MasukSinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.
Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos di bibirnya akibat merasa tubuhnya terasa lelah. Dia bangun pagi tidak segar seperti biasanya. Dia merasa tubuhnya benar-benar pegal.
“Pegal sekali,” gumam Hailey merintih.
Tangan wanita itu memijat tengkuk leher, bermaksud mengusir rasa pegal yang menyergap dalam diri. Detik itu, tepat di kala kesadaranya sudah sepenuhnya kembali, matanya langsung melebar penuh keterkejutan.
Ya, dia sampai menegang di kala dirinya sadar bahwa dia tidak ada di kamarnya sendiri. Aroma pengharum kamar jelas menyadarkannya dia berada di kamar yang berbeda. Namun, saat kepanikan mulai menggerogoti diri, raut wajahnya mulai berubah ketika mengingat kemarin adalah hal tergila yang pernah dia lakukan.
Kepingan puzzle telah tersusun. Hailey ingat betul kemarin dia menjadi pengantin pengganti kakaknya yang melarikan diri. Dia kini terbangun di mansion mewah milik pria asing yang telah resmi menjadi suaminya. Sungguh, fakta yang benar-benar di luar akal sehatnya.
Hailey menunduk, melihat tubuhnya masih terbalut gaun pengantin. Detik itu, dia mulai turun dari ranjang dengan pelan, dan menatap cermin—riasan di wajahnya sudah berantakan—dan matanya pun sembab akibat kemarin dia menangis dalam kesunyian.
Napas wanita cantik berusia 22 tahun itu mulai berembus pelan, dia memejamkan mata sebentar. Lelah yang dia dapatkan akibat beban pikiran serta lelah tubuhnya. Harusnya dia menjadi tamu di pesta pernikahan kakaknya, tapi dalam sekejap semua berubah. Dia malah menjadi pengantin wanita dari pria yang sama sekali tidak pernah dia kenal.
Saat Hailey sedang melamun di depan cermin, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Refleks, dia menoleh—dan menatap seorang wanita paruh baya memakai pakaian pelayan masuk ke dalam.
“Selamat pagi, Nyonya Cameron,” sapa sang pelayan sopan, sambil menundukkan kepala.
Hailey terdiam, belum merespons apa pun. Sapaan ‘Nyonya Cameron’ yang lolos di bibir sang pelayan, membuat Hailey benar-benar sadar bahwa dia telah berganti status menjadi istri orang. Dadanya seakan sesak dengan fakta itu. Apalagi harusnya dia menikah dengan pria yang dia cintai, tapi sayang ‘balas budi’ diungkit, membuatnya terjebak di dalam lingkaran api.
“Pagi,” jawab Hailey dingin, dan tetap tenang.
“Nyonya, maaf mengganggu Anda. Saya hanya ingin memberi tahu sarapan sudah siap. Tuan Cameron sebentar lagi akan menyusul ke ruang makan. Mohon Anda segera bersiap, dan ke ruang makan,” ucap sang pelayan memberi tahu sopan.
“Aku tidak lapar,” kata Hailey menolak halus, dia memang tak lapar sama sekali. Kejadian yang menimpanya ini membuat lambungnya bahkan terasa penuh. Padahal tadi acara pesta kemarin, dia tak makan apa pun.
“Maaf, Nyonya, Anda harus makan. Tuan Cameron berpesan Anda harus ada di ruang makan,” ucap sang pelayan lagi tetap sopan, tapi tersirat agak mendesak.
Hailey mengembuskan napas panjang, merasa kesal karena dipaksa seperti ini. “Kalau aku tidak mau makan kenapa? Hanya tidak makan sebentar, tidak akan membuatku langsung mati.”
“Nyonya, kalau Anda tetap bersikeras tidak mau makan, pasti Tuan Cameron akan langsung menjemput paksa Anda di kamar. Silakan pilih, Anda langsung datang ke ruang makan setelah selesai mandi, atau Anda ingin dijemput paksa oleh Tuan Cameron? Nyonya, bukan bermaksud saya lancang, tapi Tuan Cameron membenci orang yang tidak patuh padanya,” kata sang pelayan itu memberi tahu dengan nada agak tegas, karena Hailey bersikap keras kepala.
“Kau mengancamku?” Hailey kesal, dia sudah lelah dengan semua yang datang di hidupnya begitu tiba-tiba.
“Nyonya, saya tidak bermaksud mengancam Anda. Saya hanya memberi tahu dan mengingatkan Anda. Saya mohon patuhi permintaan Tuan Cameron. Jangan membuatnya marah. Saya permisi.” Pelayan itu menundukkan kepala, lalu pamit undur diri dari hadapan Hailey.
Hailey menatap punggung pelayan yang mulai lenyap dari pandangannya. Tampak sorot matanya dingin, dan agak menusuk. Napasnya berembus kasar, dan sesekali dia mengutuki nasibnya yang tak bagus.
Beberapa detik, Hailey masih bergeming di tempatnya belum bergerak sedikit pun. Kata-kata pelayan tadi berputar di kepalanya, seakan membuat dirinya benar-benar tak bisa membantah. Dia memejamkan mata lelah, dan dengan penuh paksaan wanita itu melangkah menuju kamar mandi.
***
Ruang makan megah harusnya diisi dengan banyak orang. Meja panjang dan kursi meja makan yang khas seperti bangsawan itu hanya terisikan oleh dua orang. Hailey dan Mathias. Tak ada pembicaraan apa pun. Keheningan membentang di antara mereka.
Pernikahan harusnya diwarnai dengan sapaan romantis atau pelukan hangat. Namun, tidak bagi Hailey. Dia bahkan diminta untuk sarapan bersama sang suami dengan cara paksaan yang tersirat adanya ancaman nyata.
Setelah membersihkan tubuh, dan mengganti pakaian dengan dress sederhana, wanita itu segera ke ruang makan mengikuti apa yang dikatakan oleh sang pelayan. Akan tetapi dia tak mendapatkan sapaan hangat sama sekali. Mathias hanya duduk di kursi meja makan, dengan wajah dingin seperti biasanya.
“Mau sampai kapan kau melamun? Makanan sudah di hadapanmu,” ucap Mathias dingin.
Hailey langsung tersadar di kala dirinya hanya duduk di kursi meja makan, tanpa ada reaksi apa pun. Padahal aroma makanan yang sudah disiapkan para pelayan begitu menyergap indra penciumannya. Namun, memang dia tak lapar. Apalagi dalam kodisi hanya sarapan berdua dengan pria yang baru dia kenal ini.
Tanpa mau bersuara, Hailey memilih untuk menggerakan pisau dan garpu, mulai sarapan dengan kunyahan pelan dan hati-hati. Sungguh, dia seperti sarapan di dalam sel penjara. Padahal faktanya dia tinggal di mansion mewah yang bahkan jauh lebih mewah dari mansion keluarganya sendiri.
“Setelah sarapan, kau ikut denganku,” ucap Mathias dengan nada rendah, berat, dan berhasil membuat Hailey merinding ketakutan.
Hailey mengalihkan pandangannya, memberanikan diri menatap Mathias. “K-kau mau mengajakku ke mana?” tanyanya pelan, tapi tetap tenang.
“Tidak perlu bertanya. Kau cukup ikuti dan turuti perintahku,” jawab Mathias tegas.
Hailey mengatur napasnya. “Aku ingin bertanya padamu.”
“Katakan.” Mata biru Mathias, menatap dingin dan tajam pada Hailey.
Hailey tampak memikirkan ulang apa yang ingin dia katakan. Otak dan hatinya seakan berperang. Lidahnya sudah tak tahan ingin merangkai kata. Jika dia hanya diam terus menerus, dia akan makin gila dan mungkin berujung bisa tinggal di rumah sakit jiwa.
“Apa selamanya aku hanya akan berada di mansion ini? Maksudku, apa kau tidak memberikanku kebebasan untuk bekerja sedikit pun?” tanya Hailey memberanikan diri.
Pertanyaan Hailey sukses membuat Mathias menghentikan makannya. Pria tampan itu menatap Hailey dengan tatapan yang makin dingin, dan menusuk. Ya, tatapan itu sampai membuat Hailey menelan saliva susah payah.
“Keluargamu saja sudah menjualmu padaku, lalu kau meminta kebebasan? Aku yakin kau tidak sebodoh itu sampai mengajukan pertanyaan yang tak seharusnya,” balas Mathias tajam.
“Tapi, sebelum menikah, aku bekerja di Brantley Group. Aku membantu perusahaan keluargaku walau aku bukan memegang jabatan penting. Maksudku jika aku hanya terus menerus di dalam rumah, aku pasti akan bosan,” ucap Hailey lagi memberanikan diri.
Mathias menyeringai kejam di kala kata ‘bosan’ lolos di bibir Hailey. Rupanya wanita itu kadang terlihat rapuh dan lemah, tapi kadang memiliki keberanian untuk menyuarakan isi hatinya. Detik itu, tanpa diduga, dia menarik kursi duduk Hailey, dan merapatkan ke arahnya.
Tindakan Mathias sukses membuat Hailey memekik terkejut. Pria itu memang memiliki tinggi tubuh dan gagah, sedangkan tinggi Hailey hanya sebatas dada pria itu. Namun, tindakan Mathias sekarang membuat Hailey makin sadar bahwa memang tenaga Hailey jika dibandingkan dengan Mathias hanya sekadar kapas yang melayang di atas air.
“M-Mathias, apa yang—” Perkataan Hailey terhenti di kala wajah Matias mendekat ke wajahnya. Jantungnya kini berdebar tak karuan, seakan ingin melompat dari tempatnya.
“Berani-beraninya kau bilang takut bosan,” bisik Mathias di telinga Hailey, nadanya rendah tapi begitu mencekam. “Kau tahu? Berada di sini, tinggal denganku, akan aku pastikan kebosanan tidak pernah hadir dalam hidupmu. Kau mengerti?” lanjutnya lagi berbisik dengan nada ancaman.
Napas Hailey terecekat mendengar suara rendah Mathias yang begitu menusuk. Bulu kuduknya mulai merinding seakan ketakutan melihat hantu. Oh, tidak, mungkin ini lebih menyeramkan dari sekadar hantu.
“Tunggu aku di depan. Lima belas menit lagi kita berangkat.” Mathias menjauh, dia bangkit berdiri, dan melangkah pergi dari hadapan Hailey.
Hailey langsung menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan di kala Mathias sudah pergi. Ada kelegaan dia bebas sebentar, demi menghirup pasokan oksigen. Sebab, sejak tadi oksigen seakan benar-benar tak bisa dia hirup. Apalagi berdekatan dengan Mathias membuatnya seakan berada di ambang kematian.
“Ya Tuhan, pria seperti apa yang sebenarnya aku nikahi?” gumam Hailey, sambil mendesah kasar, dan memejamkan mata singkat.
Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi itu memotong kalimat Hailey secara mendadak, sukses membuat wanita itu melonjak terkejut.“Mathias?”Hailey terperanjat hebat saat mendapati Mathias sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Langkah kaki pria itu bahkan tak terdengar sama sekali saat mendekati area dapur, seolah ia bergerak bagai bayangan yang mengintai tanpa suara. Detik di mana melihat kemunculan Mathias yang tiba-tiba, insting panik Hailey menyala hebat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup panggilan telepon itu secara sepihak dan menyembunyikan ponselnya rapat-rapat di belakang tubuh, tak ingin memancing masalah yang lebih besar.Mathias sudah berdiri bergeming di sana. Pria tampan itu kini telah berganti pakaian, mengenakan kemeja santai berwarna gelap dengan dua kancing atas yang terbiar terbuka serta bagian lengan yang digulung asal hingga siku. Potongan kemeja itu memperlihatkan dengan jelas ukiran tato tebal berwarna gelap yang menjalar liar di sepanjang kuli
Hailey mengembuskan napas kasar seraya meremas pinggiran meja kitchen island dengan kedua tangannya yang gemetar. Kulit jemarinya memucat akibat tekanan kuat pada permukaan marmer yang dingin. Dada wanita itu kempas-kempis, berusaha menyuplai oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa sempit dan menggebu. Pijakan kaki terasa tidak kokoh, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis dari kejadian di area kolam renang tadi.Tiap kali dia mencoba mengenyahkan ingatan di tepi kolam tadi, memori itu justru makin tercetak jelas di benaknya seakan sengaja menghantuinya. Dada basah Mathias yang hangat membuai, aroma parfum maskulin berpadu air kolam yang mencengkeram indranya, hingga sentuhan telapak tangan yang begitu mendominasi di pinggangnya—semua itu seperti sidik jari gaib yang membakar kulitnya.Hal yang paling membuat Hailey benci pada dirinya sendiri bukan cuma fakta bahwa mereka tertangkap basah oleh Nash, melainkan reaksi tubuhnya sendiri. Tatapan mata biru pria menyebalkan i
“Tuan ….”Nash menundukkan kepala saat menyambut Mathias yang baru saja menjejakkan kaki di ruang kerja bernuansa gelap tersebut. Sudah sejak tadi Nash berdiri menunggu di sana dengan sabar. Tepat saat tuannya memberi perintah singkat di tepi kolam renang tadi, dia langsung bergerak cepat tanpa banyak bertanya—paham betul bahwa perintah sang tuan tak bisa diabaikan begitu saja.Mathias melangkah masuk dengan aura dingin yang masih menempel rapat pada tubuhnya. Aura dominasi yang pekat seolah memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa kayu mahoni gelap itu. Pria itu berjalan santai menuju lemari penyimpanan alkohol di sudut ruangan, meraih sebuah botol wine berlabel elegan, lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kosong. Suara wine yang mengalir ke dalam gelas kristal terdengar jelas di tengah heningnya ruangan, sebelum Mathias menyesap perlahan, menikmati rasa pekat yang membakar tenggorokannya.“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias tanpa berbasa-basi, tatapan mata birunya yang
Sebelum tubuh Hailey benar-benar jatuh, sebuah tangan kekar bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan Mathias mencengkeram pinggang Hailey dengan erat, menghentikan kejatuhan dan menarik tubuh wanita itu secara instan ke dalam pelukannya.Duk.Dada telanjang Mathias yang basah tapi memancarkan suhu hangat menempel rapat pada dada Hailey. Aroma parfum maskulin yang berpadu dengan wangi kesegaran air seketika memadati indra penciuman Hailey. Tangan basah pria itu meremas pinggangnya, mengunci posisinya hingga tak ada jarak sedikit pun yang tersisa. Hailey dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar tak terkontrol, beradu dengan napas tenang Mathias tepat di atas kepalanya.“M-Mathias, lepaskan aku,” ucap Hailey panik di kala tubuhnya dipeluk erat.“Kau memintaku melepaskanmu setelah aku membantumu? Jika bukan karena aku, tubuhmu sudah pasti menghantam lantai,” jawab Mathias dingin.Hailey menelan salivanya lagi. Sungguh, dia membenci momen seperti ini. Maksud hati ingin ke
Hailey bangun lebih awal dari biasanya. Dia terbangun dari tidur yang cukup nyenyak—paling tidak, tidurnya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Walau tentu saja, setiap kali pagi menyapa, pikirannya selalu mendadak dipenuhi banyak hal.“Lapar sekali. Hmm, sepertinya makan roti selai cokelat enak,” gumam Hailey pelan.Wanita itu menyibak selimut, lalu memutuskan menggosok gigi dan mencuci muka lebih dulu. Rasa malas rupanya masih menyergap, membuat Hailey belum ingin mandi. Dalam balutan piyama warna cream, dia melangkah keluar kamar dengan mengenakan sandal kamarnya. Niat awalnya sederhana yaitu menuju dapur, mengambil roti, lalu kembali bersembunyi di kamar.Namun, belum sampai ke dapur, telinganya menangkap kecipak suara air dari arah ruang kolam renang. Langkah wanita itu terhenti. Harusnya dia tidak peduli, tetapi kakinya malah berkhianat, melangkah mendekati area kolam renang seolah dituntun rasa penasaran yang tinggi.Hal pertama yang Hailey lihat di dalam area kolam renan
Atmosfer di kediaman mewah keluarga Brantley sama sekali tidak diselimuti oleh ketenangan ataupun kedamaian. Malam yang kian larut itu justru menghadirkan ketegangan mencekam yang melingkupi seluruh sudut ruang kerja pribadi Preston Brantley. Pria paruh baya itu tampak berjalan mondar-mandir tanpa henti, mengikis karpet tebal ruangan itu dengan derap langkah yang tak beraturan. Raut wajahnya diliputi kegelisahan luar biasa; dahi berkerut dalam, rahang mengeras, dan pelipisnya terus dibasahi keringat dingin. Sepasang matanya tak henti-hentinya menyambar layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menantikan pemberitahuan email masuk berupa laporan darurat dari asisten pribadinya. Untuk menekan rasa pusing menusuk yang seakan meremukkan kepalanya, Preston terus-menerus mengucurkan cairan amber dan menenggak gelas demi gelas whisky tajam. Dia berharap sensasi panas terbakar dari alkohol bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang—padahal seberapa banyak pun alkohol yang dia telan, kenyata
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku
Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi







