Share

261. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-07-24 22:48:05

Ares yang baru saja pulang dari kantor polisi, mendaratkan bokongnya di salah satu sofa kosong. Pria kaku itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar melalui mulut.

Melihat reaksi yang ditunjukkan Ares, Satria dan Tuan Arya saling melempar pandang. Lalu, keduanya menatap pria kaku itu bersamaan, seolah menunggu kabar yang baru saja dibawanya dari kantor polisi.

"Gimana, Om? Apa tahanan itu udah ngaku?" Satria yang duduk di samping papanya melayangkan pertanyaan pada Ares.

Pem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   281. PPPN

    "Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   280. PPPN

    "Oh... ternyata kayak gini kelakuan kalian kalau gak ada aku di rumah! Dasar binatang, gak punya otak!"Brak!Bantingan keras pintu yang diiringi suara teriakan Diana membuat Tuan Seno dan Nabila terkesiap. Keduanya sama-sama membeku selama beberapa detik, seolah baru saja tersadar dari apa yang telah mereka lakukan.Panik, Tuan Seno mencabut batangan tegangnya yang bersemayam di dalam lubang apem Nabila, lalu bergerak turun dari atas ranjang.Pria paruh baya itu meraih celananya dan memakainya dengan terburu-buru. Tangannya gemetar karena ketakutan melihat Diana yang kini berdiri di ambang pintu.Begitu pula dengan Nabila yang panik setengah mati. Dengan tubuh telanjangnya, gadis binal itu meraih hotpants-nya yang berada di ujung kasur."Binatang kalian berdua, anjing!" maki Diana dengan suara melengking keras.Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Tatapannya berpindah dari Tuan Seno pada Nabila yang terlihat panik dan ketakutan.Melihat kemarahan istrinya, Tuan Seno y

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   279. PPPN

    Siang itu, Tuan Seno yang berada di perusahaan kembali ke rumah dalam keadaan yang kacau.Wajahnya kusut. Ia pusing memikirkan Togar yang diringkus oleh polisi. Takut anak buahnya itu buka mulut.Tiba di rumah, keadaan begitu sepi. Hanya ada Nabila yang sedang tiduran santai di sofa sambil bermain ponsel."Om, udah pulang?" kata Nabila, menyapa Tuan Seno yang baru saja pulang dari kantor."Hmm... Diana mana?" tanya Tuan Seno sembari mengendurkan dasi yang melilit di lehernya.Ditanya, Nabila yang memakai crop top dan hotpants itu beringsut, lalu duduk dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa."Mama Diana pergi belanja sama teman-temannya. Katanya tadi sore baru pulang," kata Nabila, menjawab pertanyaan Tuan Seno dengan mata menatap wajah kusutnya. "Om kenapa? Kok kayaknya pusing banget?" tanyanya kemudian.Tuan Seno menghela napas panjang. Lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Nabila dan memeluk pinggang ramping gadis itu."Capek, pusing mikirin kerjaan di kantor," jawab Tuan Seno.Cup

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   278. PPPN

    "Tolong, tolong lepasin saya, Pak. Kalau saya di penjara, saya jamin gak akan lama saya bakal mati juga kayak Hendra!"Togar yang digiring ke ruangan interogasi tak henti-hentinya berteriak minta tolong. Bahkan, pria itu terlihat histeris dan ketakutan. Wajahnya pucat pasi, sedangkan tubuhnya terus berusaha melawan meskipun kedua tangannya sudah diamankan oleh petugas.Pria itu takut mati tragis seperti Hendra jika mendekam di balik jeruji besi. Kematian Hendra yang terjadi di dalam sel tahanan membuat nyali Togar benar-benar ciut. Ia tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti Hendra. Baginya, penjara bukan tempat untuk mempertanggungjawabkan kesalahan, melainkan tempat yang akan menjadi akhir dari hidupnya."Mati seperti Hendra? Kalau bukan karena kamu, Hendra gak akan mati, bodoh!" bentak petugas polisi.Kepala Togar langsung menggeleng. Deru napasnya memburu, "Enggak, Pak. Bukan saya yang bunuh Hendra, saya cuma disuruh dan dipaksa. Kalau saya gak mau, saya yang bakal dibunuh d

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   277. PPPN

    Dor!Seorang polisi melepaskan tembakan ke udara, berniat menghentikan Togar yang berusaha melarikan diri dari kejaran petugas.Namun, Togar yang tak ingin ditangkap, dan mendekam di balik jeruji besi, lalu berakhir mati tragis seperti Hendra, sama sekali tak berniat menghentikan langkahnya. Pria itu justru berlari tunggang-langgang menyusuri area pelabuhan.Niat Togar hari itu adalah melarikan diri ke luar pulau. Ia pikir, dengan pergi sejauh mungkin, polisi tidak akan pernah menemukannya. Namun, baru saja tiba di pelabuhan, ia justru mendapati polisi sudah lebih dulu menunggunya di sana."Sial! Kenapa polisi bisa tahu kalau aku pergi ke tempat ini?" kata Togar dengan napas terengah-engah.Panik, pria itu semakin mempercepat langkahnya. Ia benar-benar tidak ingin masuk penjara dan berakhir tragis seperti Hendra yang dihabisi Tuan Seno melalui tangan orang lain lantaran tak ingin harga rahasia busuknya terbongkar."Berhenti! Atau kami tembak?!" peringat salah satu petugas polisi denga

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   276. PPPN

    "Dari mana lagi kamu?"Satria yang baru saja pulang dan memasuki kamar seketika menghentikan langkahnya lantaran ditegur oleh Rain yang duduk bersandar pada kepala ranjang.Pemuda itu menatap istrinya dan menyengir kuda. Akhir-akhir ini, ia memang sibuk menemani Andrean yang sedang dalam masa berkabung, sekaligus memata-matai Tuan Seno. Bahkan, hampir setiap hari ada saja urusan yang membuatnya keluar dari rumah dan pulang lebih lambat dari biasanya."Sayang, aku minta ma—""Udah nemenin Andrean? Dia udah tenang?"Degh!Jantung Satria berdetak dua kali lebih cepat. Ia lupa jika istrinya memiliki banyak mata-mata dan sangat mudah bagi wanita itu untuk mengetahui apa saja kegiatannya di luar rumah."Hee... dia sempat mau bunuh diri, makanya kali ini aku pulang telat," kata Satria dengan wajah meringis."Peduli banget, ya, sama dia sekarang. Kalau orang luar lihat, pasti ngiranya kalian adik kakak!" kata Rain dengan ketus.Jelas jika wanita hamil itu tidak suka Satria terlalu dekat denga

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   2. PPPN

    "Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   1. PPPN

    "Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung." Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   4. PPPN

    "Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   3. PPPN

    "Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status