LOGIN"Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga intan milik Harimau Setan." Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya.
Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini.
"Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan. Ambillah, kalau kau merasa tidak
Mendengar syair yang diucapkan oleh Penyair Sinting itu karuan saja sang adipati tak dapat menahan kegusarannya. Tanpa banyak kata diawali dengan teriakan melengking.Laki-laki ini melesat ke atas pohon tepat dimana Penyair Sinting berada. Begitu tubuhnya melambung tinggi dan gadis ini berada dalam jangkauannya adipati hantamkan cambuk sakti di tangannya.Begitu cambuk membelah udara. Sama seperti yang terjadi pada Si Mata Bara. Tiba-tiba dari ujung hingga ke bagian hulu cambuk membersit cahaya putih terang laksana kilat. Seiring dengan menderunya cambuk ke arah Penyair Sinting. Di udara bertaburan ribuan butiran cahaya berkilau mirip intan. Dikejauhan terdengar lolongan dan lenguh suara mahluk aneh mirip suara Naga.Penyair Sinting yang sudah mengetahui kehebatan cambuk tidak menunggu hingga tubuhnya terbetot oleh suatu kekuatan yang bersumber dari cambuk. Dia yang memiliki ilmu meringankan tubuh serta gerakan cepat luar biasa segera sentakkan tubuhnya kebelaka
Trat! Buum!Lagi-lagi terdengar suara letupan keras menggeledek, Adipati kembali tergetar. Dua kakinya amblas melesak ke dalam tanah akibat guncangan. Pakaian dibagian depan robek besar, nampak hangus mengepulkan asap. Sementara bagian dalam dada seperti remuk.Adipati langsung melesat ke udara begitu melihat si Mata Bara bangkit dan dengan menggunakan pukulan tangan kosong dia menyerang lawannya. Begitu keduanya mengapung diketinggian.Mata Bara segera hantamkan dua tangannya ke perut sang adipati. Gerakan tangan yang sedemikian cepat menimbulkan suara berkesiuran. Inilah yang ditunggu adipati. Begitu serangan datang dia mengenjot tubuhnya hingga melambung lebih tinggi.Dua serangan luput.Adipati ulurkan cambuk lalu Cambuk Sakti Naga intan itu kemudian diayun dan dicambukkan ke tubuh lawannya. Suara gemuruh mengerikan menderu menyertai berkelebatnya cambuk. Pijaran seribu cahaya mirip tebaran intan memenuhi udara.Kemudian terdengar suara
"Aku memang ingin menuntut balas atas kemusnahan kaumku. Aku juga datang ingin mengambil kembali Cambuk Sakti Naga intan milik Harimau Setan." Terang Mata Bara mulai terpancing hingga berkurang kewaspadaannya.Adipati cepat menyeka air matanya. Tidak terduga dia mengambil cambuk rampasan yang tergelung di pinggangnya. Adipati julurkan tangan, angsurkan cambuk ini."Aku mohon maaf atas semua kejadian di masa lalu. Cambuk ini sekarang kukembalikan. Ambillah, kalau kau merasa tidak puas kau juga boleh mengambil nyawaku," Kata adipati Seta Kurana.Laki-laki itu kemudian jatuhkan diri berlutut di atas lantai. Laki-laki itu menangis tersedu sedangkan cambuk dia biarkan tergeletak dilantai yang dingin. Sikap adipati yang berubah menjadi baik sudah barang tentu membuat heran para pengawalnya. Sedangkan Si Mata Bara nampaknya tambah percaya bahwa adipati yang sangat dia benci benar-benar telah insyaf.Maka tanpa keraguan dia melangkah mendekati adipati itu. Meliha
"Kalian cuma kurcaci tidak berguna. Aku ingin bertemu adipati Seta Kurana, bukan cecunguk seperti kalian," Sahut laki-laki itu.Karuan saja ucapan Mata Bara membuat para pengawal dan wakil senopati menjadi sangat marah."Kau memang manusia terkutuk keparat. Kau tak mengenal tata karma. Kau berani menyebut gusti adipati secara sembrono, kau juga telah berlaku lancang menghina kami para pengawal adipati. Aku yakin adipati tak mau menemuimu," Kata Soma Prawira sambil mencabut pedang besar yang tergantung di punggungnya.Dikatakan sebagai Manusia Terkutuk mendidih darah si Mata Bara. Sekali tangannya bergerak. Tahu-tahu Soma Prawira kena dicekalnya. Wakil senopati meringis kesakitan ketika tangan kanannya yang memegang pedang besar dipuntir ke belakang sedang pedangnya dirampas Mata Bara. Sambil memiting tangan Soma Prawira, pedang besar ditimang lalu dibolang baling ke udara. Sebentar dengan sikap mengancam dia berkata."Cukup sudah kalian menghina dan meren
"Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang
Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah. Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak. "Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!" Geram senopati meledak-ledak.Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!" Teriak si nenek.Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya."Jahanam! ilm
Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Pur
Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan bat
Ratusan rambut panjang berputusan. Namun Maha Sesat mampu menyarangkan pukulan ganasnya ke bagian dada Maut Biru. Tanpa ampun cekalan Maut Biru pada rambut awan terlepas, tubuhnya terpental sejauh lima tombak dan dia jatuh terkapar dengan mulut semburkan darah sementara di bagian dada terdapat se
BERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni







