MasukUdara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi kulit.
Cahaya lampu meja remang menyinari separuh wajah pria itu, menciptakan bayangan tajam mempertegas garis rahang yang keras. Aura wajah arogan dan kejam yang kental, begitu mendominasi. Dia menenggak kembali vodka yang sejak tadi menemaninya.
Tak tanggung-tanggung sebuah botol vodka premium yang terletak di atas meja, sekarang hanya tinggal setengah saja. Alkohol mampu menenangkan pikirannya yang agak sedikit berisik. Meski ruangan ini tenang, tapi faktanya pikirannya seakan telah beradu argumentasi.
Tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi, membuat Mathias menoleh menatap dingin ke arah pintu sambil meminta orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. Nada suara rendah, tapi penuh wibawa membuat siapa pun yang mendengar suaranya pasti merinding.
“Tuan,” sapa Nash Brown, asisten pribadi Mathias yang sangat dipercayai. Bisa dikatakan pria itu merupakan tangan kanan Mathias Cameron.
“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias to the point. Lebih dari lima belas tahun asisten pribadinya tak pernah berganti. Jelas dia tahu setiap gerak gerik sang asisten akan menimbulkan penuh maksud.
Nash menatap sopan tuannya. “Tuan, dana investasi Cameron Group ke Brantley Group sudah dikirim. Tapi ada sedikit kendala, Tuan. Hmm, lebih tepatnya Tuan Preston Brantley melakukan penawaran.”
Kening Mathias mengerut, menatap dingin, dan tajam pada sang asisten. “Penawaran apa yang diinginkan tua bangka itu?” balasnya menusuk.
“Begini, Tuan Preston Brantley mengatakan, putri keduanya adalah orang yang terbilang tertutup, dan dijamin belum pernah berhubungan dengan siapa pun. Jadi, Tuan Preston meyakinkan bahwa Anda mendapatkan barang yang bagus dan mahal sekalipun itu hanya pengganti. Oleh karena itu, Tuan Preston meminta dana investasi tambahan. Tapi, dana tambahan ini dia ingin Anda memberi secara cuma-cuma. Dia meminta sekitar lima ratus juta dollar,” terang Nash melaporkan apa yang dikatakan Preston padanya via telepon tadi.
Mathias belum merespons apa pun. Pria itu menyeringai keji mendengar laporan dari sang asisten. Dia meletakan gelas di tangannya ke atas meja, lalu jari telunjuknya mengusap pinggir gelas. Rokok di tangannya sudah dia matikan, dan senyuman itu menunjukkan penuh kemenangan.
“Tua bangka itu benar-benar menjadikan anaknya sebagai pelacur, hm?” balas Mathias kejam.
“Tuan, maaf saya baru saja mendapatkan informasi tentang Nona Hailey. Sejak saya tahu Nona Ava melarikan diri, saya langsung bergerak mencari tahu tentang Nona Hailey. Mungkin informasi yang saya dapatkan bisa membuat Anda berpikir langkah ke depannya tentang rencana Anda,” jawab Nash lagi dengan nada tenang, tapi penuh wibawa sebagai seorang yang sangat dipercayai.
Ya, tepat di kala Mathias mendapatkan informasi tentang calon pengantin yang seharusnya melarikan diri, Nash bergerak cepat memberi tahu. Pun awalnya Nash berpikir tuannya itu akan membatalkan pernikahan, karena kesepakatan yang ada adalah tuannya menikah dengan putri sulung dari keluarga Brantley, bukan putri bungsu.
Namun, fakta yang ada adalah Mathias tetap melanjutkan pernikahan sekalipun pengantin wanita telah digantikan. Terdengar gila dan tak masuk akal, seakan pernikahan hanya sebuah permainan. Padahal janji suci pernikahan terucap secara sungguh-sungguh, dalam arti akan sangat dosa besar jika pernikahan tersebut benar-benar diperilakukan seperti permainan.
“Katakan,” jawab Mathias dingin sambil menatap Nash, dengan tatapan penuh tuntutan.
Nash terdiam sebentar, dan menatap tuannya dengan tatapan sopan bercampur serius. “Tuan, saya mendapatkan informasi dari orang terpercaya bahwa Nona Hailey Brantley bukan putri kandung keluarga Brantley. Fakta ini belum diketahui banyak orang. Itu kenapa saat saya mencari tahu lengkap, tidak mudah untuk saya ketahui semuanya. Sepertinya keluarga Brantley menutupi ini.”
Sebelah alis Mathias terangkat, dengan seringai keji terlukis di wajah tampan pria itu. “Jadi, tua bangka itu menyodorkan anak angkatnya untukku?” balasnya tajam, dan tersirat penuh maksud.
Nash terdiam sebentar, tampak berpikir. “Tuan, menurut saya Preston Brantley dalam keadaan terdesak. Karena kondisinya Nona Ava melarikan diri di hari pernikahan. Pun informasi tambahan yang saya dapatkan Tuan Preston memberikan Nona Hailey yang terbaik termasuk pendidikan yang terbaik. Itu artinya Tuan Preston sudah menganggap Nona Hailey seperti putri kandungnya sendiri, bukan?” jawabnya sopan, menduga.
Mathias tertawa sinis, dengan sorot mata yang menunjukkan penuh arti khusus. “Disekolahkan, diberikan makan, diberikan tempat tinggal tidak memiliki arti dianggap seperti anak kandung. Mungkin lebih tepatnya dipelihara dengan baik agar di masa depan memiliki nilai yang mahal. Nash, kau harus ingat, di dunia ini tidak ada yang gratis.”
Nash dibuat bungkam oleh kata-kata Mathias. Sebab, apa yang dikatakan tuannya itu tidak sepenuhnya salah. Malah lebih tepatnya bisa dikatakan benar. Hanya saja tuannya itu terlalu menusuk ketika mengungkapkan kata.
“Tuan, jadi langkah apa yang akan Anda ambil? Apakah Anda akan pengajuan pembatalan pernikahan?” tanya Nash hati-hati.
Mathias melangkah menuju jendela besar ruang kerjanya, menatap lurus ke depan dengan sorot mata penuh arti. “Untuk sementara ini biarkan saja. Dan permintaan tua bangka itu tidak usah didengar. Aku menambah investasi di perusahaannya sudah lebih dari cukup. Jika dia minta tambah, lebih baik aku menyuruhmu menebas kepala tua bangka itu.”
Nash menelan salivanya susah payah mendengar ucapan tuannya. Detik itu, tanpa mau berkata apa pun, dia segera pamit undur diri. Sebab menurutnya perintah dan jawaban dari tuannya adalah final, dan tak bisa dibantahkan sama sekali.
Keheningan kembali membentang. Nash sudah pergi. Mathias kembali menuangkan vodka ke gelas, dan menyesap secara perlahan. Tampak dari pantulan kaca jendela, dia melihat bayangan dirinya sendiri. Seringai di wajahnya terlukis, dengan sorot mata penuh arti khusus.
***
Lampu kristal di langit-langit kamar sengaja diredupkan, menyisakan pendar keemasan yang melankolis di ruangan bertema cream dan ivory itu. Kamar tersebut adalah perpaduan antara kemewahan yang dingin dan kesunyian yang mencekam. Ranjang king-size dengan sprei sutra berkualitas tinggi mendominasi tengah ruangan, dikelilingi oleh furnitur kayu bercat putih porselen yang tampak mahal.
Pintu besar itu terbuka tanpa suara. Mathias melangkah masuk, aroma vodka dan tembakau yang samar dari tubuhnya seketika merusak keharuman bunga lili yang menghiasi sudut kamar. Pria itu tidak melepaskan kemejanya, hanya melonggarkan kancing atasnya, menatap lurus ke arah ranjang—di sana Hailey tergeletak.
Wanita itu tertidur dalam posisi yang menyedihkan yaitu setengah meringkuk di atas tutupan ranjang, masih lengkap dengan gaun pengantin putih yang megah tapi kini tampak kusut. Ekor gaun yang panjang menjuntai hingga ke lantai marmer, seperti sayap burung yang patah. Rambut yang semula tertata rapi kini terurai berantakan di atas bantal, membingkai wajahnya yang agak pucat.
Mathias melangkah mendekat, sepatu pantofel pria itu tenggelam dalam karpet bulu yang tebal. Dia berdiri di sisi ranjang, menunduk menatap dingin seseorang yang dijadikan barang pertukaran.
Perlahan senyum di wajah pria itu terlukis, di bawah cahaya remang, dia bisa melihat kelopak mata Hailey agak membengkak dan kemerahan seperti bekas tangis yang cukup hebat, dan meninggalkan bekas.
Kesunyian menyelimuti kamar itu, dan Mathias masih bergeming di tempatnya, sampai tiba-tiba, tubuh Hailey menegang kecil. Napas wanita itu yang semula teratur berubah menjadi pendek dan tersengal. Bibir yang pucat bergetar, mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan malam.
“Jangan tinggalkan aku … aku mohon,” rintih Hailey dalam tidurnya.
Tangan mungil wanita itu meremas sprei dengan kuat, seolah-olah dia sedang mencoba berpegangan pada sesuatu di tengah badai dalam mimpinya. Air mata baru mengalir dari sudut matanya yang tertutup, membasahi bantal sutra di bawahnya.
Mathias terpaku, belum memberikan respons apa pun. Rintihan suara Hailey memang pelan, tapi sangat terdengar ditelinganya. Detik itu, seringai keji yang biasanya menghiasi wajah pria itu memudar sesaat, digantikan oleh tatapan tajam yang sulit diartikan.
Perlahan, pria tampan itu mengulurkan tangan, dan jari yang kasar serta dingin menyentuh pipi Hailey yang basah. Lantas, dia menyeka air mata itu dengan gerakan yang tidak bisa dibilang lembut, tapi juga tak kasar.
“Nasibmu di dunia ini tidak bagus, Hailey,” bisik Mathias serak, penuh tuntutan mendalam.
Hailey mengerang kecil seolah merasakan kehadiran predator di dekatnya, tapi tetap da tidak terbangun. Dia masih tenggelam kembali ke dalam tidur yang gelap. Sementara Mathias tetap di sana, memperhatikan dengan tatapan seorang pemilik yang baru saja menemukan mainan paling menarik sekaligus paling rusak yang pernah dia miliki.
Mobil Range Rover Autobiography milik Mathias meluncur mulus meninggalkan mansion. Hailey berdiri di ambang pintu, menatap Mathias yang sudah berangkat bekerja. Sementara dia hanya berdiam diri di rumah.Dulu, Hailey kerap membantu beberapa urusan di Brantley Group. Meski bukan pimpinan atau memegang jabatan penting, tapi dia tetap membantu karena memang dia disekolahkan tinggi untuk membantu Brantley Group. Namun, tentu dia bukan orang yang memegang keputusan penting di sana.Setelah menikah dengan Mathias, Hailey tak bisa membantu Brantley Group. Ayahnya pernah mengatakan padanya untuk fokus menjadi istri Mathias Cameron. Jelas, permintaan ayahnya demi ayahnya itu mencapai keinginan dengan mudah. Seperti contoh terakhir ibunya mengirimkan pesan padanya untuk membujuk Mathias menginvestasikan uang lagi.Ya, pesan ibunya sudah dia balas. Balasan singkat di mana Hailey mengatakan Mathias ingin bicara langsung dengan ayahnya di kantor. Tak ada bahasan apa pun lagi
Suara pintu kamar yang tertutup rapat di belakang punggung Hailey seolah menjadi sekat antara dirinya dan dunia luar yang menyesakkan. Dia bersandar pada daun pintu yang kokoh, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas hamparan karpet beludru mahal.Hailey berada di kamar mewah, bisa dikatakan seumur hidupnya, belum pernah dia tinggal di tempat yang sederhana. Meski keluarga Brantley tidak sehebat Mathias Cameron, tapi fakta yang ada dia tetap diberikan kehidupan nyaman oleh keluarga Brantley, walau itu kenyamanan itu tak pernah ada dari segi hati.Hailey tersiksa selalu seperti sekarang. Dia seolah berada di penjara emas. Tak ada perubahan. Dulu dia berada di penjara emas keluarga Brantley, sekarang berubah dirinya berada di penjara emas Mathias Cameron. Jelas penjara emas Hailey di Mathias Cameron jauh lebih mewah. Namun, tetap saja membuat hatinya sesak.Perlahan, Hailey memejamkan mata lelah, tapi bayangan Mathias di terus menghantuinya. Mathias yang dingin, Mat
Langkah kaki Hailey memelan masuk ke dalam mansion. Dia mengikuti Mathias dengan hati-hati. Namu, tentu Mathias melangkahkan kaki tegas dengan aura wajah yang dingin, dan menunjukkan penuh amarah yang berusaha keras ditahan.Tak ada percakapan apa pun. Sepanjang jalan kembali ke mansion, mobil yang mengantar Hailey dan Mathias seperti ambulans yang membawa mayat. Bayangkan saja, Hailey diam membeku melihat Mathias yang tampak menyeramkan dengan aura wajah amarah yang ingin meledak.Hailey berpikir Mathias akan menginterogasinya, tapi ternyata apa yang dipikirkan wanita itu salah besar. Tak ada pertanyaan apa pun yang terlontar. Malah sepanjang perjalanan pulang, tatapan Hailey sesekali melirik Mathias seolah berharap diajak bicara tentang apa yang terjadi di restoran.Namun, fakta yang ada Mathias seolah menunjukkan masalah sudah selesai, tidak perlu ada bahasan apa pun. Padahal sebenarnya ada rasa take nak dalam hati Hailey. Apalagi wanita itu tak tahu sama sekali dia menabrak seoran
Aroma wine mahal cukup memberikan ketenangan sebentar. Mathias yang duduk di kursi meja makan, tepat di depan koleganya, dia mendengar ucapan David dengan saksama serta serius, dan dia sambil memyesap wine tua yang tersedia di kafe itu.Wine makin tua akan bernilai makin mahal. Aroma yang khas cukup menyeruak ke indra penciuman Mathias yang kala itu memang memesan wine paling mahal di kafe di mana dia bertemu dengan koleganya.Pembahasan bisnis cukup detail sejak tadi dibahas oleh David. Meski belum merespons apa pun, tapi telinga Mathias cukup tajam mendengar penjelasan tersebut. Setiap inti pembicaraan mampu disimak baik Mathias walau David menjelaskan panjang project pembangunan perumahan mewah di berbagai negara maju. “Jadi, Tuan Cameron, kau tertarik dengan project pembangunan perumahan yang rencananya akan membidik pasar Asia dan Eropa?” tanya David memastikan.Mathias menurunkan gelas wine yang di tangannya, dan meletakan ke atas meja. “Kau cukup ambisius dalam merancang bisn
Pantulan di cermin besar setinggi plafon itu seolah menampilkan sosok asing bagi Hailey. Gaun malam berbahan sutra charmeuse berwarna hitam pekat itu melekat sempurna di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang putih dan agak pucat. Potongan backless yang rendah mengekspos lekuk punggung serta leher dihiasi kalung berlian memberikan kesan elegan tapi memiliki makna misterius.Hailey memakai gaun pemberian dari Mathias. Wanita cantik itu berpikir, dia diberikan gaun sederhana tidak berlebihan, tapi ternyata dia salah besar. Dia diminta memakai gaun pesta—yang entah dia tak mengerti kenapa harus memakai gaun ini. Pun Mathias tidak bilang apa pun padanya.Embusan napas mulai terdengar pelan. Dia ingin sekali memakai piyama dan memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, Hailey sadar betul bahwa tak mungkin melakukan itu. Dia masih belum bisa memprediksi bagaimana sifat Mathias jika pria itu marah besar.“Kau sudah selesai.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dingin dari Mathia
Kondisi Hailey sudah membaik. Makanan yang dihidangkan pelayan kali ini dia habiskan. Pun dia minum beberapa suplemen vitamin yang telah disediakan. Dia tak melakukan perlawanan apalagi membantah. Bukan tanpa sebab, perkataan pelayan yang mengatakan Mathias tadi malam menjaganya membuatnya memiliki jutaan pertanyaan.Hailey tak percaya seratus persen pada ucapan pelayan, tapi dia melihat wajah pelayan itu menunjukkan kejujuran. Pun apa manfaatnya pelayan harus berbohong? Mathias sepertinya tak membutuhkan validasi sebagai pria baik ataupun pria bertanggung jawab. Sosok Mathias yang dia kenal adalah pria dingin, seakan berkuasa, arogan, dan keji. Meski baru mengenal pria itu, tapi nyatanya gambaran sosok Mathias Cameron yang ada dibenak Hailey seperti itu.Embusan napas pelan terdengar. Hailey yang duduk di ranjang termenung dengan segala pikirannya. Sejak tadi dia tak melakukan kegiatan apa pun. Hanya makan dan beristirahat. Tak menampik rasa jenuh agak menyerang. Otaknya kini mulai m







