MasukHailey tak pernah memiliki kebebasan dalam hidup. Wanita cantik itu bagaikan peliharaan yang dijaga dengan baik agar bernilai mahal di masa depan. Banyak orang yang iri dengannya seakan dia memiliki kehidupan yang sempurna. Namun, fakta yang ada dia tak pernah merasakan kasih sayang. Bahkan di kala kakaknya melarikan diri di hari pernikahan, dia dipaksa dan diancam untuk menggantikan kakaknya. Balas budi selalu diungkit seakan dia hadir di dunia ini adalah keinginannya. Menjadi pengantin pengganti adalah mimpi buruk. Dia terpaksa harus menikah dengan pria berbahaya yang orang selalu bilang pria itu memiliki paras buruk rupa dan kejam. Rasa takut menggerogotinya, tapi yang bisa dia lakukan adalah pasrah. Hailey berada di penjara Mathias Cameron. Pria yang selalu dianggap semua orang buruk rupa dan memiliki sifat yang keji. Akan tetapi, di kala ketakutan menggerogoti, wanita itu dihadapkan dengan fakta baru. Fakta di mana pria buruk rupa itu memiliki paras yang luar biasa tampan. Mata birunya selalu terhunus tajam, layaknya burung elang yang ingin menikam. Lantas, bagaimana dia insan itu bisa menghadapu takdir yang ditentukan? Ini bukan tentang cinta yang mudah. Api cinta yang mulai tumbuh telah tercampur penuh dengan kebencian yang menggerogoti diri.
Lihat lebih banyakHarum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.
Wanita cantik berambut cokelat keemasan itu berdiri dengan tenang, dengan raut wajah agak serius dan dingin. Dia terkenal pembawaan yang tenang, tapi memiliki tatapan yang tak setenang pembawaannya. Hanya diam saja, dia seakan bisa melawan. Padahal sebenarnya dia orang yang sering mengalah agar demi mendapatkan ketenangan. Faktanya, diam memang caranya untuk menghadapi kemunafikan semua orang.
Dia berada di sebuah gereja di mana sebentar lagi akan diadakan pernikahan sederhana. Meski hanya pernikahan sederhana, tapi beberapa tamu yang datang berasal dari kalangan atas. Walau tidak banyak tamu undangan yang diundang, tapi jelas Hailey tahu tamu yang datang bukan orang sembarang. Sebab, pernikahan ini adalah pernikahan bisnis yang jelas menguntungkan satu sama lain.
Hailey berdiri dengan tenang, dengan tatapan lurus ke depan. Dia merasa tak nyaman, tetapi dia tak bisa pergi menghindar dari pernikahan kakaknya. Semua malapetaka akan muncul kalau sampai dia tak hadir di acara pernikahan kakaknya ini.
Dia memutuskan hendak berbalik, bermaksud ingin mengambil minum. Tenggorokkan terasa kering, dia butuh air untuk menyegarkan. Namun, belum sampai dia berbalik, tiba-tiba ada dua wanita yang muncul dari arah belakang, dan terdengar serius membahas sesuatu.
“Aku mendengar kabar tentang Mathias Cameron itu adalah pria yang tua dan buruk rupa. Dia juga katanya cukup kejam, dan tidak mengenal kata ampun ada seseorang yang membuatnya marah,” kata wanita bergaun merah mulai bicara pada temannya yang memakai gaun putih.
“Benarkah kabar itu? Aku pernah mendengar hal itu juga, tapi aku pikir itu hanya bohongan saja. Bukan kabar sungguhan,” jawab si wanita bergaun putih.
“Aku mendapatkan informasi yang akurat. Mathias Cameron itu pria tua dan jelek serta memiliki sifat yang kejam. Hmm, agak aneh memang billionaire ternama tapi sangat jelek dan kejam. Menurutmu, kenapa bisa putri sulung keluarga Brantley mau menikah dengan moster itu?” tanya si wanita bergaun merah.
“Mungkin karena Mathias Cameron jauh lebih kaya dari keluarga Brantley. Jadi, wajar kalau putri sulung keluarga Brantley mau menerima perjodohan bisnis ini. Dua perusahaan besar disatukan akan mendatangkan dinasti kekayaan yang tak berkesudahan,” jawab si wanita bergaun putih lagi.
Wanita bergaun merah itu tampak bingung. “Tapi aku agak bingung kenapa pihak Mathias Cameron dan keluarga Brantley mengadakan pesta sangat sederhana? Lihat saja, tamu yang datang benar-benar sedikit.”
“Mungkin mereka menjaga privasi,” jawab si wanita bergaun putih asal tebak.
“Jujur, saat aku mendapatkan undangan pernikahan, aku masih ragu karena selama ini aku belum pernah bertemu dengan Mathias Cameron. Aku hanya mendengar kabar kalau Mathias Cameron itu pria tua dan jelek serta memiliki sifat yang kejam. Sementara Ava Brantley, putri sulung keluarga Brantley itu terkenal anggun dan cantik. Sangat berbanding terbalik, kan?” ujar si wanita gaun merah.
“Aku juga tidak mengerti. Tapi, mungkin karena Mathias Cameron memiliki tingkat kekayaan yang sangat jauh di atas keluarga Brantley. Jadi, aku pikir tidak ada alasan untuk keluarga Brantley menerima pernikahan bisnis ini. Pastinya, keluarga Bratnley mendapatkan keuntungan besar. Ah, dan kau jangan lupa, orang di belahan dunia mana pun semuanya mencintai uang. Termasuk kita, kan?” balas si wanita bergaun putih.
Dua wanita itu sama-sama mengangguk, dan tertawa pelan bersama membenarkan bahwa semua orang di dunia ini rasanya mustahil tak menyukai uang. Sekalipun orang tersebut sudah hidup berkecukupan, akan tetap silau jika ada orang yang lebih kaya.
Percakapan dua wanita itu didengar jelas oleh Hailey. Wanita cantik itu terdiam sebentar, dan entah kenapa jantungnya berdebar kencang seakan rasa takut mulai merayap ke dalam dirinya. Ya, bisa dikatakan dia tak pernah melihat wajah Mathias Cameron, calon suami kakaknya. Hal yang dia ketahui adalah orang tuanya memaksa secara paksa kakaknya untuk menikah dengan pria berkuasa bernama Mathias Cameron.
Hailey mengatur napasnya, berusaha tenang dan mengabaikan ucapan dua wanita tadi. Dia tak mau larut akan ucapan itu. Pun dia tak mengenal sosok pria yang bernama Mathias Cameron. Meski akan menjadi kakak iparnya sendiri, tapi memang dia belum pernah bertemu dengan pria itu.
Suara tawa dua wanita tadi cukup mengganggu, Hailey memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dia mencoba menuju ruang belakang. Pesta pernikahan belum dimulai. Jadi, dia bisa ke belakang sebentar.
Saat Hailey melangkah menuju ke ruang belakang tepatnya di dekat ruang rias pengantin, tiba-tiba saja dia mendengar suara teriakan cukup kencang. Sontak detik itu dia menoleh, dia langsung menatap Martha—ibunya berlari keluar dari ruang rias dengan raut wajah panik.
“Eva hilang!” Teriakan Martha Brantley melengking cukup keras, sampai membuat sepertinya semua orang yang mendengar sakit telinga.
“Mom?” Hailey menoleh, dan berjalan cepat menghampiri ibunya yang berteriak-teriak.
“Martha, ada apa?” Preston Brantley, ayah Hailey berlari menghampiri sang istri. Jelas dia mendengar, karena posisinya kebetulan tak jauh, dan sang istri berteriak cukup keras.
“Sayang, lakukan sesuatu! Ava hilang!” Martha panik luar biasa, menatap cemas serta panik pada sang suami.
Preston agak bingung dengan ucapan sang istri. Pria paruh baya itu hendak bermaksud bertanya, tapi istrinya itu sudah menyodorkan surat. Detik itu, dia mulai membuka surat itu, dan membacanya dengan saksama.
{Dad, Mom, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku tidak sudi menjadi istri dari monster buruk rupa hanya demi menyelamatkan bisnis kalian.}
Wajah Preston langsung memerah padam seraya meremas kertas itu hingga hancur di tangannya. “Berengsek! Ini tidak boleh terjadi! Jika sampai pernikahan ini batal, kita bukan hanya malu di depan tamu undangan, tapi kita juga akan hancur!”
Martha terkejut sekaligus ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami. “A-apa maksudmu, Sayang?” tanyanya panik.
Preston mencengkeram bahu istrinya dengan kasar, matanya menyiratkan keputusasaan yang nyaris membuatnya gila. “Aku berutang sepuluh miliar dolar pada Mathias Caeron! Pernikahan ini adalah jaminannya. Jika putri kita tidak muncul di altar dalam tiga puluh menit, Mathias akan menarik seluruh investasi dan membiarkan kita membusuk dalam kemiskinan!”
Mata Martha melebar penuh kepanikan dan rasa takut yang membentang di dalam diri. Pun dia sampai gelisah luar biasa membayangkan ‘kemiskinan’ akan terjadi di hidupnya—yang jelas pasti akan seperti mimpi buruk.
“Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?” seru Martha, seakan kehilangan akal untuk berpikir.
Preston mengusap wajahnya kasar, dan jelas pria paruh baya itu menunjukkan kepanikan tak main-main. Otaknya benar-benar tak bisa berpikir jernih. Dia kini mondar-mandir gelisah bersama dengan sang istri.
Ketegangan menyelimuti. Martha dan Preston masih sama-sama panik luar biasa. Mereka masih mondar-mandir tak jelas, sampai mereka tak menyadari bahwa Hailey sejak tadi ada di sana, mendengar semua percakapan.
Perlahan di kala ketegangan dan kepanikan membentang. Preston dan Martha mengalihkan pandangan mereka secara tak sengaja, menatap Hailey yang sejak tadi hanya diam, tak bersuara apa pun. Hanya saja, pancaran mata Hailey menunjukkan rasa cemas.
“Kau Hailey,” desis Preston tegas, dengan sorot mata tajam dan dingin. “Kau yang akan mengantikan Ava,” lanjutnya tak bisa dibantah.
Tubuh Hailey membeku, dengan mata melebar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Otaknya tiba-tiba mendadak tak bisa berpikir. Darah yang mengalir di tubuhnya seolah berhenti sejenak.
“D-dad? I know, k-kau pasti bercanda,” ucap Hailey tenang, tapi gelagapan.
Martha langsung mendekat, dan menatap dingin putrinya. “Tidak ada yang bercanda dalam keadaan seperti ini. Hailey, kau harus menggantikan kakakmu!” sambungnya menekankan.
Hailey merasa disudutkan. “Mom, a-aku tidak mau. M-maksudku ini adalah pernikahan Ava, bukan pernikahanku.”
“Tidak ada penolakan Hailey! Kau tidak memiliki pilihan lain! Keluarga kita akan hancur kalau sampai pernikahan ini gagal!” bentak Preston cukup keras, dan tatapan yang melayang tajam.
“Dad, tapi—”
“Hailey, anggap saja apa yang kau lakukan adalah bentuk balas budimu pada keluarga Brantley,” potong Martha tegas.
Apa yang dikatakan Martha berhasil membuat Hailey bungkam seribu bahasa. Jelas, dia tak akan pernah lupa bahwa dirinya memang memiliki utang budi pada keluarga Brantley. Hanya saja, dia tak menyangka, caranya membalas balas budi harus menjadi pengantin pengganti kakaknya.
Hailey merasa kalah, tak bisa merespons apa pun. Detik di mana dia hanya diam, tak memberikan respons, Martha langsung bertindak cepat, membawa Hailey ke ruang pengantin, Sementra Preston yang puas Hailey tak berontak, membuatnya menunggu di luar.
Gaun pengantin indah yang harusnya dipakai kakaknya malah berubah dipakai oleh Hailey. Penata rias kini sibuk merias wajah Hailey. Durasi waktu yang tak banyak, membuat orang-orang yang ada di ruang pengantin memiliki kesibukan masing-masing.
Hailey mati-matian menahan air matanya. Aura wajahnya menunjukkan rasa marah yang dia tahan. Dia ingin berteriak melawan, tapi memang dari dulu Hailey selalu berusaha menahan amarah di dalam dirinya. Hal yang lagi dan lagi dia ingat adalah dirinya memiliki utang budi. Itu yang membuatnya selalu sulit melawan. Seperti saat ini.
“Tersenyumlah. Jangan memasang wajah ditekuk. Aku tidak mau sampai Mathias Cameron kesal dengan ekspresi wajahmu. Ini hari pernikahan kalian,” bisik Martha tegas, dan menusuk di telinga Hailey yang sejak tadi sedang dirias.
Hailey hanya diam, tak bisa berkata apa pun. Matanya tajam ingin melawan, tetapi bayangan lata ‘balas budi’ membuatnya tak berdaya. Penata rias telah berhasil membuatnya tampil sangat cantik dengan mengenakan gaun pengantin mahal, tapi sekali lagi Hailey tak pernah bahagia. Ini adalah pernikahan bisnis paksaan di mana dia harus menggangtikan kakaknya yang melarikan diri.
Mobil Range Rover Autobiography milik Mathias meluncur mulus meninggalkan mansion. Hailey berdiri di ambang pintu, menatap Mathias yang sudah berangkat bekerja. Sementara dia hanya berdiam diri di rumah.Dulu, Hailey kerap membantu beberapa urusan di Brantley Group. Meski bukan pimpinan atau memegang jabatan penting, tapi dia tetap membantu karena memang dia disekolahkan tinggi untuk membantu Brantley Group. Namun, tentu dia bukan orang yang memegang keputusan penting di sana.Setelah menikah dengan Mathias, Hailey tak bisa membantu Brantley Group. Ayahnya pernah mengatakan padanya untuk fokus menjadi istri Mathias Cameron. Jelas, permintaan ayahnya demi ayahnya itu mencapai keinginan dengan mudah. Seperti contoh terakhir ibunya mengirimkan pesan padanya untuk membujuk Mathias menginvestasikan uang lagi.Ya, pesan ibunya sudah dia balas. Balasan singkat di mana Hailey mengatakan Mathias ingin bicara langsung dengan ayahnya di kantor. Tak ada bahasan apa pun lagi
Suara pintu kamar yang tertutup rapat di belakang punggung Hailey seolah menjadi sekat antara dirinya dan dunia luar yang menyesakkan. Dia bersandar pada daun pintu yang kokoh, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas hamparan karpet beludru mahal.Hailey berada di kamar mewah, bisa dikatakan seumur hidupnya, belum pernah dia tinggal di tempat yang sederhana. Meski keluarga Brantley tidak sehebat Mathias Cameron, tapi fakta yang ada dia tetap diberikan kehidupan nyaman oleh keluarga Brantley, walau itu kenyamanan itu tak pernah ada dari segi hati.Hailey tersiksa selalu seperti sekarang. Dia seolah berada di penjara emas. Tak ada perubahan. Dulu dia berada di penjara emas keluarga Brantley, sekarang berubah dirinya berada di penjara emas Mathias Cameron. Jelas penjara emas Hailey di Mathias Cameron jauh lebih mewah. Namun, tetap saja membuat hatinya sesak.Perlahan, Hailey memejamkan mata lelah, tapi bayangan Mathias di terus menghantuinya. Mathias yang dingin, Mat
Langkah kaki Hailey memelan masuk ke dalam mansion. Dia mengikuti Mathias dengan hati-hati. Namu, tentu Mathias melangkahkan kaki tegas dengan aura wajah yang dingin, dan menunjukkan penuh amarah yang berusaha keras ditahan.Tak ada percakapan apa pun. Sepanjang jalan kembali ke mansion, mobil yang mengantar Hailey dan Mathias seperti ambulans yang membawa mayat. Bayangkan saja, Hailey diam membeku melihat Mathias yang tampak menyeramkan dengan aura wajah amarah yang ingin meledak.Hailey berpikir Mathias akan menginterogasinya, tapi ternyata apa yang dipikirkan wanita itu salah besar. Tak ada pertanyaan apa pun yang terlontar. Malah sepanjang perjalanan pulang, tatapan Hailey sesekali melirik Mathias seolah berharap diajak bicara tentang apa yang terjadi di restoran.Namun, fakta yang ada Mathias seolah menunjukkan masalah sudah selesai, tidak perlu ada bahasan apa pun. Padahal sebenarnya ada rasa take nak dalam hati Hailey. Apalagi wanita itu tak tahu sama sekali dia menabrak seoran
Aroma wine mahal cukup memberikan ketenangan sebentar. Mathias yang duduk di kursi meja makan, tepat di depan koleganya, dia mendengar ucapan David dengan saksama serta serius, dan dia sambil memyesap wine tua yang tersedia di kafe itu.Wine makin tua akan bernilai makin mahal. Aroma yang khas cukup menyeruak ke indra penciuman Mathias yang kala itu memang memesan wine paling mahal di kafe di mana dia bertemu dengan koleganya.Pembahasan bisnis cukup detail sejak tadi dibahas oleh David. Meski belum merespons apa pun, tapi telinga Mathias cukup tajam mendengar penjelasan tersebut. Setiap inti pembicaraan mampu disimak baik Mathias walau David menjelaskan panjang project pembangunan perumahan mewah di berbagai negara maju. “Jadi, Tuan Cameron, kau tertarik dengan project pembangunan perumahan yang rencananya akan membidik pasar Asia dan Eropa?” tanya David memastikan.Mathias menurunkan gelas wine yang di tangannya, dan meletakan ke atas meja. “Kau cukup ambisius dalam merancang bisn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan