Masuk
Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.
Wanita cantik berambut cokelat keemasan itu berdiri dengan tenang, dengan raut wajah agak serius dan dingin. Dia terkenal pembawaan yang tenang, tapi memiliki tatapan yang tak setenang pembawaannya. Hanya diam saja, dia seakan bisa melawan. Padahal sebenarnya dia orang yang sering mengalah agar demi mendapatkan ketenangan. Faktanya, diam memang caranya untuk menghadapi kemunafikan semua orang.
Dia berada di sebuah gereja di mana sebentar lagi akan diadakan pernikahan sederhana. Meski hanya pernikahan sederhana, tapi beberapa tamu yang datang berasal dari kalangan atas. Walau tidak banyak tamu undangan yang diundang, tapi jelas Hailey tahu tamu yang datang bukan orang sembarang. Sebab, pernikahan ini adalah pernikahan bisnis yang jelas menguntungkan satu sama lain.
Hailey berdiri dengan tenang, dengan tatapan lurus ke depan. Dia merasa tak nyaman, tetapi dia tak bisa pergi menghindar dari pernikahan kakaknya. Semua malapetaka akan muncul kalau sampai dia tak hadir di acara pernikahan kakaknya ini.
Dia memutuskan hendak berbalik, bermaksud ingin mengambil minum. Tenggorokkan terasa kering, dia butuh air untuk menyegarkan. Namun, belum sampai dia berbalik, tiba-tiba ada dua wanita yang muncul dari arah belakang, dan terdengar serius membahas sesuatu.
“Aku mendengar kabar tentang Mathias Cameron itu adalah pria yang tua dan buruk rupa. Dia juga katanya cukup kejam, dan tidak mengenal kata ampun ada seseorang yang membuatnya marah,” kata wanita bergaun merah mulai bicara pada temannya yang memakai gaun putih.
“Benarkah kabar itu? Aku pernah mendengar hal itu juga, tapi aku pikir itu hanya bohongan saja. Bukan kabar sungguhan,” jawab si wanita bergaun putih.
“Aku mendapatkan informasi yang akurat. Mathias Cameron itu pria tua dan jelek serta memiliki sifat yang kejam. Hmm, agak aneh memang billionaire ternama tapi sangat jelek dan kejam. Menurutmu, kenapa bisa putri sulung keluarga Brantley mau menikah dengan moster itu?” tanya si wanita bergaun merah.
“Mungkin karena Mathias Cameron jauh lebih kaya dari keluarga Brantley. Jadi, wajar kalau putri sulung keluarga Brantley mau menerima perjodohan bisnis ini. Dua perusahaan besar disatukan akan mendatangkan dinasti kekayaan yang tak berkesudahan,” jawab si wanita bergaun putih lagi.
Wanita bergaun merah itu tampak bingung. “Tapi aku agak bingung kenapa pihak Mathias Cameron dan keluarga Brantley mengadakan pesta sangat sederhana? Lihat saja, tamu yang datang benar-benar sedikit.”
“Mungkin mereka menjaga privasi,” jawab si wanita bergaun putih asal tebak.
“Jujur, saat aku mendapatkan undangan pernikahan, aku masih ragu karena selama ini aku belum pernah bertemu dengan Mathias Cameron. Aku hanya mendengar kabar kalau Mathias Cameron itu pria tua dan jelek serta memiliki sifat yang kejam. Sementara Ava Brantley, putri sulung keluarga Brantley itu terkenal anggun dan cantik. Sangat berbanding terbalik, kan?” ujar si wanita gaun merah.
“Aku juga tidak mengerti. Tapi, mungkin karena Mathias Cameron memiliki tingkat kekayaan yang sangat jauh di atas keluarga Brantley. Jadi, aku pikir tidak ada alasan untuk keluarga Brantley menerima pernikahan bisnis ini. Pastinya, keluarga Bratnley mendapatkan keuntungan besar. Ah, dan kau jangan lupa, orang di belahan dunia mana pun semuanya mencintai uang. Termasuk kita, kan?” balas si wanita bergaun putih.
Dua wanita itu sama-sama mengangguk, dan tertawa pelan bersama membenarkan bahwa semua orang di dunia ini rasanya mustahil tak menyukai uang. Sekalipun orang tersebut sudah hidup berkecukupan, akan tetap silau jika ada orang yang lebih kaya.
Percakapan dua wanita itu didengar jelas oleh Hailey. Wanita cantik itu terdiam sebentar, dan entah kenapa jantungnya berdebar kencang seakan rasa takut mulai merayap ke dalam dirinya. Ya, bisa dikatakan dia tak pernah melihat wajah Mathias Cameron, calon suami kakaknya. Hal yang dia ketahui adalah orang tuanya memaksa secara paksa kakaknya untuk menikah dengan pria berkuasa bernama Mathias Cameron.
Hailey mengatur napasnya, berusaha tenang dan mengabaikan ucapan dua wanita tadi. Dia tak mau larut akan ucapan itu. Pun dia tak mengenal sosok pria yang bernama Mathias Cameron. Meski akan menjadi kakak iparnya sendiri, tapi memang dia belum pernah bertemu dengan pria itu.
Suara tawa dua wanita tadi cukup mengganggu, Hailey memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dia mencoba menuju ruang belakang. Pesta pernikahan belum dimulai. Jadi, dia bisa ke belakang sebentar.
Saat Hailey melangkah menuju ke ruang belakang tepatnya di dekat ruang rias pengantin, tiba-tiba saja dia mendengar suara teriakan cukup kencang. Sontak detik itu dia menoleh, dia langsung menatap Martha—ibunya berlari keluar dari ruang rias dengan raut wajah panik.
“Eva hilang!” Teriakan Martha Brantley melengking cukup keras, sampai membuat sepertinya semua orang yang mendengar sakit telinga.
“Mom?” Hailey menoleh, dan berjalan cepat menghampiri ibunya yang berteriak-teriak.
“Martha, ada apa?” Preston Brantley, ayah Hailey berlari menghampiri sang istri. Jelas dia mendengar, karena posisinya kebetulan tak jauh, dan sang istri berteriak cukup keras.
“Sayang, lakukan sesuatu! Ava hilang!” Martha panik luar biasa, menatap cemas serta panik pada sang suami.
Preston agak bingung dengan ucapan sang istri. Pria paruh baya itu hendak bermaksud bertanya, tapi istrinya itu sudah menyodorkan surat. Detik itu, dia mulai membuka surat itu, dan membacanya dengan saksama.
{Dad, Mom, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku tidak sudi menjadi istri dari monster buruk rupa hanya demi menyelamatkan bisnis kalian.}
Wajah Preston langsung memerah padam seraya meremas kertas itu hingga hancur di tangannya. “Berengsek! Ini tidak boleh terjadi! Jika sampai pernikahan ini batal, kita bukan hanya malu di depan tamu undangan, tapi kita juga akan hancur!”
Martha terkejut sekaligus ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami. “A-apa maksudmu, Sayang?” tanyanya panik.
Preston mencengkeram bahu istrinya dengan kasar, matanya menyiratkan keputusasaan yang nyaris membuatnya gila. “Aku berutang sepuluh miliar dolar pada Mathias Caeron! Pernikahan ini adalah jaminannya. Jika putri kita tidak muncul di altar dalam tiga puluh menit, Mathias akan menarik seluruh investasi dan membiarkan kita membusuk dalam kemiskinan!”
Mata Martha melebar penuh kepanikan dan rasa takut yang membentang di dalam diri. Pun dia sampai gelisah luar biasa membayangkan ‘kemiskinan’ akan terjadi di hidupnya—yang jelas pasti akan seperti mimpi buruk.
“Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?” seru Martha, seakan kehilangan akal untuk berpikir.
Preston mengusap wajahnya kasar, dan jelas pria paruh baya itu menunjukkan kepanikan tak main-main. Otaknya benar-benar tak bisa berpikir jernih. Dia kini mondar-mandir gelisah bersama dengan sang istri.
Ketegangan menyelimuti. Martha dan Preston masih sama-sama panik luar biasa. Mereka masih mondar-mandir tak jelas, sampai mereka tak menyadari bahwa Hailey sejak tadi ada di sana, mendengar semua percakapan.
Perlahan di kala ketegangan dan kepanikan membentang. Preston dan Martha mengalihkan pandangan mereka secara tak sengaja, menatap Hailey yang sejak tadi hanya diam, tak bersuara apa pun. Hanya saja, pancaran mata Hailey menunjukkan rasa cemas.
“Kau Hailey,” desis Preston tegas, dengan sorot mata tajam dan dingin. “Kau yang akan mengantikan Ava,” lanjutnya tak bisa dibantah.
Tubuh Hailey membeku, dengan mata melebar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Otaknya tiba-tiba mendadak tak bisa berpikir. Darah yang mengalir di tubuhnya seolah berhenti sejenak.
“D-dad? I know, k-kau pasti bercanda,” ucap Hailey tenang, tapi gelagapan.
Martha langsung mendekat, dan menatap dingin putrinya. “Tidak ada yang bercanda dalam keadaan seperti ini. Hailey, kau harus menggantikan kakakmu!” sambungnya menekankan.
Hailey merasa disudutkan. “Mom, a-aku tidak mau. M-maksudku ini adalah pernikahan Ava, bukan pernikahanku.”
“Tidak ada penolakan Hailey! Kau tidak memiliki pilihan lain! Keluarga kita akan hancur kalau sampai pernikahan ini gagal!” bentak Preston cukup keras, dan tatapan yang melayang tajam.
“Dad, tapi—”
“Hailey, anggap saja apa yang kau lakukan adalah bentuk balas budimu pada keluarga Brantley,” potong Martha tegas.
Apa yang dikatakan Martha berhasil membuat Hailey bungkam seribu bahasa. Jelas, dia tak akan pernah lupa bahwa dirinya memang memiliki utang budi pada keluarga Brantley. Hanya saja, dia tak menyangka, caranya membalas balas budi harus menjadi pengantin pengganti kakaknya.
Hailey merasa kalah, tak bisa merespons apa pun. Detik di mana dia hanya diam, tak memberikan respons, Martha langsung bertindak cepat, membawa Hailey ke ruang pengantin, Sementra Preston yang puas Hailey tak berontak, membuatnya menunggu di luar.
Gaun pengantin indah yang harusnya dipakai kakaknya malah berubah dipakai oleh Hailey. Penata rias kini sibuk merias wajah Hailey. Durasi waktu yang tak banyak, membuat orang-orang yang ada di ruang pengantin memiliki kesibukan masing-masing.
Hailey mati-matian menahan air matanya. Aura wajahnya menunjukkan rasa marah yang dia tahan. Dia ingin berteriak melawan, tapi memang dari dulu Hailey selalu berusaha menahan amarah di dalam dirinya. Hal yang lagi dan lagi dia ingat adalah dirinya memiliki utang budi. Itu yang membuatnya selalu sulit melawan. Seperti saat ini.
“Tersenyumlah. Jangan memasang wajah ditekuk. Aku tidak mau sampai Mathias Cameron kesal dengan ekspresi wajahmu. Ini hari pernikahan kalian,” bisik Martha tegas, dan menusuk di telinga Hailey yang sejak tadi sedang dirias.
Hailey hanya diam, tak bisa berkata apa pun. Matanya tajam ingin melawan, tetapi bayangan lata ‘balas budi’ membuatnya tak berdaya. Penata rias telah berhasil membuatnya tampil sangat cantik dengan mengenakan gaun pengantin mahal, tapi sekali lagi Hailey tak pernah bahagia. Ini adalah pernikahan bisnis paksaan di mana dia harus menggangtikan kakaknya yang melarikan diri.
Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi itu memotong kalimat Hailey secara mendadak, sukses membuat wanita itu melonjak terkejut.“Mathias?”Hailey terperanjat hebat saat mendapati Mathias sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Langkah kaki pria itu bahkan tak terdengar sama sekali saat mendekati area dapur, seolah ia bergerak bagai bayangan yang mengintai tanpa suara. Detik di mana melihat kemunculan Mathias yang tiba-tiba, insting panik Hailey menyala hebat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup panggilan telepon itu secara sepihak dan menyembunyikan ponselnya rapat-rapat di belakang tubuh, tak ingin memancing masalah yang lebih besar.Mathias sudah berdiri bergeming di sana. Pria tampan itu kini telah berganti pakaian, mengenakan kemeja santai berwarna gelap dengan dua kancing atas yang terbiar terbuka serta bagian lengan yang digulung asal hingga siku. Potongan kemeja itu memperlihatkan dengan jelas ukiran tato tebal berwarna gelap yang menjalar liar di sepanjang kuli
Hailey mengembuskan napas kasar seraya meremas pinggiran meja kitchen island dengan kedua tangannya yang gemetar. Kulit jemarinya memucat akibat tekanan kuat pada permukaan marmer yang dingin. Dada wanita itu kempas-kempis, berusaha menyuplai oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa sempit dan menggebu. Pijakan kaki terasa tidak kokoh, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis dari kejadian di area kolam renang tadi.Tiap kali dia mencoba mengenyahkan ingatan di tepi kolam tadi, memori itu justru makin tercetak jelas di benaknya seakan sengaja menghantuinya. Dada basah Mathias yang hangat membuai, aroma parfum maskulin berpadu air kolam yang mencengkeram indranya, hingga sentuhan telapak tangan yang begitu mendominasi di pinggangnya—semua itu seperti sidik jari gaib yang membakar kulitnya.Hal yang paling membuat Hailey benci pada dirinya sendiri bukan cuma fakta bahwa mereka tertangkap basah oleh Nash, melainkan reaksi tubuhnya sendiri. Tatapan mata biru pria menyebalkan i
“Tuan ….”Nash menundukkan kepala saat menyambut Mathias yang baru saja menjejakkan kaki di ruang kerja bernuansa gelap tersebut. Sudah sejak tadi Nash berdiri menunggu di sana dengan sabar. Tepat saat tuannya memberi perintah singkat di tepi kolam renang tadi, dia langsung bergerak cepat tanpa banyak bertanya—paham betul bahwa perintah sang tuan tak bisa diabaikan begitu saja.Mathias melangkah masuk dengan aura dingin yang masih menempel rapat pada tubuhnya. Aura dominasi yang pekat seolah memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa kayu mahoni gelap itu. Pria itu berjalan santai menuju lemari penyimpanan alkohol di sudut ruangan, meraih sebuah botol wine berlabel elegan, lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kosong. Suara wine yang mengalir ke dalam gelas kristal terdengar jelas di tengah heningnya ruangan, sebelum Mathias menyesap perlahan, menikmati rasa pekat yang membakar tenggorokannya.“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias tanpa berbasa-basi, tatapan mata birunya yang
Sebelum tubuh Hailey benar-benar jatuh, sebuah tangan kekar bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan Mathias mencengkeram pinggang Hailey dengan erat, menghentikan kejatuhan dan menarik tubuh wanita itu secara instan ke dalam pelukannya.Duk.Dada telanjang Mathias yang basah tapi memancarkan suhu hangat menempel rapat pada dada Hailey. Aroma parfum maskulin yang berpadu dengan wangi kesegaran air seketika memadati indra penciuman Hailey. Tangan basah pria itu meremas pinggangnya, mengunci posisinya hingga tak ada jarak sedikit pun yang tersisa. Hailey dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar tak terkontrol, beradu dengan napas tenang Mathias tepat di atas kepalanya.“M-Mathias, lepaskan aku,” ucap Hailey panik di kala tubuhnya dipeluk erat.“Kau memintaku melepaskanmu setelah aku membantumu? Jika bukan karena aku, tubuhmu sudah pasti menghantam lantai,” jawab Mathias dingin.Hailey menelan salivanya lagi. Sungguh, dia membenci momen seperti ini. Maksud hati ingin ke
Hailey bangun lebih awal dari biasanya. Dia terbangun dari tidur yang cukup nyenyak—paling tidak, tidurnya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Walau tentu saja, setiap kali pagi menyapa, pikirannya selalu mendadak dipenuhi banyak hal.“Lapar sekali. Hmm, sepertinya makan roti selai cokelat enak,” gumam Hailey pelan.Wanita itu menyibak selimut, lalu memutuskan menggosok gigi dan mencuci muka lebih dulu. Rasa malas rupanya masih menyergap, membuat Hailey belum ingin mandi. Dalam balutan piyama warna cream, dia melangkah keluar kamar dengan mengenakan sandal kamarnya. Niat awalnya sederhana yaitu menuju dapur, mengambil roti, lalu kembali bersembunyi di kamar.Namun, belum sampai ke dapur, telinganya menangkap kecipak suara air dari arah ruang kolam renang. Langkah wanita itu terhenti. Harusnya dia tidak peduli, tetapi kakinya malah berkhianat, melangkah mendekati area kolam renang seolah dituntun rasa penasaran yang tinggi.Hal pertama yang Hailey lihat di dalam area kolam renan
Atmosfer di kediaman mewah keluarga Brantley sama sekali tidak diselimuti oleh ketenangan ataupun kedamaian. Malam yang kian larut itu justru menghadirkan ketegangan mencekam yang melingkupi seluruh sudut ruang kerja pribadi Preston Brantley. Pria paruh baya itu tampak berjalan mondar-mandir tanpa henti, mengikis karpet tebal ruangan itu dengan derap langkah yang tak beraturan. Raut wajahnya diliputi kegelisahan luar biasa; dahi berkerut dalam, rahang mengeras, dan pelipisnya terus dibasahi keringat dingin. Sepasang matanya tak henti-hentinya menyambar layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menantikan pemberitahuan email masuk berupa laporan darurat dari asisten pribadinya. Untuk menekan rasa pusing menusuk yang seakan meremukkan kepalanya, Preston terus-menerus mengucurkan cairan amber dan menenggak gelas demi gelas whisky tajam. Dia berharap sensasi panas terbakar dari alkohol bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang—padahal seberapa banyak pun alkohol yang dia telan, kenyata
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku







