik koridor. Namun keheningan yang ditinggalkannya masih memenuhi setiap sudut ruangan. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, seolah tubuhnya belum benar-benar menyadari bahwa percakapan mereka telah berakhir.Di atas meja, buku catatan itu masih terbuka.Halaman yang sama.Tulisan yang sama.Kiara melangkah mendekat, lalu menatapnya cukup lama sebelum menutup buku itu perlahan. Gerakannya tenang, tetapi pikirannya tidak. Semakin ia berusaha mengembalikan fokus pada penyelidikan, semakin jelas kalimat terakhir Elvano kembali terdengar di kepalanya."Aku ingin dia lahir karena dicintai."Ia memejamkan mata sesaat.Kalimat itu seharusnya tidak mengubah apa pun. Rencananya tetap masuk akal. Perhitungannya tetap sama. Celine tetap memiliki titik lemah yang tidak dimiliki siapa pun.Namun entah mengapa, ia tidak lagi mampu memandang semuanya dengan kejernihan yang sama.....Malam itu,
Keputusan itu tidak lagi sekadar memenuhi sudut pikirannya.Selama dua hari terakhir, Kiara berusaha kembali pada rutinitas yang selama ini membantunya menjaga kendali. Ia membaca ulang laporan Arga, menelusuri catatan mengenai Saint Orla, bahkan mencoba menyusun kembali kronologi yang berkaitan dengan Darian. Namun setiap kali berhasil memusatkan perhatian pada penyelidikan, pikirannya selalu kembali berputar pada titik yang sama.Celine.Bukan pada kebenciannya.Melainkan pada ketakutan yang berulang kali berhasil ia tangkap di balik ketenangan perempuan itu.Semakin lama ia memikirkannya, semakin yakin Kiara bahwa seluruh pertahanan Celine berdiri di atas satu harapan yang sama—harapan keluarga Pramana akan seorang penerus.Kesimpulan itu tidak membuatnya merasa puas.Justru sebaliknya.Ia berharap menemukan jalan lain.Namun setiap kemungkinan yang ia susun selalu berakhir pada tujuan yang sama.Menjelang siang, Kiara akhirnya mengambil ponselnya.Ia mengetik sebuah pesan singkat.
Pikiran itu tidak hilang setelah malam berlalu.Bahkan ketika Kiara mencoba mengalihkan perhatiannya pada dokumen Saint Orla, laporan Arga, atau catatan lama tentang Darian, selalu ada satu bagian dalam pikirannya yang kembali pada halaman yang sama.Bukan karena ia belum menemukan jawaban.Melainkan karena perlahan ia mulai memahami arah yang selama ini berusaha ia hindari.Kesadaran itu membuatnya merasa tidak nyaman.Kiara duduk di ruang kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di atas meja. Namun tidak satu pun benar-benar ia baca. Matanya hanya tertuju pada catatan yang sebelumnya ia buat, seolah berharap kata-kata di halaman itu akan berubah jika ia melihatnya cukup lama.Ia kembali menatap catatan yang berisi berbagai kemungkinan yang sudah ia kumpulkan.Tentang posisi seseorang di dalam keluarga. Tentang bagaimana sebuah nama dan pengaruh dapat dipertahankan. Tentang faktor-faktor yang menentukan arah masa depan
Garis tebal yang dibuat Kiara di bawah kata anak masih terlihat jelas di buku catatannya.Sejak malam sebelumnya, ia sudah beberapa kali menutup buku itu. Ia mencoba mengalihkan pikirannya, mencoba kembali fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritasnya. Namun setiap kali buku itu terbuka lagi, pandangannya selalu kembali pada halaman yang sama.Status.Anak.Hak waris.Posisi keluarga.Empat hal yang awalnya hanya ia anggap sebagai bagian dari strategi. Cara untuk memahami bagaimana keluarga Pramana melihat kekuasaan, hubungan, dan masa depan mereka. Cara untuk menemukan celah yang bisa digunakan untuk menghadapi Celine.Namun semakin banyak yang ia pahami, semakin sulit baginya menganggap semua itu hanya sebagai informasi biasa.Karena sekarang yang ia lihat bukan hanya sebuah kelemahan.Ia mulai melihat akibat yang mungkin muncul dari keputusan yang ia ambil. Dan semakin jelas gambaran itu terbentuk, semaki
Langkah kaki itu akhirnya berhenti tepat di pintu balkon. Udara malam yang sebelumnya terasa tenang kini berubah—lebih berat, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di antara tiga orang yang berdiri di sana. Kiara tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Dan karena itu,
Elvano tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Ia terbiasa berada satu langkah lebih depan. Terbiasa mengetahui siapa yang ia hadapi, apa yang mereka inginkan, dan sejauh mana mereka bersedia melangkah untuk mendapatkannya. Dunia tempatnya berdiri tidak memberi ruang untuk ketidaktah
Malam itu, hotel tempat Kiara menginap berubah menjadi panggung bagi para pemain kekuasaan. Aula utamanya dipenuhi cahaya kristal dari lampu gantung besar yang menggantung anggun di langit-langit tinggi. Musik lembut mengalun, cukup untuk menciptakan suasana elegan tanpa mengganggu percakapan-percak
Kota Valencia tidak pernah benar-benar tidur. Kota itu berdenyut pelan dibawah langit malam, hidup dalam cahaya lampu yang berkilau seperti ilusi yang terlalu indah untuk disentuh. Jalanan dipenuhi kendaraan yang meluncur tanpa henti, suara tawa yang bisa terdengar disetiap sudut kota. Dari mobi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.