Beranda / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Bab 7. Hati yang Rapuh

Share

Bab 7. Hati yang Rapuh

Penulis: Abigail Kusuma
last update Tanggal publikasi: 2026-06-09 01:08:46

Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.

Langit terang telah berganti. Matahari telah tenggelam, menampilkan awan gelap yang memenuhi kemegahan langit. Tidak ada bulan dan bintang yang biasanya menjadi penghias langit megah. Langit mendung, seakan menunjukkan rasa yang sama dengan Hailey.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey berdiri di jendela besar kamar yang ada di penthouse Mathias. Ya, dia masih belum kembali ke mansion. Mathias memutuskan mengajaknya bermalam di penthouse pria itu, dan akan kembali ke mansion pada esok pagi.

Hailey tak hanyak bertanya. Wanita cantik itu memilih diam di kala Mathias memutuskan bermalam di penthouse. Dia diantar pelayan ke salah satu kamar tamu, sedangkan pria itu berada di kamarnya. Hal yang pasti, dia tetap bersyukur tidak satu kamar dengan pria keji itu.

Detik jam terdengar memenuhi kamar. Hailey masih berdiri di tempatnya dengan sorot mata lemah lurus ke depan. Tubuhnya mulai terasa sangat lemah, tapi dia masih ingin berdiri di tempatnya, tak mau berbaring sama sekali. Padahal rasa lelah di seluruh jiwa raga telah menghantamnya keras.

“Nyonya?” Pelayan masuk, membuat Hailey mengalihkan pandangannya menatap sang pelayan yang berdiri di ambang pintu.

“Ya?” jawab Hailey sambil menatap sang pelayan yang mendekat ke arahnya.

“Nyonya, saya bawakan teh madu untuk Anda. Silakan diminum.” Pelayan itu menyerahkan secangkir teh pada Hailey.

“Terima kasih.” Hailey hendak menerima secangkir teh itu, tapi tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar. Pun kesimbangannya mulai tak terjaga, dia nyaris terjatuh, tapi dengan sigap pelayan itu memegang tangannya.

“Nyonya? Anda sakit?” tanya sang pelayan panik, dan cemas menatap Hailey.

Hailey menggeleng lemah. “Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing.”

“Nyonya pasti ini karena tadi Anda makan hanya sedikit. Ingin saya bawakan obat?” tawar sang pelayan.

Tadi memang Hailey makan benar-benar sedikit. Bisa dikatakan wanita itu makan hanya formalitas saja. Dia tak makan sungguhan, karena kondisi pikiran yang berkecamuk.

“Tidak usah. Tolong kau tinggalkan aku saja. Aku ingin istirahat,” jawab Hailey tenang, meminta pelayan untuk pergi.

“Baik, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, mohon beri tahu saya,” balas sang pelayan sopan seraya meletakan cangkir teh ke atas meja.

Saat pelayan hendak berbalik bermaksud pergi, tapi tiba-tiba saja tubuh Hailey langsung tergeletak di lantai dan sukses membuat pelayan itu menoleh menatap Hailey yang sudah jatuh pingsan.

“Ya Tuhan, Nyonya!” seru sang pelayan panik, langsung bersimpuh berusaha membangunkan Hailey. Namun, sayangnya beberapa kali dia mencoba membangunkan istri tuannya itu, tetap saja tak kunjung membuka mata.

Pelayan itu makin panik, khawatir hal buruk terjadi. Dia langsung berteriak memanggil pelayan lain untuk datang. Tepat teriakannya terdengar, satu pelayan lebih muda darinya muncul tergesa-gesa.

“Ada apa ini?” tanya si pelayan muda, dan betapa terkejutnya dia melihat istri tuannya yang jatuh pingsan.

“Tolong beri tahu Tuan Mathias. Nyonya Hailey pingsan,” jawab pelayan yang memegang tubuh Hailey.

Pelayan muda panik dan mengangguk cepat. Detik itu dia berlari menuju ruang kerja di mana tuannya berada. Sementara si pelayan tadi masih berusaha mencoba membangunkan istri tuannya itu.

***

Mathias menatap dingin perjanjian yang sudah ditanda tangani Hailey Tampak sudut bibirnya membentuk senyuman tipis penuh kemenangan. Apa yang dia inginkan memang selalu dan wajib berada digenggaman tangannya. Seperti contoh Hailey mudah patuh tak bisa membantah sedikit pun.

Dia mengambil gelas berisikan wine di hadapannya, dan menyesap perlahan. Gelas itu dimainkan, digerakkan dengan tempo pelan tapi berkesan. Kesunyiangan di ruang kerjanya membuat kedamaian sendiri, sampai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mengganggu ketenangannya.

“Masuk!” titah Mathias tegas, meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.

“Tuan, maaf mengganggu Anda.” Pelayan masuk dan berjalan cepat ke arah Mathias, dengan raut wajah yang menunjukkan kegelisahan.

“Ada apa?” tanya Mathias sambil mengerutkan keningnya, menatap sang pelayan yang sudah berdiri di hadapannya.

Pelayan itu menundukkan kepala di hadapan Mathias. “Nyonya Hailey pingsan, Tuan. Pelayan sudah berusaha mencoba membuatnya sadar, tapi beliau masih belum membuka mata.”

Mathias terdiam, dengan raut wajah serius di kala mendapatkan laporan itu. Beberapa detik, dia masih bergeming di tempatnya, sampai akhirnya dia baru bangkit berdiri, dan tanpa berkata apa pun dia melangkah meningalkan ruang kerjanya. Sementara pelayan yang tadi melapor segera menyusul dengan langkah kaki agak cepat.

***

Hal yang pertama kali Mathias lakukan begitu tiba di kamar, dan mendapati Hailey pingsan di lantai adalah langsung menggendong wanita itu, memindahkan tubuh Hailey ke ranjang. Sementara dua pelayan yang ada di sana masih berdiri sambil menundukkan kepala mereka.

“Tuan, apa kami harus memanggilkan dokter?” tanya salah satu pelayan di sana.

Mathias belum merespons apa pun. Pria itu memeriksa denyut nadi Hailey, dan memeriksa embusan napas wanita itu. “Tidak usah panggil dokter, sebentar lagi pasti dia akan sadar. Bawakan kain kompres dan obat saja.”

“Baik, Tuan.” Dua pelayan itu menundukkan kepala, mengambilkan permintaan tuan mereka. Tepat di kala mereka sudah membawakan apa yang diminta tuan mereka, mereka segera pamit undur diri.

Keheningan membentang. Kamar yang sebenarnya memiliki dekorasi manis, tapi berubah mencekam. Lampu kamar sebagian dimatikan. Hanya tersisa lampu nakas. Tampak Mathias bersiri menatap dingin serta tajam pada Hailey yang masih memejamkan mata.

“Kau itu jadi wanita, lemah sekali,” gumam Mathias dengan nada yang tersulut emosi.

***

Pagi menyapa, cahaya matahari menusuk masuk melalui celah gorden. Hailey mengerjapkan matanya, merasakan kepalanya jauh lebih ringan meskipun masih sedikit lemas. Hal pertama yang dia sadari adalah sebuah kain kompres yang sudah mendingin di keningnya, dan sebuah nampan berisi obat serta segelas air di atas nakas.

Hailey terduduk dengan raut wajah bingung. Dia mencoba mengendarkan pandangannya sekitar tak ada siapa pun di kamarnya. Kepingan puzzle mulai tersusun. Dia mulai ingat tadi malam dia diantarkan teh oleh pelayan, lalu tiba-tiba pandangannya menjadi buram.

Hailey menoleh melihat matahari sudah terbit, menandakan dia sudah melewati malam. Namun, tunggu, ada air kompresan dan obat menandakan tadi malam dia sakit. Tidak ada siapa pun, hanya dirinya yang ada di kamar. Lantas, siapa yang menjaganya?

“Selamat pagi, Nyonya,” sapa seorang pelayan, melangkah masuk, mendekat pada Hailey.

Hailey mendongak, menatap pelayan yang membawakan nampar dan bubur hangat. “Apa tadi malam kau yang menjagaku?” tanyanya penasaran, sampai tak menjawab sapaan pelayan itu.

Pelayan itu meletakan nampan yang berisikan bubur, teh hangat, dan air putih ke atas meja. “Yang menjaga Anda tadi malam adalah Tuan Mathias, Nyonya. Tadi malam Anda pingsan. Tuan Mathias meminta saya membawakan kompresan dan obat untuk Anda.”

“Apa kau tidak salah? Mathias yang menjagaku?” ulang Hailey sambil mengerutkan keningnya, tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan pelayan itu. 

“Benar, Nyonya. Tuan Mathias yang menjaga Anda. Kalau tidak salah, Tuan Mathias sampai tertidur di samping Anda karena menjaga Anda. Tapi, tadi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, beliau sudah pergi ke kantor karena ada urusan. Tuan Mathias bilang nanti sore beliau akan ke sini, menjemput Anda untuk kembali ke mansion,” jawab sang pelayan memberi tahu.

Hailey tertegun mendengar penjelasan sang pelayan. Lidahnya masih kelu tak bisa merangkai kata apa pun. Dia masih mencoba menyangkal bahwsa rasanya tak mungkin Mathias menjaganya bahkan sampai membuat pria itu ketiduran di sisinya. Rasanya benar-benar mustahil.

Mathias Cameron adalah pria yang baru dikenal Hailey, tapi memiliki kekejian luar biasa. Dia tak akan mungkin lupa perjanjian gila yang dibuat pria itu, yang membuat hatinya benar-benar tercabik. Bahkan dia seolah tak lagi memiliki harga diri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 41. Aku Bukan Pria Sabar

    Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi itu memotong kalimat Hailey secara mendadak, sukses membuat wanita itu melonjak terkejut.“Mathias?”Hailey terperanjat hebat saat mendapati Mathias sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Langkah kaki pria itu bahkan tak terdengar sama sekali saat mendekati area dapur, seolah ia bergerak bagai bayangan yang mengintai tanpa suara. Detik di mana melihat kemunculan Mathias yang tiba-tiba, insting panik Hailey menyala hebat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup panggilan telepon itu secara sepihak dan menyembunyikan ponselnya rapat-rapat di belakang tubuh, tak ingin memancing masalah yang lebih besar.Mathias sudah berdiri bergeming di sana. Pria tampan itu kini telah berganti pakaian, mengenakan kemeja santai berwarna gelap dengan dua kancing atas yang terbiar terbuka serta bagian lengan yang digulung asal hingga siku. Potongan kemeja itu memperlihatkan dengan jelas ukiran tato tebal berwarna gelap yang menjalar liar di sepanjang kuli

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 40. Siapa Yang meneleponmu?

    Hailey mengembuskan napas kasar seraya meremas pinggiran meja kitchen island dengan kedua tangannya yang gemetar. Kulit jemarinya memucat akibat tekanan kuat pada permukaan marmer yang dingin. Dada wanita itu kempas-kempis, berusaha menyuplai oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa sempit dan menggebu. Pijakan kaki terasa tidak kokoh, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis dari kejadian di area kolam renang tadi.Tiap kali dia mencoba mengenyahkan ingatan di tepi kolam tadi, memori itu justru makin tercetak jelas di benaknya seakan sengaja menghantuinya. Dada basah Mathias yang hangat membuai, aroma parfum maskulin berpadu air kolam yang mencengkeram indranya, hingga sentuhan telapak tangan yang begitu mendominasi di pinggangnya—semua itu seperti sidik jari gaib yang membakar kulitnya.Hal yang paling membuat Hailey benci pada dirinya sendiri bukan cuma fakta bahwa mereka tertangkap basah oleh Nash, melainkan reaksi tubuhnya sendiri. Tatapan mata biru pria menyebalkan i

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 39. Tatapan Dingin

    “Tuan ….”Nash menundukkan kepala saat menyambut Mathias yang baru saja menjejakkan kaki di ruang kerja bernuansa gelap tersebut. Sudah sejak tadi Nash berdiri menunggu di sana dengan sabar. Tepat saat tuannya memberi perintah singkat di tepi kolam renang tadi, dia langsung bergerak cepat tanpa banyak bertanya—paham betul bahwa perintah sang tuan tak bisa diabaikan begitu saja.Mathias melangkah masuk dengan aura dingin yang masih menempel rapat pada tubuhnya. Aura dominasi yang pekat seolah memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa kayu mahoni gelap itu. Pria itu berjalan santai menuju lemari penyimpanan alkohol di sudut ruangan, meraih sebuah botol wine berlabel elegan, lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kosong. Suara wine yang mengalir ke dalam gelas kristal terdengar jelas di tengah heningnya ruangan, sebelum Mathias menyesap perlahan, menikmati rasa pekat yang membakar tenggorokannya.“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias tanpa berbasa-basi, tatapan mata birunya yang

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 38. Seperti Anak Kecil

    Sebelum tubuh Hailey benar-benar jatuh, sebuah tangan kekar bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan Mathias mencengkeram pinggang Hailey dengan erat, menghentikan kejatuhan dan menarik tubuh wanita itu secara instan ke dalam pelukannya.Duk.Dada telanjang Mathias yang basah tapi memancarkan suhu hangat menempel rapat pada dada Hailey. Aroma parfum maskulin yang berpadu dengan wangi kesegaran air seketika memadati indra penciuman Hailey. Tangan basah pria itu meremas pinggangnya, mengunci posisinya hingga tak ada jarak sedikit pun yang tersisa. Hailey dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar tak terkontrol, beradu dengan napas tenang Mathias tepat di atas kepalanya.“M-Mathias, lepaskan aku,” ucap Hailey panik di kala tubuhnya dipeluk erat.“Kau memintaku melepaskanmu setelah aku membantumu? Jika bukan karena aku, tubuhmu sudah pasti menghantam lantai,” jawab Mathias dingin.Hailey menelan salivanya lagi. Sungguh, dia membenci momen seperti ini. Maksud hati ingin ke

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 37. Pemandangan Nyaris Membuat Jantung Lepas

    Hailey bangun lebih awal dari biasanya. Dia terbangun dari tidur yang cukup nyenyak—paling tidak, tidurnya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Walau tentu saja, setiap kali pagi menyapa, pikirannya selalu mendadak dipenuhi banyak hal.“Lapar sekali. Hmm, sepertinya makan roti selai cokelat enak,” gumam Hailey pelan.Wanita itu menyibak selimut, lalu memutuskan menggosok gigi dan mencuci muka lebih dulu. Rasa malas rupanya masih menyergap, membuat Hailey belum ingin mandi. Dalam balutan piyama warna cream, dia melangkah keluar kamar dengan mengenakan sandal kamarnya. Niat awalnya sederhana yaitu menuju dapur, mengambil roti, lalu kembali bersembunyi di kamar.Namun, belum sampai ke dapur, telinganya menangkap kecipak suara air dari arah ruang kolam renang. Langkah wanita itu terhenti. Harusnya dia tidak peduli, tetapi kakinya malah berkhianat, melangkah mendekati area kolam renang seolah dituntun rasa penasaran yang tinggi.Hal pertama yang Hailey lihat di dalam area kolam renan

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 36. Kelicikan Yang Berujung Demi Uang

    Atmosfer di kediaman mewah keluarga Brantley sama sekali tidak diselimuti oleh ketenangan ataupun kedamaian. Malam yang kian larut itu justru menghadirkan ketegangan mencekam yang melingkupi seluruh sudut ruang kerja pribadi Preston Brantley. Pria paruh baya itu tampak berjalan mondar-mandir tanpa henti, mengikis karpet tebal ruangan itu dengan derap langkah yang tak beraturan. Raut wajahnya diliputi kegelisahan luar biasa; dahi berkerut dalam, rahang mengeras, dan pelipisnya terus dibasahi keringat dingin. Sepasang matanya tak henti-hentinya menyambar layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menantikan pemberitahuan email masuk berupa laporan darurat dari asisten pribadinya. Untuk menekan rasa pusing menusuk yang seakan meremukkan kepalanya, Preston terus-menerus mengucurkan cairan amber dan menenggak gelas demi gelas whisky tajam. Dia berharap sensasi panas terbakar dari alkohol bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang—padahal seberapa banyak pun alkohol yang dia telan, kenyata

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 6. The Platinum Shackles

    Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 5. A Cage Called Marriage

    Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 4. Strings of Control

    Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 3. The Cost of Replacement

    Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status