分享

177. Part 13

last update publish date: 2026-05-10 01:01:56

Samudra Langit manggut-manggut mengiyakan.

"Tapi.... tua bangka sepertiku mana bisa menari."

Dia menggaruk kepala sementara Sang Rajawali memperlihatkan sikap tidak suka mendengar ucapan Bocah Ontang Anting.

Tak ingin mahluk besar itu menjadi murka. Dengan gerakan kaku terkesan seadanya mulailah Bocah Ontang Anting menari.

Samudra Langit tampak berjingkrak-Jingkrak kegirangan melihat gerakan tarian si kakek yang terkesan ngawur dan asal-asalan ini. Bocah Ontang Ant

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   232. Part 23

    Pendekar Sinting balikkan badan, dia menatap ke arah adipati Seta Kurana yang baru saja bangkit berdiri. Sang adipati menyeka mulutnya yang berlumur darah. Dia juga diam-diam mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam di dada. Tapi akibat dua rusuk yang patah menusuk paru-paru upaya penyembuhan itu tidak banyak berguna."Adipati, kau masih punya kesempatan untuk bertobat. Serahkan cambuk itu." Kata Angon Luwak.Adipati menyeringai. "Aku lebih suka kau yang menyerahkan nyawa kepadaku! Hiaa....." Teriak adipati dengan suara lantang.Teriakan itu disusul dengan serangan ganas yang mengandalkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi berkat jurus Dewa Sinting Kegirangan. Semua serangan yang dilakukan adipati hanya mengenai tempat kosong.Sadar semua serangan ganas yang dilakukannya tak mengenai sasaran. Bahkan lawan dengan mudah dapat meloloskan diri. Geram bercampur penasaran Adipati segera merangsak maju.Cambuk yang terg

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   231. Part 22

    Mendengar syair yang diucapkan oleh Penyair Sinting itu karuan saja sang adipati tak dapat menahan kegusarannya. Tanpa banyak kata diawali dengan teriakan melengking.Laki-laki ini melesat ke atas pohon tepat dimana Penyair Sinting berada. Begitu tubuhnya melambung tinggi dan gadis ini berada dalam jangkauannya adipati hantamkan cambuk sakti di tangannya.Begitu cambuk membelah udara. Sama seperti yang terjadi pada Si Mata Bara. Tiba-tiba dari ujung hingga ke bagian hulu cambuk membersit cahaya putih terang laksana kilat. Seiring dengan menderunya cambuk ke arah Penyair Sinting. Di udara bertaburan ribuan butiran cahaya berkilau mirip intan. Dikejauhan terdengar lolongan dan lenguh suara mahluk aneh mirip suara Naga.Penyair Sinting yang sudah mengetahui kehebatan cambuk tidak menunggu hingga tubuhnya terbetot oleh suatu kekuatan yang bersumber dari cambuk. Dia yang memiliki ilmu meringankan tubuh serta gerakan cepat luar biasa segera sentakkan tubuhnya kebelaka

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   230. Part 21

    Trat! Buum!Lagi-lagi terdengar suara letupan keras menggeledek, Adipati kembali tergetar. Dua kakinya amblas melesak ke dalam tanah akibat guncangan. Pakaian dibagian depan robek besar, nampak hangus mengepulkan asap. Sementara bagian dalam dada seperti remuk.Adipati langsung melesat ke udara begitu melihat si Mata Bara bangkit dan dengan menggunakan pukulan tangan kosong dia menyerang lawannya. Begitu keduanya mengapung diketinggian.Mata Bara segera hantamkan dua tangannya ke perut sang adipati. Gerakan tangan yang sedemikian cepat menimbulkan suara berkesiuran. Inilah yang ditunggu adipati. Begitu serangan datang dia mengenjot tubuhnya hingga melambung lebih tinggi.Dua serangan luput.Adipati ulurkan cambuk lalu Cambuk Sakti Naga intan itu kemudian diayun dan dicambukkan ke tubuh lawannya. Suara gemuruh mengerikan menderu menyertai berkelebatnya cambuk. Pijaran seribu cahaya mirip tebaran intan memenuhi udara.Kemudian terdengar suara

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   229. Part 20

    "Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga intan milik Harimau Setan." Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya.Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini."Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan. Ambillah, kalau kau merasa tidak puas kau juga boleh mengambil nyawaku," Kata adipati Seta Kurana.Laki-laki itu kemudian jatuhkan diri berlutut di atas lantai. Laki-laki itu menangis tersedu sedangkan cambuk dia biarkan tergeletak dilantai yang dingin. Sikap adipati yang berubah menjadi baik sudah barang tentu membuat heran para pengawalnya. Sedangkan Si Mata Bara nampaknya tambah percaya bahwa adipati yang sangat dia benci benar-benar telah insyaf.Maka tanpa keraguan dia melangkah mendekati adipati itu. Meliha

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   228. Part 19

    "Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah."Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak. Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata."Cukup sudah kalian menghina dan meren

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   227. Part 18

    "Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   73. Part 4

    Keempat laki-laki anak buah Golok Terbang pun terdiam. Si Tinggi kini bangkit berdiri, menghadap pada pemuda di depannya dengan tatap mata mencorong talam dibakar amarah."Anak muda. Siapa kau. Beraninya kau mengaku raja? Memangnya kau ini raja apa?"Si pemuda tersenyum, sambil penc

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   72. Part 3

    Hanya tersenyum. Tapi senyuman gadis membuat laki-laki tinggi berpakaian kuning agaknya merasa diabaikan kalau tak dapat dikata cemburu. Dengan suara menggeram, tanpa menoleh laki-laki itu berkata ditujukan pada Angon Luwak."Kedai ini hanya diperuntukan bagi orang yang berilmu tinggi, ora

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   72. Part 2

    Ketika menginjakkan kakinya di depan pintu kedai pemuda lugu berwajah tampan namun suka bertingkah seperti layaknya orang sinting ini julurkan kepala melongok ke dalam. Kedai itu dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang menikmati hidangan dan minuman berbau aneh tapi harum.Wajah pemuda i

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 25

    Malam itu, diantara debur ombak ganasnya Pantai Selatan. Di keremangan sinar bulan yang bersinar, tampak sesosok tubuh yang tengah duduk menghadap ke arah laut pantai selatan. Melihat posisinya, sosok yang ternyata adalah seorang pemuda berambut kemerahan itu tengah melakukan semadi. Melihat soso

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status